Thursday, July 20, 2006

Mengagumi Foto Deisaku Ikeda

Sebuah gedung persis di depan Perpustakaan Unila itu tampak megah. Kalau mahasiswa di sana menyebutnya dengan singkat dan hanya tiga huruf saja, GSG. Kepanjangan dari Gedung Serba Guna. Seperti kebanyakan gedung-gedung resmi milik universitas di seluruh Indonesia, biasanya digunakan hajatan wisuda, upacara penerimaan mahasiswa baru, dan dies natalis.

Pagi itu, ada acara besar di GSG. Saya sengaja tidak hadir pada saat itu. Kebetulan sekitar jam 9-an sedang ada perlu di fakultas. Urusan akademik yang baru saya sadari dan sedikit kesal dengan pegawainya karena saya terlambat menyerahkan berkas akademik. Syukurnya, itu tak jadi soal dan ia pun memakluminya. Tapi, saya pulang masih sedikit kesal. Sesekali saya berpikir, birokrasi ‘non sense.’

Acara di GSG itu adalah Pembukaan Pameran Fotografi Keindahan Alam, Karya Presiden Soka Gakkai Internasional, Daisu Ikeda (Dialague With Nature). Ada sekitar 66 karya foto koleksinya dipamerkan sejak 19-24 Juli 2006. Selain itu, dipamerkan pula 30 karya fotografer yang tergabung dalam Indonesian Photographer Organization (IPO), dan 20-an foto dari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Saya benar-benar kagum melihat karya foto-foto yang dipamerkan pada hari pertama. Hampir sebagian foto yang dipamerkan itu, saya abadikan ke dalam foto juga. Bahkan, saya tidak sungkan meminta teman saya, Doni dan Mayna, untuk memfoto saya dengan latar belakang foto-foto yang dipamerkan itu.

Doni dan Mayna memang ditugaskan sekretaris Pembantu Rektor IV Unila, untuk membantu acara pameran tersebut. Tidak hanya mereka berdua, ada UKM Bidang Seni dan UKM Fotografi ‘Zoom.’ Cukup banyak dibantu tenaga anak-anak mahasiswa yang punya stamina mantap untuk memperlancar acara pameran itu. Mayna ditunjuk sebagai master of ceremony (MC) pada saat pembukaannya. Ia berduet Desi, kru UKM Bidang Seni, menyambut para tamu pada hari pembukaan. Sayangnya lagi, saya tidak sempat melihat mereka berdua di atas panggung GSG.

Perlu diketahui, bahwa Dr Deisaku Ikeda, Presiden Soka Gakkai Internasional itu seorang fotografer amatir. Diceritakan, ia tidak pernah bertemu dengan kamera sampai ketika ia berusia 43 tahun. Lalu, sebuah kamera Nikkon dihadiahkan kepadanya dari temannya. Sejak itu, ketika ia sedang perjalanan menuju kota Hokkaido dengan mobil, Ikeda merasa sangat terpana dengan bayangan bilan yang terpantul di sebuah kolam sampai akhirnya ia menghentikan mobilnya, lalu mengambil 100 foto pantulan bulan itu. Sejak itulah, Ikeda selama dua tahun berikutnya Ikeda terus menerus mencari dan mengabadikan bulan, matahari terbenam, sampai keseluruhan alam menjadi objek kameranya.

Daisu Ikeda memiliki keunikan dalam mengabadikan setiap gambar. Ia tidak membidik foto dari lubang kamera, tapi memegang kameranya dan diletakkan di depan dada, kemudian mengambil foto menurutnya dengan hatinya. Dengan cara seperti itu, seolah ia yakin dilakukan dari hatinya. Hasil foto-fotonya yang merupakan rangkuman keindahan alam yang dilihatnya dalam perjalanan lebih dari 50 negara. Ikeda pun mempromosikan nilai-nilai pendidikan, perdamaian dan kebudayaan.

Saat Bandarlampung ditunjuk menjadi kota ke-9 dalam perjalanan pameran foto Dialague With Nature ini, Deisu Ikeda tidak bisa hadir. Saya tidak tahu pasti kenapa ia tidak bisa hadir. Perjalanan dimulai dari kota Semarang-Yogyakarta-Surabaya-Bandung-Jakarta-Bogor-
Tangerang-Bekasi-Bandarlampung-
Palembang-Pangkal Pinang-Jambi-Pekan Baru-Pematang Siantar-Medan dan Banda Aceh.
***
Sejak SMP, saya sangat tertarik dan menyukai dunia fotografi. Berbekal kamera SLR tahun 1970-an yang telah usang, tidak buat saya minder belajar banyak dari ayah saya. Sebuah kamera SLR merk Canon FTB dengan lensa standar 50 mm, saya pakai sebagai eksperimen foto. Kamera itu berat. Terkadang buat saya pegal untuk memegang erat-erat. Ternyata awal belajar menggunakan kamera seperti itu tidak gampang. Ada banyak pengaturannya, mulai dari diafragma, kecepatan/speed, sampai jenis-jenis lensa yang digunakan. Manual banget. Saya bingung saat itu. Tapi, saya tidak ingin menyerah dan harus tahu banyak soal kamera.

Perlahan-lahan hingga sampai menginjak kuliah di Unila dengan mengambil ilmu komunikasi. Di mata kuliah Fotografi, saya semakin paham dengan proses cara kerja kamera hingga sampai percetakan. Memang untuk zaman secanggih digital saat ini, bisa dibilang kamera dengan menggunakan film terkesan semakin ditinggalkan, karena kurang praktis. Tapi, buat saya tidak sepakat dengan pendapat itu. Saya masih menyenangi menggunakan kamera SLR dengan film. Yah, karena adanya kamera film. Kalau punya SLR digital malah lebih bagus, cuma sayangnya tidak punya. Hehe...

Apalagi dengan banyaknya perkumpulan fotografer di Indonesia macam Indonesian Photographer Organization (IPO), saya sangat kagum dengan karya foto-foto mereka. Ingin sekali bisa bergabung dengan mereka, hunting foto bersama sampai diskusi tentang foto. Tapi, buat saat ini belum punya kesempatan bergabung di sana. Lagi pula, satu hal yang bikin minder adalah kamera SLR masih sederhana. Sedangkan, mereka pasti tidak hanya mempunyai sebuah kamera SLR digital, tapi lengkap berbagai jenis lensa yang harganya sampai ratusan juta. Buat saya gigit jari saja mendengarnya. Suatu saat nanti, saya keliling dunia mengabadikan gambar dari kamera, kemudian menuliskan narasi dari perjalanan itu, lalu dibukukan dan dinikmati banyak orang, gumam saya. Semoga saja.

2 comments:

Anonymous said...

Hi

Nice to know the Dialogue with Nature exhibition has travelled to Lampung.

I am Indonesian-born but away from Indonesia for some time. I have been to Lampung in 1980s when I was a kid.

Unknown said...
This comment has been removed by a blog administrator.