Saturday, December 29, 2007

Dari Lampung ke Kopi Darat "Wongkito"

Apa rasanya ketika kamu ikut 'kopi darat' (kopdar) pertama kali? Bagi saya senang sekali bisa ikut acara kopdar dengan para blogger Palembang "Wongkito", Selasa sore (25/12) kemarin di Pizza Hut Jalan Sudirman Palembang. Ini kopdar pertama kali bagi saya dan pertama kali juga ikut acara dengan para blogger Palembang "Wongkito" yang sebagian besar baru saya kenal di dunia blog/maya. Apalagi belum pernah sama sekali bertemu dengan mereka di darat.

Bahkan, kabar akan diadakannya kopdar itu ketika diajak ikut konferensi di Yahoo Messanger (YM) secara tidak sengaja beberapa waktu yang lalu. Nike, blogger Palembang yang juga baru saya kenal dari YM, menggagas acara kopdar ini. Kira-kira ada sekitar 15-an blogger Palembang waktu itu yang online dan ingin ikut acara kopdar.

Akhirnya Kopdar yang ditunggu-tunggu itu dihadiri oleh Ardy (sang ketuo "Wongkito"), Pak Alam, Pak Victor, Jafis, Aulia, Farhan, Ferdi, Idrus Fadhli, Nike, Ibunk, Ranny, Wahyu, Muda Ali dan saya. Intan, adik tingkat saya yang juga kuliah di Unila, beruntung mau menemani saya datang di kopdar ini. Tapi sayangnya, Intan belum punya blog meskipun sering saya rayu dia segera buat blog :-)

"Saya kan gak punya blog kak, ntar gimana nanti gak nyambung,"kata Intan. Saya bilang, ngga apa-apa ikut. Kan nanti bisa nambah banyak teman blog yang tinggal di Palembang. "Saya juga belum kenal banyak dengan mereka sebelumnya,"bujuk saya ke Intan. Akhirnya tanpa bersusah payah membujuknya, Intan mau ikut dengan saya acara kopdar.

Cerita berikutnya ditunda dulu. Ada kerjaan nih. Nanti disambung kembali cerita dari acara kopdar ini. Hehe....

*foto di atas dicopy dari blog Nike

Tuesday, December 25, 2007

Reuni Sahabat Lama dan Pindang Pegagan

Tidak sia-sia bisa pulang ke Palembang untuk liburan akhir tahun 2007 ini. Tentu saja ketemu ortu di rumah dan yang tidak direncanakan sebelumnya, momen reuni dengan sahabat lama SMA.

Sahabat-sahabat dekat saya itu seperti Aziz, Hendri, Fadli, Dwi dan saya ngobrol-ngobrol di rumah Aziz sambil menikmati hidangan kue, kacang, dan beberapa gelas air mineral. Boleh dibilang, sebutan buat kami adalah "Faedah". Kata "Faedah" itu diambil dari nama depan kami ketika masih SMA ketika kelas dua. Mungkin tidak sengaja tercetus kata tersebut dan mudah-mudahan kami adalah termasuk orang-orang yang bermanfaat/faedah untuk semua orang di muka bumi. Amin.

Sebelum libur Hari Raya Idul Adha 1428 H tanggal 20 Desember lalu, saya sempat berpikir tidak akan pulang ke rumah. Rencana saya tidak pulang itu berubah menjadi sebaliknya. Ternyata, ada hikmahnya bisa pulang. Ya itu tadi, bisa ketemu lagi dengan sahabat-sahabat saya.

Rencana pulang ke Palembang juga karena diundang acara kopi darat atau istilah kerennya kopdar dengan blogger "wongkito" di Pizza Hut di jalan Sudirman, Selasa (25/12) siang. Nike, salah satu blogger "wongkito", menggagas kopdar ini. Ada sekitar 13 blogger yang menyanggupinya saat conference di Yahoo Messanger (YM) beberapa hari yang lalu. Saya senang diundang acara kopdar ini nanti. Makanya saya bisa bela-belain pulang ke Palembang untuk ikut kopdar perdana blogger Palembang ini.
Hari Minggu kemarin (23/12), Aziz mengundang kami datang ke rumahnya. Ada acara yang belum bisa disebutkan di sini, karena Aziz belum mengizinkan. Intinya ada acara yang cukup membuat kami waktu itu menjadi kaget. Entah, Aziz mungkin ingin membuat kejutan buat kami. Tapi, akhirnya kami segera tahu maksudnya. (Tenang aja ente Ziz, ane ngga nyebutinnya di blog. masih 'secret' kan? Hehe...)

Malamnya, Dwi mengajak Aziz buat mentraktir makan malam di Rumah Makan Pindang Pegagan. Wah, saya setuju saja kalau diajak makan malam. Apalagi gratis (Hehe...). Rumah makan yang khas menu masakan Palembang itu, seperti pindang patin, sudah lama saya ingin coba. Aziz, Dwi, Hendri dan saya, meluncur naik mobil yang saya kendarai ke rumah makan khas Palembang itu di jalan Sudirman, persis depan SMA Negeri 3 Palembang.

Kalau setiap kali reuni, kumpul dan makan-makan seperti ini lagi, saya tidak akan ketinggalan. Siap-siap saja tinggal menunggu dikontak, lalu meluncur ke TKP untuk makan (Hehe...).

Oh ya, spesial thanks very much buat akhi Abdul Aziz yang sudah mentraktir makan malam untuk kita bertiga (Dwi, Hendri dan saya). Untuk yang siang itu, saya mengucapkan selamat ya bro!! Semoga acara puncaknya bulan Februari nanti dimudahkan. Amin.

Thursday, December 20, 2007

Diskusi: Melihat Perseteruan Malaysia-Indonesia dari Media Massa

Ganyang Malaysia! Sering kali kedua kata itu muncul kembali ketika ketegangan antara negara Indonesia dengan Malaysia terjadi akhir-akhir ini. Presiden Soekarno, orang nomor satu di Indonesia saat itulah yang ‘memproklamasikan’ kata “Ganyang Malaysia” pada era tahun 1960-an.

Malaysia adalah negara tetangga Indonesia yang mempunyai kesamaan asal suku, warna kulit, budaya dan bahasa (ada Melayu dan Indonesia). Kebanyakan keturunan Malaysia dahulu berasal dari Indonesia yang hijrah dan menetap di negeri jiran, sebutan bagi Malaysia.

Kini, Malaysia secara perekonomian berkembang lebih pesat dan maju pasca krisis ekonomi di asia tenggara pada tahun 1997-1998 meninggalkan tetangganya, Indonesia. Namun, sejak mencuat lagu “Rasa Sayange” menjadi lagu dalam rangka mempromosikan pariwisata dan budaya Malaysia Truly Asia pada Oktober 2007 lalu.

Tentu saja lagu “Rasa Sayange” yang sudah sangat akrab bagi sebagian masyarakat Indonesia sejak lama itu, kemudian menjadi lagu pariwisata Malaysia. Maka, media massa terutama di Indonesia secara bertubi-tubi memberitakan ‘klaim’ sepihak lagu itu yang dinyanyikan orang Malaysia. Sebagian orang Indonesia pun menjadi kesal dan menyebut Malaysia sebagai "Malingsia", plesetan dari nama Malaysia.

Topik hangat tentang perseteruan Malaysia dan Indonesia ini juga menjadi perbincangan bagi teman-teman di jurusan saya (komunikasi,red). Yulis, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan (litbang), menggagas bikin acara diskusi tentang perseteruan dua negara serumpun ini dari kacamata media massa, yang diselenggarakan pada hari jumat siang (14/12) lalu di kesekretariatan himpunan mahasiswa jurusan Komunikasi Unila.

Saya ditunjuk menjadi salah satu narasumber acara diskusi ini. Ade Suryani, mahasiswi S2 dari Universiti Kebangsaan Malasysia, yang juga alumni komunikasi, diundang sebagai narasumber diskusi. Saya dan Ade berduet pada diskusi ini.

Ade yang sudah hampir satu semester kuliah di Malaysia, bercerita gambaran singkat tentang Malaysia secara umum. Ia mengatakan, sejak munculnya ketegangan antara Malaysia dengan Indonesia karena bermula dari sebuah lagu “Rasa Sayange”, menjadi sangat prihatin dengan kondisi ini. “Saya sebenarnya tidak pro kepada Malaysia dan juga kepada Indonesia,”kata Ade yang mengenakan jilbab biru ini.

Konflik perseteruan antara Malaysia dengan Indonesia sebenarnya muncul karena media massa yang memberitakan secara besar-besaran di Indonesia. “Tapi, di Malaysia masalah ini tidak muncul sebagai masalah besar di media massa,”ujar Ade.

Media massa di Indonesia masih memegang prinsip “Bad news is a good news”. Beda halnya dengan Malaysia, secara bentuk negara kerajaan dan pemerintahannya dikendalikan perdana menteri.

Yulis, yang ikut jadi peserta diskusi menanyakan bagaimana pemberitaan media massa di internet juga turut dikendalikan pemerintahan Malaysia?

Seluruh pemberitaan media massa sepenuhnya diawasi pemerintah Malaysia. “Mereka (Malaysia,red) memiliki ego untuk mempertahankan agar media massa di negaranya tidak seperti di Indonesia yang bebas,”kata Ade.

Bahkan, mereka (Malaysia,red) mengawasi seluruh isi khutbah Jumat dan ceramah di masjid-masjid yang mendatangkan banyak jamaah. “Setting Malaysia sangat rapi. Masyarakat Malaysia ditata agar tidak terjadi pergolakan,”cerita Ade.

Hanya melalui dunia internetlah kebebasan bersuara dari Malaysia dan Indonesia terus didengungkan. Bahkan, kecaman melalui blog dari para penulis blog masing-masing dua negara ini. “Blog Indonesia punya blog sendiri, blog Malaysia juga tidak mau kalah dan menuliskan kecaman dan penghinaan terhadap Indonesia,”kata saya yang mengamati per-blog-an Indonesia, forum online Malaysia dan Indonesia.

Meskipun kini di media massa cetak dan televisi Indonesia sudah tidak terdengar kembali perseteruan Malaysia dengan Indonesia. Teori Agenda Setting dari media memang berlaku di setiap media massa. Kini, setting lain berpindah. Saya sepakat dengan Ade, Bad News is a good news. Ya, sampai sekarang itu masih disukai bagi media massa mana pun di Indonesia.

Thursday, December 06, 2007

Rusa lagi Mandi Wajib

Ada Rusa sedang mandi wajib di danau komplek Universitas Lampung (Unila)? Hah!? yang bener aja ada rusa kok mandi wajib? Memangnya rusa ngerti rukun mandi wajib? Eh, coba perhatikan foto itu baik-baik. Rusa-rusa itu sedang apa di tepi danau? Kelihatannya mereka lagi minum. Hehehe....Maklum saja, Rabu siang kemarin (5/12) ketika saya jalan di dalam kampus yang di sebelah kirinya ada kandang rusa itu, terasa terik matahari seperti membakar kulit. Mungkin si rusa-rusa itu haus ya.

Sejak tahun 2004 lalu, kampus Unila membuat kawasan konservasi satwa rusa. Kawasan ini dibentuk seperti menyerupai kandang yang cukup leluasa buat empat rusa yang hidup di sana. Meskipun di dalam kandang rusa itu dirancang menyerupai kondisi alam apa adanya, mereka setiap hari diberi makan dedaunan segar oleh penjaga kandang.

Niat Rektor Unila yang lama, Prof.Dr.Ir.Muhajir Utomo,M.Sc, membuat konsep kampus hijau. Salah satunya memelihara rusa-rusa. Kemudian melakukan penghijauan dengan menanam pohon-pohon di dalam kampus. Tak heran Unila dikenal dengan kampus hijau.

Bahkan, baru-baru ini Rektor Unila yang baru dilantik, Prof.Dr.Ir.Sugeng P.Harianto,M.S, ingin membuat kampus Unila tidak hanya kampus hijau. Pak Sugeng malah mewujudkan kampus hutan. Maksudnya, kampus bukan diisi dengan orang-orang hutan. Sebuah kampus dengan suasana seperti hutan alami. Saya kemudian jadi teringat dengan Kebun Raya Bogor yang sangat terkenal sebagai paru-paru kota Bogor. Nah, mungkin cita-cita Pak Sugeng itu membuat kampus Unila sebagai paru-paru bagi Kota Bandarlampung. Katanya nanti selain konservasi rusa, dibuat juga konservasi satwa-satwa lainnya yang dilindungi dan dijaga.

Terbayang kalau kampus Unila seperti Kebun Raya Bogor, alangkah indahnya pemandangan kehijauan pepohonan (flora) yang sangat banyak, satwa (fauna) dan ada danau yang luas. Ini kelak bisa dijadikan laboratorium untuk mahasiswa semua jurusan Fakultas Pertanian Unila. Selain itu pula, mungkin setiap pagi di akhir pekan selalu ramai orang-orang jogging atau olahraga lainnya. Ehm, kapan ya kampus seperti itu bisa segera diwujudkan?

Friday, November 30, 2007

Website D'Cinnamons Sempat di-Hack

Akhir-akhir ini saya suka mendengar lagu-lagu yang dinyanyikan oleh D'Cinnamons dari Winamp komputer. Saya suka musik dari petikan gitar dan suara khas Bona (Vocal dan Lead Guitar). Band yang hanya terdiri dari tiga orang itu berasal dari Bandung. Hampir semua lagu-lagunya saya suka, apalagi lagu "Loving You".

Tak puas mendengar lagu-lagunya, Saya tertarik mencari info-info tentang D'Cinnamons di google. Di beberapa blog umum, ada banyak lirik-lirik lagunya. Bagus-bagus. Sampai saya dapatkan website resmi D'Cinnamons, tiba-tiba Kamis malam itu (29/11) pukul 9:41 PM, saya kaget membuka website-nya di-hack orang (ya jelas orang lah, masa' ada mesin yang bisa hack website sih :P). "Kok tega ya orang ini meng-hack website D'Cinnamons yang jadi favorit saya ini?"gumam saya penasaran.

Pada halaman website utama itu tertulis by CyberRoot, dengan lambang bulan sabit dan bintang. Mirip lambang bendera Turki. Cukup mengagetkan saya. Kata teman saya, sudah biasa sekarang banyak website kena hack. Baru-baru ini saja, website Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia di-hack. Saya baca dari detikcom.

Kembali ke website D'Cinnamons, sebelum di-hack, saya pernah mengunjungi website-nya. Keren. Ada lantunan lagu-lagunya. Desain warna coklat yang khas seperti kopi. Ngomong-ngomong soal kopi, saya senang dengan kopi. Apalagi menikmati kopi Lampung yang khas dan harum. ehm,...nikmat deh diminum saat pagi hari. Loh, kok malah ngga nyambung dengan D'Cinnamons? Ya sudahlah itu hanya intermezo saja. Hehehe...

Saya lihat website D'Cinnamons kembali seperti biasa, Jumat malam (30/11). Untungnya sang admin website D'Cinnamons cepat mengatasi tampilan halaman utama yang di-hack itu. Mudah-mudahan website-nya tidak di-hack lagi. Kalau mau hack, situs-situs pemerintahan Malaysia saja di-hack. Mas Pujiono menulis di blog-nya, "Perang Sudah Dimulai, Sebuah Serangan di Dunia Maya (kembali) Dilancarkan". Mas Pujiono sempat merekam (screenshoot) halaman website Kementerian Kebudayaan Malaysia itu di sini. Tanda-tanda perang di dunia cyber Indonesia-Malaysia sudah terlihat jelas. Ada yang mau turut partisipasi melancarkan peperangan di dunia cyber dengan Malaysia?

Sunday, November 25, 2007

Surat Terbuka: Lagi, Malaysia Tak Henti Klaim Budaya Indonesia

Saudaraku Malaysia, mengapa saudara pemerintah Malaysia mengklaim Reog Ponorogo sebagai milik Malaysia? Ini permintaan saya kepada warga atau pemerintah Malaysia agar menjawab pertanyaan saya ini secara objektif serta dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Saya sebagai warga negara Indonesia, tentu sangat sedih dan menyayangkan pemerintah Malaysia mengklaim Reog Ponogoro adalah milik Malaysia.

Kamis (22/11) kemarin, saya kaget setelah membaca sebuah berita yang berjudul “Reog Dijiplak Malaysia, Pemkab Ponorogo Didesak Bertindak” dari situs berita Detikcom. Saya jadi heran dengan sikap Malaysia. Sebelumnya pemerintah Malaysia mengklaim lagu “Rasa Sayange” sebagai lagu milik mereka untuk kampanye pariwisata “Malaysia Truly Asia”.

Namun, setelah mereka gagal klaim lagu “Rasa Sayange” adalah milik Malaysia, kini mereka klaim Reog Ponorogo. Dari kata setelah Reog disambung dengan Ponorogo asli milik masyarakat Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia. Tarian Barongan yang dimuat oleh website Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia tampak seperti Reog Ponorogo. Bentuknya jelas-jelas sama dengan Reog Ponorogo. Hanya saja Malaysia menyebutnya Tarian Barongan.

Saudaraku Malaysia, Reog Ponorogo yang ditiru Malaysia menjadi Tarian Barongan berasal dari Kota Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia. Seorang sesepuh kesenian Reog, seperti dikutip dari Media Indonesia, Kemun alias Molok, berusia 84 tahun, mengatakan Reog sejak masa embahnya Kemun bernama Reog Ponorogo. Tidak ada Reog Malaysia atau reog lain.

Cerita Reog Ponorogo, seperti dikutip dari Kompas, telah ada dan mulai berkembang sejak tahun 900 saka. Tepatnya, pada masa kerajaan Kediri. Menurut Sesepuh Kesenian Reog Ponorogo yang juga sebagai pengamat Reog Ponorogo Tobroni, pada masa itu, Prabu Klono Sewandono dari kerajaan Bantarangin atau Wengker yang merupakan cikal bakal Kabupaten Ponorogo, berangkat menuju Daha kerajaan Kediri untuk melamar putri Songgolangit.

Namun ditengah perjalanan rombongan Prabu Klono Sewandono dihadang makhluk yang berwujud kepala harimau (Kepala Barong) yang berhiaskan burung merak (dadak merak) di atasnya. Saat itu, kepala barong dapat dikalahkan dan kemudian menjadi pengikutnya. Namun, ketika melamar sang putri raja Songgolangit, sang putri bersedia dinikahi dengan meminta mas kawin berupa sebuah kesenian yang belum ada di dunia. Atas permintaan tersebut, akhirnya lahirlah kesenian reog, yang merupakan perpaduan antara musik seruling dengan gending atau karawitan yang diiringi para penari.

Bagi saya, Malaysia telah melakukan kesewenang-wenang dengan klaim “Reog Ponorogo” versi Malaysia (Tarian Barongan, red) adalah milik mereka. Menurut website Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia, Tarian Barongan menggambarkan kisah-kisah di zaman Nabi Allah Sulaiman dengan binatang-binatang yang boleh bercakap. Kononnya, seekor harimau telah terlihat seekor burung merak yang sedang mengembangkan ekornya. Apabila terpandang harimau, merak pun melompat di atas kepala harimau dan keduanya terus menari. Tiba-tiba Pamong (Juru Iring) bernama Garong yang mengiringi Puteri Raja yang sedang menunggang kuda lalu di kawasan itu. Pamong lalu turun dari kudanya dan menari bersama-sama binatang tadi. Tarian ini terus diamalkan dan boleh dilihat di daerah Batu Pahat, Johor dan di negeri Selangor.

Pak Molok, asal Ponorogo, seperti dikutip dari website Kapanlagi, sebagaimana yang dikemukakan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Seni Budaya, Pemkab Ponorogo, Gunardi. "Gambar reog di website itu adalah asli buatan Pak Molok, perajin reog di Ponorogo," katanya.

Menurut dia, dadak merak reog yang dibuat Molok berukuran panjang 2,25 meter, lebar 2,30 meter, dan beratnya hampir 50 kilogram, sedangkan yang membedakan antara reog buatan Molok dengan perajin reog lainya terletak pada kekhasan saat membuat dadak merak dengan motif dan ukiran khusus.

Sedangkan pemerintah kabupaten Ponorogo telah mendaftarkan tarian reog Ponorogo sebagai hak cipta milik Kabupaten Ponorogo yang tercatat dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004 dan diketahui langsung oleh Menteri Hukum dan Perundang-Undangan.

Wahai saudaraku Malaysia, apakah saudara tak henti-hentinya mengklaim sejumlah budaya milik Negara Kesatuan Republik Indonesia? Setelah Musik Angklung dari Sunda (Provinsi Jawa Barat) juga diklaim milik Malaysia. Lalu, batik khas Jawa sama-sama nasibnya diklaim milik Malaysia. Berikutnya, rendang dari Sumatera Barat pun juga diklaim Malaysia dan masih banyak lagi yang lainnya diklaim milik Malaysia.

Saudaraku Malaysia, mengapa Reog Ponorogo yang jelas-jelas adalah milik masyarakat Ponorogo, Jawa Timur itu diklaim dan diganti nama dengan Tarian Barongan ala Malaysia? Seperti Kuda Kepang yang disebutkan di website Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia mencantumkan berasal dari Jawa yang lebih dikenal dengan nama Kuda Lumping. Apa sulitnya mencantumkan secara jujur seperti Reog Ponorogo, Angklung dari Sunda (Jawa Barat), Batik dari Jawa, dan lain-lainnya.

Semoga saudaraku Malaysia sadar dengan sikapnya yang sewenang-wenang mengklaim budaya asli milik Indonesia. Cik Anwar Ibrahim pun mengingatkan isu Lagu Rasa Sayang tidak mungkin hangat dan bergolak seandainya hubungan kedua negara akrab. Malangnya sikap pemerintah Malaysia terlalu angkuh, menangkis hujah jiran secara sombong. Penderaan tenaga kerja Indonesia, dengan kes bunuh, rogol, penindasan majikan, hukuman sebat rotan di penjara semuanya memberikan gambaran betapa kejam dan angkuhnya pemerintah dan sebahagian rakyat Malaysia.

Saya menulis ini tidak ada bermaksud ingin provokasi antara Indonesia dengan Malaysia. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa sejumlah media di Indonesia memberikan sejumlah fakta dan informasi terutama mengenai Reog Ponorogo yang diklaim Malaysia secara sepihak. Tak ada rasa kebencian kepada saudaraku Malaysia karena kita adalah satu rumpun. Saya hanya ingin mengetahui dan berdiskusi banyak kepada saudaraku Malaysia tentang ini.

Wallahu 'alam


sumber foto: Portal Kementarian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia


Monday, November 19, 2007

Hutan Mangrove Lampung Timur Masih Terlihat Hijau

Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur, Selasa (13/11) pagi itu hujan gerimis. Awan terlihat agak mendung, tapi langit masih cukup cerah. Sebuah kawasan Hutan Mangrove terlihat hijau dari arah kejauhan dari sebuah rumah yang baru baru saja Kami singgahi di desa itu. Cukup menyegarkan pandangan mata melihat keasrian di kawasan itu.

Selama lebih kurang dua jam perjalanan dari kampus Unila menuju Desa Margasari terasa singkat. Di dalam bus ada sekitar delapan orang dosen yang ikut. Ditambah saya. Awalnya, saya kira rombongan yang akan ikut cukup banyak. Namun, kenyataannya hanya beberapa saja.

Di dalam bus yang cukup adem oleh AC itu, tak banyak dosen yang saya kenal. Mereka rata-rata adalah dosen Jurusan Manajemen Kehutanan. Yang lainnya, dosen Biologi dan Teknik. Mereka adalah tim yang ditunjuk pimpinan universitas untuk meninjau kawasan Hutan Mangrove di Desa Margasari.

Saya tiba-tiba jadi pendiam di bus yang sepi penumpang itu. Ada dosen yang 'sok' bercakap bahasa Inggris. Awalnya agak risih mendengar dosen itu yang sangat cerewet. Bahkan, saya pun jadi bahan buat diskusi dengan teman-temannya di bus. Tentu saja menyebalkan.

Oh ternyata, itu tadi hanya sebuah kekesalan sesaat. Saya tidak sebenci itu kok. Ibu dosen itu cukup menyenangkan diajak ngobrol. Sedikit-sedikit saya pun ngobrol dengan bahasa Inggris. Ternyata, bahasa Inggris saya memang masih payah. Agak terbata-bata. Tapi, ya sudahlah. Namanya juga mencoba-coba kembali berbahasa Inggris. Tak ada salahnya bukan?

"Everybody have their own character,"celetuk saya

"Yes, you right bla bla bla....,"jawab ibu dosen itu panjang lebar dengan bahasa Inggris-nya yang fasih. Tapi, saya hanya menangkap inti yang dia ucapkan saja. Dia setuju komentar saya. Cukup? Ternyata ia masih dengan kecintaan berbahasa Inggris-nya. Saya diam saja sambil memperhatikannya berbicara. Tak mengerti. Saya menggut-manggut saja.

Tidak terasa kira-kira dua jam perjalanan. Bus milik kampus Unila yang kami tumpangi tiba di sebuah rumah yang di sana telah ditunggu sejumlah warga desa. Mereka tampak duduk-duduk santai di atas kursi plastik di depan rumah itu. Kebanyakan dari mereka adalah bapak-bapak.

Ketika masuk di desa itu, jalan agak rusak. Tidak diaspal. Hanya bebatuan koral saja ditanam di sepanjang jalan. Tapi masih bisa dilewati kendaraan roda empat seperti bus dengan cukup lancar. Hanya saja kecepatan maksimum 20-30 Km/jam.

Bapak-bapak yang menunggu di rumah itu menyambut kami. Mereka senyum kami telah tiba. Kami dipersilahkan masuk ke dalam rumah. Saya memilih duduk-duduk di luar teras rumah sambil memfoto-foto dengan kamera digital merk Mpix di sekitar rumah. Dari arah kejauhan rumah, tampak hamparan hijau yang luas. Mata saya terasa sejuk melihat hamparan hijau itu.

Tidak lama kemudian, acara pertemuan dengan bapak-bapak masyarakat desa dimulai. Kepala Desa Margasari juga ikut pertemuan. Nyoto, kepala desa itu mengatakan desanya memiliki kawasan Hutan Mangrove seluas lebih dari 1000 Ha. "Kalau bisa nanti dijadikan Mangrove Center,"kata Pak Nyoto.

Yuni, tamu dari JICA atau Japan International Corporation Agency yang datang dari Pusat Mangrove Bali, menyambut baik dari perhatian masyarakat untuk menjaga Hutan Mangrove di desanya. "Lampung sebenarnya punya banyak potensi alam yang bermanfaat,"ujar Yuni.

Kalau bagi Ir.Anshori Djausal,M.T, Pembantu Rektor IV Unila Bidang Kerjasama justru mengingatkan agar masyarakat mulai bisa tidak terlalu banyak bergantung kepada pihak luar. "Meskipun banyak tenaga ahli dari luar, tapi bukan berarti harus mengandalkan para tenaga ahli untuk mengelolanya. Justru peran dari masyarakat itu sendiri yang telah lebih dulu berpengalaman karena telah lama tinggal di daerahnya,”kata Bang Ans, panggilan akrabnya.

Setelah istirahat dan makan siang, Kami diajak ikut menaiki kapal yang biasa digunakan nelayan menangkap ikan di laut. Berangkat dari tepi sungai hingga keluar dari muara sungai kemudian ke lepas pantai.

Ombak laut sesekali menghantam kapal yang kami tumpangi. Agaknya saya pun khawatir. Soalnya, belum pernah saya menumpang kapal seperti itu dengan hempasan ombak yang kuat. Kapal naik-turun. Lama-lama saya jadi menikmati perjalan di atas kapal yang terbuat dari kayu itu. Saya pun memfoto-foto pemandangan Kawasan Hutan Mangrove yang penuh kehijauan.

Bang Ans di atas kapal menerbangkan layang-layang. Ia memang hobi bermain layang-layang. Bangkan, sejak kecil hobinya itu hingga sekarang masih ditekuninya. Saya lihat layang-layang itu cukup besar terbang di langit yang cukup cerah siang itu. Indah betul. Sambil mengarungi laut dengan kapal, tak henti-hentinya saya takjub dengan pemandangan kawasan Hutan Mangrove yang hijau. Sesekali saya lihat ada burung terbang dari hutan itu.

Kapan-kapan saya ingin bermain ke sana lagi. Sambil membawa pancingan. Saya pengan belajar mancing di laut. Di kawasan ini seharusnya bisa dijadikan tempat wisata. Sayangnya, belum ada niat untuk mengembangkan kawasan Hutan Mangrove itu untuk tempat wisata. Menunggu willing pemerintah daerah pasti lama. Oh ya, ada yang mau mengajari saya memancing di laut gak ya?

Monday, November 12, 2007

Malam Minggu Pempov Lampung Ramai ABG

Tidak biasanya saya jalan-jalan pada malam minggu. Kalau pun ingin jalan ketika malam hari, biasanya diajak teman-teman dekat seangkatan saya di Teknokra. Dulu, kurang lebih empat tahun saat masih aktif di Teknokra, dalam satu minggu pasti jalan keluar malam. Entah itu ada sesuatu hal yang penting dan harus dikerjakan malam itu, sehingga rasa kantuk pun harus dikalahkan dengan hembusan angin malam yang menusuk paru-paru.

Kadang pergi sendirian. Tapi, lebih sering ditemani berdua atau bertiga menaiki motor. Kalau berdua, ya motornya cukup satu saja. Nah, kalau bertiga harus cari satu motor lagi untuk jalan. Tidak mungkin satu motor ditumpangi bertiga kan? Biasa-bisa ditilang polisi di tengah jalan.

Kendaraan bermotor roda dua ini di zaman sekarang, memang terasa sangat membantu untuk berpergian kemana pun. Apalagi motor yang biasa saya gunakan sehari-hari (Legenda2, red) ini, bahan bakarnya cukup irit. Keluar ongkos untuk beli bensin pun tak seberapa mahal dalam seminggu. Ya, lihat situasi dan kondisi juga. Jika jarang berpergian jauh, biasanya jadi irit pengeluaran sehari-hari saya.

Sebaliknya, kalau sering berpergian dalam dua hari biasanya harus mengeluarkan ongkos lebih dari biasanya. Tak apa. Pergi ke tempat teman atau senior saya, insya Allah niatnya silahturrahmi. Bahkan, dosen saya sering cerita tentang hikmah tentang silahturrahmi. Katanya, silahturrahmi itu akan memperpanjang usia bagi yang menjalankannya. Selain itu pula akan mendatangkan rezeki. Wallahu 'alam, rezeki hanya Allahu yang mengatur dan mengetahui. Saya jadi banyak mendapatkan semacam pencerahan dari dosen saya yang mengajar pada jurusan Teknik Elekro. Saya senang bisa banyak tukar-pikiran dengannya. Tak banyak dosen mau tukar-pikran seperti itu.

Jadi, malam minggu kemarin (10/11), saya, Dede, Yudi, Rieke dan Andi jalan-jalan. Tak ada yang mengira jalan-jalan malam minggu itu harus terdampar di halaman kantor Gubernur Provinsi Lampung. Biasanya kantor ini disebut Balai Keratun.

Rieke kebetulan datang dari Jakarta pada hari sabtu pagi (10/11). Ia ingin liburan di sini, setelah katanya, menyelesaikan terbitan majalah di tempatnya bekerja. Sebetulnya, ia pun ingin agar selain kita berempat tak ada yang mengetahui ia berada di Lampung. Termasuk teman dekatnya, Diova dan May pun ia tak mengabarinya. Di SMS-nya pun Rieke selalu mengingatkan saya agar tak memberitahukan siapa pun.

Di halaman kantor Gubernur Provinsi Lampung ternyata ramai orang, terutama mereka yang menggunakan sepeda motor. Kebanyakan mereka adalah para ABG atau Anak Baru Gede. Saya perhatikan mereka meskipun tidak terlalu begitu jelas, karena suasana malam hari di sekitar itu agak gelap. Meskipun lampu terlihat menyala di tiap penjuru komplek kantor pemerintahan itu, tapi tetap saja tidak bisa menerangi hingga ke setiap sudut-sudut.

Ramai seperti pasar kaget. Hilir mudik motor di tempat itu. Ada pula beberapa pasangan laki-laki dan perempuan malah duduk di atas motornya di komplek itu, tapi agak gelap. Samar-samar. Mungkin mereka lebih suka begitu, daripada tempat yang terang dan terlihat orang banyak. Tebak sendiri mereka berbuat apa. Saya dan teman-teman saya lebih memilih tempat yang cukup terang sinar lampu di komplek kantor pemerintahan itu.

Di seberang jalan dari komplek kantor pemprov itu, suara musik terdengar menghentak. Tak terlalu keras, karena itu bukan konser besar. Hanya panggung kecil lengkap dengan penyanyi, band dan sound system yang cukup terjangkau di dekatnya.

Saya kemudian jadi tahu, ternyata malam minggu di sana memang ramai orang. Entah untuk pacaran atau sekedar lihat orang pacaran di atas sepeda motor. Kira-kira satu jam kami ngobrol dan hanya duduk-duduk di atas tangga menghadap ke lapangan komplek kantor Pemprov Lampung itu. Selintas di pikiran saya, maklum saja Bandarlampung yang ibukota Provinsi Lampung ini tak punya taman kota yang cukup luas. Wajar saja, mereka memanfaatkan lahan lapangan kantor gubernur ini. Kasihan? Ya,..nasib jadi warga kota Bandarlampung.

Monday, November 05, 2007

Makrab dan Reuni di Pantai Sapenan

Senang dan terharu. Barangkali begitulah perasaan saya ketika ikut acara Malam Keakraban (Makrab) 2007, Sabtu-Minggu (3-4 November kemarin), di Pantai Sapenan, Lampung Selatan. Rasanya senang bisa bertemu dengan hampir seluruh angkatan di jurusan saya (Komunikasi). Sebagian besar mereka ikut serta pada acara ini. Bahkan, angkatan yang tertua (1998) pun bisa datang meskipun hanya tiga orang. Kira-kira ada sekitar 100 lebih orang yang datang di acara ini, dari mulai angkatan 1998-2007.

Ada juga teman-teman yang telah lulus dan bekerja di luar Bandarlampung, seperti: Adi, Abet, dan Suriyanto. Mereka bertiga datang dari Tangerang. Ada juga Nunik dari Sukabumi, tidak ketinggalan ikut rombongan bersama mereka. Padek pun niat banget ikut acara Makrab. Ia naik Kereta Api dari Palembang ke Bandarlampung selama lebih dari 8 jam. Saya salut dengan mereka yang ingin datang dari jauh-jauh. Ini seperti acara reuni buat mereka yang sudah lama tidak bertemu. Saya yakin mereka sudah merencanakan agar bisa ikut dan bisa bertemu teman-teman yang masih tinggal di Bandarlampung.

Ferari dan teman-teman angkatan 2000 pun menyiapkan sebuah bus besar yang disewa untuk teman-teman angkatan 2000-2004. Bus ini membawa kita ke Pantai Sapenan, Lampung Selatan yang jaraknya sekitar 80 Km lebih dari kampus Unila. Cuma ada sedikit tambahan ongkos sebesar Rp 20 ribu per orang untuk pergi-pulang. Nyatanya yang ikut di dalam bus cukup banyak. Sambil menikmati perjalanan kira-kira dua jam, banyak teman-teman yang sibuk berfoto-foto, cengar-cengir, terkadang tertawa lepas. Hari itu, tampak keceriaan wajah mereka.

Kira-kira pukul 5 sore lebih, bus yang membawa rombongan kami tiba di Pantai Sapenan. Teman-teman langsung berhamburan keluar. Ada yang berfoto-foto dengan latar belakang pantai. Ada yang belum salat Asar, langsung 'ngacir' cari air wudhu, terus salat di mushola. Nah loh, ketahuan yang belum salat Asar itu saya dan Anto. Hehe..

Lokasi pantai ini bersebelahan dengan Kalianda Resort. Pemandangannya indah. Dari Pantai Sapenan melihat ke laut dan kejauhan, terlihat Gunung Rajabasa menjulang tinggi. Saya belum pernah ke pantai ini sebelumnya. Pemandangan di sekitar pantai ini memang indah.
Malam hari, setelah menikmati makan nasi bungkus bersama dengan diliputi hawa angin yang kencang, ada acara api unggun dan persembahan dari masing-masing angkatan. Kocak dan bikin ketawa lihat tingkah si Ian 'Kep' bergaya fotografer. Si Kep memfoto Andina dari dekat saat menarikan Tari Sembah (Tari khas Lampung, red) ditemani sembilan teman seangkatannya (2005,red). Mereka menari seperti layaknya Tari Sembah beneran di atas panggung menyambut tamu agung.

Tak hanya 'Kep' saja memfoto mereka yang sedang menari, tapi beberapa teman-teman lain yang membawa kamera tidak ketinggalan ikut mendekat dan memfoto aksi Andina dkk. Kilatan cahaya dari blitz kamera terus terpancar bak artis selebritis. Tanpa menghiraukan kamera-kamera yang mendekati Andina dkk yang sedang menari, tapi mereka hanya tersenyum-senyum saja dan terus menari yang diiringi dengan lantunan suara musik khas Tari Sembah hingga selesai.Belum cukup puas menyaksikan aksi persembahan setiap angkatan, berikutnya membakar beberapa kembang api. Kata panitia, sebagai peringatan "Satu Dekade Komunikasi Unila". Satu per satu kembang api dihidupkan, kemudian diarahkan ke langit. Warna-warni terpancar dari kembang api itu diliputi suara ledakan, mirip petasan. "Beliin kembang api ini aja abis sekitar Rp200 ribu,"celetuk panitia. Semua menatap kembang api yang meluncur bak roket ke langit menjadi terang karena kilatan kembang api itu.
Setelah acara kembang api itu, teman-teman angkatan 2000 punya acara spesial. Bakar Kambing Guling. Entahlah, katanya ini sebagai bentuk tanda syukur. Seekor kambing yang sudah siap diiris-iris oleh Ferari, kemudian yang lainnya siap membakar hingga jadi setengah matang. Semuanya bersemangat menikmati kambing guling bakar itu. Sambil dibumbui kacang dan saus kecap, nikmat sekali di saat angin malam yang terus berhembus dari pantai. Yummiiee..

Wednesday, October 24, 2007

650 Juta Jaminan Dibebaskan?


Seorang anggota DPR RI dari fraksi PPP meminta uang sebesar Rp 650 juta kepada Bu De saya untuk dapat membebaskan Pak De saya, Ir.Samsul Hadi. Bu De saya keget mendengar permintaan yang sangat tidak perikemanusiaan itu di saat sedang kesulitan, Senin kemarin (22/10). Beginikah sikap anggota DPR yang katanya berpihak kepada rakyat? Mau membantu, asalkan ada uang. Sungguh keterlaluan sekali.

Permintaan uang sebesar itu terlihat seperti layaknya pemerasan saja. Upaya yang ditempuh oleh anggota DPR asal Jawa Timur itu akan melakukan lobi politik di tingkat pusat (Jakarta,red) ke Mahkamah Agung (MA). Tampaknya setelah saya mendengar banyak pembicaraan dari keluarga saya bahwa di Kabupaten Magetan sedang terjadi perebutan kekuasaan kepala daerah itu (Bupati,red). 

Dugaan saya, Wakil Bupati Magetan H.Miratul Mukminin berusaha menduduki jabatan Bupati melalui pemilihan kepala daerah (Pilkada,red). Namun, saat pilkada beberapa waktu yang lalu, jabatan bupati sebelumnya yang dijabat Saleh Muljono, terpilih kembali.

Karena Wakil Bupati Magetan Miratul akan mengikuti pemilihan kepala daerah (pilkada,red) tahun 2008 mendatang, sepertinya putra seorang kyai ini berusaha menjatuhkan kepemimpinan Bupati Saleh sekarang ini. Melalui membuka kasus dugaan korupsi pembangunan GOR Ki Mageti dan gedung DPRD Magetan yang melibatkan Saleh. Hingga pada akhirnya, Saleh pun dipanggil Kepolisian dan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur atas kasus ini.

Pak De saya, yang pernah menjadi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kapubaten Magetan pun ikut ditahan karena diduga terlibat dalam kasus ini. Pak De saya sekarang ditahan di Rumah Tahanan Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Ia berada di sana kira-kira sudah hampir lima bulan lamanya.

Saya sebagai keponakannya sangat geram melihat adanya pertarungan politik hingga melibatkan Pak De saya. Padahal, saya yakin Pak De saya tidak terlibat atas dugaan kasus korupsi itu. Ia hanyalah sebagai korban pertarungan politik 'kotor' di kota Megetan, Jawa Timur. Sungguh luar biasa pertarungan politik yang terjadi di kabupaten ini. Tampaknya oleh media hanya menyoroti tentang dugaan kasus korupsi saja, daripada menelusuri ada permainan politik yang sangat ‘keji’ dan ‘kotor’ di dalam pemeritahan kabupaten ini.

Ketika saya, Bu De dan beberapa keluarga dekat mengikuti sidang di Pengadilan Negeri Magetan, Senin pagi (22/10), Saya melihat Pak De turun dari sebuah mobil Isuzu Panther yang ditemani dua orang jaksa penuntut. Pak De saya tampak kurus dari biasanya. Saya benar-benar sangat prihatin apa yang telah dialami Pak De saya ini. Saya yakin ia tabah menghadapi ini semua.

Sedangkan, di luar di gedung Pengadilan Negeri Magetan, Saya melihat sebuah spanduk berisi pesan “Mari Bersama-sama Kita Bangun Magetan” dan foto H.Miratul Mukminin, Wakil Bupati Magetan yang kini menjabat sebagai plt Bupati Megetan. Memang Ironis yang terjadi di Magetan. Upaya perebutan kekuasaan kepala daerah itu tak menjadi wacana publik di sana. Kabarnya koran daerah itu yang juga group Jawa Pos, melalui pemberitaannya hanya pada kasus korupsi saja. Lalu, ada kepentingan politik yang sedang bermain di pemerintahan itu tidak menjadi sorotan media setempat. Keberpihakan media sedang di pihak wakil bupati yang menjadi plt Bupati Magetan.

(Keterangan foto: Guntingan koran Jawa Pos berita mengenai kasus dugaan korupsi pembangunan GOR dan gedung DPRD Magetan, Jawa Timur. Pak De saya tampak sebelah kiri tidak berpeci. Ia hanyalah korban permainan politik di Kota Magetan, Jawa Timur).

Wednesday, October 03, 2007

Seribu Rupiah

Indria memberikan seribu rupiah kepada seorang pengemis anak kecil. Saat itu, Indria yang dari Kontras ini menjadi pembicara diskusi tentang tragedi 28 September 1999 di lapangan parkir Gedung Pascasarjana Magister FH Unila.

Pengemis anak kecil itu tiba-tiba mendatangi para pembicara. Saya, ketika mengikuti acara itu terheran-heran melihat tingkah anak kecil itu. Memang akhir-akhir ini di bulan puasa Ramadhan tiba-tiba saja terlihat berkeliaran anak-anak kecil mengemis dan minta-minta uang.

Bahkan, suatu hari saya pulang dari masjid, melihat anak-anak kecil beraksi meminta-minta uang ke orang-orang di sekitar masjid. Sedangkan, tidak jauh dari masjid saya lihat ibu-ibu menunggu di bawah pohon. Saya perhatikan mereka dari kejauhan seperti mengawasi anak-anak kecil yang meminta-minta ini. Saya yakin mereka menyuruh anak-anak ini. Sungguh kasihan melihatnya. Sejak kecil malah diajari meminta-minta.

Oh ya, foto di atas difoto oleh Agung H.Wijaya. Ia fotografer Teknokra. Saya suka dengan angle foto itu. Nilai rasa human-nya terasa bagi saya. Bagaimana menurut Anda?

Sunday, September 30, 2007

Diskusi Peringatan Tragedi 28 September 1999

Indria Fernida, Kepala Divisi Operasional Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau Kontras, bercerita tentang penyusutan kasus Tragedi 28 September 1999 di Bandar Lampung. Peristiwa yang menyebabkan meninggalnya dua mahasiswa Universitas Lampung (Unila) ketika terjadi demostrasi penolakan Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (RUU PKB) di depan kampus perguruan tinggi swasta Universitas Bandar Lampung (UBL) itu hingga kini belum terungkap palakunya.

“Kasus tragedi tahun 1999 ini masuk dalam daftar kasus Trisakti 1998 dan Tragedi Semanggi I dan II di Jakarta,”kata Indria pada diskusi memperingati Sewindu Tragedi UBL Berdarah, Rabu (26-9), di halaman depan Gedung Pascasarjana FH Unila.

Indria yang mengenakan baju batik itu tampak serius menyampaikan tindak kekerasan yang dilakukan para aparat keamanan terhadap demonstrasi yang ramai dilakukan para mahasiswa tahun 1998 lalu. Ia mengatakan kasus seperti Tragedi 28 September 1999 yang juga dikenal dengan Tragedi UBL Berdarah ini, seharusnya penegak hukum terutama kejaksaan segera menyusut tuntas pelaku utamanya.

"Ini termasuk kejahatan HAM berat,"tegas Indria di hadapan para peserta diskusi yang dihadiri lebih dari 50 mahasiswa.

Aktivis Kontras, sebuah NGO yang peduli terhadap Hak Asasi Manusia atau HAM ini cukup prihatin apa yang terjadi pada pada dua mahasiswa yang meninggal di depan kampus perguruan tinggi swasta UBL delapan tahun yang lalu. Dua mahasiswa itu adalah Muhammad Yusuf Rizal, mahasiswa FISIP Unila dan Saidatul Fitria, mahasiswa FKIP Unila.

Rizal terluka pada leher akibat terkena tembak peluru tajam oleh aparat keamanan atau saat itu dikenal dengan nama Pasukan Huru-Hara atau PHH. Sedangkan Atul, panggilan akrab Saidatul Fitria, kepalanya terkena pukulan keras oleh aparat keamanan hingga harus dirawat di rumah sakit. Namun, beberapa hari setelah dirawat nyawanya tidak tertolong.

Atul ketika terjadi demonstrasi penolakan RUU PKB sedang bertugas sebagai jurnalis fotografer pers mahasiswa (persma) Teknokra untuk meliput peristiwa demonstrasi di depan kampus UBL. Sejumlah fotonya kini masih mengabadi di kesekretariatan Teknokra. Saya sering kali melihat karya foto almarhumah saat datang ke Teknokra. Foto-fotonya itu terbingkai di ruang tamu. Saya terharu melihat karya almarhumah itu. Seolah-olah terbayangi bertemu dengannya. Padahal, saya belum pernah bertemu dengannya. Tapi, saya hanya bisa mengenalnya kisah-kisah memilukan yang terjadi padanya itu dipukul oknum aparat keamanan.

Saya sedih mengingatnya setiap melihat foto-foto karya almarhumah. Ingin sekali mengatakan,"Mbak Atul, sabar ya. Mbak selalu dido'akan dan dikenang bagi teman-teman di sini, karena Mbak tidak salah memilih jalan ini." Akhirnya perlahan-lahan kedua mata saya meneteskan air mata saat menuliskan ini. Setahun yang lalu, saya pernah posting kisah almarhumah Atul di sini.

Saturday, September 22, 2007

Buka Puasa Bersama Komunikasi

Tak ada bulan seistimewa bulan suci Ramadhan. Rasanya setiap hari ada nuansa yang sangat berbeda dibandingkan pada bulan lainnya. Ada saat-saat yang paling ditunggu ketika menanti berbuka puasa. Ada yang telah berkumpul bersama keluarganya. Ada pula yang hanya sempat berkumpul dengan teman-teman menanti saat berbuka puasa dan ada pula yang

Jumat sore kemarin (21-9), saya diajak teman jurusan ikut buka puasa bersama di rumah adik tingkat jurusan. Setiap tahun, memang sudah menjadi tradisi saat bulan puasa Ramadhan ada acara seperti ini. Biasanya yang ditunjuk menjadi tuan rumah adalah mereka angkatan baru masuk di perkuliahan.

Saya, Hilal dan Ocha, teman satu angkatan saya, berangkat sekitar pukul 17.00 WIB ke rumah Meilin, adik tingkat angkatan 2007 yang menjadi tuan rumahnya di daerah Way Halim. Tiyo dan Olga, adik tingkat angkatan 2003 secara kebetulan juga ikut bersama kami, berangkat mengendarai sepeda motor ke sana. Kita berlima konvoi dengan tiga sepeda motor.

Tiba di rumah Meilin, tampak di depan rumahnya ramai teman-teman dari berbagai angkatan. Tidak lama setelah kita tiba, rombongan angkatan 2000 pun tiba. Tapi mereka datang hanya berlima saja. Rino, Ferari, Febriansyah, Anto, dan Tito. Beruntung sekali mereka masih ingin datang acara seperti ini meskipun di antara mereka telah menjadi alumni.

Kira-kira ada sekitar lebih dari 100 orang yang berbuka puasa di sana. Ketua jurusan kami, Ida Nurhaida, serta didampingi tiga dosen Komunikasi lainnya, Ibrahim Besar, Sarwoko, dan Nina Yudha, pun datang ikut acara buka puasa bersama itu. Dari mahasiswanya, mulai angkatan baru masuk 2007 hingga angkatan 2000. Tak hanya memenuhi di dalam rumah saja, di luar pun terlihat mereka dengan santai berbincang dan bercanda dengan teman-teman lainnya.

Mudah-mudahan tradisi seperti ini tetap terus dipertahankan untuk akan datang. Selain merekatkan kebersamaan, juga sebagai momen silahturrahmi teman-teman dari berbagai angkatan serta dengan dosen Komunikasi.

Tuesday, September 18, 2007

Selamat Jalan Herizon

Ditinggal pergi seorang sahabat untuk selama-lamanya sungguh sedih. Apalagi ia seperti telah menjadi bagian keluarga sendiri. Senin kemarin siang (18-9), ketika mampir ke Teknokra saya dikabarkan teman-teman bahwa salah seorang alumni kita, Herizon Abdul Azis, meninggal dunia karena kecelakaan. Innalillahi Wa Innailahi Rojiun”.

Bahkan, kabar itu pun datang dari berita yang ditulis Harian Lampung Post yang terbit edisi Minggu (16-9) kemarin. Banyak juga teman-teman alumni Teknokra yang mengetahui kabar meninggalnya almarhum setelah membaca koran tersebut. Termasuk saya yang mengetahuinya dari koran ini.

Seorang Herizon yang saya kenal ketika masih aktif di Teknokra adalah seorang kakak yang termasuk saya kagumi. Ia berwatak keras dan berani. Suaranya jika berbicara di sebuah forum, terdengar keras. Dari situ kemudian saya yakin ia punya wawasan yang cukup banyak tentang berbagai hal.

Ia adalah aktivis kampus, ia juga aktivis di luar kampus dan telah cukup banyak organisasi yang ia geluti. Komunikasi dengan orang banyak di luar banyak ia lakukan. Tak heran kemudian menghantarkan ia sebagai kepala cabang sebuah perusahaan di Bandarlampung.

Selamat jalan kanda Herizon Abdul Aziz. Semoga amal ibadah alamarhum diterima Allah Swt serta keluarga yang ditinggalkannya diberi ketabahan. Amin.

Di bawah ini berita yang memuat kabar kecelakaan alamarhum Herizon Abdul Azis ketika di Serang Banten.


2 Warga Lampung Tewas Kecelakaan di Tol

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dua meninggal dan seorang kritis setelah minibus Isuzu Panther B-2857-FR biru metallic yang hendak ke Bandar Lampung mengalami kecelakaan di Km 72,3 Serang, Sabtu (15-9), sekitar pukul 06.30.

Hendrik Fauzi (30), warga Kelurahan Sumberrejo, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung, sopir minibus itu meninggal di tempat kejadian. Herizon Abdul Azis (25), Kepala Cabang PT Bintan Nirwana Lampung, meninggal beberapa jam setelah mendapat perawatan di ruang unit gawat darurat RSU Serang. Sedangkan Anton (26) masih kritis di UGD RSU Serang.

Petugas medis di RSU Serang mengatakan Herizon menderita luka parah di paru-paru dan wajah. "Kondisi paru-parunya tertekan sehingga mengalami pendarahan," kata petugas medis.

Menurut saksi mata dan dibenarkan petugas jalan raya (PJR) tol Serang, minibus yang datang dari arah Jakarta itu berisi tiga orang: Hendrik Fauzi (sopir), Herizon (duduk di samping sopir), dan Anton (duduk di belakang).

Petugas menduga peristiwa itu terjadi karena pecah ban belakang. Sekitar pukul 06.00, minibus Isuzu Panther warna biru metallic melaju dengan kecepatan tinggi menuju Merak. Ketika sampai di Km 72,3 tol Serang, tiba-tiba laju kendaraan tidak stabil karena ban belakang pecah, lalu menghantam pembatas jalan tol. Setelah itu, kondisi mobil oleng lalu menghantam tiang jalan layang.

Akibat kejadian itu, Fauzi terjepit dan meninggal di tempat kejadian. Herizon dan Anton kritis dan dilarikan ke RSU Serang. Namun, setelah beberapa jam dirawat, Herizon akhirnya meninggal dunia.

Kabar kecelakaan itu baru sampai ke pihak keluarga Herizon di Bandar Lampung sekitar pukul 07.00. Begitu mendengar kabar, pihak keluarga dan beberapa rekan Herizon menjenguk ke RSU Serang. "Kondisi Herizon tidak tertolong lagi. Kata petugas media, paru-parunya remuk karena tertekan," kata Y. Wibowo, rekan Herizon dari Bandar Lampung yang menjemput ke RSU Serang.

Menurut Wibowo, jenazah Herizon dan Fauzi, yang juga kakak Herizon, akan dibawa ke Lampung dan disemayamkan di rumah duka di Kelurahan Sumberrejo, Kecamatan Kemiling. n HUT/U-2

Wednesday, September 12, 2007

Kecelakaan di Kalianda

SAYA mengalami kecelakaan dalam perjalanan dari kota Bandarlampung menuju Kalianda, Lampung Selatan, Minggu siang kemarin (8-9). Ketika itu saya bersama dengan teman saya mengendarai mobil ke Kalianda.

Kaca samping mobil Avanza hitam yang saya kendarai ketika itu pecah ‘seribu’. Sedangkan kaca spion sebelah kanan mobil itu pun juga pecah setelah terserempet sebuah truk Fuso yang datang dari arah berlawanan. Sisa butiran-berhamburan masuk ke ruang kemudi dan mengenai saya. Bahkan, penutup kaca spion pun ikut terpental masuk ke kabin mobil.

Setelah kejadian itu, mobil segera saya pinggirkan ke tepi jalan dengan pelan-pelan. Saya tanya teman saya di sebelah saya.

Lu ngga apa-apa?”, tanya saya.

Ngga rik. Lu gimana? Eh, liat bibir dan gigi lu berdarah”, katanya sambil memperhatikan saya.

Secara spontan saya langsung melihat ke arah kaca spion yang berada di atas dekat kaca depan mobil. Saya perhatikan gigi saya dengan serius di kaca spion itu. Alhamdulillah gigi saya tidak terlalu parah berdarah akibat terkena hempasan butiran kaca jendela sebelah kanan yang pecah.

Teman saya lalu turun dari pintu sebelah kiri mobil. Saya pun mengikutinya turun dari pintu itu sambil membersihkan sisa butiran-butiran kaca di baju dan celana saya. Saya kembali tanya kepada teman saya.

Lu bener-bener ngga apa-apa?”

“Bener, ngga apa-apa kok”

Body mobilnya kena ngga ya?” tanya saya penasaran.

Saya khawatir saat kerjadian itu, selain menghancurkan kaca jendela dan kaca spion sebelah kanan, juga mengenai badan mobil. Teman saya langsung melihat ke arah depan dan samping kanan mobil.

Ngga ada yang rusak rik. Kayaknya cuma kaca dan spion aja,”kata teman saya.

Saya sedikit lega mendengarnya. Sebuah botol berisi air mineral di pintu mobil sebelah kiri saya ambil. Perlahan saya teguk dan kumur-kumur. Sambil menenangkan diri, saya lihat di sekitar pergelangan tangan kanan saya berdarah. Untung saja tidak terlalu parah, hanya terlihat seperti bintik-bintik digigit nyamuk.

Perlahan saya siramkan air mineral tadi ke tangan saya terluka kecil itu. Bergetar-getar. Ada apa saya pikir. Masih panikkah saya setelah kejadian tadi? Saya beristighfar di dalam hati dan mencoba untuk menenangkan diri.

Ya Allah, Engkau masih memberi kami keselamatan. Engkau masih menyayangi kami berdua. Itulah yang saya pikirkan ketika itu.

Friday, August 31, 2007

Jadilah Orang Besar yang Berpikir dan Berjiwa Besar

(Menpora Adhyaksa Dault melambaikan tangan kepada para mahasiswa baru Unila 2007 usai memberikan kuliah umum dengan tema "Daya Saing Bangsa Melalui Perguruan Tinggi")

Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault,SH,Msi memberikan kuliah umum kepada mahasiswa baru Unila 2007, Kamis pagi kemarin (30/8) usai Rektor Unila memberikan sambutan pada Rapat Senat Luar Biasa Universitas Lampung menyambut mahasiswa baru Unila 2007, di Gedung Serba Guna Unila.

Adhyaksa yang mengenakan baju batik berwarna biru ini datang bersama rombongan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) DPD Lampung sekitar pukul 9.30 pagi dan disambut Rektor Unila Prof.Dr.Ir.Muhajir Utomo,M.Sc.

Saya baru kali ini bertemu dengannya. Ini juga kali pertama buat saya mendengar ia berbicara di depan mahasiswa baru Unila 2007. Ia sangat bersemangat menyampaikan kuliah umum ketika itu. Adhyaksa pun suka melontarkan canda di hadapan ribuan mahasiswa baru. Sesekali ia pun disambut riuh tepuk tangan para mahasiswa. Ia bercerita dengan sangat bangga memiliki kumis tebal seperti Andi Mallarangeng, Jurubicara Presiden Republik Indonesia. Rektor Unila pun bergurau,"Kumisnya mengalahkan Pak Thoha, Pembantu Rektor III (Bidang Kemahasiswaan) Unila."

Menpora Adhyaksa pada kuliah umumnya mengatakan di era globalisasi seperti sekarang ini sangat cepat berubah. “Sebagai contoh industri. Orang semua sudah mulai berlomba-lomba berbagai industrialisasi. Olahraga pun juga sekarang sudah menjadi lahan di bidang industri,”kata Adhyaksa.

Dampak yang terjadi pada industrialisasi ini, lajut Adhyaksa, seperti terjadinya sikap individualistis. Orang ingin hidup untuk kepentingannnya sendiri. “Misalnya bagaimana ingin kuliah dan agar cepat selesai, kemudian cepat menjadi kaya dan menjadi pejabat, maka yang seperti ini kalian sebagai calon sarjana tidak akan pernah menjadi orang besar yang berpikir besar,”ujar Adhyaksa yang langsung disambut tepuk tangan para mahasiswa.

Jadilah menjadi orang besar yang berpikir besar. Siapa mereka itu? Mereka adalah orang yang mempunyai jiwa besar. Dia dihargai bukan karena jabatannya menteri, gubernur, atau bupati. Tapi itu karena melihat perilakunya yang baik dan bermanfaat bagi lingkungan keluarga, bangsa, dan negaranya.

Sehingga, Adhyaksa Dault menilai perlu dibangun semangat nasional kebangsaan Indonesia untuk mengikis sikap individualistis yang semakin mengkhawatirkan akhir-akhir ini.

Lebih lanjut, Menpora mengatakan pemerintah bersama DPR telah mengeluarkan UU No.3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. “Ini dilakukan untuk lebih memperhatikan masa depan para atlit olahraga nasional yang telah banyak mengukir prestasi di berbagai even pertandingan hingga tingkat internasional,”kata Adhyaksa.

Undang-Undang ini akan memberikan kepastian hukum bagi pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dalam mewujudkan masyarakat dan bangsa yang gemar, aktif, sehat dan bugar serta berprestasi dalam olah raga.

Pada akhir acara, Rektor Unila memberikan kenang-kenangan atas kehadiran dan memberikan kuliah umum Menpora Adhyaksa Dault kepada mahasiswa baru Unila 2007 yang berakhir sekitar pukul 10.30 WIB.

Sunday, August 26, 2007

Mengapa Indonesia Tidak Menjadi Negara Maju?

Beberapa hari yang lalu, saya menerima email dari seorang teman milis sekolah saya. Isinya menarik dan membuat saya kagum sekaligus menyentuh. Sebuah pesan untuk refleksi bagi kita, terutama masyarakat Indonesia sebagai salah satu negara berkembang. Sebetulnya, judul di atas saya ubah dari judul aslinya yakni “Refleksi dan Tindakan”.

Setelah saya membaca semua pesan tersebut yang dimuat dalam file Ms Power Point itu, lalu saya pindahkan ke dalam bentuk tulisan seperti di bawah ini. Agar semua dapat membaca dan turut merefleksikannya.

Pesan asli yang dibuat itu ternyata sudah cukup lama. Tiga tahun lalu. Tapi, saya kira tema seperti ini masih menarik sebagai refleksi bagi kita. Jika sebelumnya ada yang telah membaca, saya kira menarik sekali diikuti kembali. Mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kita semua. Berikut ini pesan asli yang saya dapatkan itu:

(Pesan ini saya terjemahkan dari suatu tulisan berbahasa Inggris yang saya terima melalui email dari seorang kawan. Maaf bila salah/kurang tepat menerjemahkannya (Boedi Dayono, Januari 2004)

Perbedaan antara negara berkembang (miskin) dan negara maju (kaya) tidak tergantung pada umur negara itu.

Contohnya negara India dan Mesir, yang umurnya lebih dari 2000 tahun, tetapi mereka tetap terbelakang (miskin).

Di sisi lain-Singapura, Kanada, Australia, dan New Zeland-negara yang umurnya kurang dari 150 tahun dalam membangun, saat ini mereka adalah bagian dari negara maju di dunia, dan penduduknya tidak lagi miskin.

Ketersediaan sumber daya alam dari suatu negara juga tidak menjamin negara itu menjadi kaya atau miskin.

Jepang mempunyai area yang sangat terbatas. Daratannya, 80 persen berupa pegunungan dan tidak cukup untuk meningkatkan pertanian dan peternakan.

Tetapi, saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor dua di dunia. Jepang laksana suatu negara “industri terapung” yang besar sekali, mengimpor bahan baku dari semua negara di dunia dan mengekspor barang jadinya.

Swiss tidak mempunyai perkebunan coklat tetapi sebagai negara pembuat coklat terbaik di dunika. Negara Swiss sangat kecil, hanya 11 persen daratannya yang bisa ditanami.

Swiss juga mengelola susu dengan kualitas terbaik. (Nestle adalah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia). Swiss juga tidak mempunyai cukup reputasi dalam keamanan, integritas dan ketertiban-tetapi saat ini bank-bank di Swiss menjadi bank yang sangat disukai di dunia.

Para eksekutif dari negara maju yang berkomunikasi dengan temannya dari negara terbelakang akan sependapat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal kecerdasan.

Ras dan warna kulit juga bukan faktor penting. Para imigran yang dinyatakan pemalas di negara asalnya ternyata menjadi sumber daya yang sangat produktif di negara-negara maju/kaya di Eropa.

Lalu…apa perbedaannya?

Perbedaannya adalah pada sikap/perilaku masyarakatnya, yang telah dibentuk sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan.

Berdasarkan analisis atas perilaku masyarakat di negara maju, ternyata bahwa mayoritas penduduknya sehari-hari mengikuti/mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan sebagai berikut.

  1. Etika, sebagai prinsip dasar dalam kehidupan sehari-hari
  2. Kejujuran dan integritas
  3. Bertanggungjawab
  4. Hormat pada aturan dan hukum masyarakat
  5. Hormat pada hak orang/warga lain
  6. Cinta pada pekerjaan
  7. Berusaha keras untuk menabung dan investasi
  8. Mau kerja keras
  9. Tepat waktu

Di negara terbelakang/miskin/berkembang, hanya sebagian kecil masyarakatnya mematuhi prinsip dasar kehidupan tersebut.

Kita bukan miskin (terbelakang) karena kurang sumber daya alam, atau karena alam yang kejam kepada kita. Kita terbelakang/lemah/miskin karena perilaku kita yang kurang/tidak baik.

Kita kekurangan kemauan untuk mematuhi dan mengajarkan prinsip dasar kehidupan yang akan memungkinkan masyarakat kita pantas membangun masyarakat, ekonomi dan negara.

Jika Anda tidak meneruskan pesan ini, tidak akan terjadi apa-apa pada diri Anda!! Hewan peliharaan Anda tidak akan mati, Anda tidak akan kehilangan pekerjaan, Anda tidak akan mendapatkan kesialan dalam 7 tahun, juga Anda tidak akan sakit.

Tetapi, jika Anda tidak meneruskan pesan ini, tidak akan terjadi perubahan apa-apa dalam negara kita. Negara kita akan tetap berlanjut dalam kemiskinan dan akan menjadi lebih miskin lagi.

Jika Anda mencintai negara kita, teruskan pesan ini kepada teman-teman Anda. Biarkan mereka merefleksikan hal ini. Kita harus mulai dari mana saja. Kita ingin berubah dan bertindak!!

Dan perubahan dimulai dari kita sendiri.

Tuesday, August 21, 2007

Oleh-olehnya Mana Rik?

(Pempek, makanan khas Wong Palembang, mempunyai banyak macam bentuk dan namanya. Sayangnya, Saya tidak hafal betul nama-namanya. Dinikmati bersama-sama dengan keluarga atau teman, sungguh menyenangkan sekali. Foto di atas bukan saya yang memfoto. Foto itu koleksi dari Pak Nayel dari Palembang. Saya lupa memfoto ketika kami bersama-sama menikmati pempek di rumah May, Senin sore kemarin (20/8).

Begitulah teman-teman saya menanyakan keberadaan 'buah tangan' setelah saya kembali pulang dari Palembang, Senin pagi kemarin (20/8). "Rik, mana pempeknya?" kata teman saya beberapa hari yang lalu.

Pempek, makanan asli 'wong kito galo' (Orang Palembang, red), ternyata sangat disukai teman-teman saya di Lampung. Entah karena kita semua tinggal di Sumatera, jadi tidak asing lagi dengan makanan khas Palembang ini. Ternyata, teman-teman saya suka makan pempek Palembang. Apalagi menunggu hingga saya kembali ke Lampung.

Kalau saya ada rencana pulang ke Palembang, sudah pasti 'ditodong' temen-temen untuk membawakan oleh-oleh. Tentu saja Pempek. Tapi, senang juga membawakan mereka pempek asli racikan 'Wong kito galo'. Tentu benda sekali saat mencicipi pempek yang dijual di kebanyakan warung-warung pempek di Lampung.

Senin pagi kemarin (20/8), setelah saya tiba di kostan, segera saya kirim sms ke May. "May, ajak temen-temen ya kita makan pempek tempatmu,"begitu kira-kira isi pesan singkat ke May, teman saya. Saya minta ke dia menjadi tuan rumah buat acara makan pempek bersama. Kemudian, tidak lama dia balas sms dan menyanggupinya.

Tak banyak waktu itu saya membawa pempek dari rumah. Ya, saya kira nanti cukup dimakan di dua tempat terpisah. Tetap yang paling utama saya hidangkan untuk teman-teman saya di rumah May, di daerah Way Kandis.

Aroma pempek itu tercium harum khasnya. Padahal belum saya buka plastik yang membungkusnya itu. Belum lagi aroma cukanya (semacam kuah yang berwarna hitam sebagai pelengkap untuk makan pempek, red) sedap terhirup oleh saya. Sepertinya cukup pedas terlihat dari cukanya yang cukup kental berwarna hitam itu tersimpan di dalam botol plastik.

Sekitar jam 4 sore, saya telah tiba di rumah May lebih awal. Teman-teman lainnya belum tiba. Tapi, mereka janji akan datang. Apalagi ini acara makan pempek gratis. Tentu saja tidak akan mereka sia-siakan kesempatan langka ini. Dede dan Yudi akhirnya tiba setelah menunggu beberapa lama. Untungnya, May sudah menggoreng lagi pempek yang saya berikan sebelumnya. Kami pun segera melahapnya satu per satu. Sungguh nikmat sekali. Mak nyuss..... (meminjam istilah Bondan Winarno)

Tuesday, August 14, 2007

Rencana ke Palembang

(Jembatan Ampera: sebuah jembatan di kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia yang dibangun tahun 1960 sebagai bayaran Jepang kepada Indonesia atas penjajahannya dulu. Jembatan Ampera, yang telah menjadi semacam lambang kota, terletak di tengah-tengah kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Jembatan ini dibuat oleh Jepang. Dahulunya bagian tengah dari jembatan ini bisa dinaikkan dan diturunkan bila ada kapal yang akan lewat. Difoto oleh: Eriek, tahun 2006 lalu, Teks: Wikipedia)

Saya ada rencana ingin pulang ke Kota Palembang akhir pekan ini. Kangen sekali dengan orangtua, mbak, dan kakak saya di rumah. Kangen ingin merasakan kembali nikmatnya makan pempek asli racikan 'wong kito'.

Kebetulan hari Jumat, tanggal 17 Agustus nanti libur nasional untuk memperingati Hari Proklamasi Republik Indonesia ke-62 tahun. Rasanya kesempatan untuk pulang ke rumah nanti mudah-mudahan bisa tercapai. Soalnya, terakhir saya pulang ke rumah saat merayakan Idul Adha beberapa waktu yang lalu. Waktu itu juga tidak berlama-lama. Seingat saya antara 2-3 hari saja.

Rieke, teman saya yang kini jurnalis di Majalah Inspired Kids, ingin sekali ikut ke Palembang. Bahkan, beberapa hari yang lalu kami chatting menentukan tanggal akan berangkat ke Palembang. Tapi, sayangnya ia belum yakin bisa ikut. Katanya, ia akan ke Bandarlampung bersama tantenya. Mungkin ia ingin liburan dengan teman-teman yang lain di Bandarlampung.

Rencana ke Palembang pun sebenarnya sudah lama sejak Desember tahun lalu. Teman satu angkatan saya lainnya, Yudi, May, Diova, dan Dede pun saya ajak untuk ke Palembang. Mereka ingin sekali main ke Palembang. Sekedar jalan-jalan mengelilingi kota Palembang itu menyenangkan.

Pulang ke Kota Palembang dari Bandarlampung, biasanya saya menggunakan fasilitas jasa Kereta Api (KA). Nama KA-nya Limex Sriwijaya. KA ini berangkat pada pukul 9 malam. Saya selalu memilih Kelas Bisnis untuk kembali pulang ke rumah. Harga satu tiket Kelas Bisnis ini Rp 55 ribu rupiah. Kalau tidak salah harga tiket kelas itu belum naik. Lama perjalanan cukup lama. kira 9 jam perjalanan. Berarti tiba di Stasiun KA Kertapati Palembang kira-kira pukul 6 pagi.

Hari ini rencananya saya akan pesan tiket untuk berangkat hari Kamis malam tanggal 15 Agustus nanti. Mudah-mudahan tiketnya masih terjual. Meskipun hari Kamis tanggal 16 Agustus belum libur, saya ingin lekas-lekas pulang lebih awal. Khawatir tiketnya telah habis terjual karena akhir pekan ini libur cukup lama (2-3 hari).

Wednesday, August 08, 2007

Jakarta Memilih Gubernur Baru

(Saya suka suka sekali foto di atas. Unik. Secara belum akrab dengan Jakarta, ya lebih asik berfoto di depan pintu masuk gerbang komplek Monumen Nasional (Monas) di Jakarta Pusat. Mungkin salah satu kebanggaan warga kota Jakarta adalah Monas ini)

Hari ini, Rabu, 8 Agustus 2007, penduduk Jakarta akan memilih gubernur dan wakil gubernur baru. Sutiyoso atau lebih akrab dipanggil Bang Yos ini, akan segera menyerahkan ‘tahta’ kepemimpinan DKI Jakarta kepada gubernur baru nanti. Dua calon pasangan gubernur dan wakil gubernur Adang-Dani dan Foke-Prijanto mungkin sedang berdebar-debar hari ini. Mereka menantikan siapa yang layak dipilih oleh warga Ibukota Republik Indonesia untuk memimpin Jakarta ke depan.

Banyak janji dari kedua calon pasangan gubernur dan wakil gubernur itu telah diberikan selama kampanye kemarin. Namun, akankah benar janji-janji mereka setelah terpilih nanti membawa amanah warga kota Jakarta? Mungkin mereka sebagai warga negara Jakarta sudah paham, bagaimana track record para kandidat nomor satu di DKI Jakarta ini. Akan terbukti nanti setelah di antara kedua pasangan ini telah menjadi gubernur DKI Jakarta.

Melihat Jakarta dengan penuh sesak manusia dan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Tidak hanya kemewahan itu saja, ada pula di sepanjang kali berdiri tempat-tempat singgah para kaum miskin. Ada gubuk-gubuk kayu yang beratap seng. Ada pula mereka mandi dan mencuci di kali yang telah terlihat tidak bersih lagi. Saya pernah melihatnya sungguh memprihatinkan sekali.

Jakarta memang seperti sebuah tempat impian bagi banyak orang di luar ibukota RI ini. Jakarta yang memiliki daya tarik ini memiliki peredaran uang yang tinggi. Betapa tidak. Lebih dari tiga dekade pemerintahan Orde Baru, dua pertiga investasi asing yang masuk ke Indonesia ditanam di Jakarta (Mcbeth 2001:56).

Wajar saja jika banyak orang dari luar Jakarta berlomba-lomba mencari kerja di sana. Bahkan, momen tersebut terlihat saat menjelang setiap usai Lebaran Idul Fitri. Bisa dipastikan mungkin ada dari saudaranya yang telah berhasil di Jakarta lalu mengajak saudaranya yang lain di kampungnya. Tentu saja diajak bekerja seperti saudaranya yang telah berhasil tadi.

Di usia DKI Jakarta yang telah mencapai 469 tahun ini, dipastikan akan menjadi daya tarik yang sungguh luar biasa dari tahun ke tahun. Saat ini saja, diperkirakan ada sekitar 12 Juta warga Jakarta. Entah berapa banyak dari jumlah tersebut yang hanya bermukim di kota Jakarta. Selebihnya bermukim di pinggiran kota Jakarta dengan mata pencaharian di Jakarta.

Tidak salah mengapa Jakarta sangat maju jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Indonesia. Namun, tugas pemerintah pusat agar tidak hanya Jakarta menjadi tulang punggung perekonomian yang pesat di Indonesia. Pemerataan pertumbuhan perekonomian terutama di luar Pulau Jawa sudah seharusnya dilakukan. Jika tidak, Indonesia tidak akan pernah maju seperti negara tetangga, Malaysia, Thailand atau Singapura. Semoga Jakarta mempunyai gubernur yang amanah dan selalu berpihak kepada warganya.

Saturday, August 04, 2007

How Addicted to Blogging Are You?

"Wow...cukup tinggi ya!?" gumam saya setelah mencoba mengisi sebuah survei di situs ini. Hasil survei saya setelah menjawab 14 pertanyaan yang ditunjukan, nilai saya yakni 77 persen dalam kecanduan nge-blog. Sebelumnya, secara tidak sengaja saya menemukan survei ini dari blogger tetangga, Bodhi.

Kalau diingat-ingat dari sejarahnya, saya memulai aktivitas blogging pada tahun 2004 lalu. Kemudian, tahun 2005 saya sempat vakum dan berhenti nge-blog. Saya, ketika itu, tidak tertarik meneruskan blogging. Biasanya posting saya berisi kegiatan sehari-hari yang menarik untuk saya tulis ke dalam blog. Atau kadang-kadang ada isu yang menarik di media massa, kemudian saya tulis ke dalam blog.

Nah, kemudian pada tahun 2006 hingga sekarang ini, saya kembali memulai aktivitas blogging setelah hampir setahun tidak diisi. Untungnya, username dan password di Blogspot saya tidak lupa. Ya, jadi tinggal meneruskan saja mengisi dan sesekali membenahi template blog-nya agar sedikit lebih menarik.

Dari aktivitas blogging ini, saya jadi mempunyai 'wadah' untuk menulis secara bebas. Tentu saja saya menulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Meskipun demikian, kadang-kadang saya merasa masih kurang puas dengan tulisan yang saya buat itu. Mungkin terlihat serius seperti layaknya tulisan di media massa cetak atau online. Tapi, saya tetap konsisten menulis di blog saya ini dengan gaya seperti itu. Kadang-kadang juga ingin menulis dengan gaya orang bertutur/bercakap. Seperti kata "bagaimana" ditulis menjadi "gimana" dan seterusnya masih banyak lagi.

Untuk terus melatih tulisan agar lebih baik lagi, ada sebuah blog Juru-Kabar yang saya nilai bagus. Blog ini berusaha mengumpulkan para jurnalis yang memiliki blog. Kemudian posting-posting mereka dikumpulkan menjadi satu yang up date di blog Juru-Kabar. Menarik sekali. Saya pun ikut tergabung di dalamnya. Hampir setiap blog para jurnalis itu saya intip. Secara saya pelajari gaya tulisan mereka gunakan dalam menulis pada masing-masing blog-nya. Menulis sepertinya telah memberikan arti dalam kehidupan yang terus berjalan hingga saat ini.

Wednesday, August 01, 2007

di Jakarta

(Kiri: Roni terlihat semangat memeluk Wildan setelah akad. Kanan: Saya bisa pakai baju batik.hehe)

Posting sebelumnya (Go to Jakarta) adalah cerita saat bersiap-siap akan berangkat ke Jakarta dan selama perjalanan malam hari. Ada Yudi, Roni, Reza dan Hendi, kami berlima konvoi dengan mengendarai tiga sepeda motor. Bisa disebut touring. Saya menikmati betul perjalanan ketika itu.

Meskipun malam hari yang diliputi udara yang cukup dingin dan angin malam yang sebetulnya kurang bagus, tetap saja kami nekad berangkat ke Jakarta malam itu. Saya pun tak bisa membayangkan touring dengan sepeda motor pada malam hari. Jika dibandingkan dengan mengendarai mobil, tentu saja masih cukup aman. Selain dari segi keselamatan dan juga kesehatan, karena menurut saya tidak terlalu capek.

Selama kira-kira dua jam di dalam kapal penyeberangan ferry, tiba saatnya kami mulai kembali perjalanan. Satu per satu kendaraan terlihat antri keluar dari ‘mulut’ kapal. Mulai dari truk, bus, mobil pribadi sampai sepeda motor, bergantian keluar. Jorok dan bau tercium cukup menyengat hidung. Di tempat parkir truk-truk besar di kapal itu, memang sudah biasa. Bahkan, hampir semua kapal begitu semua kondisinya.

Perjalanan pun dimulai setelah turun dari kapal. Pelabuhan saat turun dari kapal tadi bernama Pelabuhan Merak, Banten. Selama lebih kurang tiga jam, kami melakukan perjalanan malam itu. Udara cukup dingin. Tas ransel saya letakkan di depan dada saya. Gunanya agar angin tidak menembus ke dalam badan saya. Jika tidak, bisa-bisa saya masuk angin.

Rute perjalanan dari Merak ke Jakarta, masih cukup saya ketahui. Meskipun malam hari, alhamdulillah tidak kesasar hingga sampai tujuan. Karena sebelumnya, saya pernah ke Jakarta dengan mengendarai sepeda motor juga. Tapi, bedanya waktu itu saya berangkat sendiri dan banyak kesasar di Jakarta. Kasihan sekali ya.

Sepi. Dingin. Sedikit pegal-pegal. Tapi, perjalanan tetap harus diteruskan. Meskipun begitu, tetap saja kita menggeber sepeda motor selekasnya. Saya jadi penunjuk arah bagi teman-teman yang lainnya. Secara hapal jalan-jalan menuju Jakarta yang memusingkan itu.

Saat di sebuah jalan setelah meninggalkan Kota Serang, seketika sepeda motor yang saya kendarai mengenai lubang. Untung saja tidak sampai jatuh. Tapi, tiba-tiba terdengar suara seperti besi saling beradu setelah membentur lubang tadi. Seketika itulah saya segera berhenti dan memeriksa apa yang terjadi pada motor saya itu. Gear rantai belakang menyangkut penutupnya. Pikir saya tadi, rantai motor putus dan untung saja tidak seperti yang dibayangkan.

Akhirnya momen seperti ini dimanfaatkan Yudi dan yang lainnya buat istirahat sejenak. Reza menemani saya memperbaiki kerusakan pada penutup gear rantai motor di sebuah stasiun pengisian bahan bakar yang sudah tutup dan sepi. Hanya terdengar suara musik radio di tempat penjaganya. Beberapa menit akhirnya bisa juga diatasi kerusakan kecil ini.

Jam kira-kira menunjukkan pukul 2 dini hari. Gila bener, pikir saya. Kita harus secepatnya sampai di Jakarta. Sekalian istirahat kalau sudah sampai tujuan saja. Daripada istirahat sekarang, malah keburu siang untuk sampai ke Jakarta nanti.

Touring dilanjutkan kembali. Sebenarnya, tak ada yang tahu ke masjid, tempat resepsi nikahnya Wildan. Kita hanya diberitahu nama masjid dan jalannya saja. Ini Tantangan untuk menemukannya.

Akhirnya, setelah memasuki daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat, masjid yang dituju ditemukan juga. Suara azan subuh pun kemudian terdengar dari masjid itu. Sampai juga di Jakarta.

***

(Dari kiri-kanan: Hendi, Roni, saya, Aan dan Yudi (di belakang), Rieke, dan Kak Yamin. Tambah satu lagi sang fotorafer, Reza. Kami Jalan-jalan dan berfoto ria di seputaran Monas. Dari malam sampai pagi keliling Kota Jakarta. Sempat terdampar di sebuah air mancur di Komplek Senayan sampai pagi Subuh. Saya menikmati betul jalan-jalan saat itu. Kapan ya kita jalan-jalan seperti ini lagi?)

Siang hari, acara resepsi nikahnya Wildan dimulai. Cukup banyak alumni Teknokra yang tinggal di Jakarta, datang saat acara itu. Ada Kak Ucup atau lengkapnya Muhammad Ma’ruf (dulu pernah sebagai Pemimpin Redaksi tahun 2002 dan sekarang jurnalis Harian Umum Seputar Indonesia), Kak Yamin (mantan Pemimpin Redaksi tahun 2003 dan sekarang jurnalis di Harian Umum Jurnal Nasional), Mbak Eva (dulu pernah sebagai Pemimpin Usaha tahun 2004 dan sekarang bekerja di Pantau), Kak Turyanto (mantan Pemimpin Redaksi tahun 2004, sekarang jurnalis Harian Umum Jurnal Nasional), dan Dayu (mantan Redaktur Foto tahun 2005 dan sekarang bekerja di Pantau) dan Rieke (mantan Redaktur Pelaksana tahun 2006 dan sekarang jurnalis pada Majalah Inspire Kids).

Yudi pernah bilang,”Weeii….ada lima generasi pemred bertemu di sini semua.” Baru saya sadari, ada lima mantan pemred, mulai dari Kak Ucup, Kak Yamin, Kak Turyanto, Roni dan saya ada di sana. Mungkin momen ini secara tidak sengaja saja bisa saling bertemu. Kita semua berfoto-foto. Mengenang kebersamaan kita semua.

(Saat kembali pulang ke Bandarlampung dari Jakarta, Saya tidur-tiduran di atas sehelai koran dikelilingi mobil-mobil yang parkir di atas kapal ferry penyeberangan. Di luar sedang hujan deras. Untungnya banyak makanan dan kopi panas untuk sekedar penghangat. Perjalanan dari Cilegon ke Merak, sempat kehujanan dan baju kita basah semua. Dingin)