Sunday, August 13, 2006

Tayangan Wajah Koruptor Bisa Memberi Efek Jerakah?

Judul di atas adalah sebuah tanda tanya saya ketika membaca tajuk rencana Harian Suara Pembaharuan tentang cara pemberantasan korupsi ala Kejaksaan Agung. Berbagai cara yang dilakukan kejaksaan untuk menjebloskan para koruptor ke penjara patut diacungi jempol. Bukan lagi semata-mata pandang buluh terhadap menyusutan kasus per kasus korupsi yang kerap masih sulit diberantas.

Baru-baru ini, Kejaksaan Agung merencanakan akan menayangkan wajah para koruptor di televisi. Sebuah cara untuk memberikan efek jera bagi koruptor? Dengan menayangkan foto-foto para koruptor itu tentu saja tujuannya untuk membuat malu mereka di hadapan publik. Bahkan, rencananya juga tidak hanya sekedar menayangkan foto dan biodata para koruptor, Kejaksaan Agung dan pengelola televisi akan membuat semacam tayangan perjalanan lengkap para koruptor. Lengkap dari mulai kehidupan sehari-harinya sampai kejahatan korupsi yang telah dilakukan para koruptor itu. Mirip acara infotainment yang berisi para selebritis. Bedanya, acara ini malah diisi para koruptor dengan tajuk koruptainment. Menarik bukan?

Tapi, upaya tersebut seperti semacam gertakan kepada para koruptor. Praktek korupsi bukan lagi hal yang tertutup dan dilakukan sembunyi-sembunyi. Di layar kaca hampir pernah kila lihat sejumlah koruptor yang diduga korupsi pun hampir sebagian terekspos. Tapi, tujuan semula yakni untuk memberikan efek jera tidak tercapai. Toh, tetap saja praktek korupsi dilakukan para pejabat yang mempunyai kedudukan 'basah' dan anggota dewan yang mempunyai kewenangan dan kekuasaannya, juga masih banyak lagi lainnya peluang-peluang korupsi yang menjangkiti di sejumlah tempat.

Seharusnya yang lebih ditekankan pemberantasan korupsi oleh Kejaksaan Agung adalah komitmen dari semua aparat penegak hukum untuk menindak para koruptor. Jangan kemudian dilepas karena diimingi dengan tembusan uang misalnya, lalu tidak jadi diproses hukum. Akibatnya, tetap saja negeri ini korupsi tidak akan pernah berkurang karena para penegak hukumnya tidak tegas. Belum lagi perangkat hukum yang masih lemah membuat jera para koruptor.

Negeri ini telah mengimpikan bebas korupsi sejak hampir enam sewindu pasca reformasi dan kejatuhan Orde Baru Soeharto. Namun, dari waktu yang cukup lama hingga kini belum bisa menunjukkan prestasi penurunan korupsi. Justru praktek korupsi adalah perilaku yang menjadi hal biasa di negeri ini. Kapan kita akan bebas dari praktek korupsi?

6 comments:

dittadara said...

iya tuh ! gw juga baca di koran ! klo perlu ada sinetron nya kaya "selebriti juga manusia", klo koruptor-tainment gmn ya ? uda kaya di china, semoga terealisasi =) indonesia bebas kkn amin (walopun ga bgitu suka politik smua rakyat mengidamkan ini he3x)

farara said...

wah.. saya sih setuju kalau bukan cuma koruptornya yang ditampilkan. kalau perlu profil keluarganya. toh mereka ikut makan hasil korupsinya..
terus, kalau sudah ketangkep, di arak keliling monas. itu baru bikin jera..
sadis? ya memang mesti sadis. wong dia korupsi juga ngga mikirin orang lain..
iya saya percaya sekali kalau filsafat itu bisa memengaruhi pola pikir seseorang. bahka bisa mendoktrinasi. sudah banyak contohnya di sekeliling saya.
nah, salam kenal ya

farahPutri said...

Kalo gw sih setuju aja..emang hukuman sosial kaya getu kadang2 pantes buat para pelak korupsi..kan nanti yang malu sekeluarga tuh..Cuma jangan sampe salah nampilin orang..harus2 bener yakin n udah ada bukti kalo tuh orang emang bener2 bersalah..

kana said...

yupz..gw se7 ma farahputri. asal gak salah orang gw dukung! kalo salah orang kan kasian yang tidak bersalah. namanya jadi tercemar hanya karena fitnah yang tidak jelas asalnya.

*tagnya gw kirim hari ni via email ya... thx ya bro!*

gIe said...

koruptainment....nice....hehehe asal ga jadi jatoh ke gossip....Tapi apa iya itu akan bikin jera??? Hmmhhh aku khawatir itu lebih ke masalah mental dan moral. Hihihi indonesia berani gak ya, terapkan sistem tiran kaya di Cina, Presidennya bo', dihukum gantung...Nah kalo gitu mungkin baru jera. Dan sekarang yang lebih masalah dan agak menakutkan adalah korupsi yang udah mulai abu-abu. Rasanya biasa-biasa aja padahal menerima atau melakukan yang bukan hak kita. Misal korupsi jam kerja (ini korupsi bukan ya??? Aku pun bingung). Atau suap mialnya, untuk dapet proyek, si piak pemberi proyek, punya permintaan tambahan. Masalahnya kadang proyek itu, hajat hidup orang banyak, tapi untuk mendapatkannya ada yang 'memaksa' kita tuk melakukan suap. wallahu'alam...

CacingKepanasan said...

Masalanya di kita dari atas sampai bawah udah di biasain korupsi semua... jadi paling efektif ya rakyatnya harus di ilangin dulu....