
Ganyang
Malaysia! Sering kali kedua kata itu muncul kembali ketika ketegangan antara negara
Indonesia dengan
Malaysia terjadi akhir-akhir ini. Presiden Soekarno, orang nomor satu di Indonesia saat itulah yang ‘memproklamasikan’ kata “
Ganyang Malaysia” pada era tahun 1960-an.
Malaysia adalah negara tetangga Indonesia yang mempunyai kesamaan asal suku, warna kulit, budaya dan bahasa (ada Melayu dan Indonesia). Kebanyakan keturunan Malaysia dahulu berasal dari Indonesia yang hijrah dan menetap di negeri jiran, sebutan bagi Malaysia.
Kini, Malaysia secara perekonomian berkembang lebih pesat dan maju pasca krisis ekonomi di asia tenggara pada tahun 1997-1998 meninggalkan tetangganya, Indonesia. Namun, sejak mencuat lagu “Rasa Sayange” menjadi lagu dalam rangka mempromosikan pariwisata dan budaya Malaysia Truly Asia pada Oktober 2007 lalu.
Tentu saja lagu “Rasa Sayange” yang sudah sangat akrab bagi sebagian masyarakat Indonesia sejak lama itu, kemudian menjadi lagu pariwisata Malaysia. Maka, media massa terutama di Indonesia secara bertubi-tubi memberitakan ‘klaim’ sepihak lagu itu yang dinyanyikan orang Malaysia. Sebagian orang Indonesia pun menjadi kesal dan menyebut Malaysia sebagai "Malingsia", plesetan dari nama Malaysia.
Topik hangat tentang perseteruan Malaysia dan Indonesia ini juga menjadi perbincangan bagi teman-teman di jurusan saya (komunikasi,red). Yulis, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan (litbang), menggagas bikin acara diskusi tentang perseteruan dua negara serumpun ini dari kacamata media massa, yang diselenggarakan pada hari jumat siang (14/12) lalu di kesekretariatan himpunan mahasiswa jurusan Komunikasi Unila.
Saya ditunjuk menjadi salah satu narasumber acara diskusi ini. Ade Suryani, mahasiswi S2 dari Universiti Kebangsaan Malasysia, yang juga alumni komunikasi, diundang sebagai narasumber diskusi. Saya dan Ade berduet pada diskusi ini.
Ade yang sudah hampir satu semester kuliah di Malaysia, bercerita gambaran singkat tentang Malaysia secara umum. Ia mengatakan, sejak munculnya ketegangan antara Malaysia dengan Indonesia karena bermula dari sebuah lagu “Rasa Sayange”, menjadi sangat prihatin dengan kondisi ini. “Saya sebenarnya tidak pro kepada Malaysia dan juga kepada Indonesia,”kata Ade yang mengenakan jilbab biru ini.
Konflik perseteruan antara Malaysia dengan Indonesia sebenarnya muncul karena media massa yang memberitakan secara besar-besaran di Indonesia. “Tapi, di Malaysia masalah ini tidak muncul sebagai masalah besar di media massa,”ujar Ade.
Media massa di Indonesia masih memegang prinsip “Bad news is a good news”. Beda halnya dengan Malaysia, secara bentuk negara kerajaan dan pemerintahannya dikendalikan perdana menteri.
Yulis, yang ikut jadi peserta diskusi menanyakan bagaimana pemberitaan media massa di internet juga turut dikendalikan pemerintahan Malaysia?
Seluruh pemberitaan media massa sepenuhnya diawasi pemerintah Malaysia. “Mereka (Malaysia,red) memiliki ego untuk mempertahankan agar media massa di negaranya tidak seperti di Indonesia yang bebas,”kata Ade.
Bahkan, mereka (Malaysia,red) mengawasi seluruh isi khutbah Jumat dan ceramah di masjid-masjid yang mendatangkan banyak jamaah. “Setting Malaysia sangat rapi. Masyarakat Malaysia ditata agar tidak terjadi pergolakan,”cerita Ade.
Hanya melalui dunia internetlah kebebasan bersuara dari Malaysia dan Indonesia terus didengungkan. Bahkan, kecaman melalui blog dari para penulis blog masing-masing dua negara ini. “Blog Indonesia punya blog sendiri, blog Malaysia juga tidak mau kalah dan menuliskan kecaman dan penghinaan terhadap Indonesia,”kata saya yang mengamati per-blog-an Indonesia, forum online Malaysia dan Indonesia.
Meskipun kini di media massa cetak dan televisi Indonesia sudah tidak terdengar kembali perseteruan Malaysia dengan Indonesia. Teori Agenda Setting dari media memang berlaku di setiap media massa. Kini, setting lain berpindah. Saya sepakat dengan Ade, Bad News is a good news. Ya, sampai sekarang itu masih disukai bagi media massa mana pun di Indonesia.