Tuesday, November 07, 2006

Lentara Merah, Bisakah Kini Menerangi?


Semalam (Senin, 6/11), saya lihat teman saya membawa dua kaset CD film dari rental yang baru ia pinjam. "Wah menarik, ada film nih," pikir saya. Dua judul film itu: Lentera Merah dan Sembilan Naga. Saya tertarik dengan film Lentara Merah karena mendengar ceritanya tentang pers mahasiswa (persma) yang berdiri sekitar tahun 1930-an. Saya pinjam film itu dari teman saya buat sehari ditonton di sekret kami.

Kaset CD pertama mulai saya putar di komputer. Pada penggambaran pertama ditampilkan sosok seorang pria tua yang melihat jam dan tanggal di atas lemari kecil. Pria tua itu kaget setelah mendengar tiba-tiba suara lagu "Puspa Dewi". Suasana malam di kamarnya menjadi mencekam. Tapi, saya punya penilaian pada awal penggambaran film ini yang langsung membuat kaget penonton cukup bagus. Boleh jadi penonton langsung merasakan horor saat diputar.

Namun, sebenarnya film yang diperankan tokoh utamanya oleh Laudya Cynthia Bella (Risa) ini sungguh cukup banyak kelemahan di dalamnya. Dari film Lentera Merah ini, saya belum menemukan atau tidak ditampilkan sejarah terkait berdirinya Lentera Merah sebagai majalah kampus pada tahun 1930-an dengan kejadian Gerakan 30 September 1965 atau G 30 S/PKI. Tokoh Risa yang diperankan di film itu ternyata telah meninggal karena asma saat dikurung oleh para dewan alumni ketika itu telah difitnah mereka. Adakah maksud sutradara dalam film ini ingin menceritakan adanya konflik ideologi sebelum terjadinya G 30 S/PKI dengan kasus yang menimpa Risa dituduh antek PKI?

Pada malam inisiasi yang diadakan para senior Lentera Merah ketika itu, tampaknya merupakan tradisi turun-temurun yang dilakukan pada malam hari setiap perekrutan anggota baru. Apakah sosok Risa yang ternyata 'hantu' berwujud manusia itu kemudian, bisa ikut bergabung dengan anak-anak baru yang ternyata secara kebetulan para orang tuanya dulu adalah anggota Lentera Merah juga?

Wah...film ini ternyata banyak menyisahkan pertanyaan saya yang belum terjawab di sana. Saya kira dari film ini setidaknya bisa mengungkap kebenaran sesuai dengan moto dari Lentera Merah itu sendiri, yakni "hanya berpihak kepada kebenaran". Apa kebenaran dalam film ini bisa diyakini sebagai film non-fiksi? Atau hanya 'bumbu-bumbu' saja agar penonton tertarik dengan ideologi PKI ketika masa itu? (Sumber Foto: 21cineplex.com)

3 comments:

Eriek said...

Bisa kasih comment koq di sini.
Hehe...

Anonymous said...

Wah, asik juga film nya ,Mas. Suka ngegames tidak mas, mampir dong ke blogku. Salam Kenal

CIRI-CIRI MATA MINUS DAN PENGOBATANNYA said...
This comment has been removed by a blog administrator.