
"Ini termasuk kejahatan HAM berat,"tegas Indria di hadapan para peserta diskusi yang dihadiri lebih dari 50 mahasiswa.
Aktivis Kontras, sebuah NGO yang peduli terhadap Hak Asasi Manusia atau HAM ini cukup prihatin apa yang terjadi pada pada dua mahasiswa yang meninggal di depan kampus perguruan tinggi swasta UBL delapan tahun yang lalu. Dua mahasiswa itu adalah Muhammad Yusuf Rizal, mahasiswa FISIP Unila dan Saidatul Fitria, mahasiswa FKIP Unila.
Rizal terluka pada leher akibat terkena tembak peluru tajam oleh aparat keamanan atau saat itu dikenal dengan nama Pasukan Huru-Hara atau PHH. Sedangkan Atul, panggilan akrab Saidatul Fitria, kepalanya terkena pukulan keras oleh aparat keamanan hingga harus dirawat di rumah sakit. Namun, beberapa hari setelah dirawat nyawanya tidak tertolong.
Atul ketika terjadi demonstrasi penolakan RUU PKB sedang bertugas sebagai jurnalis fotografer pers mahasiswa (persma) Teknokra untuk meliput peristiwa demonstrasi di depan kampus UBL. Sejumlah fotonya kini masih mengabadi di kesekretariatan Teknokra. Saya sering kali melihat karya foto almarhumah saat datang ke Teknokra. Foto-fotonya itu terbingkai di ruang tamu. Saya terharu melihat karya almarhumah itu. Seolah-olah terbayangi bertemu dengannya. Padahal, saya belum pernah bertemu dengannya. Tapi, saya hanya bisa mengenalnya kisah-kisah memilukan yang terjadi padanya itu dipukul oknum aparat keamanan.
Saya sedih mengingatnya setiap melihat foto-foto karya almarhumah. Ingin sekali mengatakan,"Mbak Atul, sabar ya. Mbak selalu dido'akan dan dikenang bagi teman-teman di sini, karena Mbak tidak salah memilih jalan ini." Akhirnya perlahan-lahan kedua mata saya meneteskan air mata saat menuliskan ini. Setahun yang lalu, saya pernah posting kisah almarhumah Atul di sini.