
Beberapa minggu terakhir ini, saya senang sekali dengan apa yang telah dilalui dan dicapai bersama dengan teman-teman di Teknokra. Pertama, Majalah terbitan kita, Teknokra Edisi September No.208 telah terbit pada pertengahan September lalu. Di saat itulah momen yang tepat, yakni kembalinya hampir seluruh mahasiswa Unila ke kampus masuk kuliah semester ganjil yang kemudian kita membagi-bagikan majalah gratis itu kepada mereka.
Majalah yang berisi 100 halaman ini adalah hasil liputan teman-teman Teknokra di lapangan. Liputan utama atau kita menyebutnya di dalam majalah terbitan tiga bulan sekali itu dengan rubrik Peristiwa, mengulas tentang permasalahan kepemilikan tanah di Pulau Sebesi, Lampung Selatan (Foto: cover majalah berwarna biru,red)
Selasa kemarin (26/09), menyusul terbit majalah Edisi Khusus Mahasiswa Baru 2006. Majalah dengan jumlah sebanyak 60 halaman ini pun dibagikan secara gratis kepada mereka pendatang baru di kampus hijau Unila. Isinya kebanyakan adalah tentang liputan di sekitar kampus, macam kost-kostan dekat kampus atau biasa di sebut perkampungan mahasiswa Kampung Baru. Ada pula liputan tentang fenomena di FKIP yang kebanyakan para mahasiswinya mengenakan rok. Alasannya, fatwa wajib dari dekanat FKIP yang harus dipatuhi para ’calon guru’.
(Foto: cover bergambar kartun sedang memegang kamera, red).
Kedua majalah itu sama-sama terbit pada bulan ini. Entah dengan cara bagaimana saya sebagai pemimpin redaksi Teknokra, meluapkan rasa syukur dengan terbit kedua majalah itu, selain rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Perjuangan yang selama ini dilakukan bersama-sama sebagai tim work yang tangguh, tentu saja membawa kemenangan dan hikmah yang baik. Tak luput para kru redaksi hingga larut malam pun harus menyelesaikan rubrik demi rubrik hingga sesuai tearget (deadline,red). Namun, deadline masih sulit untuk ditepati yang seharusnya selesai akhir Agustus kemarin. Tapi, hal itu bisa dikejar lekas terbit saat memasuki momen awal bulan puasa Ramadhan dan mahasiswa baru mulai kuliah.
Selain Teknokra punya terbitan majalah triwulan, Teknokra punya terbitan lain. Namanya Buletin Teknokra News. Buletin ini mirip seperti koran-koran media cetak harian kebanyakan. Buletin dengan jumlah delapan halaman ini terbit setiap dua minggu sekali. Sama seperti majalah, ini dibagikan secara gratis kepada mahasiswa Unila. Boleh jadi kita memberikan istilah dengan ”Community Paper.” (Foto: Paling atas bertuliskan Teknokra yang dibuat ’tebal’)
Dari semua terbitan Teknokra adalah kerja keras semua kru. Mereka tidak dibayar untuk menghasilkan produk-produk jurnalistik itu. Kami masih mengandalkan uang untuk percetakan yang berasal dari uang SPP yang dibayarkan setiap mahasiswa setiap semesternya sebesar Rp 6 ribu. Boleh jadi mereka bisa disebut pelanggan bagi Teknokra. Tapi, Teknokra tidak mengelolah semua uang yang dibayarkan mereka, tapi Rektorat Unila yang memegang otoritas uang mahasiswa itu. Jadi, Teknokra hanya mendapatkan biaya terbitan saja. Tapi Teknokra bukanlah PR bagi Rektorat. Teknokra adalah insan pers mahasiswa yang independen tidak berpihak kepada siapa pun kecuali pada kebenaran dan juga kritis dalam penyampaian informasi kepada publik.