Saturday, March 31, 2007
Elit Politik Sebabkan Negara Miskin
Selain membaca sejumlah suratkabar nasional yang berkaitan dengan kesejahteraan Indonesia, saya pun tak sengaja berdiskusi dengan teman saya. Masih berbicara tentang mengapa kita sangat jauh tertinggal dengan negara-negara lain. Tapi, selain elit politik, sebuah negara pun sangat dipengaruhi dengan 'sepak-terjang' para pengusaha yang 'ambisius'.
"Hampir semua negara di dunia dikendalikan para pengusaha yang punya modal besar," kata teman saya itu.
Saya sepakat pernyataan itu. Bagaimana tidak, seperti di Indonesia banyak sekali para elit politk berpihak kepada para pengusaha kaya. Ya, meskipun 'tangannya' tidak tampak oleh publik, tapi di balik para elit politik pasti punya dukungan dari para pengusaha yang rakus itu. Mental kapitalisme yang mirip dengan negara Amerika Serikat dan Eropa Barat.
Boleh jadi negara kita sudah hampir sewindu menghirup udara demokrasi. Tapi, tak berbeda jauh ketika di zaman Orde Baru. Yang miskin malah bertambah miskin. Jauh dari harapan akan semakin ada perubahan ke arah lebih baik kesejahteraannya.
Sebuah harapan dan cita-cita menjadi negara ke arah lebih baik dari sebelumnya belum tercapai. Jika mental para elit politik dan juga pengusaha masih tamak dan mementingkan diri sendiri, tidak akan mungkin negara kita akan bisa tercapai kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia, seperti amanat dalam UUD 1945.
Hanya berharap saja akan sulit, jika cita-cita negara ini berniat mensejahterakan masyarakatnya, alih-alih para elit politik dengan leluasa mempermainkan negara ini. Sekali lagi mereka melakukan itu hanya untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya (partai politik, red). Masihkan kita tetap berdiam diri dan hanya menjadi mainan para elit politik negeri ini?
Wednesday, March 14, 2007
Sebuah Kebetulan

Yang lebih bahagia dari itu semua adalah saya bisa bertemu dengan kakak saya ketika ia akan mengikuti pertemuan di sebuah perusahaannya yang berpusat di Jakarta. Namanya Evans. Saya lebih suka memanggilnya Eq. Hampir tidak pernah saya memanggilnya dengan mas (sapaan orang Jawa, red) atau kak. Sudah terbiasa sejak dari kecil memanggilnya tanpa sapaan kakak atau mas. (Foto: suasana senja di lantai atas Blok M Plaza)
Sebuah kebetulan sekali di awal Februari kemarin. Ia datang dari Papua. Perusahaannya menempatkan ia di sana hampir dua tahun lamanya. Sejak hampir satu tahun ini, saya tidak bertemu dengannya. Eq bilang, setelah selesai pertemuan di kantor, ia akan ke Palembang dan menemui ibu dan ayah kami di sana. Sayangnya, saya tidak bisa ikut dengannya ke Palembang.
Eq punya jiwa perantau. Sampai ke pelosok daerah mana pun di Indonesia, ia siap. Ia tidak mundur ketika diminta perusahaannya untuk pindah. Sebelum ditempatkan di Papua, ia ditempatkan di daerah Tulang Bawang, Lampung. Perusahaannya bergerak di bidang industri pengolahan minyak sawit menjadi minyak goreng. Dari ujung sumatera sampai Papua, perusahaannya ini mengelola kelapa sawit yang berpotensi. Tapi, kakak saya bukan di pengelolaan sawitnya. Ia di bidang sipil. Karena ia dulu jebolan sarjana teknik sipil di sebuah universitas di Palembang.
Kebetulan kedua, kemarin sore saya janjian bertemu dengan sepupu saya di Blok M Plaza. Sebelumnya, ayah saya yang mengabari saya kalau sepupu saya sedang berada di Jakarta Namanya Taufik. Beda dengan kakak saya, Eq. Saya akrab memanggil sepupu saya ini dengan Mas Taufik. Entahlah, karena keluarganya di Mojokerto, Jatim lebih sering memanggil sapaan ‘mas’.
Mas Taufik hampir lebih dari lima tahun bekerja di kapal. Di bawah bendera sebuah perusahaan anak mantan presiden Suharto. Ia bukan sebagai nahkoda, tapi bertugas marconi, semacam radio control di kapalnya yang mengangkut minyak BBM.
Senang sekali bisa bertemu lagi dengan sepupu saya ini. Terakhir saya bertemu dengannya ketika saat syukuran nikahannya di Mojokerto, Jatim pada bulan September 2006 lalu. Kami bertiga: Saya, Ibu dan Ayah saya saja dari Palembang yang datang ke acara syukurannya. Sedangkan kakak perempuan saya tidak bisa ikut karena masih sibuk dengan pekerjaannya ketika itu.
Sambil menikmati makan malam di sebuah gerai makan, saya ngobrol banyak dengan Mas Taufik. Katanya, ia sedang diklat di daerah Priok untuk persiapan pindah ke kapal yang akan mengangkut gas (LNG).
Wednesday, February 14, 2007
Peraturan (Bukan) Untuk Dilanggar
Senin malam itu, seperti biasa di sepanjang Jalan Margonda Depok padat dengan kendaraan bermotor yang hilir mudik. Hampir setiap hari di jalan itu tidak pernah sepi dengan kendaraan yang menghubungkan Jakarta Selatan dengan pusat kota Depok. Tidak hanya kendaraan saja yang ramai, di sepanjang jalan itu pula ada dua pusat perbelanjaan. Lokasinya saling berseberangan dan cukup megah terlihat bangunannya dari pinggir jalan itu. Tidak hanya pusat perbelanjaan itu saja yang selalu ramai. Di pinggir sepanjang Jalan Margonda juga terdapat banyak gerai-gerai makan yang bermacam-macam menu hidangan. Belum lagi di sepanjang trotoar jalan didirikan banyak warung makan kaki lima. Ada pula banyak pusat game dan warnet yang juga ikut meramaikan di daerah itu. Sehingga, bertambahlah salah satu pusat keramaian di kota Depok.
(Foto: Monumen Nasional atau Monas di minggu malam)Saya baru beberapa kali ke kota Depok.Tujuan saya tepatnya ke kampus UI Depok buat mencari literatur buku melengkapi penelitian saya di perpustakaan Fisip dan perpustakaan pusat. Terkadang dari pagi sampai sore menjelang Maghrib, saya berada di sana. Bahkan hampir saja lupa waktu berada di kampus. Untung saja bisa dapat tumpangan menginap di kostan Fadli, teman SMA saya, tidak jauh dari jalan Margonda.
Tapi, malam itu tidak terduga-duga. Saya pulang dari kampus UI Depok melewati jalan pintas yang sering dilalui sepeda motor dan menyeberangi pintu perlintasan KRL. Ketika masuk jalan Margonda, saya memutar arah di tempat yang dilarang. Ada sebuah rambu-rambu lalu lintas dilarang memutar. Memang biasanya saya sering memutar di sana. Namun, sayangnya aksi memutar saya itu telah diawasi polisi dari pinggir jalan.
Setelah saya memutar balik arah, tiba-tiba saja seorang polisi menyuruh menepikan sepeda motor saya. Ah, kena deh gw ditilang polisi, pikir saya ketika itu. Kejadian itu teringat dengan sebuah iklan rokok yang menggambarkan seorang cewek mengendarai mobil. Ketika itu sang cewek sebelum memutar arah mobilnya, ia melihat sekelilingnya. Memastikan tidak ada polisi yang memperhatikan mungkin. Padahal, sebuah rambu-rambu lalu lintas dilarang memutar di sana terlihat jelas. Setelah berhasil memutar, ada seorang polisi tiba-tiba muncul dari sembunyinya di balik semak-semak. Ya, seperti itulah ilustrasi kejadiannya persis sama dengan yang saya alami ketika itu.
Tidak bisa mengelak lagi ketika dicegat polisi. Jelas-jelas terbukti saya telah melanggar. Awalnya saya akan ditilang dan membayar denda di kantor polisi. Tapi saya menolak itu karena saya mengatakan dari luar kota. Ya, akhirnya polisi itu mau berdamai dengan membayar (denda) sebesar Rp20ribu. Jumlah yang cukup besar buat saya. Ini jadi pelajaran untuk jangan sekali-kali melanggar rambu-rambu lalu lintas yang ada. Atau sang polisi siap mencegat Anda jika terbukti melanggar seperti yang saya alami baru-baru ini. Semoga saja tidak terulang kembali. Peraturan (bukan) untuk dilanggar.
Wednesday, February 07, 2007
Jakarta Banjir
HUJAN terus berlangsung lebih dari tiga hari akhir pekan lalu. Sebagian warga Jakarta mulai khawatir akan terjadi banjir. Ternyata benar, dugaan itu menjadi kenyataan. Hampir sebagian besar wilayah Jakarta terendam air akibat hujan terus-menerus.(Foto: Sejumlah motor pindah jalur ke ruas jalan sebelah kanan yang lebih tinggi di Jl.Rasuna Said, Kuningan)
Semua media massa mulai mengangkat musibah ‘besar’ banjir di Jakarta. Metro TV lebih sering menayangkan program acara Breaking News kepada pemirsa. Sejumlah kru-nya mendatangi tempat-tempat yang parah terkena banjir. Mereka menayangkan keperihan wajah para warga yang rumahnya tergenang air. Supaya tampak human interest di layar kaca televisi?
Saya baru sempat jalan keluar dengan mengendarai motor menelusuri sejumlah jalan di Jakarta, Senin kemarin (5/2). Sebelumnya saya berencana menemui Imansyah di Wisma Kodel daerah Kuningan. Ia kakak tingkat saya dulu waktu SMA, alumni tahun 1993. Sekarang ia bekerja di sebuah majalah komputer sebagai editor di sana. Padahal, ketemu dengannya saja belum pernah. Sudah sejak lama saya tahu dengan namanya saja. Itu pun setelah bergabung di milis SMA yang kebanyakan adalah para alumni dari sekolah kami.
Namun, tidak disangka ketika saya sampai di daerah Kuningan, pesisnya di depan Wisma Jasa Raharja, kemacetan kendaraan bermotor mulai tampak. Di sisi kiri jalan yang lebih rendah, ada genangan air hingga sepanjang jalan ke arah depan. Kalau mengendarai sepeda motor dibandingkan mobil mungkin agak lebih leluasa melakukan berbagai ‘manuver’ ala Valentino Rossi. Batas pemisah jalan saja bisa dengan mudah ‘dilompati’ ke ruas jalan yang berdekatan. Sementara kebanyakan mobil terjebak kemacetan.
Saya pun terkadang terkesima dengan ulah para pengendara sepeda motor di Jakarta. Mereka cekatan. Salip sana, salip sini. Pokoknya kalau ada sisa ruas jalan yang kosong saat terjadi macet, dengan mudah menyalip banyak mobil, bus dan truk di depan, sisi kiri dan kanan. Saya jadi banyak belajar dengan tingkah mereka di jalanan setelah cukup lama berada di Jakarta. Meskipun demikian, yang paling penting harus tetap waspada agar tidak menyerempet kendaraan di sisi kiri dan kanan. Apalagi sampai menabrak spion mobil yang ujung-ujungnya berurusan dengan si korban pengendara mobil itu.
Spontan saja saya mengikuti para pengendara motor lainnya pindah ke ruas jalan yang lebih tinggi. Ramai sekali di sana kendaraan yang terkadang terhenti dan berjalan ‘merayap’. Saya melihat genangan air di seberang gedung Jasa Raharja yang tidak jauh dari gedung Wisma Kodel. Di depan jalan gedung itu ternyata terkena banjir setinggi lutut sampai pinggang orang dewasa.
Beberapa pintu masuk gedung perkantoran itu ditimbun dengan karung-karung yang berisi pasir yang tersusun seperti pagar. Gunanya agar genangan air banjir tidak sampai masuk ke dalam gedung perkantoran. Tapi, beberapa gedung perkantoran sisi kiri dari arah Tol Gatot Subroto ke arah Kuningan dan Bundaran Hotel Indonesia, saya lihat air telah mencapai tingginya leher orang dewasa.
Di beberapa lokasi banjir, terkadang saya menjumpai wartawan TV. Seorang kamera dan seorang lagi reporter sedang memegang mic. Saya memperhatikan mereka menelusuri genangan air hingga ke tengah. Entahlah apa maksud mereka melakukan itu. Mungkin mereka ingin siaran laporan langsung dari tempat yang masih tergenang banjir.
Semoga saja banjir terbesar setelah tahun 2002 lalu di Jakarta ini sudah semakin berkurang. Pengalaman yang tak terlupakan ikut menyaksikan sendiri banjir besar di Ibukota negeri Republik Indonesia ini. []
Friday, February 02, 2007
Teman Lama dan Kampus Jaket Kuning
TERKADANG saya tersenyum sendiri memperhatikan isi balasan sms dari teman saya. Kebanyakan mereka adalah teman saya ketika SMA dulu di Pelembang. Ketika saya coba sms di antara mereka, ada satu yang membalas sms saya dan menanyakan begini,”Sori, Erie yang mana ya?”tulisnya di sms ke HP saya. Saya langsung tersenyum sendiri sambil menggelengkan kepala, “Kok bisa lupa sama temannya sendiri ya,”pikir saya. Selekasnya saya balas, kurang lebih saya mengirim sms begini,”Wah..susah ya kalo mo jadi orang terkenal:) Ini Erie Khafif. Masak lupa sih. Oia, ngekost di mana?” Kemudian, teman saya ini pun kembali membalas sms saya,”Oh erie!ya ampun sori2..btw mang skg kul dmn?” Waduuhh….hari gini masih tanya saya kuliah di mana, padahal sudah hampir enam tahun saya di Lampung, dia tidak tahu.
Yang saya tahu teman saya ini melanjutkan kuliah di Universitas Pancasila setelah lulus D3 dari Politeknik Bandung. Katanya, dia ngekost dekat dengan Univ Pancasila, daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Saya mengajak dia buat bertemu di kostannya. Tapi, katanya hari itu dia akan mengikuti tes TOEFL di kampusnya. “Kt atur deh..skg a lg d kmpus mau tofl,”sms-nya kepada saya.
Beda lagi teman SMA saya yang lain. Kebetulan dia sekarang sudah bekerja di Jakarta. Saya lupa menanyakan dia bekerja di bidang apa dan di daerah mana dia tinggal. Ketika saya sms ke dia dan menanyakan kabar dan tempat dia tinggal, dia membalas dan menanyakan, “siapa ini?” Waduuuhh….lupa atau pura-pura lupa teman saya ini, pikir saya. Saya cuma bilang kepadanya, ini Erie teman SMA dulu. Eh, syukurlah dia masih ingat dan ternyata dia lupa masukan no HP saya.
Kalau dihitung-hitung, cukup banyak teman saya yang kini bekerja dan menetap di Jakarta. Kebanyakan mereka adalah teman saya ketika SMA dulu di Palembang. Ada juga teman dari SD dan SMP, tapi sudah lama tidak pernah kontak. Kalau saja saya punya kontak mereka, ingin sekali saya menghubungi mereka dan menanyakan kabarnya. Jika sempat, malah saya ingin bersilahturahmi ke rumah atau kostannya.
***
KE Jakarta, tidak lupa mampir ke Depok. Ada Fadli, teman SMA dulu yang tinggal di sana. Dia ngekost tidak jauh dari UI Depok. Kadang-kadang saya menumpang menginap di kostannya. Tujuan saya ke UI Depok adalah mengumpulkan bahan-bahan referensi untuk skripsi saya. Beberapa kali saya pergi-pulang mengendarai sepeda motor dari Kebayoran Lama ke UI Depok. Di perpustakaan Pusat UI, cukup banyak buku-buku yang bisa jadi referensi saya. Begitu pula di perpustakaan FISIP UI, tersedia banyak buku-buku yang sesuai dengan jurusan saya (Ilmu Komunikasi, red).
Perpustakaan FISIP UI dinamakan Miriam Budiarjo Resource Center. Tempatnya, seingat saya di lantai dua dan tiga gedung D, FISIP UI. Saya kagum sekali saat pertama kali melihat perpustakaan ini dinamakan seorang perempuan pendiri FISIP UI. Kini Ibu Miriam Budiarjo telah meninggalkan kita semua, setelah beberapa waktu yang lalu meninggal dunia karena sakit. Saya mengagumi sosok Ibu Miriam Budiarjo sebagai dosen senior Ilmu Politik di FISIP UI ketika masih hidup. Meskipun belum pernah bertemu dengannya, tapi pertama kali saya mengenal Ibu Miriam dari sebuah buku wajib bagi mahasiswa FISIP, “Dasar-Dasar Ilmu Politik”
Dari situ saya mengenal beliau pertama kali ketika saya kuliah semester satu, mendapatkan mata kuliah Pengantar Ilmu Politik di FISIP Unila. Itu enam tahun yang lalu. Tapi saya masih ingat betul sampai sekarang dengan almarhum Ibu Miriam Budiarjo. Sungguh beruntung bagi mahasiswa yang pernah diajarkan beliau ketika masih sehat bugar. Mungkin saja mahasiswa dulu yang pernah diajar oleh Ibu Miriam, kini adalah para pakar di berbagai bidang politik dan pemerintahan, macam Arbi Sanit.
Ketika saya pertama kali memasuki perpustakaan FISIP UI itu, kesan di dalam perpustakaan itu sungguh nyaman dan tertata secara artistik. Ada kursi sofa berbahan kulit di sana. Di atas meja dekat kursi sofa, ada sejumlah koran nasional yang terbit hari itu. Tidak jauh dari sofa itu juga, ada sekitar empat unit komputer tertata rapi. Fungsinya untuk mencari informasi buku, skripsi, pengarang, dan beberapa literatur lainnya untuk menemukan sesuai keinginan mahasiswa. Semacaman alat search engine yang selalu ter-up date. Saya pernah mencobanya ketika akan mencari salah satu buku dan skripsi.
Di bagian atas, terdapat sejumlah papan bertulis dengan bentuk dan warna orange yang artistik. Salah satunya yang sempat saya potret, ada foto Almarhumah Ibu Miriam Budiarjo dan testimoni yang bertuliskan,”Bu Mir tidak pernah berkecimpung secara langsung dalam politik praktis, namun beliau bukanlah seorang ilmuwan yang semata-mata membatasi diri pada kegiatan di ‘menara gading’” oleh Harold Crouch.
Untuk mencapai ke lantai dua, ada tangga memutar. Di lantai dua ini terdapat sejumlah komputer yang dapat diakses bagi para mahasiswa FISIP UI. Saya tidak tahu, apakah hanya digunakan untuk Sistem Informasi Akademik (SIAK) online saja atau bisa juga untuk akses internet. Seperti di kampus saya, Unila, punya Sistem Informasi Akademik (Siakad) sejak tahun 2000 lalu. Siakad adalah sarana akademik mahasiswa, mulai dari KRS, KHS, transkrip nilai, dan lainnya. Kesemuanya itu terkomputerisasi secara online dan tersimpan di pusat server.
Ada juga buku-buku yang saya temui di Miriam Budiarjo Resourse Center ini, hanya dapat dibaca di sana dan tidak bisa dipinjam, apalagi dibawa pulang. Biasanya buku-buku itu termasuk kategori referensi macam ensiklopedia, jurnal ilmiah, majalah, tabloid, dan masih banyak lagi lainnya. Saya tidak hapal betul susunan buku-buku di dalam rak yang tertata rapi yang masing-masing dari itu dibuat nomor urut klasifikasi buku.
Saya betul-betul menikmati sebuah tempat baca yang nyaman sekaligus memiliki banyak buku-buku bagus dan cukup lengkap. Bahkan, sejak pagi sampai sore saya betah mengelilingi dari satu rak ke rak lainnya, mencari buku-buku yang saya butuhkan. Setiap sudut ruangannya pun dingin oleh AC. Lantas terpikirkan oleh saya, kalau saja perpustakaan di kampus dan fakultas saya sama seperti di sini (UI Depok, red), tidak perlu pergi jauh-jauh lagi saya menyeberangi pulau dari sumatera ke jawa buat referensi skripsi saya. Mungkin hal yang wajar, karena di Jakarta semua akses untuk semua buku-buku keperluan setiap mahasiswa di sana tersedia dengan cukup lengkap. Saya mungkin hanya bisa berharap kelak saya setelah lulus dari almamater kampus tercinta saya, perpustakaannya bisa selengkap kampus jaket kuning ini.
Mungkin ada satu hal yang buat saya kaget dan tidak menyangka adalah di hampir tiap gedung UI (mungkin, red) tersedia hotspot. Namanya Hotspot UI. Para mahasiswa yang memiliki laptop/notebook dapat menggunakan akses internet di mana pun mereka suka. Asalkan masih berada di lingkungan kampusnya. Terkadang saya menjumpai mahasiswa di kantin, sedang menatap layar laptopnya dan sembari asik ngobrol dengan teman-temannya. Di beberapa sudut gedung pun jika ketemu colokan listrik yang tidak sedang digunakan, maka di sanalah si mahasiswa tinggal menancapkan kabel sumber tenaga (power supply AC) buat laptopnya, lalu browsing ke dunia maya.
Hotspot adalah akses internet tanpa kabel di suatu tempat tertentu. Biasanya laptop/notebook merk saat ini telah mendukung Hotspot dengan jenis Wireless 802.11b/g. Saya lupa persisnya secara teknis kode tersebut, karena baru belakangan ini saya mempelajari secara otodidak tentang perangkat untuk akses internet tanpa kabel. Selain laptop punya perangkat yang mendukung Hotspot, ada pula sebuah alat pemancar signal untuk Hotspot. Bentuknya saya pun belum pernah lihat seperti apa.
Mengutip obrolan dengan rektor saya tentang Hotspot Unila ketika bersilahturrahmi di ruang kerjanya, menemani Yudi dan Doni (keduanya mantan Pemum dan Pemus Teknokra) akhir tahun lalu. Katanya, Hotspot di Unila baru akan dilakukan pada tahun ini. Paling lambat mungkin mulai tahun depan. Tetapi, hanya baru beberapa gedung saja yang terdapat Hotspot-nya. Yah, semoga saja dapat segera direalisasikan agar para mahasiswanya dapat mengakses internet di mana saja.
***
Sore hari, pemandangan di sekitar danau UI ramai orang. Tampak beberapa orang sedang berada di ‘bibir’ danau itu. Mereka ada yang sambil duduk, ada pula yang sambil berdiri memegangi sebuah gagangan panjang mengarah ke danau itu. Mereka sedang memancing ikan. Saya memperhatikan mereka dari dekat, bagaimana mereka memancing. Mulai dari memasang umpannya sampai melemparkan pancing yang telah diberi umpan tadi ke danau itu sejauh-jauhnya. Bahkan di antara mereka itu tidak menggunakan umpan di pancingnya. Cukup dengan beberapa pancing yang terikat kuat dan pemberat yang terbuat dari timah. Gunanya pemberat pancing itu agar dapat dilemparkan sejauh-jauhnya ke arah tengah danau. Hasilnya cukup lumayan. Sekali tarikan pancing minimal ada satu ekor ikan yang didapat.
Di sekitar danau, terlihat teduh dengan banyak pepohonan. Seperti berada di sebuah Kebun Raya Bogor. Semua masih tampak hijau dan asri. Kecuali, di pinggir danau itu terlihat bekas-bekas sisa sampah yang tergenang di atas permukaan. Kebanyakan berbahan plastik. Tapi, tetap saja para pemancing ikan di sana betah duduk di pinggir danau, karena mereka kerap mendapat ikan hasil dari pancingannya.
Kalau saja danau itu bisa dijaga kelestarian dan kebersihan dari sampah-sampah, akan lebih baik terlihat indah pemandangannya. Tidak hanya danau dekat Masjid UI itu saja yang perlu dijaga kebersihan dari sampah, tapi di tempat lain (masih di komplek UI Depok, red) ada sebuah danau lagi dekat Politeknik Negeri Jakarta. Di sana pun menjadi tempat sasaran masyarakat yang hobi memancing. Terlebih lagi di saat musim hujan, cukup banyak ikan yang tertangkap dari usaha mereka memancing. Tentu saja membuat betah berlama-lama memancing dan pulang dengan tangkapan ikan yang banyak.
***

Jika Anda jalan kaki dari satu fakultas ke fakultas lain, pasti Anda akan lelah. Ternyata di UI Depok punya bus untuk mengangkut para mahasiswanya. Bus ini mengelilingi komplek UI dan akan berhenti di setiap fakultas. Di masing-masing fakultas, di pinggir jalannya ada halte. Di sanalah para mahasiswa menunggu bus yang datang menjumput dan mengantar ke fakultas berikutnya. Begitu seterusnya, seperti tawaf mengelilingi Ka’bah di Makkah.
Saya kemudian jadi teringat dengan teman-teman saya yang kuliah di Universitas Sriwijaya. Mereka berangkat dari kota Palembang menuju kampus Unsri Inderalaya, Kabupaten OKI yang jaraknya sekitar 40-an kilometer. Ada beberapa bus Unsri yang telah disediakan untuk para mahasiswa menuju ke kampus. Bus berwarna kuning ini kerap hampir setiap pagi menjadi rebutan bagi para mahasiswa yang telah menunggu di pusat kota Palembang. Biasanya mereka telah menunggu di daerah jalan Sudirman, depan Bank Danamon.
Saya ingat betul dari cerita teman beberapa tahun yang lalu, sampai ada saja terjadi peristiwa mahasiswa yang terluka akibat terhimpit sesama mahasiswa lainnya. Ada yang terinjak-injak karena saling rebutan bus. Entahlah, saya belum pernah melihat langsung kejadian yang memilukan itu. Tapi sekarang, saya tidak tahu persis apakah masih ada para ‘pahlawan’ pengejar bus kampus Unsri?
Sebenarnya juga karena kesamaan simbol warna kuning almamater UI dengan Unsri ini adalah sebuah kebetulan saja saya menceritakannya di sini. Tak bermaksud membanding-bandingkan satu kampus ini dengan kampus itu. Yah, karena sebuah kebetulan. Itu saja. Jika ada yang positif dan bermanfaat, silahkan saja diambil. Saya sangat bersyukur sekali.
Nah, anggap saja semua cerita saya ini sebagai sebuah pengalaman perjalanan selama menelusuri kota Jakarta dan UI Depok demi mencari ilmu yang bermanfaat kelak sebagai bekal hidup. Setiap momen tak akan terulang dua kali. Prinsip ini selalu saya ingat. Jadi, sangat disayangkan jika setiap momen akan hilang begitu saja. []
Tuesday, January 30, 2007
Dari Salemba ke Depok
Hampir sepuluh hari lebih saya berada di Jakarta. Tidak terasa memang, seperti berada di kota kelahiran sendiri. Padahal, Jakarta adalah kota metropolitan yang sangat ramai penduduknya jika dibandingkan dengan kota mana pun di Indonesia. Saya beruntung punya teman di Jakarta yang mau menampung saya. Lebih tepatnya ia teman sekaligus kakak tingkat saya dulu ketika ia pemimpin redaksi di Teknokra Unila tahun 2003 lalu. Sudah hampir dua tahun lebih ia hijrah ke Jakarta dan bekerja di sebuah harian nasional.
Selain ia, ada kakak tingkat saya yang lebih dahulu awal ke Jakarta. Ketika masih mahasiswa sekitar tahun 2004, Ia dipercaya sebagai pemimpin redaksi di Teknokra Unila. Sekarang ia juga bekerja di sebuah koran harian nasional di Jakarta. Pengalamannya sebagai reporter di lapangan cukup banyak ia dapat. Teman-teman seprofesinya pun dari berbagai macam media massa di Jakarta.
Ada satu lagi kakak tingkat saya yang ketika dulu juga pernah dipercaya sebagai pemimpin redaksi Teknokra Unila pada tahun 2002. Tapi, ia belum genap satu tahun hijrah di Jakarta dan bekerja di sebuah harian nasional.
Kalau saya lihat, kebanyakan mereka mantan pemimpin redaksi ini setelah menyelesaikan studi, kemudian langsung bekerja di media massa. Sebuah kebetulankah? Entahlah, saya yakin mereka berniat berprofesi menjadi seorang jurnalis. Suatu saat nanti mungkin saya pun demikian mengikuti jejak mereka. Tapi, setelah saya lebih dulu menyelesaikan studi saya di kampus.
***
Senin lalu (22/1), saya ingin menemui Aziz, teman seangkatan saya ketika dulu satu SMA di Palembang. Kini ia bekerja di kantor Departemen Keuangan, di daerah lapangan banteng, Jakarta Pusat. Tapi, kebetulan saat itu saya berangkat agak siang dari Kebayoran Lama. Seingat saya ia pernah bilang kalau kostannya di daerah Salemba, tidak jauh dari UI Salemba. “Akh, kostan ane di Salemba,”begitu sms-nya kepada saya. Akh atau akhi itu sama seperti panggilan ‘saudara laki-laki’ jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Sejak siang sampai sore saya ada di UI Salemba. Menunggu teman saya ini kembali dari kantornya. Sambil menunggu, saya keliling beberapa gedung kampus yang diperuntukkan bagi mahasiswa Kedokteran UI ini. Kebanyakan bangunannya sudah tua. Terlihat dari bentuk bangunannya yang terkesan kuno. Tapi, cukup masih terawat dengan baik dan beberapa bangunan di sana sedang direnovasi.
Setelah Aziz pulang dari kantor, ia menjemput saya di masjid UI Salemba. Saya janji menunggunya di sana. Ia menunjukkan kostannya di daerah Kenari dalam. Tidak jauh dari jalan besar yang berseberangan dengan Mall Kenari. Ia mengajak saya ke kostan Fadli, teman saya juga ketika satu SMA, di dekat UI Depok. Kita pun segera berangkat sore itu juga. Pikir saya kita ke Depok naik bus. Tapi sebelum berangkat, kita berdua menunggu Fitri, teman satu SMA juga. Ia kini bekerja di sebuah perusahaan di daerah Ancol, Jakarta Utara. Fitri tinggal di kostan di daerah Salemba.
Kita bertiga jadi berangkat ke Depok sore itu juga naik taxi. Sudah agak sore menjelang Maghrib. Di dalam taxi, Aziz yang sering saya panggil dengan nama ‘Ujok’ ini, terlihat sakit perut. Tapi, ia masih terlihat sehat bugar. Lincah juga orangnya meskipun badannya kecil. Fitri yang duduk di kursi depan, kadang tertawa melihat tingkah lakunya. Ya, sepanjang perjalanan ke Depok, kita ngobrol dan sering bercanda. Mungkin saja untuk mengobati sakit perut Ujok.
***
Sekitar pukul delapan malam kita bertiga sudah sampai di Jalan Margonda Raya. Saya tanya kepada Ujok, di mana kampus UI Depoknya? “Itu di seberang. Masuk jalan Univ Gunadarma, Nah di dalam kampus UI-nya,”kata Ujok. Karena sudah malam, saya tidak tampak jelas melihat tanda masuk ke kampus UI Depok. Di jalan raya masih terlihat ramai sekali dengan kendaraan bermotor yang saling berlawanan.
Kita bertiga turun dari taxi di depan sebuah warnet dan game center. Kata Ujok, kita menunggu Fadli menjemput. Tak jauh dari jalan masuk ke kostan Fadli. Beberapa menit kemudian, Fadli muncul dan menyapa kita bertiga. Saya seperti reuni bertemu dengan teman-teman lama SMA. Hingga kini kita masih bisa dipertemukan kembali.
Cukup lama setelah ketemu dan ngobrol di pinggir jalan Margonda Raya yang masih tetap ramai itu. Ingin mencari tempat buat makan malam saja bingung. Memang banyak sekali pertokoan yang ada di sana. Akhirnya, kita ketemu tempat makan dengan menu sayur asam dan ikan asin. Wah sedap rasanya. Sudah lama sekali tidak menikmati sayur asam. Pokoknya, malam itu seperti acara reuni kecil-kecilan. Ngobrol banyak hal sampai bercanda.
Setelah makan malam, saya menginap di kostan Fadli yang tidak jauh dari jalan Margonda Raya. Saya lupa nama gang masuk ke dalam kostannya. Sedangkan Ujok dan Fitri langsung pulang ke Jakarta. Karena mereka berdua akan bekerja keesokan harinya.
***
Besok pagi, Selasa (23/1) saya berangkat kembali ke Salemba. Motor saya dititipkan di kostan Ujok ketika kita kemarin berangkat ke Depok. Sebelum saya berangkat, Fadli sudah lebih awal berangkat ke tempat kerjanya di Univ.Al Azar, Jakarta.
Sebelum sampai ke Jakarta, Ujok sms saya. Katanya, motor saya dibawanya ke kantor. Tujuan saya menuju ke daerah lapangan banteng, kantornya Ujok ada di sana. Sampai di kantornya itu, saya bingung dengan kantornya yang banyak. Ada lebih dari tiga gedung kantor yang berlantai lebih dari 10. Ujok menempati kantor di Gedung D.
Sampai siang saya di sana. Ia mengajak saya keliling beberapa tempat gedung-gedung milik Departemen Keuangan itu. Saya sesekali membayangkan bagaimana bisa berkerja di sana. Tapi, itu tidak mudah. Kebanyakan yang saya tahu para pegawai yang bekerja di DepKeu itu adalah para lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Ya, kecuali mungkin ada lulusan dari luar itu yang bernasib baik bisa bekerja di kantor pimpinan Ibu Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan pemerintahan SBY-JK sekarang. []
Di Permata Hijau
Minggu pagi kamarin (21/1), Reza dan Hendi datang ke Jakarta. Mereka berdua adalah pengurus Teknokra periode sekarang. Reza masih menjabat sebagai Redaktur Foto, sedangkan Hendi menggantikan Mayna sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) di Teknokra. Rencananya mereka akan menghadiri acara syukuran atas pernikahan Mas Andreas dan Mbak Sapariah. Mas Andreas pernah menjadi instruktur untuk kegiatan Teknokra, yakni Pendidikan Jurnalistik Mahasiswa tingkat Lanjut dan untuk tingkat Pengelola, berturut-turut pada tahun 2003 dan 2004 di Bandar Lampung.
Acara syukurannya pada malam harinya. Tapi, kita berempat, saya, Bang Yamin, Hendi dan Reza, pagi-pagi sudah berangkat ke apartemen Mas Andreas di Permata Hijau. Yah, untuk sekedar bantu-bantu mempersiapkan perlengkapan acara di lantai bawah apartemennya. Di sana juga kami berempat bertemu dengan Mbak Eva. Ia mantan Pemimpin Usaha Teknokra periode 2004 lalu. Kini ia bekerja di Yayasan Pantau Jakarta.
Kami juga bertemu dengan beberapa orang yang terlibat di Pantau, seperti Mas Nugie (sekarang jurnalis di Harian Ekonomi Bisnis Indonesia), Imam, Yunus dan masih banyak lagi lainnya. Termasuk Mbak Eva, cukup piawai juga bisa merekrut teman-teman kostan cewek untuk mendekorasi ruangan di lantai bawah aparteman itu menjadi berwarna merah. Mereka terlihat cukup kompak menata satu per satu item buat persiapan malamnya.
Yang laki-laki kebagian yang berat-berat. Seperti mengangkat meja, memasang spanduk ‘Indopahit’, dan masih banyak lagi lainnya. Acaranya di pinggir kolam renang. Di dekat kolam itu, ada mainan anak kecil macam kuda-kudaan. Saya mencoba duduk dan bergoyang-goyang di atas kuda-kudaan itu. Begitu pula Hendi, Reza dan Bang Yamin mencobanya. Asik juga, seperti teringat kembali masa ketika dulu usia TK.
Sampai sore hari kami berempat berada di tempat syukuran Mas Andreas. Satu per satu terlihat sudah selesai dipersiapkan. Begitu pula dekorasi dan musik yang lengkap. Malamnya, kami berempat sudah siap dengan berdandan rapi. Sejumlah tamu sudah terlihat ramai di acara itu. Di sana pun saya bertemu dengan beberapa kontributor Pantau yang pernah menulis untuk Majalah Pantau, macam Chik Rini, Mas Buset dan Alfian Hamzah. Ada pula yang belakangan ini saya kenal dari tulisannya dari situs pantau.or.id, adalah Samiaji Bintang. Mbak Eva pun mengenalkan kepada Gunawan Mohammad. Ia adalah redaktur senior di Majalah Tempo dan sering mengisi rubrik Catatan Pinggir setiap minggu terbitannya.
Malam itu pula saya bertemu dan diperkenalkan dengan Mbak Elva dan Bang Syahran Lubis. Keduanya adalah alumni Teknokra. Mbak Elva memang sering ‘nimbrung’ di milis Teknokra sejak awal mulai dirilis. Beliau sekarang bekerja di Harian Ekonomi Bisnis Indonesia. Sedangkan, Bang Syahran adalah Redaktur Pelaksana di Harian Ekonomi Bisnis Indonesia juga. Saya langsung teringat dengan Bang Aldrin di Lampung ketika bertemu dengan Bang Syahran. Beliau suka sekali bergurau, meskipun terlihat orangnya serius.
Saya kembali seperti reuni alumni Teknokra di Jakarta. Kapan lagi bisa seperti ini? []
Djakarta

SAAT mendengar sebutan Jakarta, mungkin terbayang sebuah ibukota Indonesia yang memiliki segudang aktivitas rutinitas manusia yang luar biasa banyak jumlahnya. Bahkan, seolah kota berpenduduk lebih dari 7 juta jiwa ini, aktivitasnya tidak pernah mengenal lelah sekalipun hingga larut malam. (Foto: Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan)
Entah dari mana kebanyakan orang tetap rela berjuang dengan ‘mati-matian’ agar bisa mencapai kota Jakarta dan bekerja di sana. Intinya mencari sesuap nasi dan memperbaiki kualitas hidup agar lebih sejahtera. Berbagai cara yang ditempuh untuk dapat bekerja pun bermacam-macam. Ada yang sebalumnya mempunyai bekal keahlian, ada pula hanya bermodal nekat saja tanpa mempunyai kemampuan yang cukup.
Siapa pun bisa ke Jakarta. Untuk sekedar mencoba peruntungan nasib atau sekedar mencari pengalaman merasakan ‘kerasnya’ hidup di Jakarta. Ada dua pilihan yang akan didapat, berhasil atau kurang beruntung.Itu saja. Jika ia bernasib baik, mungkin akan tetap bertahan dan terus berusaha untuk lebih baik lagi.
Kamis kemarin (17/1), Saya mencoba ke Jakarta untuk kerja praktek di sebuah media massa. ‘Aura’ Jakarta begitu memikat saya sehingga ingin sekali mencoba ke sana. Yah, meskipun hanya sekedar kerja praktek untuk melengkapi mata kuliah yang kurang. Siapa tahu setelah lulus atau wisuda, langsung mendapat tawaran bekerja di Jakarta. Sebuah rezeki bukan?
Saya berangkat dari kostan sekitar pukul 09.37 WIB. Tak ada persiapan khusus saat mau berangkat ke Jakarta menggunakan motor Legenda hitam saya. Baju-baju kemeja buat persiapan di sana pun, baru saya strika pagi hari. Saya bawa dua tas ransel. Yang satu isinya pakaian-pakaian buat persiapan di sana. Yang satunya lagi, untuk bawaan perlengkapan-perlengkapan saat kerja praktek nanti.
Selama perjalanan dari kostan menuju pelabuhan penyeberangan Bakauheni, Lampung Selatan, kira-kira saya menghabiskan waktu selama dua jam perjalanan. Kecepatan motor biasanya saya kendarai rata-rata 70-an Km per jamnya. Selama perjalanan, terkadang hujan gerimis lalu kembali cerah lagi sampai di pelabuhan penyeberangan Bakauheni.
Memasuki Pelabuhan Bakauheni, sebelum naik ke kapal Ferry (sebutan semua kapal penyeberangan Bakauheni-Merak), kendaraan bermotor dan penumpang harus membayar biaya penyeberangan. Saya yang mengendarai sepeda motor dikenakan sebesar Rp23 ribu rupiah untuk satu kali perjalanan penyeberangan. Sedangkan untuk penumpang biasa per orang Rp7 ribu rupiah. Saya lupa berapa biaya penyeberangan untuk mobil. Karena tidak menggunakan mobil, jadi ya malas mau melihat-lihat tarif biaya penyeberangannya. Hehe..
Saya pikir setelah membeli tiket di loket tiket kendaraan, kemudian segera masuk ke dalam kapal Ferry. Sayangnya, dugaan saya salah. Kapal Ferry dari Pelabuhan Merak baru saja akan merapat di darmaga Bakauheni. Satu per satu mobil yang baru datang pun mengantri di belakang. Menunggu kapal segera bersandar. Cukup lama sehingga terkadang membosankan buat saya hanya melihat kapal itu pelan-pelan mendekat. Kira-kira ada satu jam hanya menunggu kapal itu.
Di belakang, ada beberapa kendaraan bermotor sudah mengantri ingin secepatnya masuk ke dalam kapal. Seperti kebanyakan truk angkutan barang juga telah rapi berjejer mengarah ke kapal Ferry.
Akhirnya, kepal berhasil bersandar. Seorang petugas di atas kapal melempar tali ke arah darmaga, lalu ditambatkan ke pengaitnya oleh petugas jaga di bawah. Satu per satu kendaraan bermotor keluar dari kapal itu. Ada bus, truk, mobil pribadi, dan sepeda motor. Terlihat nomor kendaraan dari berbagai daerah. Saya pun segera masuk kapal bersama dengan puluhan sepeda motor lainnya. Beriringan masuk dan naik ke tingkat atas kapal. Yang di bawah hanya untuk bus dan truk. Sedangkan yang di atas untuk seluruh kendaraan pribadi.
Di atas kapal Ferry, dimulailah perjalanan menuju pelabuhan Merak kurang lebih dua jam. Saya merapatkan sepeda motor saya dekat dengan pegangan di tepi kapal itu. Selain sepeda motor saya, ada tiga sepeda motor diparkir di sana. Sambil memandangi pelabuhan di saat kapal mulai berlayar, saya mengambil beberapa momen foto dari saku kamera digital yang saya bawa. Ada beberapa anak remaja melompat dari atas kapal kemudian menceburkan diri ke dalam laut. Sempat kaget juga tiba-tiba ada beberapa anak itu melompat tanpa rasa takut.
Sejak awal kapal mulai berangkat, saya menikmati setiap pemandangan di laut dan darmaga yang ditinggalkan. Ada kapal Ferry dan kapal penumpang capat (ukurannya lebih kecil daripada kapal Ferry dan hanya dapat mengangkut penumpang saja, red) masih bersandar.
Dari arah jauh saat kapal mulai meninggalkan darmaga, terlihat gedung Siger berdiri mega di atas bukit. Entahlah, apa isi dari gedung itu. Sekalipun saya belum pernah masuk ke sana. (Foto: Kapal Ferry yang terbakar beberapa waktu yang lalu. Berlabuh di Darmaga Merak, Banten)
Lama-lama di atas kapal terasa bosan juga melihat laut yang itu-itu juga. Berombak, luas dan saya tak melihat ikan satu pun dari atas kapal. Ada juga sampah-sampah plastik yang mengapung di atas permukaan laut sepanjang perjalanan kapal ke Pelabuhan Merak, Banten.
Di atas kapal pula, saya baru menyadari belum makan siang. Saya pikir kalau membeli nasi buat makan siang, pasti mahal. Akhirnya, saya hanya membeli sekaleng minuman dingin ‘Pocari Sweat’. Segar sekali setelah seteguk demi seteguk saya meminumnya. Tapi, alangkah kagetnya setelah saya mendengar kata penjual harganya Rp12 ribu. Ya sudahlah, tak apa-apa pikir saya. Kaleng sudah saya buka dan telah diminum juga. Lain kali untuk persiapan makan atau minum, tidak lagi membelinya di atas kapal. Mahal sekali bok!
***
Saya baru sempat makan siang setelah tiba di Kota Serang. Kira-kira pukul 16 sore. Saya beristirahat sekaligus salat Ashar dan dijamak dengan Dzuhur di Masjid Agung kota Serang, Banten. Di depan masjid ini, ada sebuah rumah tempat tinggal Kak Ferry, alumni Teknokra yang pernah menjadi Pemimpin Umum periode 2003-2004. Sekarang ia telah bekerja sebagai staf pengajar di Fakultas Hukum Universitas Sultan Agung Tirtayasa, Sereng, Banten. Tapi, Kak Ferry tidak lagi tinggal di sana.
Setelah makan di dekat masjid itu, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Mungkin nanti sampai di Jakarta sudah malam, pikir saya. Tak apalah. Langit terkadang mendung. Tanda bakal hujan. Sore menjelang malam, hujan mulai mengguyur saat saya masuk kota Tangerang. Saya teruskan perjalanan sekalipun hujan gerimis. Tapi, lama-lama hujan menjadi deras sampai saya tiba di Jakarta Barat. Yah, celana sampai sepatu saya harus rela karena basah oleh guyuran hujan.
Sampai saya tiba di Universitas Trisakti di daerah Grogol sekitar pukul 8 malam. Di sana saya berhenti sejenak untuk melepas lelah. Baju yang saya kenakan basah, karena sepanjang perjalanan tidak berhenti. Terkadang terkena siram air di jalan dari mobil yang mendahului. Byuuurr…!!
Handphone di kantong celana saya tiba-tiba error. Ah, satu-satunya alat komunikasi ini bisa rusak saat dibutuhkan. Di layar LCD-nya tertulis,”Insert Card.” Berkali-kali saya matikan, lalu dihidupkan dan begitu pun seteruskan, selalu saja muncul pesan itu. Tangan saya lembab. Baju kaos yang saya pakai untuk mengeringkan HP tidak cukup berguna. Kan selama perjalanan basah oleh siraman hujan.
Akhirnya HP itu saya coba buka baterai dari dalam cassing-nya, kemudian SIM Card saya cabut dan dikeringkan dengan handuk di tas saya. Syukurlah, ternyata hanya terkena air saja dan HP segera men-detect sinyal. Tapi, tiba-tiba HP saya setelah itu tidak bisa menekan semua tombol-tombolnya. Waduuuhh…saya tiba-tiba panik. Saya pikir tidak ada gunanya menekan semua tombolnya. Sekalipun ada beberapa sms masuk ke HP saya itu. Tak bekerja sama sekali. Dimatikan, lalu dihidupkan kembali pun sama saja tidak mau kembali normal seperti biasa.
Tidak jauh dari pintu gerbang masuk Univ Trisakti itu, saya coba menemui seseorang di sebuah ruangan kantor BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) kampus itu. Sepertinya mereka adalah mahasiswa. Ada tiga orang di dalam. Saya minta tolong di antara mereka bertiga meminjamkan saya HP-nya untuk menghubungi teman saya yang ada di Jakarta.
Cukup menenangkan dan lega setelah menghubungi teman saya itu. Tapi, saya masih belum dapat menggunakan HP saya untuk sms ataupun menghubungi teman saya yang lainnya. Yah sudah, saya kemudian memutuskan melanjutkan perjalanan sampai saya menemukan wartel.
Terkadang HP saya itu dipukul beberapa kali ke tangan saya. Namun, tak juga berfungsi kembali seperti semula. Semua tombol seolah tidak berfungsi sama sekali. Beberapa sms yang telah masuk tidak bisa saya baca. Bahkan, ketika saya dihubungi teman saya tidak dapat menjawab. Aduh, saya hanya bisa berdo’a dan pasrah saja. Tak lama dari itu, akhirnya saya bisa memfungsikan beberapa tombol HP saya. Langsung saja saya menghubungi teman saya. Kata teman saya ini, kita bertemu di depan gedung Jakarta Design Center. Kalau tidak salah itu daerah Slipi yang lebih dekat menuju Kebayoran Lama, tempat kostan teman saya ini.
Syukur alhamdulillah, saya ketemu dengan teman saya ini di depan gedung itu. Saya bakal ‘ngegembel’ malam itu jika tidak bisa ketemu dengan teman saya. Lega sekali bisa beristirahat dan mengeringkan badan setelah selama perjalanan diguyur hujan. Welcome to Jakarta! []
Saturday, January 13, 2007
Siap Menjadi Tenaga Profesional

Saturday, January 06, 2007
Selama Satu Bulan yang lalu
Hampir dua bulan. Ya, satu bulan kemarin (Desember, red) memang sedang off buat aktifitas nge-blog. Tapi, kalau tangan ini lagi ‘gatel’ menekan tuts-tuts, ya sedikit dipaksain mampir ke warnet. Ngga lama, setengah jam cukup liat-liat e-mail atau blog saya. sudah berapa manusia yang rajin mengunjungi blog. Hehe…kalo kita jarang berkunjung ke blog teman atau orang lain, alangkah kasihannya blog kita bisa dipastikan akan sepi pengunjung juga. Supaya adil dan senasib ibarat jarang bertamu ke rumah teman, mungkin juga sama halnya dialami kita pun jarang dikunjungi kan.
Yang penting sekarang di saat masih sehat wal afiat, sangat penting sekali berkunjung atau bersilahturahmi ke rumah teman. Apalagi teman yang telah jarang kita temui, meskipun rumahnya dekat, meskipun rumahnya masih bisa dijangkau dalam satu kota, itu sudah lebih dari cukup buat kembali merekatkan kedekatan sebagai sahabat di saat senang maupun sedih.
Nah, kembali ke laptop (ikut2an gaya tukul arwana juga). Satu bulan kemarin (Desember, red) memang di saat itu jadwal saya sedang penuh. Penuh apanya? Maksudnya, ada dua kali Musyawarah Besar (Mubes) buat persiapan suksesi atau boleh disebut pergantian pimpinan dan pengurus. Kebetulan juga saya sebagai pemimpin redaksi (pemred) selama satu tahun (2006,red) harus segera menyerahkan amanah di Mubes itu dalam sebuah Laporan Pertanggungjawaban (Lpj).
Di awal Desember, mulailah diagendakan yang kita namai Pra Mubes. Acaranya cukup lama dan menguras tenaga. Tiga hari, dua malam. Apa saja yang dikerjakan selama itu? Banyak sekali, mulai dari merefleksi selama satu tahun kemarin yang telah dicapai maupun yang belum dicapai. Selain itu mejelang akhir selesai acara, memilih bakal calon pemimpin umum yang akan melanjutkan estafet.

Foto: (Dari kiri-kanan) Para bekas-bekas pemimpin: Yudi (Pemum), Doni (Pemus), Mayna (Kapuslitbang), Rieke (Redaktur Pelaksana), Eriek (Pemred), dan Diova (Kasekretariatan)
Dua minggu pasca Pra Mubes itu, kembali melanjutkan satu acara penting yakni Mubes. Bedanya di acara tersebut adalah momen untuk menyampaikan Lpj dari Pemimpin Umum (Yudi) yang dibantu Pemimpin Redaksi (saya), dan Pemimpin Usaha (Doni). Kita bertiga masing-masing menyampaikan Lpj kepada semua teman-teman yang hadir di sidang paripurna itu. Saat membacakan 10 halaman Lpj yang saya buat, saya terharu. Sesekali saya sedikit demi sedikit meneteskan air mata. Ya, sedih rasanya meninggalkan semua ini. Lpj yang saya bacakan itu biasanya diakhir menjelang penutup berisi ucapan terima kasih dan kesan-kesan yang mendalam dengan semua teman pengurus dan juga tak lupa para magang, junior penerus generasi akan datang.
Ada senang, ada pula sedih. Waktu terus berjalan, ia tak kan pernah henti sampai dunia ini divonis telah mati. Setiap saat momen itu selamanya tidak pernah saya lupakan. Itulah pengalaman yang berharga telah menggoreskan tinta di atas kertas bernama Teknokra.
Sunday, December 03, 2006
In House Trainning Untuk Magang
IHT sepenuhnya dirancang oleh divisi Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknokra. Saya perhatikan jadwal yang tertempel di papan tulis, dilaksanakan selama dua hari. Semua peserta IHT itu harus menginap, karena pada malam harinya mereka diwajibkan membuat sebuah produk media cetaknya berupa majalah, koran, tabloid atau buletin. Ya, semacam simulasi sebelum mereka merasakan benar-benar menghasilkan produk terbitan.
Ingin sekali saya mengisi materi seperti itu lagi. Rasanya menjadi insttruktur, akan terasa kembali seperti mereka belajar. Memang menjadi seorang instruktur atau pengajar, tidak cukup puas dengan ilmu yang dimilikinya. Ia harus semakin rajin belajar dan menemukan hal-hal yang baru yang dapat bermanfaat bagi orang banyak.
Sunday, November 19, 2006
"Saya bantuin ya"

Akhirnya saya baru sempat posting foto di samping ini. Ceritanya, kebetulan saya setiap pagi punya kerjaan baru sebagai 'tukang ojek' mengantar mbak saya ke kantornya ketika saya masih libur Lebaran di kota Palembang.
Setelah pulang mengantar mbak saya ke kantornya di Jl. Sudirman, saya pun sering mampir ke warnet di ruko seputaran Jl. Rajawali. Hampir setiap hari saya nge-net di sana. Sekedar ingin cek email, blog atau kebetulan chatting beberapa menit dengan teman nun di seberang seberang sana. Ngga lama-lama, karena ongkos browsing satu jamnya Rp4ribu.
Karena setiap pagi jalan keluar dan saya selalu membawa kamera digital (camdi) yang melekat di ikat pinggang saya. Saat ada momen yang menarik buat saya, saat itulah saya mengambil camdi kemudian segera memfoto objek itu. Salah satu foto yang saya sukai adalah foto di samping ini.
Waktu itu kebetulan pulang dari nge-net dan mengantar mbak saya ke kantor, tepat di depan motor saya saat lampu merah masih menyala di simpang empat Jl.Veteran dekat Radio SPI dan Elita FM, seorang anak perempuan memegangi dua buah galon air kosong. Anak kecil ini dibonceng seorang lelaki tua. Entahlah, lelaki tua ini kakek si kecil ini atau bukan. Seketika naluri saya mengambil objek itu ke dalam camdi saya. Ini pasti menarik. Saya selalu memperhatikan foto ini di komputer ketika di rumah. "Foto ini bagus. Human interest-nya ada,"gumam saya. Hobi saya mempotret mulai saya tekuni kembali.
Tuesday, November 07, 2006
Lentara Merah, Bisakah Kini Menerangi?

Semalam (Senin, 6/11), saya lihat teman saya membawa dua kaset CD film dari rental yang baru ia pinjam. "Wah menarik, ada film nih," pikir saya. Dua judul film itu: Lentera Merah dan Sembilan Naga. Saya tertarik dengan film Lentara Merah karena mendengar ceritanya tentang pers mahasiswa (persma) yang berdiri sekitar tahun 1930-an. Saya pinjam film itu dari teman saya buat sehari ditonton di sekret kami.
Kaset CD pertama mulai saya putar di komputer. Pada penggambaran pertama ditampilkan sosok seorang pria tua yang melihat jam dan tanggal di atas lemari kecil. Pria tua itu kaget setelah mendengar tiba-tiba suara lagu "Puspa Dewi". Suasana malam di kamarnya menjadi mencekam. Tapi, saya punya penilaian pada awal penggambaran film ini yang langsung membuat kaget penonton cukup bagus. Boleh jadi penonton langsung merasakan horor saat diputar.
Namun, sebenarnya film yang diperankan tokoh utamanya oleh Laudya Cynthia Bella (Risa) ini sungguh cukup banyak kelemahan di dalamnya. Dari film Lentera Merah ini, saya belum menemukan atau tidak ditampilkan sejarah terkait berdirinya Lentera Merah sebagai majalah kampus pada tahun 1930-an dengan kejadian Gerakan 30 September 1965 atau G 30 S/PKI. Tokoh Risa yang diperankan di film itu ternyata telah meninggal karena asma saat dikurung oleh para dewan alumni ketika itu telah difitnah mereka. Adakah maksud sutradara dalam film ini ingin menceritakan adanya konflik ideologi sebelum terjadinya G 30 S/PKI dengan kasus yang menimpa Risa dituduh antek PKI?
Pada malam inisiasi yang diadakan para senior Lentera Merah ketika itu, tampaknya merupakan tradisi turun-temurun yang dilakukan pada malam hari setiap perekrutan anggota baru. Apakah sosok Risa yang ternyata 'hantu' berwujud manusia itu kemudian, bisa ikut bergabung dengan anak-anak baru yang ternyata secara kebetulan para orang tuanya dulu adalah anggota Lentera Merah juga?
Wah...film ini ternyata banyak menyisahkan pertanyaan saya yang belum terjawab di sana. Saya kira dari film ini setidaknya bisa mengungkap kebenaran sesuai dengan moto dari Lentera Merah itu sendiri, yakni "hanya berpihak kepada kebenaran". Apa kebenaran dalam film ini bisa diyakini sebagai film non-fiksi? Atau hanya 'bumbu-bumbu' saja agar penonton tertarik dengan ideologi PKI ketika masa itu? (Sumber Foto: 21cineplex.com)
Wednesday, November 01, 2006
Bisa Lihat Personality Saya?
Amanah dari pi2t buat saya baru dibaca pagi kemarin (Selasa, 31/10). Sekilas saya baca isinya macam jawaban tentang sebagian kecil kepribadian Pi2t. Kurang lebih seperti itu. Saya tidak tahu pasti kumpulan pertanyaan ini berdasarkan apa dan entah sudah berapa banyak ‘pasien’ yang ditanyakan. Saya pun kebagian 30 pertanyaan yang akan saya jawab setelah ini. Kata Pi2t, apakah jawaban yang diposting di blog-nya itu bisa bisa menebak personality-nya? Yuk..kita lihat jawaban saya dari pertanyaan ini.
APAKAH KAMU...
1. Iri-hati pada orang laen : Kalau positif sebagai motivasi buat saya untuk lebih baik lagi, kenapa tidak toh?
2. Kamu mengandalkan 'beauty' or 'personality' : Karena saya cowok, jadi memilih ‘personality’ saja.
3. Punya SIM? : Punya dua. SIM C Lampung dan SIM A Sumsel. Sayangnya, SIM A sudah habis masa berlakunya. Hiks :(
4. Takut kehilangan 'uang' atau 'teman'?: Kehilangan ‘teman’ dong. Kalau kehilangan ‘uang’ kan nantinya bisa pinjam dari ‘teman’
5. Berkacamata : Kadang-kadang dipakai
6. Suka anak kecil : Maksudnya ‘suka’ seperti apa ya?
PERNAHKAH KAMU.........
7. Berpikir tuk operasi plastik: Tidak pernah
8. Memotong sendiri rambutmu: Pernah, hanya karena malas pergi ke tempat potong rambut
9. Jatuh cinta pada pandangan pertama : Sering. Cuma sebentar, setelah beberapa lama kemudian biasa saja.
10. Berpikir untuk mengadopsi anak : Tidak pernah tuh
11. Pacaran ama orang yg jauuuh lbh tua : belum pernah
12. Cinta bertepuk sebelah tangan : belum pernah juga
13. Kehilangan dompet : Dulu pernah waktu SMA. Untungnya jatuh di jok mobil teman dan ketemu kembali.
KUSUKA..........
14. Nonton berita : akhir-akhir ini jadi tontonan wajib setiap hari
15. Pelajaran di sekolah : Tidak ada yang spesial
16. Tipe cewek : Seiman, beautiful girl (dalam dan luar), cerdas, pengertian, loyal, bertanggungjawab, suka menolong dan rajin menabung (Hehe..cocok ngga dengan kamu?)
17. Menu sarapan : Yang pasti harus ada nasi dan lauknya terserah apa saja
18. Orang yang sedang kusuka : Orang yang loyal dan bertanggungjawab
19. Penampilan lawan jenis yg kamu sangat suka ngeliyatnya : tentunya berjilbab rapi
20. Band : Nidji
21. Tempat : pantai dan pegunungan
22. Baca koran : Koran ‘K’ lebih bagus dan bermutu daripada koran lainnya, karena dari koran ini membuat saya banyak belajar lebih kreatif menulis
23. Resto fast food: apa saja dan di mana saja
24. TV station: Trans TV, karena ingin sekali bekerja di sana
25. Nama untuk anak laki : Belum terpikirkan
26. Nama untuk anak perempuan : Sama seperti di atas tuh
KESAN PERTAMA KALO DENGER......
27. Koper : bawaan banyak
28. Sekolah : teman-teman
29. Sapi : susu
30. Rizky Hanggono : Siapa dia? Ngga kenal tuh
NGE-LEMPAR PR BUAT SIAPA?
Buat siapa saja yang sempat mengunjungi blog saya dan membaca sejak tadi
Wednesday, October 25, 2006
Asiknya Bubar dan Reuni 2001

Senang rasanya kembali bisa berkumpul dengan teman-teman seangkatan SMA kemarin Jumat (20/10) sore di KFC Hotel Royal Asia. Acara buka puasa bersama (bubar) ini boleh dibilang mendadak. Sebabnya, setahu saya Feliciano memberi kabar via sms satu hari sebelum acara buka puasa. Begitu pula kabar itu saya yakin baru disebar ke beberapa teman-teman lainnya via sms pada hari itu juga.
Sayangnya, sejak awal kelihatannya tidak ada yang ingin menjadi inisiator buat mengundang teman-teman seangkatan. Ya, saya pikir mungkin mereka sudah pada sibuk. Atau bisa jadi mereka malas, karena tidak seperti acara bubar dua tahun lalu di rumah Tata yang terlihat lebih ramai oleh teman-teman yang datang ketika itu.
Tapi, untuk tahun ini, tidak apa-apa bagi saya meskipun yang datang di Hotel Royal cuma sedikit. Alhamdulillah, ada sekitar 30-an orang yang datang sore menjelang Maghrib sore itu. Beberapa teman terlihat masih santai mengobrol dengan yang lainnya di sudut meja walaupun azan telah tiba. Mereka sampai lupa waktu padahal telah tiba berbuka puasa.
Saya pun sejak sekitar 10 menit waktu azan Maghrib telah mengantri di dalam barisan untuk memesan makanan berbuka puasa. Menunggu tiga orang di depan. Terasa lama sekali. Saya lihat seorang perempuan berjilbab di depan meja sedang menjaga kasir. Tampaknya ia juga bertugas menyiapkan pesanan, seperti menuangkan Coke ke dalam gelas atau menyiapkan beberapa potongan ayam sesuai permintaan konsumen. Pesanannya cukup banyak. Dari benak saya, kenapa tugasnya sebagai kasir harus ditambah dengan melayani permintaan konsumen seperti tadi. Katanya restoran cepat saji. Tapi, kok masih tetap saja lama menunggu dengan mengantri panjang di dalam barisan.
Setelah tiga orang di depan saya telah selesai mengambil pesanannya dan membayar kepada penjaga kasir, kebagian giliran saya. Saya bilang pada teman saya di belakang kalau saya hanya pesan segelas Coke. Buka tidak ingin sekalian makan malam dengan ayam goreng yang lagi hangat. Tapi, kebetulan saya tidak membawa uang. Jadi, saya meminjam uang Rp10 ribu dari Aziz ketika masih sempat menunggu sambil duduk-duduk di depan serambi KFC. Tapi, Aziz tidak ikut bubar karena ia dengan Hendri diajak bubar di tempat lain.
Dengan uang segitu, ternyata hanya cukup dapat membeli segelas Coke besar. Harganya tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Tujuh ribu lima ratus rupiah. Saya kira harganya sekitar antara Rp4ribu-Rp5ribu. Yah, akhirnya cukup berbuka dengan segelas Coke besar dan menikmatinya bersama teman-teman yang belum kebagian dapat buka puasa karena telat memesan sebelumnya.
Monday, October 16, 2006
Buka Puasa Bersama Teman-teman UKM
Di kampus saya, Unila, tempat saya lebih banyak menghabiskan waktu di sekretariat Teknokra yang berada di pojok Gedung PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) Unila, sejak memasuki awal puasa Ramadhan, banyak undangan berdatangan. Kebanyakan undangan mengajak berbuka puasa bersama (bubar) dari teman-teman sesama aktivis UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di Gedung PKM Unila.
Seperti kemarin (Minggu, 15/10), teman-teman dari UKM Bidang Seni mengundang seluruh penghuni sekret di Gedung PKM Unila untuk mengikuti acara ‘bubar’ mereka. Ramai sekali saat itu. Sambil menunggu detik-detik azan Maghrib pukul 17.54 WIB sebagai tanda berbuka puasa, sebelumnya sekitar pukul empat sore, tamu undangan Ansori Djausal (Pembantu Rektor IV Unila) membacakan kumpulan sajak puisi yang dibuatnya. Lalu, di hadapan para undangan yang datang, Bang An, panggilan akrabnya, membacakan puisi “Krakatau”.
UKMBS sering mengundang para penyair yang tinggal di Bandarlampung dalam acara rutinnya setiap bulan. Sebelum Bang An, ada Budi P Hatess atau Bang Budi (Wartawan HU Lampung Post), panggilan akrabnya. Bang Budi membacakan beberapa karya puisinya agar dapat dinikmati bersama dengan hadirin undangan bulan Agustus lalu. Tak hanya sekedar membacakan puisi saja, ada kritik, saran dan pembahasan bersama peserta. Acaranya pun dibuat santai dengan duduk di alas karpet. Sesekali gelak tawa terluapkan. Saya makin menyukai acara rutin bedah sastra yang diadakan UKMBS ini. Saya pun sesekali nantinya ingin mengasah kemampuan menulis sajak. Rasanya berbeda sekali saat menulis berita atau opini.
Sebelum acara ‘bubar’ UKMBS, sejak minggu pertama puasa Ramadhan, UKM Filateli lebih awal mengundang teman-teman UKM lainnya dalam acara ‘bubar’ juga. Berikutnya, giliran UKM kita (Teknokra, red) di akhir pekan. Setiap momen ‘bubar’ giliran temen-teman UKM seperti bulan puasa Ramadhan ini, selalu saja ramai. Tentu saja selain gratis, bagi anak kostan mengirit pengeluaran sehari-hari. Ya, contohnya seperti saya ini.
Berikutnya secara berturut-turut, menyusul giliran UKM Pramuka, Rakanila, KSR, Mapala, dan Menwa. Hampir dalam seminggu giliran acara ‘bubar’ di Gedung PKM Unila tidak pernah sepi. Soal makanan, apa pun pasti habis disambar para undangan. Entah karena sangat kelaparan, atau menu-menu yang disajikan cukup enak.
Saya kangen ketika pulang ke Palembang nanti, ada acara bubar angkatan teman-teman SMA dulu. Ya, di momen seperti inilah kita bisa bertemu dan berkumpul kembali. Ada yang telah setahun lebih tidak bertemu dan di saat itulah bisa kangen bertemu lagi.
Tuesday, October 10, 2006
Atul: Pahlawan Pers Mahasiswa
Pernahkah kita mencoba kembali mengenang perjuangan para mahasiswa saat menyaksikan peristiwa Tragedi Trisakti pada Mei 1998 lalu di layar televisi? Dari layar kaca itu, kita sepakat bahwa aksi itu adalah sebagai keberutalan luar biasa yang pernah terjadi sepanjang sejarah Orba di negeri ini ketika itu. Bagaimana tidak, mahasiswa yang saat itu berdemonstrasi menuntut Soeharto agar turun dari jabatan presiden yang telah berkuasa selama hampir 32 tahun, kemudian diberondong tembakan oleh aparat keamanan ke seluruh penjuru masa yang kebanyakan adalah mahasiswa. Banyak korban yang kemudian berjatuhan. Bahkan ditemukan korban meninggal dunia karena ditembak peluru tajam oleh aparat keamanan.Peristiwa di atas bukan saja sekali dan terjadi hanya di Jakarta. Di Bandar Lampung, pada awalnya hanya sebuah aksi demonstrasi yang digawangi para aktivis Dewan Mahasiswa (Dema) di depan kampus Universitas Bandar Lampung (UBL) pada 28 September 1999. Para aktivis mahasiswa itu menuntut pencabutan Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (RUU PKB). Namun, tepat di depan kampus UBL itu mereka telah dinanti para aparat kepolisian (Pasukan Huru-hara atau PHH ketika itu, red).
Tak menghiraukan PHH yang menghalangi jalan, para aktivis Dema dari berbagai kampus di Bandar Lampung itu kemudian berorasi di depan aparat keamanan itu. Mereka juga sempat berusaha menembus barisan PHH. Namun, entah siapa yang pertama kali memicu kericuhan sehingga terjadi chaos. PHH memberondong tembakan ke arah para mahasiswa yang berdomonstrasi. Aksi itu ternyata bukan murni dari kalangan mahasiswa, tapi ada elemen lainnya (PRD, red) yang ikut bergabung dalam aksi demonstrasi.
***
Juwendra Asdiansyah (Pemimpin Umum Teknokra 1998-1999) mengetahui terjadi chaos di depan kampus UBL dari pengumuman MC festival musik yang saat itu digelar di kampus Unila. Bergegas Juwendra memberitahukan hal itu kepada seluruh kru yang ada di kesekretariatan Teknokra. Atul, panggilan akrab Saidatul Fitria, yang ketika itu berada di kesekretariatan Teknokra, langsung menuju tempat terjadinya chaos di depan kampus UBL yang jaraknya kurang dari empat kilometer dari kampus Unila.
Atul tidak sendiri ketika berangkat ke sana. Ia ditemani Reno Setiaji (Magang Teknokra) memantau aksi demonstrasi yang telah berubah menjadi chaos. Beberapa orang melempari batu-bartu besar ke arah pasukan PHH. Di jalanan raya depan kampus UBL berubah menjadi arena lemparan batu.
Kesabaran bertahan dari lemparan batu-batu dari arah mahasiswa, entah perintah dari siapa kemudian pasukan PHH kemudian memberondong para pendomonstrasi yang melempari batu-batu itu dengan peluru. Banyak mahasiswa terluka-luka. Bahkan, ada yang terkena tembak peluru tajam yang menembus dada kiri. Dia adalah M Jusuf Rizal, mahasiswa FISIP Unila. Ijal akhirnya harus pergi untuk selamanya ketika sempat dibawa ke rumah sakit.
Ketika Atul mengabadikan peristiwa chaos itu dengan kamera SLR Nikon dari tangannya, ia yang bertugas sebagai jurnalis foto, tidak menyangka harus terluka parah akibat kepalanya dipukul benda tumpul dari aparat keamanan. Atul dibawa ke Rumah Sakit Advent yang berada tidak jauh dari kampus UBL, tempat terjadi chaos.
Atul saat berada di tempat terjadinya chaos, ia sempat mengabadikan beberapa fotonya. Kini, ada tujuh foto dari aksi keberaniannya itu masih tersimpan di kesekretariatan Teknokra.
Namun, setelah kepalanya dipukul benda keras dan harus segera dibawa ke rumah sakit ketika itu, ia mengalami koma. Saat sadar setelah Atul diobati kepalanya, ia sempat mengatakan kepada Juwendra, "Kak, saya telah diincar mereka (aparat keamanan, red)!" Kepala Atul mengalami retak pada tengkoraknya. Ia harus segera dioperasi pada hari berikutnya.
Pasca operasi pada kepala Atul, ia hampir tak lagi sadarkan diri. Atul kembali koma. Sampai ia dipanggil menghadap Sang Khaliq pada pagi subuh, tanggal 3 Oktober 1999. Sepeninggalnya, Ia pantaslah mendapat penghargaan sebagai "Pahlawan Pers Mahasiswa."
***
Kisah tujuh tahun lalu itu saya dapatkan dari Kak Juwendra, yang kini ia adalah wartawan Harian Umum Seputar Indonesia yang tinggal di Bandar Lampung. Saya amat sedih mendengar cerita darinya saat Atul tidak tertolong lagi. Atul bagi saya dan teman-teman Teknokra sekarang adalah inspirasi perjuangan pers mahasiswa dan jurnalis, juga umat manusia. Karena Atul melaksanakan tugas tanpa pamrih. Ia mengabadikan foto sebagai tugas seorang jurnalis yang memberikan informasi kepada publik. Tapi, ia harus meninggalkan kita semua. Namanya (Saidatul Fitria), mengabadikan pada kesekretariatan kami menjadi Graha Saidatul Fitria.
Saturday, September 30, 2006
Majalah Teknokra: Kreativitas Penggiat Pers Mahasiswa Unila

Beberapa minggu terakhir ini, saya senang sekali dengan apa yang telah dilalui dan dicapai bersama dengan teman-teman di Teknokra. Pertama, Majalah terbitan kita, Teknokra Edisi September No.208 telah terbit pada pertengahan September lalu. Di saat itulah momen yang tepat, yakni kembalinya hampir seluruh mahasiswa Unila ke kampus masuk kuliah semester ganjil yang kemudian kita membagi-bagikan majalah gratis itu kepada mereka.
Majalah yang berisi 100 halaman ini adalah hasil liputan teman-teman Teknokra di lapangan. Liputan utama atau kita menyebutnya di dalam majalah terbitan tiga bulan sekali itu dengan rubrik Peristiwa, mengulas tentang permasalahan kepemilikan tanah di Pulau Sebesi, Lampung Selatan (Foto: cover majalah berwarna biru,red)
Selasa kemarin (26/09), menyusul terbit majalah Edisi Khusus Mahasiswa Baru 2006. Majalah dengan jumlah sebanyak 60 halaman ini pun dibagikan secara gratis kepada mereka pendatang baru di kampus hijau Unila. Isinya kebanyakan adalah tentang liputan di sekitar kampus, macam kost-kostan dekat kampus atau biasa di sebut perkampungan mahasiswa Kampung Baru. Ada pula liputan tentang fenomena di FKIP yang kebanyakan para mahasiswinya mengenakan rok. Alasannya, fatwa wajib dari dekanat FKIP yang harus dipatuhi para ’calon guru’.
(Foto: cover bergambar kartun sedang memegang kamera, red).
Kedua majalah itu sama-sama terbit pada bulan ini. Entah dengan cara bagaimana saya sebagai pemimpin redaksi Teknokra, meluapkan rasa syukur dengan terbit kedua majalah itu, selain rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Perjuangan yang selama ini dilakukan bersama-sama sebagai tim work yang tangguh, tentu saja membawa kemenangan dan hikmah yang baik. Tak luput para kru redaksi hingga larut malam pun harus menyelesaikan rubrik demi rubrik hingga sesuai tearget (deadline,red). Namun, deadline masih sulit untuk ditepati yang seharusnya selesai akhir Agustus kemarin. Tapi, hal itu bisa dikejar lekas terbit saat memasuki momen awal bulan puasa Ramadhan dan mahasiswa baru mulai kuliah.
Selain Teknokra punya terbitan majalah triwulan, Teknokra punya terbitan lain. Namanya Buletin Teknokra News. Buletin ini mirip seperti koran-koran media cetak harian kebanyakan. Buletin dengan jumlah delapan halaman ini terbit setiap dua minggu sekali. Sama seperti majalah, ini dibagikan secara gratis kepada mahasiswa Unila. Boleh jadi kita memberikan istilah dengan ”Community Paper.” (Foto: Paling atas bertuliskan Teknokra yang dibuat ’tebal’)
Dari semua terbitan Teknokra adalah kerja keras semua kru. Mereka tidak dibayar untuk menghasilkan produk-produk jurnalistik itu. Kami masih mengandalkan uang untuk percetakan yang berasal dari uang SPP yang dibayarkan setiap mahasiswa setiap semesternya sebesar Rp 6 ribu. Boleh jadi mereka bisa disebut pelanggan bagi Teknokra. Tapi, Teknokra tidak mengelolah semua uang yang dibayarkan mereka, tapi Rektorat Unila yang memegang otoritas uang mahasiswa itu. Jadi, Teknokra hanya mendapatkan biaya terbitan saja. Tapi Teknokra bukanlah PR bagi Rektorat. Teknokra adalah insan pers mahasiswa yang independen tidak berpihak kepada siapa pun kecuali pada kebenaran dan juga kritis dalam penyampaian informasi kepada publik.
Friday, September 29, 2006
Wednesday, September 27, 2006
Susahnya Mengalahkan Rasa Ngantuk
Puasa Ramadhan ini sebenarnya banyak orang Islam yang percaya kalau ibadah-ibadah macam membaca Al Quran, salat Tarawih dan Witir, juga lainnya, akan dilipatgandakan pahalanya. Saya tidak tahu persis berapa kali lipat. Dulu pernah belajar dan tahu tentang ini, tapi sayangnya saya lupa. Tak apalah, yang penting adalah ibadah puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga saja, tapi lebih dari itu tadi. Menambah ibadah-ibadah sunnah lainnya.
Kadang-kadang saat minggu pertama puasa, boleh dibilang sedang rajin-rajinnya dan ramainya menunaikan salat Tarawih. Bagus. Tapi, namanya juga manusia, semakin hari semakin ‘kendor’ semangat salat di masjid secara berjamaah itu. Seperti saya, semalam ketika setelah salat Isya dan sempat sedikit mendengarkan ceramah, tapi sayangnya tidak sampai selesai. Kemudian, rasa ngantuk yang selalu mengganggu konsentrasi. Akhirnya saya lebih baik memilih pulang ke sekret Teknokra, dan tidur dengan lelap.
Tapi, kalau dibandingkan dengan teman-teman saya saat setelah sahur dan salat Subuh, saya tidak ikut-ikutan tidur seperti mereka. Wah, mereka kebanyakan memilih tidur seperti pagi-pagi seperti ini. Kalau saya rasanya saat mengantuk, yah kadang-kadang juga tidur seperti mereka. Memang susah mengalahkan rasa mengantuk. Sampai-sampai saya pernah menahan rasa mengantuk kemudian air mata saya keluar. Seperti menangis saja.
Jadi, tidurlah jika mengantuk. Tidak perlu dipaksakan ditahan untuk tidak tidur. Betul tidak?


