Tuesday, January 30, 2007

Dari Salemba ke Depok

Hampir sepuluh hari lebih saya berada di Jakarta. Tidak terasa memang, seperti berada di kota kelahiran sendiri. Padahal, Jakarta adalah kota metropolitan yang sangat ramai penduduknya jika dibandingkan dengan kota mana pun di Indonesia.

Saya beruntung punya teman di Jakarta yang mau menampung saya. Lebih tepatnya ia teman sekaligus kakak tingkat saya dulu ketika ia pemimpin redaksi di Teknokra Unila tahun 2003 lalu. Sudah hampir dua tahun lebih ia hijrah ke Jakarta dan bekerja di sebuah harian nasional.

Selain ia, ada kakak tingkat saya yang lebih dahulu awal ke Jakarta. Ketika masih mahasiswa sekitar tahun 2004, Ia dipercaya sebagai pemimpin redaksi di Teknokra Unila. Sekarang ia juga bekerja di sebuah koran harian nasional di Jakarta. Pengalamannya sebagai reporter di lapangan cukup banyak ia dapat. Teman-teman seprofesinya pun dari berbagai macam media massa di Jakarta.

Ada satu lagi kakak tingkat saya yang ketika dulu juga pernah dipercaya sebagai pemimpin redaksi Teknokra Unila pada tahun 2002. Tapi, ia belum genap satu tahun hijrah di Jakarta dan bekerja di sebuah harian nasional.

Kalau saya lihat, kebanyakan mereka mantan pemimpin redaksi ini setelah menyelesaikan studi, kemudian langsung bekerja di media massa. Sebuah kebetulankah? Entahlah, saya yakin mereka berniat berprofesi menjadi seorang jurnalis. Suatu saat nanti mungkin saya pun demikian mengikuti jejak mereka. Tapi, setelah saya lebih dulu menyelesaikan studi saya di kampus.

***

Senin lalu (22/1), saya ingin menemui Aziz, teman seangkatan saya ketika dulu satu SMA di Palembang. Kini ia bekerja di kantor Departemen Keuangan, di daerah lapangan banteng, Jakarta Pusat. Tapi, kebetulan saat itu saya berangkat agak siang dari Kebayoran Lama. Seingat saya ia pernah bilang kalau kostannya di daerah Salemba, tidak jauh dari UI Salemba. “Akh, kostan ane di Salemba,”begitu sms-nya kepada saya. Akh atau akhi itu sama seperti panggilan ‘saudara laki-laki’ jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Sejak siang sampai sore saya ada di UI Salemba. Menunggu teman saya ini kembali dari kantornya. Sambil menunggu, saya keliling beberapa gedung kampus yang diperuntukkan bagi mahasiswa Kedokteran UI ini. Kebanyakan bangunannya sudah tua. Terlihat dari bentuk bangunannya yang terkesan kuno. Tapi, cukup masih terawat dengan baik dan beberapa bangunan di sana sedang direnovasi.

Setelah Aziz pulang dari kantor, ia menjemput saya di masjid UI Salemba. Saya janji menunggunya di sana. Ia menunjukkan kostannya di daerah Kenari dalam. Tidak jauh dari jalan besar yang berseberangan dengan Mall Kenari. Ia mengajak saya ke kostan Fadli, teman saya juga ketika satu SMA, di dekat UI Depok. Kita pun segera berangkat sore itu juga. Pikir saya kita ke Depok naik bus. Tapi sebelum berangkat, kita berdua menunggu Fitri, teman satu SMA juga. Ia kini bekerja di sebuah perusahaan di daerah Ancol, Jakarta Utara. Fitri tinggal di kostan di daerah Salemba.

Kita bertiga jadi berangkat ke Depok sore itu juga naik taxi. Sudah agak sore menjelang Maghrib. Di dalam taxi, Aziz yang sering saya panggil dengan nama ‘Ujok’ ini, terlihat sakit perut. Tapi, ia masih terlihat sehat bugar. Lincah juga orangnya meskipun badannya kecil. Fitri yang duduk di kursi depan, kadang tertawa melihat tingkah lakunya. Ya, sepanjang perjalanan ke Depok, kita ngobrol dan sering bercanda. Mungkin saja untuk mengobati sakit perut Ujok.

***

Sekitar pukul delapan malam kita bertiga sudah sampai di Jalan Margonda Raya. Saya tanya kepada Ujok, di mana kampus UI Depoknya? “Itu di seberang. Masuk jalan Univ Gunadarma, Nah di dalam kampus UI-nya,”kata Ujok. Karena sudah malam, saya tidak tampak jelas melihat tanda masuk ke kampus UI Depok. Di jalan raya masih terlihat ramai sekali dengan kendaraan bermotor yang saling berlawanan.

Kita bertiga turun dari taxi di depan sebuah warnet dan game center. Kata Ujok, kita menunggu Fadli menjemput. Tak jauh dari jalan masuk ke kostan Fadli. Beberapa menit kemudian, Fadli muncul dan menyapa kita bertiga. Saya seperti reuni bertemu dengan teman-teman lama SMA. Hingga kini kita masih bisa dipertemukan kembali.

Cukup lama setelah ketemu dan ngobrol di pinggir jalan Margonda Raya yang masih tetap ramai itu. Ingin mencari tempat buat makan malam saja bingung. Memang banyak sekali pertokoan yang ada di sana. Akhirnya, kita ketemu tempat makan dengan menu sayur asam dan ikan asin. Wah sedap rasanya. Sudah lama sekali tidak menikmati sayur asam. Pokoknya, malam itu seperti acara reuni kecil-kecilan. Ngobrol banyak hal sampai bercanda.

Setelah makan malam, saya menginap di kostan Fadli yang tidak jauh dari jalan Margonda Raya. Saya lupa nama gang masuk ke dalam kostannya. Sedangkan Ujok dan Fitri langsung pulang ke Jakarta. Karena mereka berdua akan bekerja keesokan harinya.

***

Besok pagi, Selasa (23/1) saya berangkat kembali ke Salemba. Motor saya dititipkan di kostan Ujok ketika kita kemarin berangkat ke Depok. Sebelum saya berangkat, Fadli sudah lebih awal berangkat ke tempat kerjanya di Univ.Al Azar, Jakarta.

Sebelum sampai ke Jakarta, Ujok sms saya. Katanya, motor saya dibawanya ke kantor. Tujuan saya menuju ke daerah lapangan banteng, kantornya Ujok ada di sana. Sampai di kantornya itu, saya bingung dengan kantornya yang banyak. Ada lebih dari tiga gedung kantor yang berlantai lebih dari 10. Ujok menempati kantor di Gedung D.

Sampai siang saya di sana. Ia mengajak saya keliling beberapa tempat gedung-gedung milik Departemen Keuangan itu. Saya sesekali membayangkan bagaimana bisa berkerja di sana. Tapi, itu tidak mudah. Kebanyakan yang saya tahu para pegawai yang bekerja di DepKeu itu adalah para lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Ya, kecuali mungkin ada lulusan dari luar itu yang bernasib baik bisa bekerja di kantor pimpinan Ibu Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan pemerintahan SBY-JK sekarang. []

Di Permata Hijau

Minggu pagi kamarin (21/1), Reza dan Hendi datang ke Jakarta. Mereka berdua adalah pengurus Teknokra periode sekarang. Reza masih menjabat sebagai Redaktur Foto, sedangkan Hendi menggantikan Mayna sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) di Teknokra.

Rencananya mereka akan menghadiri acara syukuran atas pernikahan Mas Andreas dan Mbak Sapariah. Mas Andreas pernah menjadi instruktur untuk kegiatan Teknokra, yakni Pendidikan Jurnalistik Mahasiswa tingkat Lanjut dan untuk tingkat Pengelola, berturut-turut pada tahun 2003 dan 2004 di Bandar Lampung.

Acara syukurannya pada malam harinya. Tapi, kita berempat, saya, Bang Yamin, Hendi dan Reza, pagi-pagi sudah berangkat ke apartemen Mas Andreas di Permata Hijau. Yah, untuk sekedar bantu-bantu mempersiapkan perlengkapan acara di lantai bawah apartemennya. Di sana juga kami berempat bertemu dengan Mbak Eva. Ia mantan Pemimpin Usaha Teknokra periode 2004 lalu. Kini ia bekerja di Yayasan Pantau Jakarta.

Kami juga bertemu dengan beberapa orang yang terlibat di Pantau, seperti Mas Nugie (sekarang jurnalis di Harian Ekonomi Bisnis Indonesia), Imam, Yunus dan masih banyak lagi lainnya. Termasuk Mbak Eva, cukup piawai juga bisa merekrut teman-teman kostan cewek untuk mendekorasi ruangan di lantai bawah aparteman itu menjadi berwarna merah. Mereka terlihat cukup kompak menata satu per satu item buat persiapan malamnya.

Yang laki-laki kebagian yang berat-berat. Seperti mengangkat meja, memasang spanduk ‘Indopahit’, dan masih banyak lagi lainnya. Acaranya di pinggir kolam renang. Di dekat kolam itu, ada mainan anak kecil macam kuda-kudaan. Saya mencoba duduk dan bergoyang-goyang di atas kuda-kudaan itu. Begitu pula Hendi, Reza dan Bang Yamin mencobanya. Asik juga, seperti teringat kembali masa ketika dulu usia TK.

***

Sampai sore hari kami berempat berada di tempat syukuran Mas Andreas. Satu per satu terlihat sudah selesai dipersiapkan. Begitu pula dekorasi dan musik yang lengkap. Malamnya, kami berempat sudah siap dengan berdandan rapi. Sejumlah tamu sudah terlihat ramai di acara itu. Di sana pun saya bertemu dengan beberapa kontributor Pantau yang pernah menulis untuk Majalah Pantau, macam Chik Rini, Mas Buset dan Alfian Hamzah. Ada pula yang belakangan ini saya kenal dari tulisannya dari situs pantau.or.id, adalah Samiaji Bintang. Mbak Eva pun mengenalkan kepada Gunawan Mohammad. Ia adalah redaktur senior di Majalah Tempo dan sering mengisi rubrik Catatan Pinggir setiap minggu terbitannya.

Malam itu pula saya bertemu dan diperkenalkan dengan Mbak Elva dan Bang Syahran Lubis. Keduanya adalah alumni Teknokra. Mbak Elva memang sering ‘nimbrung’ di milis Teknokra sejak awal mulai dirilis. Beliau sekarang bekerja di Harian Ekonomi Bisnis Indonesia. Sedangkan, Bang Syahran adalah Redaktur Pelaksana di Harian Ekonomi Bisnis Indonesia juga. Saya langsung teringat dengan Bang Aldrin di Lampung ketika bertemu dengan Bang Syahran. Beliau suka sekali bergurau, meskipun terlihat orangnya serius.

Saya kembali seperti reuni alumni Teknokra di Jakarta. Kapan lagi bisa seperti ini? []

Djakarta


SAAT mendengar sebutan Jakarta, mungkin terbayang sebuah ibukota Indonesia yang memiliki segudang aktivitas rutinitas manusia yang luar biasa banyak jumlahnya. Bahkan, seolah kota berpenduduk lebih dari 7 juta jiwa ini, aktivitasnya tidak pernah mengenal lelah sekalipun hingga larut malam. (Foto: Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan)

Entah dari mana kebanyakan orang tetap rela berjuang dengan ‘mati-matian’ agar bisa mencapai kota Jakarta dan bekerja di sana. Intinya mencari sesuap nasi dan memperbaiki kualitas hidup agar lebih sejahtera. Berbagai cara yang ditempuh untuk dapat bekerja pun bermacam-macam. Ada yang sebalumnya mempunyai bekal keahlian, ada pula hanya bermodal nekat saja tanpa mempunyai kemampuan yang cukup.

Siapa pun bisa ke Jakarta. Untuk sekedar mencoba peruntungan nasib atau sekedar mencari pengalaman merasakan ‘kerasnya’ hidup di Jakarta. Ada dua pilihan yang akan didapat, berhasil atau kurang beruntung.Itu saja. Jika ia bernasib baik, mungkin akan tetap bertahan dan terus berusaha untuk lebih baik lagi.

Kamis kemarin (17/1), Saya mencoba ke Jakarta untuk kerja praktek di sebuah media massa. ‘Aura’ Jakarta begitu memikat saya sehingga ingin sekali mencoba ke sana. Yah, meskipun hanya sekedar kerja praktek untuk melengkapi mata kuliah yang kurang. Siapa tahu setelah lulus atau wisuda, langsung mendapat tawaran bekerja di Jakarta. Sebuah rezeki bukan?

Saya berangkat dari kostan sekitar pukul 09.37 WIB. Tak ada persiapan khusus saat mau berangkat ke Jakarta menggunakan motor Legenda hitam saya. Baju-baju kemeja buat persiapan di sana pun, baru saya strika pagi hari. Saya bawa dua tas ransel. Yang satu isinya pakaian-pakaian buat persiapan di sana. Yang satunya lagi, untuk bawaan perlengkapan-perlengkapan saat kerja praktek nanti.

Selama perjalanan dari kostan menuju pelabuhan penyeberangan Bakauheni, Lampung Selatan, kira-kira saya menghabiskan waktu selama dua jam perjalanan. Kecepatan motor biasanya saya kendarai rata-rata 70-an Km per jamnya. Selama perjalanan, terkadang hujan gerimis lalu kembali cerah lagi sampai di pelabuhan penyeberangan Bakauheni.

Memasuki Pelabuhan Bakauheni, sebelum naik ke kapal Ferry (sebutan semua kapal penyeberangan Bakauheni-Merak), kendaraan bermotor dan penumpang harus membayar biaya penyeberangan. Saya yang mengendarai sepeda motor dikenakan sebesar Rp23 ribu rupiah untuk satu kali perjalanan penyeberangan. Sedangkan untuk penumpang biasa per orang Rp7 ribu rupiah. Saya lupa berapa biaya penyeberangan untuk mobil. Karena tidak menggunakan mobil, jadi ya malas mau melihat-lihat tarif biaya penyeberangannya. Hehe..

Saya pikir setelah membeli tiket di loket tiket kendaraan, kemudian segera masuk ke dalam kapal Ferry. Sayangnya, dugaan saya salah. Kapal Ferry dari Pelabuhan Merak baru saja akan merapat di darmaga Bakauheni. Satu per satu mobil yang baru datang pun mengantri di belakang. Menunggu kapal segera bersandar. Cukup lama sehingga terkadang membosankan buat saya hanya melihat kapal itu pelan-pelan mendekat. Kira-kira ada satu jam hanya menunggu kapal itu.

Di belakang, ada beberapa kendaraan bermotor sudah mengantri ingin secepatnya masuk ke dalam kapal. Seperti kebanyakan truk angkutan barang juga telah rapi berjejer mengarah ke kapal Ferry.
Akhirnya, kepal berhasil bersandar. Seorang petugas di atas kapal melempar tali ke arah darmaga, lalu ditambatkan ke pengaitnya oleh petugas jaga di bawah. Satu per satu kendaraan bermotor keluar dari kapal itu. Ada bus, truk, mobil pribadi, dan sepeda motor. Terlihat nomor kendaraan dari berbagai daerah. Saya pun segera masuk kapal bersama dengan puluhan sepeda motor lainnya. Beriringan masuk dan naik ke tingkat atas kapal. Yang di bawah hanya untuk bus dan truk. Sedangkan yang di atas untuk seluruh kendaraan pribadi.

Di atas kapal Ferry, dimulailah perjalanan menuju pelabuhan Merak kurang lebih dua jam. Saya merapatkan sepeda motor saya dekat dengan pegangan di tepi kapal itu. Selain sepeda motor saya, ada tiga sepeda motor diparkir di sana. Sambil memandangi pelabuhan di saat kapal mulai berlayar, saya mengambil beberapa momen foto dari saku kamera digital yang saya bawa. Ada beberapa anak remaja melompat dari atas kapal kemudian menceburkan diri ke dalam laut. Sempat kaget juga tiba-tiba ada beberapa anak itu melompat tanpa rasa takut.

Sejak awal kapal mulai berangkat, saya menikmati setiap pemandangan di laut dan darmaga yang ditinggalkan. Ada kapal Ferry dan kapal penumpang capat (ukurannya lebih kecil daripada kapal Ferry dan hanya dapat mengangkut penumpang saja, red) masih bersandar.

Dari arah jauh saat kapal mulai meninggalkan darmaga, terlihat gedung Siger berdiri mega di atas bukit. Entahlah, apa isi dari gedung itu. Sekalipun saya belum pernah masuk ke sana. (Foto: Kapal Ferry yang terbakar beberapa waktu yang lalu. Berlabuh di Darmaga Merak, Banten)

Lama-lama di atas kapal terasa bosan juga melihat laut yang itu-itu juga. Berombak, luas dan saya tak melihat ikan satu pun dari atas kapal. Ada juga sampah-sampah plastik yang mengapung di atas permukaan laut sepanjang perjalanan kapal ke Pelabuhan Merak, Banten.

Di atas kapal pula, saya baru menyadari belum makan siang. Saya pikir kalau membeli nasi buat makan siang, pasti mahal. Akhirnya, saya hanya membeli sekaleng minuman dingin ‘Pocari Sweat’. Segar sekali setelah seteguk demi seteguk saya meminumnya. Tapi, alangkah kagetnya setelah saya mendengar kata penjual harganya Rp12 ribu. Ya sudahlah, tak apa-apa pikir saya. Kaleng sudah saya buka dan telah diminum juga. Lain kali untuk persiapan makan atau minum, tidak lagi membelinya di atas kapal. Mahal sekali bok!

***

Saya baru sempat makan siang setelah tiba di Kota Serang. Kira-kira pukul 16 sore. Saya beristirahat sekaligus salat Ashar dan dijamak dengan Dzuhur di Masjid Agung kota Serang, Banten. Di depan masjid ini, ada sebuah rumah tempat tinggal Kak Ferry, alumni Teknokra yang pernah menjadi Pemimpin Umum periode 2003-2004. Sekarang ia telah bekerja sebagai staf pengajar di Fakultas Hukum Universitas Sultan Agung Tirtayasa, Sereng, Banten. Tapi, Kak Ferry tidak lagi tinggal di sana.

Setelah makan di dekat masjid itu, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Mungkin nanti sampai di Jakarta sudah malam, pikir saya. Tak apalah. Langit terkadang mendung. Tanda bakal hujan. Sore menjelang malam, hujan mulai mengguyur saat saya masuk kota Tangerang. Saya teruskan perjalanan sekalipun hujan gerimis. Tapi, lama-lama hujan menjadi deras sampai saya tiba di Jakarta Barat. Yah, celana sampai sepatu saya harus rela karena basah oleh guyuran hujan.

Sampai saya tiba di Universitas Trisakti di daerah Grogol sekitar pukul 8 malam. Di sana saya berhenti sejenak untuk melepas lelah. Baju yang saya kenakan basah, karena sepanjang perjalanan tidak berhenti. Terkadang terkena siram air di jalan dari mobil yang mendahului. Byuuurr…!!

Handphone di kantong celana saya tiba-tiba error. Ah, satu-satunya alat komunikasi ini bisa rusak saat dibutuhkan. Di layar LCD-nya tertulis,”Insert Card.” Berkali-kali saya matikan, lalu dihidupkan dan begitu pun seteruskan, selalu saja muncul pesan itu. Tangan saya lembab. Baju kaos yang saya pakai untuk mengeringkan HP tidak cukup berguna. Kan selama perjalanan basah oleh siraman hujan.

Akhirnya HP itu saya coba buka baterai dari dalam cassing-nya, kemudian SIM Card saya cabut dan dikeringkan dengan handuk di tas saya. Syukurlah, ternyata hanya terkena air saja dan HP segera men-detect sinyal. Tapi, tiba-tiba HP saya setelah itu tidak bisa menekan semua tombol-tombolnya. Waduuuhh…saya tiba-tiba panik. Saya pikir tidak ada gunanya menekan semua tombolnya. Sekalipun ada beberapa sms masuk ke HP saya itu. Tak bekerja sama sekali. Dimatikan, lalu dihidupkan kembali pun sama saja tidak mau kembali normal seperti biasa.

Tidak jauh dari pintu gerbang masuk Univ Trisakti itu, saya coba menemui seseorang di sebuah ruangan kantor BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) kampus itu. Sepertinya mereka adalah mahasiswa. Ada tiga orang di dalam. Saya minta tolong di antara mereka bertiga meminjamkan saya HP-nya untuk menghubungi teman saya yang ada di Jakarta.

Cukup menenangkan dan lega setelah menghubungi teman saya itu. Tapi, saya masih belum dapat menggunakan HP saya untuk sms ataupun menghubungi teman saya yang lainnya. Yah sudah, saya kemudian memutuskan melanjutkan perjalanan sampai saya menemukan wartel.

Terkadang HP saya itu dipukul beberapa kali ke tangan saya. Namun, tak juga berfungsi kembali seperti semula. Semua tombol seolah tidak berfungsi sama sekali. Beberapa sms yang telah masuk tidak bisa saya baca. Bahkan, ketika saya dihubungi teman saya tidak dapat menjawab. Aduh, saya hanya bisa berdo’a dan pasrah saja. Tak lama dari itu, akhirnya saya bisa memfungsikan beberapa tombol HP saya. Langsung saja saya menghubungi teman saya. Kata teman saya ini, kita bertemu di depan gedung Jakarta Design Center. Kalau tidak salah itu daerah Slipi yang lebih dekat menuju Kebayoran Lama, tempat kostan teman saya ini.

Syukur alhamdulillah, saya ketemu dengan teman saya ini di depan gedung itu. Saya bakal ‘ngegembel’ malam itu jika tidak bisa ketemu dengan teman saya. Lega sekali bisa beristirahat dan mengeringkan badan setelah selama perjalanan diguyur hujan. Welcome to Jakarta! []

Saturday, January 13, 2007

Siap Menjadi Tenaga Profesional


Sejak pagi sekitar pukul 9, saya mengikuti pendadaran Praktek Kerja Lapangan (PKL) di fakultas saya, FISIP Universitas Lampung. Selain saya ada sekitar 90-an mahasiswa FISIP lainnya mengikuti pendadaran di gedung B3.1 FISIP Unila. Pendadaran ini dimaksudkan untuk memberikan persiapan-persiapan yang dibutuhkan mahasiswa yang akan mengikuti PKL di masing-masing lembaga yang dipilihnya.
(Foto: Gedung A FISIP Unila)

Saya termasuk yang terlambat untuk mengikuti PKL untuk periode ini. Padahal, dari sekian orang di angkatan jurusan saya, sepertinya hanya saya saja seorang yang belum mengikuti PKL. Terlihat saat mengikuti pendadaran sejak pagi sampai sore tadi, hanya saya sendiri di angkatan jurusan saya. Teman-teman seangkatan saya malah sudah mengikuti PKL sejak dua tahun kemarin. Terhitung terlambat memang bukan untuk tidak ingin mengikuti PKL, tapi masih ada kesibukan lain yang tidak bisa saya tinggalkan ketikan itu. Nah, saat inilah kesempatan itu baru saja saya dapatkan.

Seharusnya jadwal pendadaran dimulai pukul 8 pagi. Itu saya dapatkan infonya dari papan pengumuman yang tertempel. Tapi, pada kenyataannya ketika saya tiba di FISIP tepat pukul 8 pagi, tampak sejumlah mahasiswa mengenakan jas alamamater Unila hanya sekedar duduk saja di depan pintu masuk gedung B FISIP. Yang lainnya terlihat duduk santai di bawah pohon yang tidak jauh dari gedung tempat kami kuliah itu. Saya hanya menggerutu,"Yah, beginilah Indonesia. Telah, telat, dan selalu saja telat." Dosen yang akan memberikan pendadaran saja datang terlambat. Bagaimana para dosen ini memberikan teladan kepada mahasiswanya?

Sambil menunggu di depan gedung itu, saya pun berbincang-bincang dengan teman yang akan mengikuti pendadaran untuk persiapan PKL. Kebanyakan mereka adalah adik-adik tingkat jurusan saya. Kebanyakan yang saya tahu dari mereka memilih lokasi untuk PKL di Radio Republik Indonesia (RRI) Bandar Lampung. Ini berdasarkan tempat yang dipilihkan dari jurusan saya. Tapi, saya berbeda dan memilih di tempat lain di Jakarta.

Selain saya mengikuti PKL periode ini, ada Dede Darmawan, teman seangkatan saya. Saya lebih suka memanggilnya Dede, terkadang Pak Ibon. Karena Dede menamakan dirinya di Friendster miliknya itu dengan sebutan 'Pak Ibon.' Entahlah maksudnya apa. Dede di jurusan ilmu pemerintahan. Dia juga baru PKL bareng dengan adiknya, Dede Maya yang kebetulan satu jurusan dengan kakaknya tadi. Dede Maya ini angkatan 2004 di jurusannya. Boleh dibilang saya dengan Dede bernasib sama. Sama-sama belakangan mengikuti PKL. Karena PKL ini adalah mata kuliah wajib yang harus dipenuhi. Jika tidak mengikutinya, bisa jadi tidak bakal lulus deh.

Sejak jauh-jauh hari saya bertekad agar bisa PKL di Jakarta. Di saat PKL telah selesai nanti (pertengahan Februari 2007, red), mungkin sekalian memanfaatkan waktu buat cari-cari bahan literatur untuk skripsi saya. Yah, mudah-mudahan saja mendapat kemudahan nanti selama di Jakarta. Karena saya pikir memang tidak mudah secepat yang saya bayangkan mendapatkan semua literatur yang saya butuhkan. Intinya harus berkorban buat keliling-keliling dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain. Dari satu universitas ke universitas lainnya. Entahlah, berapa lama saya akan menghabiskan waktu selama di Jakarta nanti. Suatu saat nanti setelah lulus, saya akan berjuang mencari 'sesuap nasi' di Jakarta. Mungkin sebagai seorang jurnalis yang profesional. Why not? Do'akan saja yah.

Saturday, January 06, 2007

Selama Satu Bulan yang lalu



Cukup lama saya tidak up date blog sejak pertengahan bulan november kemarin. Posting terakhir itu pun juga sedang libur dan berada di kota kelahiran, Palembang. Sesekali ketika itu sedang ada waktu luang buat jalan-jalan keluar sambil mampir ke warnet langganan (tapi cukup mahal).

Hampir dua bulan. Ya, satu bulan kemarin (Desember, red) memang sedang off buat aktifitas nge-blog. Tapi, kalau tangan ini lagi ‘gatel’ menekan tuts-tuts, ya sedikit dipaksain mampir ke warnet. Ngga lama, setengah jam cukup liat-liat e-mail atau blog saya. sudah berapa manusia yang rajin mengunjungi blog. Hehe…kalo kita jarang berkunjung ke blog teman atau orang lain, alangkah kasihannya blog kita bisa dipastikan akan sepi pengunjung juga. Supaya adil dan senasib ibarat jarang bertamu ke rumah teman, mungkin juga sama halnya dialami kita pun jarang dikunjungi kan.

Yang penting sekarang di saat masih sehat wal afiat, sangat penting sekali berkunjung atau bersilahturahmi ke rumah teman. Apalagi teman yang telah jarang kita temui, meskipun rumahnya dekat, meskipun rumahnya masih bisa dijangkau dalam satu kota, itu sudah lebih dari cukup buat kembali merekatkan kedekatan sebagai sahabat di saat senang maupun sedih.

Nah, kembali ke laptop (ikut2an gaya tukul arwana juga). Satu bulan kemarin (Desember, red) memang di saat itu jadwal saya sedang penuh. Penuh apanya? Maksudnya, ada dua kali Musyawarah Besar (Mubes) buat persiapan suksesi atau boleh disebut pergantian pimpinan dan pengurus. Kebetulan juga saya sebagai pemimpin redaksi (pemred) selama satu tahun (2006,red) harus segera menyerahkan amanah di Mubes itu dalam sebuah Laporan Pertanggungjawaban (Lpj).

Di awal Desember, mulailah diagendakan yang kita namai Pra Mubes. Acaranya cukup lama dan menguras tenaga. Tiga hari, dua malam. Apa saja yang dikerjakan selama itu? Banyak sekali, mulai dari merefleksi selama satu tahun kemarin yang telah dicapai maupun yang belum dicapai. Selain itu mejelang akhir selesai acara, memilih bakal calon pemimpin umum yang akan melanjutkan estafet.

Foto: (Dari kiri-kanan) Para bekas-bekas pemimpin: Yudi (Pemum), Doni (Pemus), Mayna (Kapuslitbang), Rieke (Redaktur Pelaksana), Eriek (Pemred), dan Diova (Kasekretariatan)


Dua minggu pasca Pra Mubes itu, kembali melanjutkan satu acara penting yakni Mubes. Bedanya di acara tersebut adalah momen untuk menyampaikan Lpj dari Pemimpin Umum (Yudi) yang dibantu Pemimpin Redaksi (saya), dan Pemimpin Usaha (Doni). Kita bertiga masing-masing menyampaikan Lpj kepada semua teman-teman yang hadir di sidang paripurna itu. Saat membacakan 10 halaman Lpj yang saya buat, saya terharu. Sesekali saya sedikit demi sedikit meneteskan air mata. Ya, sedih rasanya meninggalkan semua ini. Lpj yang saya bacakan itu biasanya diakhir menjelang penutup berisi ucapan terima kasih dan kesan-kesan yang mendalam dengan semua teman pengurus dan juga tak lupa para magang, junior penerus generasi akan datang.

Ada senang, ada pula sedih. Waktu terus berjalan, ia tak kan pernah henti sampai dunia ini divonis telah mati. Setiap saat momen itu selamanya tidak pernah saya lupakan. Itulah pengalaman yang berharga telah menggoreskan tinta di atas kertas bernama Teknokra.

Sunday, December 03, 2006

In House Trainning Untuk Magang

Belasan anak magang Teknokra terlihat serius memperhatikan materi yang disampaikan Rieke Pernama Sari, Redaktur Pelaksana Teknokra. Mereka hanya sebagian kecil dari sejumlah anggota magang Teknokra yang berjumlah sekitar 30-an orang. Sungguh banyak, tapi pagi itu (Sabtu, 2/12) hanya belasan orang yang hadir mengikuti In House Trainning di kesekretariatan Teknokra. Biasanya kru Teknokra cukup menyingkatnya dengan "IHT".

IHT sepenuhnya dirancang oleh divisi Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknokra. Saya perhatikan jadwal yang tertempel di papan tulis, dilaksanakan selama dua hari. Semua peserta IHT itu harus menginap, karena pada malam harinya mereka diwajibkan membuat sebuah produk media cetaknya berupa majalah, koran, tabloid atau buletin. Ya, semacam simulasi sebelum mereka merasakan benar-benar menghasilkan produk terbitan.

Ingin sekali saya mengisi materi seperti itu lagi. Rasanya menjadi insttruktur, akan terasa kembali seperti mereka belajar. Memang menjadi seorang instruktur atau pengajar, tidak cukup puas dengan ilmu yang dimilikinya. Ia harus semakin rajin belajar dan menemukan hal-hal yang baru yang dapat bermanfaat bagi orang banyak.

Sunday, November 19, 2006

"Saya bantuin ya"


Akhirnya saya baru sempat posting foto di samping ini. Ceritanya, kebetulan saya setiap pagi punya kerjaan baru sebagai 'tukang ojek' mengantar mbak saya ke kantornya ketika saya masih libur Lebaran di kota Palembang.

Setelah pulang mengantar mbak saya ke kantornya di Jl. Sudirman, saya pun sering mampir ke warnet di ruko seputaran Jl. Rajawali. Hampir setiap hari saya nge-net di sana. Sekedar ingin cek email, blog atau kebetulan chatting beberapa menit dengan teman nun di seberang seberang sana. Ngga lama-lama, karena ongkos browsing satu jamnya Rp4ribu.

Karena setiap pagi jalan keluar dan saya selalu membawa kamera digital (camdi) yang melekat di ikat pinggang saya. Saat ada momen yang menarik buat saya, saat itulah saya mengambil camdi kemudian segera memfoto objek itu. Salah satu foto yang saya sukai adalah foto di samping ini.

Waktu itu kebetulan pulang dari nge-net dan mengantar mbak saya ke kantor, tepat di depan motor saya saat lampu merah masih menyala di simpang empat Jl.Veteran dekat Radio SPI dan Elita FM, seorang anak perempuan memegangi dua buah galon air kosong. Anak kecil ini dibonceng seorang lelaki tua. Entahlah, lelaki tua ini kakek si kecil ini atau bukan. Seketika naluri saya mengambil objek itu ke dalam camdi saya. Ini pasti menarik. Saya selalu memperhatikan foto ini di komputer ketika di rumah. "Foto ini bagus. Human interest-nya ada,"gumam saya. Hobi saya mempotret mulai saya tekuni kembali.

Tuesday, November 07, 2006

Lentara Merah, Bisakah Kini Menerangi?


Semalam (Senin, 6/11), saya lihat teman saya membawa dua kaset CD film dari rental yang baru ia pinjam. "Wah menarik, ada film nih," pikir saya. Dua judul film itu: Lentera Merah dan Sembilan Naga. Saya tertarik dengan film Lentara Merah karena mendengar ceritanya tentang pers mahasiswa (persma) yang berdiri sekitar tahun 1930-an. Saya pinjam film itu dari teman saya buat sehari ditonton di sekret kami.

Kaset CD pertama mulai saya putar di komputer. Pada penggambaran pertama ditampilkan sosok seorang pria tua yang melihat jam dan tanggal di atas lemari kecil. Pria tua itu kaget setelah mendengar tiba-tiba suara lagu "Puspa Dewi". Suasana malam di kamarnya menjadi mencekam. Tapi, saya punya penilaian pada awal penggambaran film ini yang langsung membuat kaget penonton cukup bagus. Boleh jadi penonton langsung merasakan horor saat diputar.

Namun, sebenarnya film yang diperankan tokoh utamanya oleh Laudya Cynthia Bella (Risa) ini sungguh cukup banyak kelemahan di dalamnya. Dari film Lentera Merah ini, saya belum menemukan atau tidak ditampilkan sejarah terkait berdirinya Lentera Merah sebagai majalah kampus pada tahun 1930-an dengan kejadian Gerakan 30 September 1965 atau G 30 S/PKI. Tokoh Risa yang diperankan di film itu ternyata telah meninggal karena asma saat dikurung oleh para dewan alumni ketika itu telah difitnah mereka. Adakah maksud sutradara dalam film ini ingin menceritakan adanya konflik ideologi sebelum terjadinya G 30 S/PKI dengan kasus yang menimpa Risa dituduh antek PKI?

Pada malam inisiasi yang diadakan para senior Lentera Merah ketika itu, tampaknya merupakan tradisi turun-temurun yang dilakukan pada malam hari setiap perekrutan anggota baru. Apakah sosok Risa yang ternyata 'hantu' berwujud manusia itu kemudian, bisa ikut bergabung dengan anak-anak baru yang ternyata secara kebetulan para orang tuanya dulu adalah anggota Lentera Merah juga?

Wah...film ini ternyata banyak menyisahkan pertanyaan saya yang belum terjawab di sana. Saya kira dari film ini setidaknya bisa mengungkap kebenaran sesuai dengan moto dari Lentera Merah itu sendiri, yakni "hanya berpihak kepada kebenaran". Apa kebenaran dalam film ini bisa diyakini sebagai film non-fiksi? Atau hanya 'bumbu-bumbu' saja agar penonton tertarik dengan ideologi PKI ketika masa itu? (Sumber Foto: 21cineplex.com)

Wednesday, November 01, 2006

Bisa Lihat Personality Saya?

Amanah dari pi2t buat saya baru dibaca pagi kemarin (Selasa, 31/10). Sekilas saya baca isinya macam jawaban tentang sebagian kecil kepribadian Pi2t. Kurang lebih seperti itu. Saya tidak tahu pasti kumpulan pertanyaan ini berdasarkan apa dan entah sudah berapa banyak ‘pasien’ yang ditanyakan. Saya pun kebagian 30 pertanyaan yang akan saya jawab setelah ini. Kata Pi2t, apakah jawaban yang diposting di blog-nya itu bisa bisa menebak personality-nya? Yuk..kita lihat jawaban saya dari pertanyaan ini.

APAKAH KAMU...

1. Iri-hati pada orang laen : Kalau positif sebagai motivasi buat saya untuk lebih baik lagi, kenapa tidak toh?

2. Kamu mengandalkan 'beauty' or 'personality' : Karena saya cowok, jadi memilih ‘personality’ saja.

3. Punya SIM? : Punya dua. SIM C Lampung dan SIM A Sumsel. Sayangnya, SIM A sudah habis masa berlakunya. Hiks :(

4. Takut kehilangan 'uang' atau 'teman'?: Kehilangan ‘teman’ dong. Kalau kehilangan ‘uang’ kan nantinya bisa pinjam dari ‘teman’

5. Berkacamata : Kadang-kadang dipakai

6. Suka anak kecil : Maksudnya ‘suka’ seperti apa ya?

PERNAHKAH KAMU.........

7. Berpikir tuk operasi plastik: Tidak pernah

8. Memotong sendiri rambutmu: Pernah, hanya karena malas pergi ke tempat potong rambut

9. Jatuh cinta pada pandangan pertama : Sering. Cuma sebentar, setelah beberapa lama kemudian biasa saja.

10. Berpikir untuk mengadopsi anak : Tidak pernah tuh

11. Pacaran ama orang yg jauuuh lbh tua : belum pernah

12. Cinta bertepuk sebelah tangan : belum pernah juga

13. Kehilangan dompet : Dulu pernah waktu SMA. Untungnya jatuh di jok mobil teman dan ketemu kembali.

KUSUKA..........

14. Nonton berita : akhir-akhir ini jadi tontonan wajib setiap hari

15. Pelajaran di sekolah : Tidak ada yang spesial

16. Tipe cewek : Seiman, beautiful girl (dalam dan luar), cerdas, pengertian, loyal, bertanggungjawab, suka menolong dan rajin menabung (Hehe..cocok ngga dengan kamu?)

17. Menu sarapan : Yang pasti harus ada nasi dan lauknya terserah apa saja

18. Orang yang sedang kusuka : Orang yang loyal dan bertanggungjawab

19. Penampilan lawan jenis yg kamu sangat suka ngeliyatnya : tentunya berjilbab rapi

20. Band : Nidji

21. Tempat : pantai dan pegunungan

22. Baca koran : Koran ‘K’ lebih bagus dan bermutu daripada koran lainnya, karena dari koran ini membuat saya banyak belajar lebih kreatif menulis

23. Resto fast food: apa saja dan di mana saja

24. TV station: Trans TV, karena ingin sekali bekerja di sana

25. Nama untuk anak laki : Belum terpikirkan

26. Nama untuk anak perempuan : Sama seperti di atas tuh

KESAN PERTAMA KALO DENGER......

27. Koper : bawaan banyak

28. Sekolah : teman-teman

29. Sapi : susu

30. Rizky Hanggono : Siapa dia? Ngga kenal tuh

NGE-LEMPAR PR BUAT SIAPA?

Buat siapa saja yang sempat mengunjungi blog saya dan membaca sejak tadi

Wednesday, October 25, 2006

Asiknya Bubar dan Reuni 2001


Senang rasanya kembali bisa berkumpul dengan teman-teman seangkatan SMA kemarin Jumat (20/10) sore di KFC Hotel Royal Asia. Acara buka puasa bersama (bubar) ini boleh dibilang mendadak. Sebabnya, setahu saya Feliciano memberi kabar via sms satu hari sebelum acara buka puasa. Begitu pula kabar itu saya yakin baru disebar ke beberapa teman-teman lainnya via sms pada hari itu juga.

Sayangnya, sejak awal kelihatannya tidak ada yang ingin menjadi inisiator buat mengundang teman-teman seangkatan. Ya, saya pikir mungkin mereka sudah pada sibuk. Atau bisa jadi mereka malas, karena tidak seperti acara bubar dua tahun lalu di rumah Tata yang terlihat lebih ramai oleh teman-teman yang datang ketika itu.

Tapi, untuk tahun ini, tidak apa-apa bagi saya meskipun yang datang di Hotel Royal cuma sedikit. Alhamdulillah, ada sekitar 30-an orang yang datang sore menjelang Maghrib sore itu. Beberapa teman terlihat masih santai mengobrol dengan yang lainnya di sudut meja walaupun azan telah tiba. Mereka sampai lupa waktu padahal telah tiba berbuka puasa.

Saya pun sejak sekitar 10 menit waktu azan Maghrib telah mengantri di dalam barisan untuk memesan makanan berbuka puasa. Menunggu tiga orang di depan. Terasa lama sekali. Saya lihat seorang perempuan berjilbab di depan meja sedang menjaga kasir. Tampaknya ia juga bertugas menyiapkan pesanan, seperti menuangkan Coke ke dalam gelas atau menyiapkan beberapa potongan ayam sesuai permintaan konsumen. Pesanannya cukup banyak. Dari benak saya, kenapa tugasnya sebagai kasir harus ditambah dengan melayani permintaan konsumen seperti tadi. Katanya restoran cepat saji. Tapi, kok masih tetap saja lama menunggu dengan mengantri panjang di dalam barisan.

Setelah tiga orang di depan saya telah selesai mengambil pesanannya dan membayar kepada penjaga kasir, kebagian giliran saya. Saya bilang pada teman saya di belakang kalau saya hanya pesan segelas Coke. Buka tidak ingin sekalian makan malam dengan ayam goreng yang lagi hangat. Tapi, kebetulan saya tidak membawa uang. Jadi, saya meminjam uang Rp10 ribu dari Aziz ketika masih sempat menunggu sambil duduk-duduk di depan serambi KFC. Tapi, Aziz tidak ikut bubar karena ia dengan Hendri diajak bubar di tempat lain.

Dengan uang segitu, ternyata hanya cukup dapat membeli segelas Coke besar. Harganya tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Tujuh ribu lima ratus rupiah. Saya kira harganya sekitar antara Rp4ribu-Rp5ribu. Yah, akhirnya cukup berbuka dengan segelas Coke besar dan menikmatinya bersama teman-teman yang belum kebagian dapat buka puasa karena telat memesan sebelumnya.

Monday, October 16, 2006

Buka Puasa Bersama Teman-teman UKM

Tanpa terasa kita yang sedang menjalankan ibadah puasa ini telah memasuki Ramadhan hari ke-23. Sepintas mungkin di pikiran kita, begitu cepatnya waktu berlalu. Puasa seperti baru saja dimulai kemarin, padahal nyatanya sekarang sudah memasuki sepuluh hari ketiga di bulan Ramadhan.

Di kampus saya, Unila, tempat saya lebih banyak menghabiskan waktu di sekretariat Teknokra yang berada di pojok Gedung PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) Unila, sejak memasuki awal puasa Ramadhan, banyak undangan berdatangan. Kebanyakan undangan mengajak berbuka puasa bersama (bubar) dari teman-teman sesama aktivis UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di Gedung PKM Unila.

Seperti kemarin (Minggu, 15/10), teman-teman dari UKM Bidang Seni mengundang seluruh penghuni sekret di Gedung PKM Unila untuk mengikuti acara ‘bubar’ mereka. Ramai sekali saat itu. Sambil menunggu detik-detik azan Maghrib pukul 17.54 WIB sebagai tanda berbuka puasa, sebelumnya sekitar pukul empat sore, tamu undangan Ansori Djausal (Pembantu Rektor IV Unila) membacakan kumpulan sajak puisi yang dibuatnya. Lalu, di hadapan para undangan yang datang, Bang An, panggilan akrabnya, membacakan puisi “Krakatau”.

UKMBS sering mengundang para penyair yang tinggal di Bandarlampung dalam acara rutinnya setiap bulan. Sebelum Bang An, ada Budi P Hatess atau Bang Budi (Wartawan HU Lampung Post), panggilan akrabnya. Bang Budi membacakan beberapa karya puisinya agar dapat dinikmati bersama dengan hadirin undangan bulan Agustus lalu. Tak hanya sekedar membacakan puisi saja, ada kritik, saran dan pembahasan bersama peserta. Acaranya pun dibuat santai dengan duduk di alas karpet. Sesekali gelak tawa terluapkan. Saya makin menyukai acara rutin bedah sastra yang diadakan UKMBS ini. Saya pun sesekali nantinya ingin mengasah kemampuan menulis sajak. Rasanya berbeda sekali saat menulis berita atau opini.

Sebelum acara ‘bubar’ UKMBS, sejak minggu pertama puasa Ramadhan, UKM Filateli lebih awal mengundang teman-teman UKM lainnya dalam acara ‘bubar’ juga. Berikutnya, giliran UKM kita (Teknokra, red) di akhir pekan. Setiap momen ‘bubar’ giliran temen-teman UKM seperti bulan puasa Ramadhan ini, selalu saja ramai. Tentu saja selain gratis, bagi anak kostan mengirit pengeluaran sehari-hari. Ya, contohnya seperti saya ini.

Berikutnya secara berturut-turut, menyusul giliran UKM Pramuka, Rakanila, KSR, Mapala, dan Menwa. Hampir dalam seminggu giliran acara ‘bubar’ di Gedung PKM Unila tidak pernah sepi. Soal makanan, apa pun pasti habis disambar para undangan. Entah karena sangat kelaparan, atau menu-menu yang disajikan cukup enak.

Saya kangen ketika pulang ke Palembang nanti, ada acara bubar angkatan teman-teman SMA dulu. Ya, di momen seperti inilah kita bisa bertemu dan berkumpul kembali. Ada yang telah setahun lebih tidak bertemu dan di saat itulah bisa kangen bertemu lagi.

Tuesday, October 10, 2006

Atul: Pahlawan Pers Mahasiswa

Pernahkah kita mencoba kembali mengenang perjuangan para mahasiswa saat menyaksikan peristiwa Tragedi Trisakti pada Mei 1998 lalu di layar televisi? Dari layar kaca itu, kita sepakat bahwa aksi itu adalah sebagai keberutalan luar biasa yang pernah terjadi sepanjang sejarah Orba di negeri ini ketika itu. Bagaimana tidak, mahasiswa yang saat itu berdemonstrasi menuntut Soeharto agar turun dari jabatan presiden yang telah berkuasa selama hampir 32 tahun, kemudian diberondong tembakan oleh aparat keamanan ke seluruh penjuru masa yang kebanyakan adalah mahasiswa. Banyak korban yang kemudian berjatuhan. Bahkan ditemukan korban meninggal dunia karena ditembak peluru tajam oleh aparat keamanan.

Peristiwa di atas bukan saja sekali dan terjadi hanya di Jakarta. Di Bandar Lampung, pada awalnya hanya sebuah aksi demonstrasi yang digawangi para aktivis Dewan Mahasiswa (Dema) di depan kampus Universitas Bandar Lampung (UBL) pada 28 September 1999. Para aktivis mahasiswa itu menuntut pencabutan Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (RUU PKB). Namun, tepat di depan kampus UBL itu mereka telah dinanti para aparat kepolisian (Pasukan Huru-hara atau PHH ketika itu, red).

Tak menghiraukan PHH yang menghalangi jalan, para aktivis Dema dari berbagai kampus di Bandar Lampung itu kemudian berorasi di depan aparat keamanan itu. Mereka juga sempat berusaha menembus barisan PHH. Namun, entah siapa yang pertama kali memicu kericuhan sehingga terjadi chaos. PHH memberondong tembakan ke arah para mahasiswa yang berdomonstrasi. Aksi itu ternyata bukan murni dari kalangan mahasiswa, tapi ada elemen lainnya (PRD, red) yang ikut bergabung dalam aksi demonstrasi.

***
Juwendra Asdiansyah (Pemimpin Umum Teknokra 1998-1999) mengetahui terjadi chaos di depan kampus UBL dari pengumuman MC festival musik yang saat itu digelar di kampus Unila. Bergegas Juwendra memberitahukan hal itu kepada seluruh kru yang ada di kesekretariatan Teknokra. Atul, panggilan akrab Saidatul Fitria, yang ketika itu berada di kesekretariatan Teknokra, langsung menuju tempat terjadinya chaos di depan kampus UBL yang jaraknya kurang dari empat kilometer dari kampus Unila.

Atul tidak sendiri ketika berangkat ke sana. Ia ditemani Reno Setiaji (Magang Teknokra) memantau aksi demonstrasi yang telah berubah menjadi chaos. Beberapa orang melempari batu-bartu besar ke arah pasukan PHH. Di jalanan raya depan kampus UBL berubah menjadi arena lemparan batu.

Kesabaran bertahan dari lemparan batu-batu dari arah mahasiswa, entah perintah dari siapa kemudian pasukan PHH kemudian memberondong para pendomonstrasi yang melempari batu-batu itu dengan peluru. Banyak mahasiswa terluka-luka. Bahkan, ada yang terkena tembak peluru tajam yang menembus dada kiri. Dia adalah M Jusuf Rizal, mahasiswa FISIP Unila. Ijal akhirnya harus pergi untuk selamanya ketika sempat dibawa ke rumah sakit.

Ketika Atul mengabadikan peristiwa chaos itu dengan kamera SLR Nikon dari tangannya, ia yang bertugas sebagai jurnalis foto, tidak menyangka harus terluka parah akibat kepalanya dipukul benda tumpul dari aparat keamanan. Atul dibawa ke Rumah Sakit Advent yang berada tidak jauh dari kampus UBL, tempat terjadi chaos.

Atul saat berada di tempat terjadinya chaos, ia sempat mengabadikan beberapa fotonya. Kini, ada tujuh foto dari aksi keberaniannya itu masih tersimpan di kesekretariatan Teknokra.

Namun, setelah kepalanya dipukul benda keras dan harus segera dibawa ke rumah sakit ketika itu, ia mengalami koma. Saat sadar setelah Atul diobati kepalanya, ia sempat mengatakan kepada Juwendra, "Kak, saya telah diincar mereka (aparat keamanan, red)!" Kepala Atul mengalami retak pada tengkoraknya. Ia harus segera dioperasi pada hari berikutnya.

Pasca operasi pada kepala Atul, ia hampir tak lagi sadarkan diri. Atul kembali koma. Sampai ia dipanggil menghadap Sang Khaliq pada pagi subuh, tanggal 3 Oktober 1999. Sepeninggalnya, Ia pantaslah mendapat penghargaan sebagai "Pahlawan Pers Mahasiswa."

***
Kisah tujuh tahun lalu itu saya dapatkan dari Kak Juwendra, yang kini ia adalah wartawan Harian Umum Seputar Indonesia yang tinggal di Bandar Lampung. Saya amat sedih mendengar cerita darinya saat Atul tidak tertolong lagi. Atul bagi saya dan teman-teman Teknokra sekarang adalah inspirasi perjuangan pers mahasiswa dan jurnalis, juga umat manusia. Karena Atul melaksanakan tugas tanpa pamrih. Ia mengabadikan foto sebagai tugas seorang jurnalis yang memberikan informasi kepada publik. Tapi, ia harus meninggalkan kita semua. Namanya (Saidatul Fitria), mengabadikan pada kesekretariatan kami menjadi Graha Saidatul Fitria.

Saturday, September 30, 2006

Majalah Teknokra: Kreativitas Penggiat Pers Mahasiswa Unila


Beberapa minggu terakhir ini, saya senang sekali dengan apa yang telah dilalui dan dicapai bersama dengan teman-teman di Teknokra. Pertama, Majalah terbitan kita, Teknokra Edisi September No.208 telah terbit pada pertengahan September lalu. Di saat itulah momen yang tepat, yakni kembalinya hampir seluruh mahasiswa Unila ke kampus masuk kuliah semester ganjil yang kemudian kita membagi-bagikan majalah gratis itu kepada mereka.

Majalah yang berisi 100 halaman ini adalah hasil liputan teman-teman Teknokra di lapangan. Liputan utama atau kita menyebutnya di dalam majalah terbitan tiga bulan sekali itu dengan rubrik Peristiwa, mengulas tentang permasalahan kepemilikan tanah di Pulau Sebesi, Lampung Selatan (Foto: cover majalah berwarna biru,red)

Selasa kemarin (26/09), menyusul terbit majalah Edisi Khusus Mahasiswa Baru 2006. Majalah dengan jumlah sebanyak 60 halaman ini pun dibagikan secara gratis kepada mereka pendatang baru di kampus hijau Unila. Isinya kebanyakan adalah tentang liputan di sekitar kampus, macam kost-kostan dekat kampus atau biasa di sebut perkampungan mahasiswa Kampung Baru. Ada pula liputan tentang fenomena di FKIP yang kebanyakan para mahasiswinya mengenakan rok. Alasannya, fatwa wajib dari dekanat FKIP yang harus dipatuhi para ’calon guru’.
(Foto: cover bergambar kartun sedang memegang kamera, red).

Kedua majalah itu sama-sama terbit pada bulan ini. Entah dengan cara bagaimana saya sebagai pemimpin redaksi Teknokra, meluapkan rasa syukur dengan terbit kedua majalah itu, selain rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Perjuangan yang selama ini dilakukan bersama-sama sebagai tim work yang tangguh, tentu saja membawa kemenangan dan hikmah yang baik. Tak luput para kru redaksi hingga larut malam pun harus menyelesaikan rubrik demi rubrik hingga sesuai tearget (deadline,red). Namun, deadline masih sulit untuk ditepati yang seharusnya selesai akhir Agustus kemarin. Tapi, hal itu bisa dikejar lekas terbit saat memasuki momen awal bulan puasa Ramadhan dan mahasiswa baru mulai kuliah.

Selain Teknokra punya terbitan majalah triwulan, Teknokra punya terbitan lain. Namanya Buletin Teknokra News. Buletin ini mirip seperti koran-koran media cetak harian kebanyakan. Buletin dengan jumlah delapan halaman ini terbit setiap dua minggu sekali. Sama seperti majalah, ini dibagikan secara gratis kepada mahasiswa Unila. Boleh jadi kita memberikan istilah dengan ”Community Paper.” (Foto: Paling atas bertuliskan Teknokra yang dibuat ’tebal’)

Dari semua terbitan Teknokra adalah kerja keras semua kru. Mereka tidak dibayar untuk menghasilkan produk-produk jurnalistik itu. Kami masih mengandalkan uang untuk percetakan yang berasal dari uang SPP yang dibayarkan setiap mahasiswa setiap semesternya sebesar Rp 6 ribu. Boleh jadi mereka bisa disebut pelanggan bagi Teknokra. Tapi, Teknokra tidak mengelolah semua uang yang dibayarkan mereka, tapi Rektorat Unila yang memegang otoritas uang mahasiswa itu. Jadi, Teknokra hanya mendapatkan biaya terbitan saja. Tapi Teknokra bukanlah PR bagi Rektorat. Teknokra adalah insan pers mahasiswa yang independen tidak berpihak kepada siapa pun kecuali pada kebenaran dan juga kritis dalam penyampaian informasi kepada publik.

Friday, September 29, 2006

Di atas Kapal Penyeberangan Ferry

(Suasana di atas kapal Ferry pada malam hari. Sejumlah kendaraan pribadi menempati masing-masing tempatnya. Biasanya penyeberangan Ferry dari pelabukan Bakauheni, Lampung-Merak, Banten atau sebaliknya pada malam hari terlihat sepi seperti pada foto di atas ini, Sabtu (26/08))

Wednesday, September 27, 2006

Susahnya Mengalahkan Rasa Ngantuk

Hari ini puasa Ramadhan yang ke-4. Hari demi hari tidak terasa melewati semua momen dalam suasana di bulan suci tahun ini. Kemudian, saya sejenak berpikir, “Sudah melakukan amalan Ramadhan apa saja hingga hari ini?” Yah, mungkin saya bukanlah termasuk salah seorang yang rajin dan menghitung-hitung ibadah. Maksudnya, ketika melakukan sebuah ibadah atau semacam amalan ibadah sunnah, saya tidak pernah menghitung-hitung berapa banyak jumlahnya yang telah dilakukan. Jalani apa adanya. Karena semuanya saya serahkan kepada Yang Maha Kuasa. Karena Dia-lah Yang Maha Mengetahui.

Puasa Ramadhan ini sebenarnya banyak orang Islam yang percaya kalau ibadah-ibadah macam membaca Al Quran, salat Tarawih dan Witir, juga lainnya, akan dilipatgandakan pahalanya. Saya tidak tahu persis berapa kali lipat. Dulu pernah belajar dan tahu tentang ini, tapi sayangnya saya lupa. Tak apalah, yang penting adalah ibadah puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga saja, tapi lebih dari itu tadi. Menambah ibadah-ibadah sunnah lainnya.

Kadang-kadang saat minggu pertama puasa, boleh dibilang sedang rajin-rajinnya dan ramainya menunaikan salat Tarawih. Bagus. Tapi, namanya juga manusia, semakin hari semakin ‘kendor’ semangat salat di masjid secara berjamaah itu. Seperti saya, semalam ketika setelah salat Isya dan sempat sedikit mendengarkan ceramah, tapi sayangnya tidak sampai selesai. Kemudian, rasa ngantuk yang selalu mengganggu konsentrasi. Akhirnya saya lebih baik memilih pulang ke sekret Teknokra, dan tidur dengan lelap.

Tapi, kalau dibandingkan dengan teman-teman saya saat setelah sahur dan salat Subuh, saya tidak ikut-ikutan tidur seperti mereka. Wah, mereka kebanyakan memilih tidur seperti pagi-pagi seperti ini. Kalau saya rasanya saat mengantuk, yah kadang-kadang juga tidur seperti mereka. Memang susah mengalahkan rasa mengantuk. Sampai-sampai saya pernah menahan rasa mengantuk kemudian air mata saya keluar. Seperti menangis saja.

Jadi, tidurlah jika mengantuk. Tidak perlu dipaksakan ditahan untuk tidak tidur. Betul tidak?

Saturday, September 23, 2006

Refreshing di Pantai Maitam

Melihat pemandangan pantai di propinsi ujung pulau Sumatera ini sungguh indah. Memang tidak semua pantai menarik, tapi beberapa yang pernah saya kunjungi mempunyai pesona yang mengagumkan. Barangkali ketika selama dibesarkan di kota kelahiran sendiri (Palembang, red) yang sangat jauh dari pantai, belum pernah merasakan kemolekan pantai dengan deru-deru ombaknya. Pasir-pasir pantai yang putih dan bersih. Juga perahu-perahu yang sedang bersandar di pinggir pantai. Semuanya menjadi satu keindahan alam ciptaan Maha Kuasa.

Minggu siang kemarin (17/09), saya dan teman-teman Teknokra berencana jalan-jalan ke pantai Maitam. Pantai yang berjarak kira-kira 30 km lebih dari pusat kota Bandarlampung ini, ternyata lumayan memakan waktu dua jam perjalanan. Jalan-jalan ke Pantai Maitam adalah yang pertama kali buat saya. Kita yang berjumlah sekitar 25 orang berangkat ke sana dengan menyewa dua angkot. Menyenangkan sekali bisa liburan seperti ini dengan teman-teman.

Ternyata datang ke pantai bukan sekedar refreshing saja siang itu. Kita (Teknokra,red) kehadiran kru baru yang telah melewati masa magang. Ada sekitar delapan orang yang seharusnya datang dan dilantik. Tapi, yang hadir saat itu hanya tiga orang saja. Mereka adalah Nur Amalia, Risma Evika, dan Riski Sherindani. Nantinya untuk ke depan, dari merekalah nafas Teknokra akan selalu terus dijalankan. Regenerasi akan selalu berputar.

Acara pelantikan mereka yang didaulat menjadi bagian dari keluarga besar Teknokra, terlihat unik dengan dandanannya. Ada yang mengenakan batok kelapa di letakkan di atas kepala mereka. Ada pula dikalungi rumput. Sepertinya saya langsung kembali teringat masa ketika dulu seperti mereka dilantik tiga tahun lalu. Dari ujung rambut sampai kaki basah oleh air laut yang asin rasanya. Sekalian menyemplung dan main air laut di pinggir pantai.

Setiap momen seperti ini, tidak terasa puas tanpa kehadiran sang juru foto alias fotografer. Bagaimana tidak, semua kru Teknokra sangat doyan sekali ketika akan difoto. Fotogenit. Bahkan, Padli (Redaktur Pelaksana,red) saya menganugerahkan dia The year of Fotogenit. Karena dia selalu ada di setiap jepretan foto. Pokoknya, asik sekali berpetualang menyeberangi laut ke sebuah pulau. Air laut yang saya seberangi itu tingginya sekitar dada saya. Cukup dalam, apalagi teman-teman cewek.

Pulang dari pantai itu tanpa terasa sudah hampir matahari tenggelam. Sampai kembali ke kostan saya pun waktu Isya telah tiba. Benar-benar liburan menjelang puasa Ramadhan nih. Kangen rasanya nanti bisa main dan refreshing di pantai ini lagi.

Thursday, September 21, 2006

Goes to Java (2)

Tulisan dari perjalanan ke Jawa, baru dua buah termasuk ini. Padahal, lebih mengalir saat tulisan perjalanan ini saya buat secara berturut-turut. Bahkan, Dian sudah menagih cerita perjalanan saya ketika di Malang yang cuma sehari. Tapi, dua hari berikutnya kembali lagi ke Malang. Pokoknya, hampir semua kota kabupaten di Jawa Timur sudah dimampiri.

Penyeberangan dari Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan ke Pelabuhan Merak, Banten dengan menggunakan Kapal Ferry biasanya memakan waktu dua jam lamanya. Terkadang, jika telah mendekati pelabuhan yang dituju bisa menghabiskan waktu selama tiga jam. Sebab, kapal yang hendak bersandar harus mengantri giliran dengan kapal di darmaga.

Kami tiba di pelabuhan Bakauheni pada malam hari sekitar pukul delapan, Sabtu (26/08) lalu. Dari rumah (Palembang,red) memang sengaja berangkat pagi-pagi setelah salat subuh. Agar selama di perjalanan melalui lintas tengah Sumatera masih cerah dan memudahkan pandangan ke jalan yang banyak di penuhi lubang-lubang besar dan aspal yang rusak. Tentu saja akibat beban muatan truk yang berlebihan.

Sebelum kami membeli tiket untuk naik ke atas kapal di sebuah loket pembelian khusus kendaraan bermotor, tiba-tiba dari arah depan saya dikejutkan seorang polisi yang sedang mengawasi setiap kendaraan pribadi. Polisi itu menggunakan senter dan melihat setiap bagasi mobil.

Tiba giliran mobil yang saya kendarai diperiksa polisi itu. “Selamat malam Pak!” ujarnya kepada saya sambil mengangkat tangan kanannya, seperti hormat. “Dari mana ini?” tanya polisi itu. “Kami dari Palembang Pak,” kata saya. “Boleh lihat surat-suratnya?” Saya teringat dengan SIM A milik saya telah kadaluarsa alias tidak berlaku lagi. Tapi, saya tetap tenang dan hanya menyerahkan STNK mobil kepada polisi itu. Ia tidak menanyakan SIM. Lalu, polisi yang masih tampak muda itu melihat-lihat bagasi belakang yang penuh dengan barang. Ia pasti lupa menanyakan SIM pikir saya. Setelah menyerahkan STNK, ia kemudian menyuruh melanjutkan ke kapal. Alhamdulillah lancar, pikir saya.

Setelah membeli tiket kapal, mobil untuk kendaraan pribadi menempati di atas kapal. Sedangkan di bawah biasanya untuk kendaraan besar, macam bus dan truk. Setiap kami melakukan perjalanan ke jawa dengan mobil, memang selalu menyeberang dari pelabuhan Bakauheni pada malam hari. Suasana di atas kapal sedikit ramai. Angin berhembus kencang. Agak dingin, tapi terasa kering. Mungkin karena musim kemarau masih berlangsung.

Tanpa sengaja, di atas kapal itu ada semacam organ tunggal. Mungkin hiburan buat para penumpang untuk melepas kejenuhan dan capek. Saya lihat, persis sama perlengkapan berdangdut di atas kapal itu seperti di acara-acara organ tunggal kebanyakan. Di bawah sorot lampu yang terang, mulailah lagu-lagu dangdut 'bertubi-tubi' menghentakkan di atas kapal. Ada sekitar tiga cewek yang bernyanyi. Mereka saling bergantian untuk membawakan lagu-lagu. Kadang-kadang sambil bergoyang pinggul. Ada pula saya lihat seorang laki-laki ikut bergoyang di hadapan penyanyi itu. Laki-laki itu memegang beberapa lembar uang kertas. Dugaan saya pasti uang itu untuk si penyanyi ‘ngebor’ itu. Saya sempat mengambil beberapa gambar di sana. Hasilnya memang agak kurang bagus jika dilihat. Malam itu saya menemukan fenomena di atas kapal Ferry. Penyanyi dangdut dan organ tunggal berjalan di atas kapal. Ajeb...ajeb...ajeb....

Saturday, September 16, 2006

Desainer Grafis The New York Times


Teman saya, Gery dari Bengkel Jurnalisme suatu malam datang ke sekretariat Teknokra, tempat saya dan kru-kru belajar jurnalisme, menjadi wartawan kampus sekaligus menerbitkan media cetak buat mahasiswa Unila kebanyakan. Ia datang sendiri ketika itu. Katanya kepada saya, nantinya ada semacam pelatihan desain grafis dan Teknokra hanya diberi kuota satu orang untuk berpartisipasi di dalamnya.

Menarik sekali pikir saya apa yang ditawarkan kepada saya. Selain itu, pemateri yang akan memberikan pelatihan desain grafis untuk media cetak di Lampung itu berasal dari koran ternama di sana. Namanya Georgia Scott. Wanita berkulit hitam ini bekerja sebagai Art Director pada koran The New York Times.
Tentu saja saya tidak akan menyianyiakan kesempatan langka ini. Sebelumnya, Gery bilang kepada saya bahwa pelatihan desain grafis itu untuk dua koran ternama di Lampung, yakni Lampung Post dan Radar Lampung. Lampung Post adalah group dari Media Indonesia. Cukup mudah bagi orang yang pernah membaca koran ini kemudian akan teringat dengan koran milik pengusaha ternama, Surya Paloh yang juga memiliki stasiun televisi Metro TV. Mengapa? Pada huruf ‘O’ terdapat lambang burung rajawali. Kata Ade Alawi, Pemimpin Redaksi Lampung Post suatu hari bilang kepada saya, arti dari lambang itu bermakna filosofis yang diciptakan Surya Paloh, yang artinya cepat.

Pesaingnya, koran Radar Lampung adalah group dari Jawa Post. Koran yang berinduk di Surabaya, Jawa Timur ini pun juga termasuk terbesar karena mempunyai koran-koran di sejumlah daerah dengan menamakan pada awal koran itu ‘Radar’ dan diikuti nama daerah/kotanya. Sebagai contoh: Radar Malang, Radar Madiun, Radar Lampung, Radar Palembang, dan masih banyak lagi Radar-Radar lainnya.
***
Saya sebagai pemimpin redaksi di tempat saya belajar dan menghasilkan karya jurnalistik, kemudian mengutus Uchy untuk mengikuti pelatihan desain grafis yang eksklusif itu. Georgia Scott belum fasih berbahasa Indonesia. Oleh karena itu, ia ditemani Eva Dayanti untuk menerjemahkan ketika menyampaikan materi kepada peserta yang kebanyakan bertugas sebagai desainer di masing-masing koran. Eva Danayanti adalah manager harian di Yayasan Pantau Jakarta, sebuah yayasan yang fokus membangun jurnalisme yang bermutu untuk Indonesia. Ia adalah senior saya ketika dulu pernah menjabat Pemimpin Usaha Teknokra pada 2004 lalu.

Hari pertama, Rabu (13/09) lalu, saya yang sebetulnya bukan peserta tetap, penasaran kemudian ikutserta dalam pelatihan desain grafis itu di kantor redaksi Lampung Post. Ketika itu ada sekitar belasan peserta yang mengikuti pelatihan di sana. Metode Georgia menyampaikan kepada peserta dengan berbahasa Inggris sepatah kalimat, lalu diterjemahkan Eva dengan bahasa Indonesia. Begitu seterusnya dari pagi hingga sore hari.

Pada hari berikutnya (Kamis, 14/09) sekaligus hari terakhir pelatihan untuk di kantor redaksi Lampung Post, saya dan Uchy sempat mendapat kesempatan saat istirahat, majalah terbitan terbaru kami dikoreksi oleh Georgia Scott. Dia bilang, hanya beberapa saja yang dia koreksi dan dianggapnya kurang baik dalam desain lay out-nya. Untuk itulah ia datang, bukan untuk memuji yang bagus-bagus. Saya sepakat dengannya. Beberapa kali saya mencoba berkomunikasi langsung dengannya dengan bahasa Inggris. Sedikit tergagap-gagap. Harap maklum, my English is rather bad. Tapi, saya senang bisa berjumpa dan berbincang dengannya tanpa harus meminta Eva untuk menerjemahkan ke bahasa Indonesia.

Sekitar sore pukul 15, pelatihan desain grafis itu telah usai. Di akhir acara itu, Georgia Scott memuji tampilan lay out koran Lampung Post. Tepat hari ini (Jumat, 15/09) saya membaca koran Lampung Post yang memuat berita pelatihan itu, lengkap ada foto Georgia Scott. Suatu kebanggaan bagi Lampung Post selama ini menampilkan wajah korannya telah cukup bagus. Padahal, pemimpin redaksinya, Ade Alawi kepada saya mengatakan, selama ini ia dan kru-kru redaksinya masih merasa kurang menarik terhadap tampilan lay out-nya. “Selama kita selalu masih merasa kurang puas, maka kita akan selalu membuat perubahan yang semakin baik,” kata saya mengomentari Ade Alawi.
***
Setelah selesai acara pelatihan itu, saya tidak tahu Ade Alawi mengajak Georgia Scott ditemani Eva Danayanti dan kami (saya, Gery, Aan, Uchy dan Wahyu) jalan-jalan dengan mobilnya ke sejumlah tempat menarik di kota Bandarlampung, seperti rumah-rumah adat kabupaten propinsi Lampung, di Way Halim. Sore menjelang matahari terbenam, kami menikmati makan malam di sebuah café. Di café itu bisa melihat pemandangan kota Bandarlampung hingga ke penjuru pantainya. Saya menyempatkan mengabadikan beberapa foto. Maklum, di café itu tempatnya termasuk tinggi. Kami mengobrol santai di sana hingga saya pun sangat menikmati makan malam dengan menu nasi dan capcay. Lezat sekali! Suatu saat nanti, saya ingin sekali ada moment jalan-jalan seperti ini. Tentu saja dengan gratis. Hehe…

Thursday, September 07, 2006

Goes to East Java-1

Saya buat tulisan perjalanan ini bersambung. Jadi, ikuti saja terus perkembangannya. Jangan terlewatkan! Yah, jadi seperti iklan saja. Hehe..

Jalan-jalan sungguh menyenangkan. Ingin tahu kenapa? Selain menemukan suasana baru dari rutinitas kita yang dilakukan tiap hari hampir sama, selain itu juga ternyata menyegarkan pikiran yang terkadang memberatkan. Maksudnya, misal saja seorang pelajar sekolah yang hampir setiap hari mulai dari senin sampai sabtu wajib belajar. Dari pagi hingga siang. Jika mengikuti kursus di luar, bisa tiba di rumah sore atau bahkan paling telat malam hari. Sungguh cukup melelahkan pikiran kita ketika masih sekolah dulu bukan? Untung saja masih ada hari minggu buat istirahat ya.

Traveling, istilah bekennya dari jalan-jalan, menjadi kesukaan buat saya sejak dulu. Entah kapan persisnya. Mungkin hobi saya sejak SD sering jalan-jalan naik sepeda BMX keliling komplek rumah dengan teman-teman. Ke mana pun saja asalkan jalan keluar dari rumah dengan jalan kaki sekali pun juga saya menyukainya. Nah, apalagi kalau dilakukan saat pagi udara masih sejuk dan matahari baru terbit. Tapi, sayangnya akhir-akhir ini saya malas kalau ingin jalan-jalan pagi. Udara dingin di luar saat musim kemarau yang kadang bercampur asap kabut, kurang baik buat olahraga.

***

Ongomong-ngomong soal jalan-jalan, baru saja saya dengan orangtua saya pulang dari perjalanan yang cukup jauh ke jawa timur. Dua minggu lamanya. Di sana, ada lima kota yang kami kunjungi, antara lain: Mojokerto (asal kelahiran ibu saya), Malang (ke rumah Pak Dhe saya), Surabaya (ke rumah Pak Lek saya), Gresik (asal kelahiran ayah saya) dan Jombang (ke rumah sepupu saya). Maksud awal tujuan ingin menghadiri resepsi nikah sepupu saya di Mojokerto. Tapi, karena banyak juga saudara di beberapa tempat, jadi menyempatkan mengunjungi mereka di satu per satu. Cukup banyak dan buat saya kelelahan dari satu tempat ke tempat yang dikunjungi itu. Tapi, buat saya pribadi biar pun lelah, yang terpenting adalah silahturahmi tetap berjalan. Katanya, bagi yang sering bersilahturahmi itu akan dipanjangkan usianya. Nah, makanya yang baru tahu, mulailah menyambung silahturahmi dengan keluarga atau saudara yang jarang kita kunjungi. Teman yang nun jauh di seberang pun juga bagus buat dikunjungi. Tentunya mereka pasti akan suka kan?

Mulai berangkat dari rumah (Palembang,red) hari Sabtu (26/8) lalu. Setelah salah subuh, kami bertiga, saya, ayah saya dan ibu saya sudah siap berangkat sekitar pukul 5.30 WIB. Sayangnya, kakak perempuan saya tidak bisa ikut. Katanya, masih ada kerjaan di kantornya yang tidak bisa ia tinggalkan. Tapi, saya tahu kakak saya ini ingin sekali ikut. Kami berangkat dengan mobil. Saya selalu menjadi driver setiap perjalanan menyeberang ke jawa. Meskipun hanya bertiga, melihat yang kami bawa di bagasi belakang mobil cukup banyak. Terutama ibu saya telah menyiapkan oleh-oleh kerupuk dan pempek untuk saudara di sana.

Alhamdulillah, sebelum berangkat, kata ayah saya, mobilnya sudah di-service. Jadi, sedikit mengurangi khawatir jika nanti terjadi seseuatu saat di jalan. Terutama soal ban yang masih cukup baik. Soalnya, jalanan terutama di jalan lintas sumatera (lintas timur, lintas tengah dan lintas barat, red) dari arah Sumatera Selatan menuju Lampung masih rusak parah. Perlu ekstra hati-hati di jalanan yang sering bertemu dengan lobang-lobang besar akibat sering dilalui truk-truk pengangkut melebihi muatan.

Thursday, August 24, 2006

Menuju Jawa Timur

Dear my Friends,

Beberapa hari ini saya tidak online. Maaf untuk menunda berkunjung ke blog teman-teman, karena insya Allah saya dan sekeluarga: ayah, ibu, dan mbak saya akan berangkat ke Jawa Timur, tepatnya ke kota Mojokerto hari Sabtu pagi nanti (26/08). Ada sepupu saya akan melaksanakan resepsi pernikahannya di sana. Rencanannya kami akan berangkat dengan mobil dari rumah di Palembang. Jadi, saya harus segera pulang dulu dari Lampung naik Kereta Api menuju Palembang untuk bersiap-siap dari sana.

Seperti biasanya setiap liburan ke Jawa, perjalanan nanti akan memakan waktu selama tiga hari dua malam. Cukup lama bukan? Selama perjalanan itu nanti akan saya buat catatan perjalanan. Menarik sekali melalui setiap daerah dan kota nantinya. Terutama mengabadikan foto, tentu saja harus ada. Jadi, rute perjalanan nanti kurang lebih seperti ini: mulai berangkat dari Palembang-Bandar Lampung-menyeberang dari Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan-tiba di Pelabuhan Merak, Banten-Jakarta-Cirebon-Jalur Pantura-Kota Semarang-Demak (sepanjang jalur pantura ini banyak kota kabupaten yang menarik dan indah)-Kota Surabaya-tiba di Mojokerto.

Soal berapa lama saya nanti berada di sana, saya belum tahu pasti. Biasanya dua minggu itu sudah cukup. Sering juga saat liburan, kita juga diajak jalan-jalan ke rumah pak dhe di Malang dan pak lek di Surabaya. Dua kota ini pasti di singgahi, sekaligus jalan-jalan ke sejumlah tempat menarik. Ah...saya sering lupa jalan-jalan di kota. Mungkin juga karena jumlah kendaraan semakin meningkat, jalan-jalan dibuat baru atau jalur-jalur banyak yang berubah.

Oke, jikalau ada perlu dengan saya langsung, seperti urusan pesan oleh-oleh, dibelikan cenderamata, makanan, atau yang lain-lainnya, tidak tersedia layanan itu. Hehehe...
Malah sekarang yang sedang saya nantikan adalah brownis kukus. Rasanya pengen cepat-cepat mencobanya nanti.

Sampai bertemu kembali...