Saturday, June 23, 2007

Selamat Wisuda Saudaraku

(Wisudawan Unila Periode Juni 2007 di Gedung Serba Guna Unila. Foto oleh: M.Reza)

"Wisuda itu ibarat berangkat haji," kata Roni kepada Saya suatu hari. Perumpamaan yang menarik pikir saya. Seperti menuju puncak dari seluruh aktivitasnya selama menjadi mahasiswa. Tidak hanya sekedar berkutat di bangku kuliah, mendengar ceramah dosen, praktikum di lab atau mengerjakan tugas bersama teman-teman. Tetapi, ada hal lain dari itu semua yang patut diikuti yakni sebagai aktivis mahasiswa.

Rasanya tidak puas jika selama kuliah dan menjadi mahasiswa hanya dituntut belajar untuk mengejar Indeks Prestasi Komulatif (IPK) tinggi saja. Tanpa dibarengi dengan kegiatan ekstrakulikuler, ibaratnya makan sayur tanpa garam. Tidak terasa nikmat.

Selamat Wisuda saudaraku! Roni, Novir, dan Doni, semoga ilmu yang kalian dapatkan selama bertahun-tahun di kampus tercinta Unila, bermanfaat bagi kaluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Saya jadi ingat apa yang dikatakan Gubernur Lampung Sjachroedin ZP saat memberi kata sambutan untuk semua Wisudawan Unila, Kamis (21/6) kemarin. "Tidak ada gunanya Ilmu tanpa iman dan taqwa," kata Sjachroedin ZP berpesan.

Apa yang dikatakan Gubernur Lampung ini ada benarnya juga. Banyak sarjana hebat yang dilahirkan dari negeri ini. Namun, terkadang iman dan taqwa-nya dikalahkan keangkuhan ilmu yang didapatkannya. Selayaknya ilmu yang bermanfaat untuk masyarakat, itu ditegakkan dari iman dan taqwa kepada Sang Khaliq.

Kalian lahir dari Teknokra. Kalian pun dibesarkan bersama-sama dengan Teknokra. Jangan melupakan itu. Kelak ilmu dari Teknokra akan bermanfaat di dunia masyarakat yang sebentar lagi akan kalian hadapi.

Saya yakin kalian bertiga mampu menjadi bagian dari generasi penerus bangsa yang bermanfaat bagi negeri ini. Semoga!

Monday, June 18, 2007

Ke Pantai Sebalang Tarahan Lampung Selatan

(Foto: Saya (paling kanan) melantik para pengurus baru Teknokra: Weni, Vera, Lily, dan Ismi. Saya memberikan pecahan Kelapa sebagai simbol untuk Weni dan teman-temannya yang baru dilantik)

Rencananya Sabtu sore kemarin (16/6), Saya, Yudi dan Dede akan berangkat ke Pantai Sebalang, Tarahan, Lampung Selatan. Kami bertiga naik sepada motor. Kebetulan May juga akan ikut bersama kita. Jadi, Kita berangkat ke pantai mengendarai dua sepeda motor dari kampus. Saya membonceng May dan Yudi membonceng Dede. Sayangnya, Saya, Yudi dan Dede harus menjemput May di rumahnya.

Berangkat ke rumah May, kami bertiga dijamu dengan suguhan Tekwan panas. "Wah, kebetulan sekali lapar dan bisa menikmati makan tekwan," pikir Saya. Akhirnya, berangkat ke Pantai Sebalang menjadi telat. Saya pikir perjalanan ke Pantai yang jaraknya sekitar 45 km dari kampus kira-kira satu jam, itu akan tiba di Pantai Sebalang pada malam hari. Ya, tidak apalah. Kami berempat jalan mengendarai sepeda motor tidak terlalu terburu-buru.

Sebelumnya, Pengurus Teknokra mengundang kami yang telah alumni untuk hadir di acara pelantikan anggota baru pengurus Teknokra. Mereka yang telah lulus masa magang ada 10 orang. Mereka segera dilantik hari Minggu pagi (19/6) itu. Tentu saja bertambahnya kru baru ini akan memperkuat barisan bagi pengurus Teknokra untuk akan datang.

Mereka tidak hanya melantik pengurus baru, tapi juga mengadakan rapat evaluasi kegiatan Rally Photo yang mereka selenggarakan beberapa waktu yang lalu. Sejak Sabtu malam hingga Minggu subuh, mereka sangat serius mengikuti rapat hingga selesai. Terlihat dari wajah mereka yang mengantuk. Mata agak kemerah-merahan. Tapi, akhirnya mereka berhasil menyelesaikan rapat yang sangat melelahkan itu.

***
Keesokkan Minggu pagi, saya sempat memfoto Edi ketika diceburkan ke laut oleh teman-teman Teknokra. Ketika kegiatan Rally Photo kemarin, Edi ditunjuk sebagai Ketua Panitia Pelaksana kegiatan itu. Mungkin saja, mereka ingin melepaskan Edi ke laut sebagai ungkapan senang telah melalui kegiatan yang telah mereka adakan beberapa waktu lalu.

Wajah-wajah mereka terlihat bahagia. Satu amanah kegiatan berlevel daerah telah mereka selenggarakan dengan baik. Saya pun jadi ikut senang melihat mereka.

Tuesday, June 12, 2007

Di Balik Kamar


(Foto: Kondisi kamar kostanku baru-baru ini)
"Rumahku adalah istanaku." Mungkin begitulah sebagian orang menganggap tempat tinggalnya (rumah,red). Ada yang sangat betah sehari penuh berada di rumah. Ada pula yang menganggap berada di rumah hanya untuk menumpang tidur dan istirahat.

Mungkin bagi saya yang telah lama tinggal jauh dari orangtua, memang harus membiasakan diri untuk mengurusi tempat tinggal (kostan,red) sendiri. Namun, sayangnya sejak tahun 2001 lalu hijrah dari kota Palembang ke Bandarlampung untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi, saya belum terbiasa dengan kerapian. Mulai dari membersihkan kamar kostan, menyuci baju secara teratur, menyetrika baju, sampai mengurus sepeda motor, saya belum sangat terbiasa teratur untuk seperti itu.

Terkadang kalau saya balik ke Palembang, harus siap dinasehati oleh ibu saya untuk rajin bersih-bersih. Yah, namanya juga anak laki-laki seperti saya susah sekali kalau disuruh bersih. Lihat saja kamar kostan saya di foto itu terlihat berantakan. Tapi, untung saja tidak sampai kumuh. Apalagi saya jarang sekali pulang ke kostan. Kalau pulang, hanya menumpang menyuci pakaian-pakaian kotor yang telah menumpuk selama seminggu. Atau sesekali cuma untuk tidur pagi karena lelah begadang malam di kampus.

Bisa dihitung selama seminggu berada di kostan cuma sebentar dan tidak lama. Bahkan, untuk sehari penuh saya tidak betah di kostan. Makanya sering berada di luar. Akibatnya, kostan jadi tak diurus kebersihannya. Ditambah lagi malas sekali bersih-bersih. Ada yang bersedia membantu saya? Hehe....

Tertarik ingin memfoto kondisi kamar kostan saya seperti apa, nah saya sempat memfoto kostan saya dan seperti terlihat di atas itulah hingga sekarang. Ada monitor komputer yang sudah jadi 'bangkai' tak terurus lagi. Ada CPU (Pentium I,red) pun sudah tak berfungsi lagi. Di atas meja setumpuk buku-buku yang tak jelas lagi apa saja dan kebiasaan meletakkan baju-baju kering dari jemuran. Sepertinya memang segera dibersihkan dan dirapikan ya? Bantuin dong :)

Wednesday, June 06, 2007

Pemilihan Rektor Unila diwarnai Demonstrasi dan Pemukulan


Puluhan mahasiswa Unila terlihat masih bertahan di depan Gedung Rektorat Unila. Meskipun hujan deras sempat membasahi mereka beberapa menit, Rabu sekitar pukul 11 siang (6/6). Mereka saling bergantian berorasi membacakan tuntutannya. Seorang mahasiswa berdiri di atas meja, dengan suara yang lantang dari pengeras suara ke arah gedung berlantai tujuh itu.

Pilihan hari itu akan menentukan selama empat tahun ke depan Unila. Rektor Unila Periode 2007-2011 segera dipilih hari itu. Tiga calon rektor Unila, Prof.Dr.Ir.Tirza Hanum, Prof.Dr.Ir.Sugeng P.Harianto, dan Prof.Dr.Sudjarwo nasibnya ditentukan oleh 43 anggota Senat Unila yang akan memilih satu di antara mereka bertiga untuk menjadi Rektor Unila empat tahun mendatang.

Sejak pukul 9 pagi, Rapat Senat Unila dengan agenda pemilihan rektor Unila langsung dibuka oleh Ketua Senat Unila Prof.Dr.Ir.Muhajir Utomo,M.Sc. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian visi dan misi serta tanya-jawab dengan para anggota Senat Unila secara berturut-turut mulai dari: Prof.Dr.Ir.Tirza Hanum (Pembantu Rektor I Bidang Akademik), Prof.Dr.Ir.Sudjarwo (Dekan FKIP), dan terakhir Prof.Dr.Ir.Sugeng P.Harianto (Dekan FMIPA).

Tiga calon rektor itu telah menyampaikan visi dan misi serta tanya-jawab dengan para anggota Senat Unila, sekitar pukul 10.45 WIB. Selanjutnya, agenda pemilihan rektor segera dimulai. 43 kertas suara dibagikan kepada 43 anggota Senat Unila yang hadir saat itu. Proses pemilihan hingga perhitungan suara berjalan lancar hingga sekitar pukul 11.30 WIB. Hasilnya, Prof.Dr.Ir.Sugeng P.Harianto meraih suara terbanyak (27 suara), disusul Prof.Dr.Ir.Tirza Hanum (14 suara) dan Prof.Dr.Sudjarwo (2 suara).
***
Di luar gedung Rektorat Unila tampak para mahasiswa yang sebagian besar mengenakan jaket alamamater Unila itu semakin 'memanas'. Mereka menantikan Rektor terpilih Prof.Dr.Ir.Sugeng P.Harianto untuk diminta agar segera menemui mereka dan menandatangani delapan tuntutan yang disampaikan para mahasiswa. Namun, dari sebelah timur dan barat para Satpam telah berjaga-jaga dan meblokir para mahasiswa dengan meja-meja sebagai pembatas agar tidak mendekat ke arah pintu masuk Gedung Rektorat Unila.

Saya yang berada di luar gedung itu jadi kebingungan. Niat ingin masuk tiadak berhasil karena semua pintu masuk ke Gedung Rektorat ditutup dan dijaga para Satpam. Saya penasaran untuk segara masuk dan menemui rektor yang baru saja terpilih.

Dengan melakukan lobi dan mengaku wartawan kepada salah seorang Satpam, akhirnya saya dan teman saya berhasil masuk ke dalam gedung, lalu segera menuju ke Ruang Sidang Rektorat di lantai dua, tempat berlangsungnya pemilihan rektor.

Tidak lama kemudian, terdengar suara ramai dari arah para mahasiswa yang berdemonstrasi di depan gedung itu. Secepatnya saya lari keluar gedung dan mencari tahu apa yang terjadi. Menurut beberapa wartawan dan fotografer media cetak yang sempat saya tanyakan, ada seorang mahasiswa Fakultas Teknik (FT) dipukuli Satpam karena diduga sebelumnya memukuli seorang calon rektor saat akan keluar dari gedung.

Menurut wartawan dan fotografer yang saya tanyai, laki-laki yang diduga calon rektor Prof.Dr.Sudjarwo itu memakai seragam Satpam dan mengenakan helm tertutup sehingga wajahnya tidak terlihat dengan jelas, lalu dibonceng seorang Satpam lain dengan mengendarai sepeda motor untuk menghindari kerumunan para mahasiswa yang berdemonstrasi.

Namun, saat si pengendara sepeda motor memboncengi yang diduga tadi calon rektor Prof.Dr.Sudjarwo, itu menabrak seorang mahasiswa FT yang kebetulan sedang menyeberang jalan di depan Gedung Rektorat dan sempat menabrak mahasiswa tadi. Tidak lama kemudian, para Satpam yang berjaga tiba-tiba mengejar mahasiswa tadi hingga ke depan Gedung A Fakultas Pertanian yang tidak jauh dari Gedung Rektorat Unila.

Mahasiswa tadi sempat mendapat pukulan dari sejumlah Satpam yang menangkapnya. Mukanya tampak memar dan kemerah-merahan. Kacamata yang dipakainya pun terlihat pecah. Ia sepertinya tidak melawan saat ditanggap dan mendapat pukulan dari para Satpam.

Setelah digiring masuk ke dalam Rektorat Unila dan ditanya sejumlah wartawan TV dan media cetak juga Satpam, mahasiswa itu ternyata korban salah sasaran dari oknum Satpam yang memukulnya.

Saya sempat mengambil sejumlah gambar dengan memfoto dan rekam video dari peristiwa kerumunan Satpam yang memukuli mahasiswa yang menjadi korban. Meskipun rekaman video itu berdurasi sebentar, dari situ bisa dilihat kearoganan dan kemurkaan oknum Satpam terhadap mahasiswa yang menjadi korban sasaran pemukulan.

Tuesday, May 29, 2007

Siapa Rektor Unila 2007-2011?


Enam bakal calon Rektor Unila periode 2007-2011 mungkin berdebar-debar menjelang Rapat tertutup Senat Unila, Rabu pagi (23/5) lalu di Ruang Sidang Rektorat Unila lantai dua. Maklum mereka akan mempresentasikan visi dan misi sebagai Rektor Unila jika terpilih di hadapan 44 anggota Senat Unila. Enam orang yang mencalonkan diri sebagai Rektor Unila periode mendatang itu adalah Dr.Harris Hasyim,M.A, Prof.Irwan Effendy, Prof.Dr.Sudjarwo, M.S, Prof.Dr.Ir.Sugeng P.Harianto, M.S, Prof.Dr.Sutopo Gani Nugroho, dan Prof.Dr.Tirza Hanum.

Rencananya, pukul 9 pagi Rapat Senat itu akan segera dimulai. Tapi, sejak saya datang dan melihat-lihat ke dalam ruang Sidang itu dari pintu masuk, masih terlihat sedikit orang di sana meskipun jam sudah menunjukkan pukul 9 lebih. Tidak jauh dari sana, Saya melihat Ketua Senat Unila yang juga Rektor Unila dan akan diganti karena sudah habis masa jabatannya, Prof.Dr.Ir.Muhajir Utomo, M.Sc tampak keluar-masuk Ruang Sidang itu. Sambil melihat ke arah lantai bawah, sepertinya ia ingin memastikan jalannya Rapat Senat hari itu aman. Ia berpesan kepada seorang Satpam yang berjaga di depan pintu, "Kalau ada demo dan ada orang yang ingin masuk, jangan diizinkan!" pesannya.

Sekitar pukul 9.30 WIB, Muhajir segera membuka Rapat Senat Unila. Ternyata, hanya 39 anggota Senat Unila yang hadir saat itu. Acara Rapat Senat Unila itu bisa diikuti para dosen, karyawan dan wartawan melalui video teleconference yang telah disiapkan panitia di ruangan khusus. Tapi, sangat disayangkan tidak semua agenda Rapat Senat itu tidak bisa kita dengarkan. Hanya agenda penyampaian visi dan misi para bakal Calon Rektor saja kita dapat mendengar sekaligus melihat dari tayangan video itu. Sebelumnya, ada pembahasan tidak dapat kami dengarkan. Itu hal yang dilarang oleh panitia. Mungkin anggota Senat Unila tidak ingin pembahasan lain-lainnya diketahui oleh publik.

Masing-masing bakal calon menyampaikan visi dan misinya selama 30 menit, berikut menjawab pertanyaan dari para anggota Senat Unila. Sayangnya, sejak awal saya tidak mengikuti satu per satu penyampaian visi dan misi para bakal calon itu. Tapi, menjelang akhir salah satu bakal calon sempat saya lihat dan dengar dari tayangan video, tampak begitu semangat menyampaikan visi dan misinya serta menjawab pertanyaan dari para anggota Senat Unila.

Keenam bakal calon Rektor Unila itu masing-masing tidak diperkenankan melihat calon lainnya menyampaikan visi dan misinya. Saat menunggu giliran menyampaikan visi dan misinya, mereka menunggu di sebuah ruangan khusus yang disediakan panitia. Jadi, mereka berenam tidak ada yang saling tahu masing-masing visi misinya yang disampaikan di hadapan anggota Senat Unila.

Menjelang pukul 14.30 WIB untuk pemungutan suara. Kertas suara yang disiapkan panitia mirip ketika KPU menyiapkan kertas suara untuk pemilihan anggota DPR dan Presiden RI kemarin. Ada kotak suara. Ada juga bilik untuk pencoblosan suara. Semuanya mirip sekali seperti Pemilu 2004 lalu.

Tiba saatnya pemungutan suara dimulai. Satu per satu anggota Senat Unila dipanggil untuk mendapatkan satu kertas suara dan langsung mencoblos pilihannya. Dari ruangan khusus melihat tayangan video teleconference, Saya perhatikan beberapa karyawan Unila menanti perhitungan suara yang segera dimulai. Hasilnya, Prof.Dr.Ir.Sugeng P.Harianto, M.S memperoleh 12 suara, Prof.Dr.Sudjarwo,M.S (8 suara), Prof.Dr.Tirza Hanum (8 suara), Prof.Dr.Irwan Effendy (5 suara), Dr.Harris Hasyim (4 suara) dan Prof.Dr.Sutopo Gani Nugroho (2 suara).

Dari hasil tersebut, hanya tiga peraih suara terbanyak yang akan maju ke putaran kedua Pemilihan Rektor Unila. Mereka adalah Prof.Dr.Ir.Sugang P.Harianto (Dekan FMIPA Unila), Prof.Dr.Sudjarwo,M.S (Dekan FKIP Unila) dan Prof.Dr.Tirza Hanum (Pembantu Rektor I Unila).

Besok Rabu pagi (30/5), Mereka bertiga akan mengikuti debat di hadapan civitas akademika (mahasiswa, dosen, dan karyawan Unila) di Gedung Serba Guna Unila. Ada tiga panelis yang akan hadir nanti, yakni: Wahyu Sasongko,S.H,M.H (perwakilan dosen), Pramudya Muhtar,S.H (perwakilan karyawan) dan Abdul Darda (Presiden BEM Unila). Marselina Jayasinga, SE,M.Sc (Pembantu Dekan I FE Unila) akan memoderatori debat itu dari pukul 9 hingga 12 siang.

Siapa pun yang terpilih Rektor Unila nanti harus benar-benar serius membangun Unila ke arah yang lebih baik lagi. Pada tanggal 6 Juni nanti, Senat Unila akan memilih salah satu dari tiga calon ini untuk menjadi Rektor Unila yang akan menentukan Unila pada empat tahun mendatang. Usia 41 Tahun bagi Unila sudah cukup mapan dan selayaknya siap untuk bersaing dengan universitas lain di tingkat Sumatera dan juga di tingkat nasional menjadi Top Ten University. Semoga saja terwujud!

Monday, May 21, 2007

UI Tambah Mewah

(Rencana Jembatan Teksas/foto: Situs UI)
Malam ini (Senin, 21/5), rasanya Saya semakin bertambah kecewa terhadap pendidikan tinggi negeri (PTN) sekarang. Terlebih lagi dengan Universitas Indonesia (UI). Bukan karena Saya iri terhadap pembangunan kampus yang semakin pesat dan berdiri megah di kota Depok ini. Rektor UI ternyata suka kontrak kerja dengan instansi lain yang dirasa mubazir.

Pembangunan proyek jembatan di komplek UI salah satu contohnya baru-baru ini disepakati. Seharusnya, Rektor UI lebih peduli dengan keadaan dunia pendidikan di Indonesia sekarang yang belum membaik. Apalagi para mahasiswanya yang kurang mampu justru harus lebih diperhatikan. Jangan sampai stigma kurang baik masyarakat luar terhadap UI, dipandang hanya milik orang-orang yang berduit saja. Atau ternyata stigma itu benar kini? Merekalah yang punya jawabannya.

Di luar pulau Jawa, masih banyak kampus PTN yang 'terseok-seok' butuh dana untuk membangun gedung, menambah laboratorium, koleksi buku, menyekolahkan para dosennya ke jenjang lebih tinggi, dan lain sebagainya. Apa yang dilakukan UI mencerminkan kesenjangan sosial antar PTN. Jika demikian, sungguh UI belum peduli terhadap kualitas SDM-nya. Sebaliknya, membangun jembatan lebih diprioritaskan.
***

"Jembatan penghubung Hard Science - Soft Science". Demikian tulis judul berita yang dikutip dari situs UI, Senin (21/5) itu. PT Krakatau Engineering, salah satu anak perusahaan PT Krakatau Steel akan membangun jembatan di atas danau puspa yang membentang antara Fakultas Teknik dan fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Kontrak kerjasama telah ditandatangani Senin pagi (21/05) di Kampus Depok.

Rektor UI Prof. Dr.Usman Chatib Warsa, Sp.MK., Ph.D menyebutnya sebagai jembatan penghubung hard science (Fakultas Teknik) dan Soft Science (Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya). Istilah bekennya bisa juga dinamakan jembatan “TEKSAS” (teknik dan sastra). Tetapi menurut Direktur Utama PT Krakatau Steel Daenulhay, secara terus terang mengatakan jembatan ini merupakan promosi dan reputasi perusahaan dipertaruhkan. Karena itu Daenulhay mewanti-wanti kepada pihak PT Krakatau Engineering supaya pembuatan jembatan kuat dan tahan lama.

Dalam paparannya, pihak PT Krakatau Engineering mengatakan semua rangka jembatan dibuat dari baja yang tahan karat dan tahan cuaca dan jembatan dibuat tidak saja untuk para pejalan kaki normal tetapi juga ada koridor untuk pejalan yang buta, serta ada pedestrian yang akan nyaman untuk berjalan di pinggir danau. Di bawah jembatan bisa menjadi tempat untuk saluran kabel fiber optik dari Fakultas tekni ke Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Atapnya dibuat sedemikain rupa, bisa untuk dipasang iklan, tetapi nyaman bagi pejalan kaki di jembatan. Bahkan kontruksi di ujung jembatan dibuat sedemikian rupa, yang melambangkan kemaskulinan dan kefemininan. Warna jembatan pun akan melambangkan warna UI ) kuningdan warna PT Krakatau Steel (merah). Pemancangan tiang akan dimulai pada tanggal 7 Juli 2007 pada pukul 7 pagi.

Monday, May 14, 2007

Selamat Nikah


Suatu hari minggu lalu, saya dan mungkin kebanyakan teman-teman Teknokra dikejutkan dengan kedatangan Kak Urie ke sekret Teknokra. M.Fakhruriza Pradana, nama lengkapnya. Tapi, saya akrab memanggilnya Kak Urie. Ia alumni Teknokra. Terakhir, pernah menjabat sebagai Pemimpin Umum Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra periode 2001-2002. Ketika periode itulah, Saya pertama kali masuk di Teknokra sebagai magang. Sekarang, ia telah bekerja sebagai dosen di Fakultas Teknik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten.

Kabar terkejutnya itu ketika Kak Urie terburu-buru memberikan beberapa lembar plastik undangan dari tasnya. "Kabarnya mau nikah ya, Kak Urie?" tanya Saya. Ia tersenyum saja.
"Wah, berarti gosip itu benar," Saya mengomentari.
Tidak lama dari itu, ia pun segera pamit pulang. Ada beberapa undangan saja yang ia minta agar segera diberikan kepada temannya. Saya melihat, Kak Urie sibuk sekali mengantar undangan pernikahannya. Belum lagi, ia harus membolos mengajar untuk menyiapkan pernikahannya hari Sabtu, 12 Mei 2007 di rumah calon istrinya di Pagelaran, Kabupaten Tanggamus.

***
Sabtu sore, 12 Mei 2007, Doni punya ide membuatkan sebuah hadiah pernikahan untuk Kak Urie. Sebuah gambar Stadion Old Trafford milik 'Setan Merah' Manchester United. Ada nama-nama Para Dewan Syuto di gambar itu. Sebutan ini buat anak-anak Teknokra yang kecanduan main PS (Play Station) Winning Eleven. Dari sejak zaman mereka main tahun 2002 yang lalu sampai sekarang masih menjadi pilihan. Pokoknya, selepas terbit Teknokra-News, pilihannya adalah menyewa PS di daerah Kampung Baru (kawasan hunian anak kostan mahasiswa Unila, red).

Dari generasi tahun 2002 hingga 2007 (sekarang, red), urusan main PS terutama buat para cowok Teknokra yang hobi main WE sampai pagi pun mereka lakoni. Tapi, sayangnya Saya tidak hobi main PS. Hehe..

Hasil rancangan yang dibuat Doni hanya dalam waktu sore itu langsung jadi. Tapi, buru-buru cari rental komputer yang bisa print hasil karyanya, hampir tidak ketemu. Untung saja ada sebuah rental komputer yang memiliki printer yang mampu print foto hasil karya Doni. Setelah tercetak, Doni tak henti-hentinya menatap hasilnya. Tak sabar ingin segera menghadiahkan kepada Kak Urie keesokan harinya di acara resepsinya.

***
Minggu pagi, 13 Mei 2007 sekitar pukul 10, Doni dan Roni belum juga ada kabar akan berangkat bersama dengan Saya naik motor ke resepsinya Kak Urie. Setelah dapat kabar, ternyata ban motor Roni sedang ditampal. "Pecahnya gede!" kata Doni. Mereka berdua berangkat dari kostan Roni. Saya telah menunggu mereka cukup lama di kostan saya. Belum lagi, bingkai untuk gambar hasil rancangan Doni sore kemarin belum dibelikan. Dengan terburu-buru, tidak jauh dari kostan Saya, dapatlah sebuah bingkai yang pas untuk gambar dan lengkap di sana nama-nama para anggota 'Dewan Syuto' itu. Eh, nama saya juga tercantum di gambar Stadion Old Trafford itu. Hehe...

Akhirnya, Saya mengucapkan Selamat Menikah untuk Kak Urie dan Desiyana. Semoga menjadi keluarga yang Sakinah, Mawadah, Warahmah. Amin.

Friday, May 04, 2007

Metro


Hari ini tepat satu bulan yang lalu, Saya, Tukul (panggilan akrab Iskandar, red), dan Nashrullah berangkat dari kampus Unila menuju ke Metro. Kami bertiga, siang menjelang sore itu mengendarai motor. Saya sendiri, sedangkan Nashrul membonceng Tukul berdua. Sebenarnya bukan Metro, persisnya Kecamatan Pekalongan, Kabupaten Lampung Timur. Tapi, Doni, teman saya yang sering dipanggil Donkayz dan juga mantan Pemus Teknokra ini, lebih suka mengaku tinggal di Metro daripada Pekalongan.
"30 meter ke arah sana itu (sambil menunjuk ke arah belakang rumah kediaman bersama keluarganya, red) perbatasan Metro," kata Doni meyakinkan.

Saya percaya dengan Doni. Tentunya, saya sambil tertawa kecil melihat tingkah lakunya ingin meyakinkan teman-teman Teknokra kalau kediamannya di Metro. Doni selalu mengaku tinggal di Metro kepada orang lain yang ditemuinya daripada menyebutnya tinggal di Pekalongan. Terkadang Saya tersenyum sendiri kalau berada di sampingnya mengaku demikian.
"Iya, sekolahnya di Metro. Rumahnya di Pekalongan," Saya meledeknya sambil tertawa.

Malam itu rencananya akan ada acara Yasinan di rumah Doni. Sebagai wujud syukur atas selesai studinya di Jurusan Peternakan Unila dan ulang tahun adiknya, Dirga. Kami semua (teman-teman Teknokra, red) diundang menghadiri di acaranya itu. Tidak hanya anak Teknokra, teman-teman dari Filateli, Menwa dan Mapala pun ikut juga. Tapi, seperti biasa jadwal Teknokra selalu saja molor. Seharusnya datang ba'da Maghrib, malah sekitar pukul 8 malam baru tiba dengan menumpang angkot Rajabasa dari Unila. Cukup banyak yang datang waktu itu datang ke rumah Doni. Tentu saja tak ada yang mau melewatkan momen makan-makan masakan dengan daging kambing, peliharaan Doni di belakang rumahnya. Malam itu benar-benar pesta makan untuk anak-anak Teknokra.

Tentu tidak sekedar makan-makan dari jamuan makan malam, ingin makan buah rambutan tinggal memetik di pohonnya langsung yang ada di depan rumah Doni. Yah, layaknya pesta kebun di depan rumahnya. Saya pun membawakan satu karung buah Duku dari hasil kebunnya Yudi di kampungnya, Suban, Lampung Selatan. Kami semua menikmati makan buah-buahan.

Saya termasuk tidak kuat begadang malam itu. Jadi, lebih baik saya memilih tidur. Tapi, beberapa teman lainnya asik ngobrol di teras rumah Doni. Sedangkan di ruang tamu, sudah berjejer tidur mereka yang telah mengantuk.
***
Besok pagi, yang semalam tidak tidur gilirannya mereka tidur. Tapi, ada juga beberapa yang tidak tidur sama sekali sampai pagi itu. Saatnya makan pagi pun dibuatkan oleh ibunda Doni. Pokoknya, urusan makan malam sampai sarapan pagi ditanggung juga oleh Doni. Dia pun sejak awal sudah menawari kita untuk tidur sekaligus difasilitasi hingga sarapan pagi. Baik ya? Terima kasih banyak atas undangannya, Don! Mudah-mudahan tidak kapok mengundang kita lagi. Hehe...

Tak ada acara makan-makan, tanpa ada foto-foto. Tentu yang satu ini, hampir seluruh anak Teknokra suka difoto. Jadi, kalau melihat album foto Teknokra, yang jarang masuk koleksi foto itu adalah sang fotografernya. Dia harus rela tidak banyak difoto. Nasibnya memang begitu kan? Beberapa koleksi yang difoto oleh beberapa kru Teknokra, saya pilih untuk dipublish di blog ini. Dari sisi ekspresi wajah yang difoto, tentu saja tidak terlupakan selain keindahan foto itu.

Seperti foto pertama di atas, Dwi sedang memeragakan layaknya burung yang ingin terbang. Saya suka sekali foto ini. Rio yang berada di depan, sambil makan sarapan paginya tidak ingin ketinggalan difoto.

Foto berikutnya, tidak ketinggalan teman sekaligus tetangga kita di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), dari UKM Filateli ikut juga ingin difoto bersama. Saya duduk jongkok saja di sebelah kanan. Doni tinggal senyum-senyum saja membelakangin Saya di sebelah kanan itu. Sedangkan Weni alias Wewek, salah satu kru magang Teknokra, tidak ingin melepaskan sejumput rambutan yang ada ditangannya.

Foto terakhir ini saya suka dengan gaya Rio dan Andri yang melompat agar dapat difoto oleh Reza. Rio sepertinya sangat bersemangat ingin melompat lebih tinggi lagi bak ksatria di film-film Jepang. Huuuppp....!!!!

Saturday, April 28, 2007

Belajar Buat Blog

"Kak, kapan kita belajar buat blog lagi?" kata Lili, reporter magang Teknokra kepada saya suatu hari. Saya hanya bilang, "Kapan saja Kamu mau belajar. Terserah waktunya aja,"ujar saya.

Seperti juga Dewi, teman satu angkatan Lili di Teknokra, juga pernah menanyakan kepada saya tentang IHT (In House Trainning) cara membuat Blog untuk mereka. Sebenarnya, saya senang sekali bisa membantu membimbing mereka. Lagi pula, mereka senang ketika saya mengenalkan ada sarana untuk menuangkan ide-ide di pikiran yang kemudian dapat dituliskan, lalu dibaca semua orang yang mengakses internet.

Menunggu cukup lama dari mereka berdua ingin belajar membuat blog tak kunjung tiba. Selain sibuk kuliah, mungkin mereka sedang tengah menyiapkan kepanitiaan acara "Rally Photo" yang diadakan Teknokra. Saya harus maklum dengan yang satu ini.

Terkadang mengenang diri sendiri, senang sakali kalau diberi kesempatan berbagi ilmu yang pernah saya dapatkan, terutama kepada magang Teknokra. Tidak saja sekedar memberikan /mengajari ilmu jurnalistik, tapi membimbing mereka membuat Blog suatu kali. Mereka bisa menuliskan dari cerita sehari-harinya itu, lalu dipraktekkan dengan gaya narasi (bertutur, red). Saya pun senang menggunakan gaya ini di hampir setiap tulisan Blog saya. Saya hanya berharap, mudah-mudahan keinginan belajar Blog, juga akan meningkat kemampuan menulis, terutama di Blog mereka masing-masing.

Berbagi ilmu dan pengalaman, tentu buat saya senang sekali. Rasanya seperti bertambah kembali apa yang pernah saya pelajari sebelumnya. Intinya, saya ingin berbagi cerita kepada mereka dan memotivasi agar dapat mengeluarkan ide-ide pemikirannya ke dalam tulisan (Blog).

Tuesday, April 24, 2007

Suatu Malam di Margonda Raya

SUATU malam di bulan Maret lalu, udara terasa cukup dingin. Sepertinya tanda-tanda akan turun hujan. Namun, beberapa lama kemudian hujan pun tak tampak akan mengguyur kota Depok yang selalu ramai orang pada malam hari. Apalagi di sepanjang jalan Margonda Raya. Mungkin saja di saat musim hujan seperti sekarang, setiap malam hari udara terasa dingin. Terkadang jika tiba-tiba ada angin berhembus, kulit saya terasa menggigil. Dingin.

Saya menikmati betul setiap kali berada di kota Depok. Ramainya tidak sama seperti di Jakarta. Terutama dari jumlah kendaraannya. Agak sedikit ramai. Tapi, kalau di saat jam kerja dan jam pulang kerja, bisa-bisa di jalan itu penuh sesak kendaraan yang hendak ke arah Jakarta. Atau pun sebaliknya.

Barangkali orang-orang yang bekerja di Jakarta memilih tinggal di kota pinggiran macam Depok, Tangerang atau Bogor. Daripada tinggal di Jakarta yang hampir tidak ada lagi tempat hunian yang cukup luas, kecuali apartemen yang semakin banyak didirikan. Selain itu pula, Jakarta semakin pesat pertumbuhan dan pembangunan gedung-gedung perkantoran. Tentu saja tempat hunian tidak lagi cocok untuk zaman sekarang dengan penduduk kota DKI Jakarta lebih dari 7 juta jiwa.
**
Entah saya telah berapa kali singgah di kota Depok. Saya sering menumpang menginap di kostan teman SMA saya. Dia masih mahasiswa FE-UI Depok dan bekerja di sebuah perguruan tinggi swasta di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kostannya tidak jauh dari jalan Margonda Raya. Daerah itu kebanyakan para mahasiswa dari UI Depok yang indekost di sana. Di dekat daerah itu pun ada sebuah kampus swasta yang berdekatan dengan kampus UI..

Saya suka jalan-jalan ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi. Ada dua pusat perbelanjaan di pinggir Jalan Margonda Raya itu. Saya jadi tertarik ingin masuk ke sana. Padahal, awalnya saya enggan masuk ke salah satu dari dua pusat perbelanjaan yang saling berhadapan itu. Tapi, karena rasa penasaran yang semakin tak tertahankan, saya coba satu per satu mencoba masuk ke pusat perbelanjaan itu. Saya mencoba masuk ke Depok Town Squere. Di sana, beberapa ruko di lantai atas masih terlihat kosong. Belum diisi calon penjual. Sayang sekali bangunan yang begitu megah, tapi sedikit para penjual yang biasanya gerai butik dan baju-baju.

Setelah cukup puas melihat-lihat Detos atau sebutan pendek dari Depok Town Squere, saya penasaran dengan pusat perbelanjaan yang berada di seberangnya. Bangunannya terlihat luas, tapi tidak menjulang tinggi. Untuk mencapai ke sana pun ada sebuah travel yang siap mengantar hingga ke pintu utama pusat pebelanjaan itu. "Ehm, sepertinya berbeda dengan yang tadi (Detos, red),"pikir Saya.

Sempat sang sopir mobil sejenis angkutan travel itu mengajak saya ikut. Beberapa penumpang sudah berada di dalam. Itu kendaraan gratis antar-jumput buat pengunjung Margo City, nama pusat perbelanjaan itu. Sempat tertarik mengikuti ajakannya, tapi akhirnya saya lebih tertarik jalan kaki dari pinggir jalan Margonda Raya sampai ke pintu masuk pusat perbelanjaan itu.

Sepanjang jalan kaki menuju masuk ke Margo City, terlihat sebuah café yang terlihat menarik. Ada lantunan lagu dari sekelompok anak muda yang lengkap dengan memainkan alat musik. Seperti pertunjukkan band kecil di depan penonton yang kebanyakan sambil duduk di depan teras café itu. Saya pun mampir ikut mendengarkan beberapa lantunan lagu pop yang mereka sajikan.

Café itu dengan bangunan yang terlihat kuno, ternyata punya sejarah panjang hingga masih bertahan di sana seperti aslinya. Saya lihat ada beberapa tulisan yang menceritakan sejarah Depok Kuno dan Rumah Tua Pondok Cina. Sepertinya sengaja dibuat pengelola pusat perbelanjaan itu. Jika malam hari, tulisan itu terlihat terang dan indah menghiasi sepanjang ruas jalan untuk pejalan kaki yang ingin berbelanja di sana.

Mengutip Han Soediro dari blog-nya (www.goblogk.blogspot.com), dia menceritakan "Depok Lama". Orang-orang Depok seharusnya tahu sejarah awal berdirinya Depok dengan membaca tulisan ini, bukan? Tidak hanya Jakarta punya kisah panjang, Kota Depok pun turut mengisahkannya kepada anak-cucunya dengan masih ada salah satu bangunan milik Belanda yang tersisa di dekat pusat perbelanjaan itu. Café Oh Lala. Café yang sekarang menjadi tempat menikmati suguhan minuman dan lantunan lagu-lagu dari anak-anak muda zaman sekarang. []

Saturday, March 31, 2007

Elit Politik Sebabkan Negara Miskin

Judul di atas adalah kesimpulan saya setelah menelusuri dan membaca beberapa suratkabar akhir-akhir ini. Bukan tanpa alasan saya berkesimpulan seperti di atas. Saya kira kalau ada sebuah lembaga independen yang nantinya membuat sebuah riset untuk mensurvei, mangapa negara ini sulit maju setelah kejatuhan rezim Orde Baru? Saya yakin responden akan banyak menjawab bahwa ulah para elit politik lah yang menyebabkan terhambatnya negeri yang kaya sumber daya alam ini sulit maju. Bahkan, jauh sekali dengan negara tetangga kita seperti Malaysia.

Selain membaca sejumlah suratkabar nasional yang berkaitan dengan kesejahteraan Indonesia, saya pun tak sengaja berdiskusi dengan teman saya. Masih berbicara tentang mengapa kita sangat jauh tertinggal dengan negara-negara lain. Tapi, selain elit politik, sebuah negara pun sangat dipengaruhi dengan 'sepak-terjang' para pengusaha yang 'ambisius'.
"Hampir semua negara di dunia dikendalikan para pengusaha yang punya modal besar," kata teman saya itu.

Saya sepakat pernyataan itu. Bagaimana tidak, seperti di Indonesia banyak sekali para elit politk berpihak kepada para pengusaha kaya. Ya, meskipun 'tangannya' tidak tampak oleh publik, tapi di balik para elit politik pasti punya dukungan dari para pengusaha yang rakus itu. Mental kapitalisme yang mirip dengan negara Amerika Serikat dan Eropa Barat.

Boleh jadi negara kita sudah hampir sewindu menghirup udara demokrasi. Tapi, tak berbeda jauh ketika di zaman Orde Baru. Yang miskin malah bertambah miskin. Jauh dari harapan akan semakin ada perubahan ke arah lebih baik kesejahteraannya.

Sebuah harapan dan cita-cita menjadi negara ke arah lebih baik dari sebelumnya belum tercapai. Jika mental para elit politik dan juga pengusaha masih tamak dan mementingkan diri sendiri, tidak akan mungkin negara kita akan bisa tercapai kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia, seperti amanat dalam UUD 1945.

Hanya berharap saja akan sulit, jika cita-cita negara ini berniat mensejahterakan masyarakatnya, alih-alih para elit politik dengan leluasa mempermainkan negara ini. Sekali lagi mereka melakukan itu hanya untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya (partai politik, red). Masihkan kita tetap berdiam diri dan hanya menjadi mainan para elit politik negeri ini?

Wednesday, March 14, 2007

Sebuah Kebetulan


SEJAK saya berada di Jakarta kurang dari dua bulan lamanya, cukup banyak pengalaman yang saya dapatkan. Bukan saja sekedar pengalaman dan tantangan baru, saya bertemu banyak orang baru. Lalu, berkenalan dengan mereka dan saling tukar kartu nama. Tapi, sayangnya saya belum punya kartu nama yang terbaru. Yah, cukup saling tukar nomor HP atau e-mail saja.

Yang lebih bahagia dari itu semua adalah saya bisa bertemu dengan kakak saya ketika ia akan mengikuti pertemuan di sebuah perusahaannya yang berpusat di Jakarta. Namanya Evans. Saya lebih suka memanggilnya Eq. Hampir tidak pernah saya memanggilnya dengan mas (sapaan orang Jawa, red) atau kak. Sudah terbiasa sejak dari kecil memanggilnya tanpa sapaan kakak atau mas. (Foto: suasana senja di lantai atas Blok M Plaza)

Sebuah kebetulan sekali di awal Februari kemarin. Ia datang dari Papua. Perusahaannya menempatkan ia di sana hampir dua tahun lamanya. Sejak hampir satu tahun ini, saya tidak bertemu dengannya. Eq bilang, setelah selesai pertemuan di kantor, ia akan ke Palembang dan menemui ibu dan ayah kami di sana. Sayangnya, saya tidak bisa ikut dengannya ke Palembang.

Eq punya jiwa perantau. Sampai ke pelosok daerah mana pun di Indonesia, ia siap. Ia tidak mundur ketika diminta perusahaannya untuk pindah. Sebelum ditempatkan di Papua, ia ditempatkan di daerah Tulang Bawang, Lampung. Perusahaannya bergerak di bidang industri pengolahan minyak sawit menjadi minyak goreng. Dari ujung sumatera sampai Papua, perusahaannya ini mengelola kelapa sawit yang berpotensi. Tapi, kakak saya bukan di pengelolaan sawitnya. Ia di bidang sipil. Karena ia dulu jebolan sarjana teknik sipil di sebuah universitas di Palembang.

Kebetulan kedua, kemarin sore saya janjian bertemu dengan sepupu saya di Blok M Plaza. Sebelumnya, ayah saya yang mengabari saya kalau sepupu saya sedang berada di Jakarta Namanya Taufik. Beda dengan kakak saya, Eq. Saya akrab memanggil sepupu saya ini dengan Mas Taufik. Entahlah, karena keluarganya di Mojokerto, Jatim lebih sering memanggil sapaan ‘mas’.

Mas Taufik hampir lebih dari lima tahun bekerja di kapal. Di bawah bendera sebuah perusahaan anak mantan presiden Suharto. Ia bukan sebagai nahkoda, tapi bertugas marconi, semacam radio control di kapalnya yang mengangkut minyak BBM.

Senang sekali bisa bertemu lagi dengan sepupu saya ini. Terakhir saya bertemu dengannya ketika saat syukuran nikahannya di Mojokerto, Jatim pada bulan September 2006 lalu. Kami bertiga: Saya, Ibu dan Ayah saya saja dari Palembang yang datang ke acara syukurannya. Sedangkan kakak perempuan saya tidak bisa ikut karena masih sibuk dengan pekerjaannya ketika itu.

Sambil menikmati makan malam di sebuah gerai makan, saya ngobrol banyak dengan Mas Taufik. Katanya, ia sedang diklat di daerah Priok untuk persiapan pindah ke kapal yang akan mengangkut gas (LNG).

Alangkah bahagianya bisa betemu dengan keluarga sendiri. Sekali pun sekedar ngobrol dan menanyakan kabar keluarga di rumah. Tapi, saya melihat dari sorot matanya agak sedih. “Mas ini sebenarnya sedih kalau melaut (berada di laut, red), Rik. Tapi, gimana caranya bisa terlihat senang di depan orang tua,” katanya kapada saya. Saya jadi mengerti dengan kesedihannya berlayar setelah tahu dari ceritanya. Kini, ia bertambah cobaannya. Ia harus meninggalkan istrinya di rumah. Yah, demi mencari nafkah untuk keluarga barunya itu. []

Wednesday, February 14, 2007

Peraturan (Bukan) Untuk Dilanggar

Senin malam itu, seperti biasa di sepanjang Jalan Margonda Depok padat dengan kendaraan bermotor yang hilir mudik. Hampir setiap hari di jalan itu tidak pernah sepi dengan kendaraan yang menghubungkan Jakarta Selatan dengan pusat kota Depok. Tidak hanya kendaraan saja yang ramai, di sepanjang jalan itu pula ada dua pusat perbelanjaan. Lokasinya saling berseberangan dan cukup megah terlihat bangunannya dari pinggir jalan itu.

Tidak hanya pusat perbelanjaan itu saja yang selalu ramai. Di pinggir sepanjang Jalan Margonda juga terdapat banyak gerai-gerai makan yang bermacam-macam menu hidangan. Belum lagi di sepanjang trotoar jalan didirikan banyak warung makan kaki lima. Ada pula banyak pusat game dan warnet yang juga ikut meramaikan di daerah itu. Sehingga, bertambahlah salah satu pusat keramaian di kota Depok.

(Foto: Monumen Nasional atau Monas di minggu malam)

Saya baru beberapa kali ke kota Depok.Tujuan saya tepatnya ke kampus UI Depok buat mencari literatur buku melengkapi penelitian saya di perpustakaan Fisip dan perpustakaan pusat. Terkadang dari pagi sampai sore menjelang Maghrib, saya berada di sana. Bahkan hampir saja lupa waktu berada di kampus. Untung saja bisa dapat tumpangan menginap di kostan Fadli, teman SMA saya, tidak jauh dari jalan Margonda.

Tapi, malam itu tidak terduga-duga. Saya pulang dari kampus UI Depok melewati jalan pintas yang sering dilalui sepeda motor dan menyeberangi pintu perlintasan KRL. Ketika masuk jalan Margonda, saya memutar arah di tempat yang dilarang. Ada sebuah rambu-rambu lalu lintas dilarang memutar. Memang biasanya saya sering memutar di sana. Namun, sayangnya aksi memutar saya itu telah diawasi polisi dari pinggir jalan.

Setelah saya memutar balik arah, tiba-tiba saja seorang polisi menyuruh menepikan sepeda motor saya. Ah, kena deh gw ditilang polisi, pikir saya ketika itu. Kejadian itu teringat dengan sebuah iklan rokok yang menggambarkan seorang cewek mengendarai mobil. Ketika itu sang cewek sebelum memutar arah mobilnya, ia melihat sekelilingnya. Memastikan tidak ada polisi yang memperhatikan mungkin. Padahal, sebuah rambu-rambu lalu lintas dilarang memutar di sana terlihat jelas. Setelah berhasil memutar, ada seorang polisi tiba-tiba muncul dari sembunyinya di balik semak-semak. Ya, seperti itulah ilustrasi kejadiannya persis sama dengan yang saya alami ketika itu.

Tidak bisa mengelak lagi ketika dicegat polisi. Jelas-jelas terbukti saya telah melanggar. Awalnya saya akan ditilang dan membayar denda di kantor polisi. Tapi saya menolak itu karena saya mengatakan dari luar kota. Ya, akhirnya polisi itu mau berdamai dengan membayar (denda) sebesar Rp20ribu. Jumlah yang cukup besar buat saya. Ini jadi pelajaran untuk jangan sekali-kali melanggar rambu-rambu lalu lintas yang ada. Atau sang polisi siap mencegat Anda jika terbukti melanggar seperti yang saya alami baru-baru ini. Semoga saja tidak terulang kembali. Peraturan (bukan) untuk dilanggar.

Wednesday, February 07, 2007

Jakarta Banjir

HUJAN terus berlangsung lebih dari tiga hari akhir pekan lalu. Sebagian warga Jakarta mulai khawatir akan terjadi banjir. Ternyata benar, dugaan itu menjadi kenyataan. Hampir sebagian besar wilayah Jakarta terendam air akibat hujan terus-menerus.

(Foto: Sejumlah motor pindah jalur ke ruas jalan sebelah kanan yang lebih tinggi di Jl.Rasuna Said, Kuningan)

Semua media massa mulai mengangkat musibah ‘besar’ banjir di Jakarta. Metro TV lebih sering menayangkan program acara Breaking News kepada pemirsa. Sejumlah kru-nya mendatangi tempat-tempat yang parah terkena banjir. Mereka menayangkan keperihan wajah para warga yang rumahnya tergenang air. Supaya tampak human interest di layar kaca televisi?

Saya baru sempat jalan keluar dengan mengendarai motor menelusuri sejumlah jalan di Jakarta, Senin kemarin (5/2). Sebelumnya saya berencana menemui Imansyah di Wisma Kodel daerah Kuningan. Ia kakak tingkat saya dulu waktu SMA, alumni tahun 1993. Sekarang ia bekerja di sebuah majalah komputer sebagai editor di sana. Padahal, ketemu dengannya saja belum pernah. Sudah sejak lama saya tahu dengan namanya saja. Itu pun setelah bergabung di milis SMA yang kebanyakan adalah para alumni dari sekolah kami.

Namun, tidak disangka ketika saya sampai di daerah Kuningan, pesisnya di depan Wisma Jasa Raharja, kemacetan kendaraan bermotor mulai tampak. Di sisi kiri jalan yang lebih rendah, ada genangan air hingga sepanjang jalan ke arah depan. Kalau mengendarai sepeda motor dibandingkan mobil mungkin agak lebih leluasa melakukan berbagai ‘manuver’ ala Valentino Rossi. Batas pemisah jalan saja bisa dengan mudah ‘dilompati’ ke ruas jalan yang berdekatan. Sementara kebanyakan mobil terjebak kemacetan.

Saya pun terkadang terkesima dengan ulah para pengendara sepeda motor di Jakarta. Mereka cekatan. Salip sana, salip sini. Pokoknya kalau ada sisa ruas jalan yang kosong saat terjadi macet, dengan mudah menyalip banyak mobil, bus dan truk di depan, sisi kiri dan kanan. Saya jadi banyak belajar dengan tingkah mereka di jalanan setelah cukup lama berada di Jakarta. Meskipun demikian, yang paling penting harus tetap waspada agar tidak menyerempet kendaraan di sisi kiri dan kanan. Apalagi sampai menabrak spion mobil yang ujung-ujungnya berurusan dengan si korban pengendara mobil itu.

Spontan saja saya mengikuti para pengendara motor lainnya pindah ke ruas jalan yang lebih tinggi. Ramai sekali di sana kendaraan yang terkadang terhenti dan berjalan ‘merayap’. Saya melihat genangan air di seberang gedung Jasa Raharja yang tidak jauh dari gedung Wisma Kodel. Di depan jalan gedung itu ternyata terkena banjir setinggi lutut sampai pinggang orang dewasa.

Beberapa pintu masuk gedung perkantoran itu ditimbun dengan karung-karung yang berisi pasir yang tersusun seperti pagar. Gunanya agar genangan air banjir tidak sampai masuk ke dalam gedung perkantoran. Tapi, beberapa gedung perkantoran sisi kiri dari arah Tol Gatot Subroto ke arah Kuningan dan Bundaran Hotel Indonesia, saya lihat air telah mencapai tingginya leher orang dewasa.

Di beberapa lokasi banjir, terkadang saya menjumpai wartawan TV. Seorang kamera dan seorang lagi reporter sedang memegang mic. Saya memperhatikan mereka menelusuri genangan air hingga ke tengah. Entahlah apa maksud mereka melakukan itu. Mungkin mereka ingin siaran laporan langsung dari tempat yang masih tergenang banjir.

Semoga saja banjir terbesar setelah tahun 2002 lalu di Jakarta ini sudah semakin berkurang. Pengalaman yang tak terlupakan ikut menyaksikan sendiri banjir besar di Ibukota negeri Republik Indonesia ini. []

Friday, February 02, 2007

Teman Lama dan Kampus Jaket Kuning

TERKADANG saya tersenyum sendiri memperhatikan isi balasan sms dari teman saya. Kebanyakan mereka adalah teman saya ketika SMA dulu di Pelembang. Ketika saya coba sms di antara mereka, ada satu yang membalas sms saya dan menanyakan begini,”Sori, Erie yang mana ya?”tulisnya di sms ke HP saya. Saya langsung tersenyum sendiri sambil menggelengkan kepala, “Kok bisa lupa sama temannya sendiri ya,”pikir saya.

Selekasnya saya balas, kurang lebih saya mengirim sms begini,”Wah..susah ya kalo mo jadi orang terkenal:) Ini Erie Khafif. Masak lupa sih. Oia, ngekost di mana?” Kemudian, teman saya ini pun kembali membalas sms saya,”Oh erie!ya ampun sori2..btw mang skg kul dmn?” Waduuhh….hari gini masih tanya saya kuliah di mana, padahal sudah hampir enam tahun saya di Lampung, dia tidak tahu.

Yang saya tahu teman saya ini melanjutkan kuliah di Universitas Pancasila setelah lulus D3 dari Politeknik Bandung. Katanya, dia ngekost dekat dengan Univ Pancasila, daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Saya mengajak dia buat bertemu di kostannya. Tapi, katanya hari itu dia akan mengikuti tes TOEFL di kampusnya. “Kt atur deh..skg a lg d kmpus mau tofl,”sms-nya kepada saya.

Beda lagi teman SMA saya yang lain. Kebetulan dia sekarang sudah bekerja di Jakarta. Saya lupa menanyakan dia bekerja di bidang apa dan di daerah mana dia tinggal. Ketika saya sms ke dia dan menanyakan kabar dan tempat dia tinggal, dia membalas dan menanyakan, “siapa ini?” Waduuuhh….lupa atau pura-pura lupa teman saya ini, pikir saya. Saya cuma bilang kepadanya, ini Erie teman SMA dulu. Eh, syukurlah dia masih ingat dan ternyata dia lupa masukan no HP saya.

Kalau dihitung-hitung, cukup banyak teman saya yang kini bekerja dan menetap di Jakarta. Kebanyakan mereka adalah teman saya ketika SMA dulu di Palembang. Ada juga teman dari SD dan SMP, tapi sudah lama tidak pernah kontak. Kalau saja saya punya kontak mereka, ingin sekali saya menghubungi mereka dan menanyakan kabarnya. Jika sempat, malah saya ingin bersilahturahmi ke rumah atau kostannya.

***
KE Jakarta, tidak lupa mampir ke Depok. Ada Fadli, teman SMA dulu yang tinggal di sana. Dia ngekost tidak jauh dari UI Depok. Kadang-kadang saya menumpang menginap di kostannya. Tujuan saya ke UI Depok adalah mengumpulkan bahan-bahan referensi untuk skripsi saya. Beberapa kali saya pergi-pulang mengendarai sepeda motor dari Kebayoran Lama ke UI Depok. Di perpustakaan Pusat UI, cukup banyak buku-buku yang bisa jadi referensi saya. Begitu pula di perpustakaan FISIP UI, tersedia banyak buku-buku yang sesuai dengan jurusan saya (Ilmu Komunikasi, red).

Perpustakaan FISIP UI dinamakan Miriam Budiarjo Resource Center. Tempatnya, seingat saya di lantai dua dan tiga gedung D, FISIP UI. Saya kagum sekali saat pertama kali melihat perpustakaan ini dinamakan seorang perempuan pendiri FISIP UI. Kini Ibu Miriam Budiarjo telah meninggalkan kita semua, setelah beberapa waktu yang lalu meninggal dunia karena sakit. Saya mengagumi sosok Ibu Miriam Budiarjo sebagai dosen senior Ilmu Politik di FISIP UI ketika masih hidup. Meskipun belum pernah bertemu dengannya, tapi pertama kali saya mengenal Ibu Miriam dari sebuah buku wajib bagi mahasiswa FISIP, “Dasar-Dasar Ilmu Politik”

Dari situ saya mengenal beliau pertama kali ketika saya kuliah semester satu, mendapatkan mata kuliah Pengantar Ilmu Politik di FISIP Unila. Itu enam tahun yang lalu. Tapi saya masih ingat betul sampai sekarang dengan almarhum Ibu Miriam Budiarjo. Sungguh beruntung bagi mahasiswa yang pernah diajarkan beliau ketika masih sehat bugar. Mungkin saja mahasiswa dulu yang pernah diajar oleh Ibu Miriam, kini adalah para pakar di berbagai bidang politik dan pemerintahan, macam Arbi Sanit.

Ketika saya pertama kali memasuki perpustakaan FISIP UI itu, kesan di dalam perpustakaan itu sungguh nyaman dan tertata secara artistik. Ada kursi sofa berbahan kulit di sana. Di atas meja dekat kursi sofa, ada sejumlah koran nasional yang terbit hari itu. Tidak jauh dari sofa itu juga, ada sekitar empat unit komputer tertata rapi. Fungsinya untuk mencari informasi buku, skripsi, pengarang, dan beberapa literatur lainnya untuk menemukan sesuai keinginan mahasiswa. Semacaman alat search engine yang selalu ter-up date. Saya pernah mencobanya ketika akan mencari salah satu buku dan skripsi.

Di bagian atas, terdapat sejumlah papan bertulis dengan bentuk dan warna orange yang artistik. Salah satunya yang sempat saya potret, ada foto Almarhumah Ibu Miriam Budiarjo dan testimoni yang bertuliskan,”Bu Mir tidak pernah berkecimpung secara langsung dalam politik praktis, namun beliau bukanlah seorang ilmuwan yang semata-mata membatasi diri pada kegiatan di ‘menara gading’” oleh Harold Crouch.

Untuk mencapai ke lantai dua, ada tangga memutar. Di lantai dua ini terdapat sejumlah komputer yang dapat diakses bagi para mahasiswa FISIP UI. Saya tidak tahu, apakah hanya digunakan untuk Sistem Informasi Akademik (SIAK) online saja atau bisa juga untuk akses internet. Seperti di kampus saya, Unila, punya Sistem Informasi Akademik (Siakad) sejak tahun 2000 lalu. Siakad adalah sarana akademik mahasiswa, mulai dari KRS, KHS, transkrip nilai, dan lainnya. Kesemuanya itu terkomputerisasi secara online dan tersimpan di pusat server.

Ada juga buku-buku yang saya temui di Miriam Budiarjo Resourse Center ini, hanya dapat dibaca di sana dan tidak bisa dipinjam, apalagi dibawa pulang. Biasanya buku-buku itu termasuk kategori referensi macam ensiklopedia, jurnal ilmiah, majalah, tabloid, dan masih banyak lagi lainnya. Saya tidak hapal betul susunan buku-buku di dalam rak yang tertata rapi yang masing-masing dari itu dibuat nomor urut klasifikasi buku.

Saya betul-betul menikmati sebuah tempat baca yang nyaman sekaligus memiliki banyak buku-buku bagus dan cukup lengkap. Bahkan, sejak pagi sampai sore saya betah mengelilingi dari satu rak ke rak lainnya, mencari buku-buku yang saya butuhkan. Setiap sudut ruangannya pun dingin oleh AC. Lantas terpikirkan oleh saya, kalau saja perpustakaan di kampus dan fakultas saya sama seperti di sini (UI Depok, red), tidak perlu pergi jauh-jauh lagi saya menyeberangi pulau dari sumatera ke jawa buat referensi skripsi saya. Mungkin hal yang wajar, karena di Jakarta semua akses untuk semua buku-buku keperluan setiap mahasiswa di sana tersedia dengan cukup lengkap. Saya mungkin hanya bisa berharap kelak saya setelah lulus dari almamater kampus tercinta saya, perpustakaannya bisa selengkap kampus jaket kuning ini.

Mungkin ada satu hal yang buat saya kaget dan tidak menyangka adalah di hampir tiap gedung UI (mungkin, red) tersedia hotspot. Namanya Hotspot UI. Para mahasiswa yang memiliki laptop/notebook dapat menggunakan akses internet di mana pun mereka suka. Asalkan masih berada di lingkungan kampusnya. Terkadang saya menjumpai mahasiswa di kantin, sedang menatap layar laptopnya dan sembari asik ngobrol dengan teman-temannya. Di beberapa sudut gedung pun jika ketemu colokan listrik yang tidak sedang digunakan, maka di sanalah si mahasiswa tinggal menancapkan kabel sumber tenaga (power supply AC) buat laptopnya, lalu browsing ke dunia maya.

Hotspot adalah akses internet tanpa kabel di suatu tempat tertentu. Biasanya laptop/notebook merk saat ini telah mendukung Hotspot dengan jenis Wireless 802.11b/g. Saya lupa persisnya secara teknis kode tersebut, karena baru belakangan ini saya mempelajari secara otodidak tentang perangkat untuk akses internet tanpa kabel. Selain laptop punya perangkat yang mendukung Hotspot, ada pula sebuah alat pemancar signal untuk Hotspot. Bentuknya saya pun belum pernah lihat seperti apa.

Mengutip obrolan dengan rektor saya tentang Hotspot Unila ketika bersilahturrahmi di ruang kerjanya, menemani Yudi dan Doni (keduanya mantan Pemum dan Pemus Teknokra) akhir tahun lalu. Katanya, Hotspot di Unila baru akan dilakukan pada tahun ini. Paling lambat mungkin mulai tahun depan. Tetapi, hanya baru beberapa gedung saja yang terdapat Hotspot-nya. Yah, semoga saja dapat segera direalisasikan agar para mahasiswanya dapat mengakses internet di mana saja.

***
Sore hari, pemandangan di sekitar danau UI ramai orang. Tampak beberapa orang sedang berada di ‘bibir’ danau itu. Mereka ada yang sambil duduk, ada pula yang sambil berdiri memegangi sebuah gagangan panjang mengarah ke danau itu. Mereka sedang memancing ikan. Saya memperhatikan mereka dari dekat, bagaimana mereka memancing. Mulai dari memasang umpannya sampai melemparkan pancing yang telah diberi umpan tadi ke danau itu sejauh-jauhnya. Bahkan di antara mereka itu tidak menggunakan umpan di pancingnya. Cukup dengan beberapa pancing yang terikat kuat dan pemberat yang terbuat dari timah. Gunanya pemberat pancing itu agar dapat dilemparkan sejauh-jauhnya ke arah tengah danau. Hasilnya cukup lumayan. Sekali tarikan pancing minimal ada satu ekor ikan yang didapat.

Di sekitar danau, terlihat teduh dengan banyak pepohonan. Seperti berada di sebuah Kebun Raya Bogor. Semua masih tampak hijau dan asri. Kecuali, di pinggir danau itu terlihat bekas-bekas sisa sampah yang tergenang di atas permukaan. Kebanyakan berbahan plastik. Tapi, tetap saja para pemancing ikan di sana betah duduk di pinggir danau, karena mereka kerap mendapat ikan hasil dari pancingannya.

Kalau saja danau itu bisa dijaga kelestarian dan kebersihan dari sampah-sampah, akan lebih baik terlihat indah pemandangannya. Tidak hanya danau dekat Masjid UI itu saja yang perlu dijaga kebersihan dari sampah, tapi di tempat lain (masih di komplek UI Depok, red) ada sebuah danau lagi dekat Politeknik Negeri Jakarta. Di sana pun menjadi tempat sasaran masyarakat yang hobi memancing. Terlebih lagi di saat musim hujan, cukup banyak ikan yang tertangkap dari usaha mereka memancing. Tentu saja membuat betah berlama-lama memancing dan pulang dengan tangkapan ikan yang banyak.

***
Jika Anda jalan kaki dari satu fakultas ke fakultas lain, pasti Anda akan lelah. Ternyata di UI Depok punya bus untuk mengangkut para mahasiswanya. Bus ini mengelilingi komplek UI dan akan berhenti di setiap fakultas. Di masing-masing fakultas, di pinggir jalannya ada halte. Di sanalah para mahasiswa menunggu bus yang datang menjumput dan mengantar ke fakultas berikutnya. Begitu seterusnya, seperti tawaf mengelilingi Ka’bah di Makkah.

Saya kemudian jadi teringat dengan teman-teman saya yang kuliah di Universitas Sriwijaya. Mereka berangkat dari kota Palembang menuju kampus Unsri Inderalaya, Kabupaten OKI yang jaraknya sekitar 40-an kilometer. Ada beberapa bus Unsri yang telah disediakan untuk para mahasiswa menuju ke kampus. Bus berwarna kuning ini kerap hampir setiap pagi menjadi rebutan bagi para mahasiswa yang telah menunggu di pusat kota Palembang. Biasanya mereka telah menunggu di daerah jalan Sudirman, depan Bank Danamon.

Saya ingat betul dari cerita teman beberapa tahun yang lalu, sampai ada saja terjadi peristiwa mahasiswa yang terluka akibat terhimpit sesama mahasiswa lainnya. Ada yang terinjak-injak karena saling rebutan bus. Entahlah, saya belum pernah melihat langsung kejadian yang memilukan itu. Tapi sekarang, saya tidak tahu persis apakah masih ada para ‘pahlawan’ pengejar bus kampus Unsri?

Sebenarnya juga karena kesamaan simbol warna kuning almamater UI dengan Unsri ini adalah sebuah kebetulan saja saya menceritakannya di sini. Tak bermaksud membanding-bandingkan satu kampus ini dengan kampus itu. Yah, karena sebuah kebetulan. Itu saja. Jika ada yang positif dan bermanfaat, silahkan saja diambil. Saya sangat bersyukur sekali.

Nah, anggap saja semua cerita saya ini sebagai sebuah pengalaman perjalanan selama menelusuri kota Jakarta dan UI Depok demi mencari ilmu yang bermanfaat kelak sebagai bekal hidup. Setiap momen tak akan terulang dua kali. Prinsip ini selalu saya ingat. Jadi, sangat disayangkan jika setiap momen akan hilang begitu saja. []

Tuesday, January 30, 2007

Dari Salemba ke Depok

Hampir sepuluh hari lebih saya berada di Jakarta. Tidak terasa memang, seperti berada di kota kelahiran sendiri. Padahal, Jakarta adalah kota metropolitan yang sangat ramai penduduknya jika dibandingkan dengan kota mana pun di Indonesia.

Saya beruntung punya teman di Jakarta yang mau menampung saya. Lebih tepatnya ia teman sekaligus kakak tingkat saya dulu ketika ia pemimpin redaksi di Teknokra Unila tahun 2003 lalu. Sudah hampir dua tahun lebih ia hijrah ke Jakarta dan bekerja di sebuah harian nasional.

Selain ia, ada kakak tingkat saya yang lebih dahulu awal ke Jakarta. Ketika masih mahasiswa sekitar tahun 2004, Ia dipercaya sebagai pemimpin redaksi di Teknokra Unila. Sekarang ia juga bekerja di sebuah koran harian nasional di Jakarta. Pengalamannya sebagai reporter di lapangan cukup banyak ia dapat. Teman-teman seprofesinya pun dari berbagai macam media massa di Jakarta.

Ada satu lagi kakak tingkat saya yang ketika dulu juga pernah dipercaya sebagai pemimpin redaksi Teknokra Unila pada tahun 2002. Tapi, ia belum genap satu tahun hijrah di Jakarta dan bekerja di sebuah harian nasional.

Kalau saya lihat, kebanyakan mereka mantan pemimpin redaksi ini setelah menyelesaikan studi, kemudian langsung bekerja di media massa. Sebuah kebetulankah? Entahlah, saya yakin mereka berniat berprofesi menjadi seorang jurnalis. Suatu saat nanti mungkin saya pun demikian mengikuti jejak mereka. Tapi, setelah saya lebih dulu menyelesaikan studi saya di kampus.

***

Senin lalu (22/1), saya ingin menemui Aziz, teman seangkatan saya ketika dulu satu SMA di Palembang. Kini ia bekerja di kantor Departemen Keuangan, di daerah lapangan banteng, Jakarta Pusat. Tapi, kebetulan saat itu saya berangkat agak siang dari Kebayoran Lama. Seingat saya ia pernah bilang kalau kostannya di daerah Salemba, tidak jauh dari UI Salemba. “Akh, kostan ane di Salemba,”begitu sms-nya kepada saya. Akh atau akhi itu sama seperti panggilan ‘saudara laki-laki’ jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Sejak siang sampai sore saya ada di UI Salemba. Menunggu teman saya ini kembali dari kantornya. Sambil menunggu, saya keliling beberapa gedung kampus yang diperuntukkan bagi mahasiswa Kedokteran UI ini. Kebanyakan bangunannya sudah tua. Terlihat dari bentuk bangunannya yang terkesan kuno. Tapi, cukup masih terawat dengan baik dan beberapa bangunan di sana sedang direnovasi.

Setelah Aziz pulang dari kantor, ia menjemput saya di masjid UI Salemba. Saya janji menunggunya di sana. Ia menunjukkan kostannya di daerah Kenari dalam. Tidak jauh dari jalan besar yang berseberangan dengan Mall Kenari. Ia mengajak saya ke kostan Fadli, teman saya juga ketika satu SMA, di dekat UI Depok. Kita pun segera berangkat sore itu juga. Pikir saya kita ke Depok naik bus. Tapi sebelum berangkat, kita berdua menunggu Fitri, teman satu SMA juga. Ia kini bekerja di sebuah perusahaan di daerah Ancol, Jakarta Utara. Fitri tinggal di kostan di daerah Salemba.

Kita bertiga jadi berangkat ke Depok sore itu juga naik taxi. Sudah agak sore menjelang Maghrib. Di dalam taxi, Aziz yang sering saya panggil dengan nama ‘Ujok’ ini, terlihat sakit perut. Tapi, ia masih terlihat sehat bugar. Lincah juga orangnya meskipun badannya kecil. Fitri yang duduk di kursi depan, kadang tertawa melihat tingkah lakunya. Ya, sepanjang perjalanan ke Depok, kita ngobrol dan sering bercanda. Mungkin saja untuk mengobati sakit perut Ujok.

***

Sekitar pukul delapan malam kita bertiga sudah sampai di Jalan Margonda Raya. Saya tanya kepada Ujok, di mana kampus UI Depoknya? “Itu di seberang. Masuk jalan Univ Gunadarma, Nah di dalam kampus UI-nya,”kata Ujok. Karena sudah malam, saya tidak tampak jelas melihat tanda masuk ke kampus UI Depok. Di jalan raya masih terlihat ramai sekali dengan kendaraan bermotor yang saling berlawanan.

Kita bertiga turun dari taxi di depan sebuah warnet dan game center. Kata Ujok, kita menunggu Fadli menjemput. Tak jauh dari jalan masuk ke kostan Fadli. Beberapa menit kemudian, Fadli muncul dan menyapa kita bertiga. Saya seperti reuni bertemu dengan teman-teman lama SMA. Hingga kini kita masih bisa dipertemukan kembali.

Cukup lama setelah ketemu dan ngobrol di pinggir jalan Margonda Raya yang masih tetap ramai itu. Ingin mencari tempat buat makan malam saja bingung. Memang banyak sekali pertokoan yang ada di sana. Akhirnya, kita ketemu tempat makan dengan menu sayur asam dan ikan asin. Wah sedap rasanya. Sudah lama sekali tidak menikmati sayur asam. Pokoknya, malam itu seperti acara reuni kecil-kecilan. Ngobrol banyak hal sampai bercanda.

Setelah makan malam, saya menginap di kostan Fadli yang tidak jauh dari jalan Margonda Raya. Saya lupa nama gang masuk ke dalam kostannya. Sedangkan Ujok dan Fitri langsung pulang ke Jakarta. Karena mereka berdua akan bekerja keesokan harinya.

***

Besok pagi, Selasa (23/1) saya berangkat kembali ke Salemba. Motor saya dititipkan di kostan Ujok ketika kita kemarin berangkat ke Depok. Sebelum saya berangkat, Fadli sudah lebih awal berangkat ke tempat kerjanya di Univ.Al Azar, Jakarta.

Sebelum sampai ke Jakarta, Ujok sms saya. Katanya, motor saya dibawanya ke kantor. Tujuan saya menuju ke daerah lapangan banteng, kantornya Ujok ada di sana. Sampai di kantornya itu, saya bingung dengan kantornya yang banyak. Ada lebih dari tiga gedung kantor yang berlantai lebih dari 10. Ujok menempati kantor di Gedung D.

Sampai siang saya di sana. Ia mengajak saya keliling beberapa tempat gedung-gedung milik Departemen Keuangan itu. Saya sesekali membayangkan bagaimana bisa berkerja di sana. Tapi, itu tidak mudah. Kebanyakan yang saya tahu para pegawai yang bekerja di DepKeu itu adalah para lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Ya, kecuali mungkin ada lulusan dari luar itu yang bernasib baik bisa bekerja di kantor pimpinan Ibu Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan pemerintahan SBY-JK sekarang. []

Di Permata Hijau

Minggu pagi kamarin (21/1), Reza dan Hendi datang ke Jakarta. Mereka berdua adalah pengurus Teknokra periode sekarang. Reza masih menjabat sebagai Redaktur Foto, sedangkan Hendi menggantikan Mayna sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) di Teknokra.

Rencananya mereka akan menghadiri acara syukuran atas pernikahan Mas Andreas dan Mbak Sapariah. Mas Andreas pernah menjadi instruktur untuk kegiatan Teknokra, yakni Pendidikan Jurnalistik Mahasiswa tingkat Lanjut dan untuk tingkat Pengelola, berturut-turut pada tahun 2003 dan 2004 di Bandar Lampung.

Acara syukurannya pada malam harinya. Tapi, kita berempat, saya, Bang Yamin, Hendi dan Reza, pagi-pagi sudah berangkat ke apartemen Mas Andreas di Permata Hijau. Yah, untuk sekedar bantu-bantu mempersiapkan perlengkapan acara di lantai bawah apartemennya. Di sana juga kami berempat bertemu dengan Mbak Eva. Ia mantan Pemimpin Usaha Teknokra periode 2004 lalu. Kini ia bekerja di Yayasan Pantau Jakarta.

Kami juga bertemu dengan beberapa orang yang terlibat di Pantau, seperti Mas Nugie (sekarang jurnalis di Harian Ekonomi Bisnis Indonesia), Imam, Yunus dan masih banyak lagi lainnya. Termasuk Mbak Eva, cukup piawai juga bisa merekrut teman-teman kostan cewek untuk mendekorasi ruangan di lantai bawah aparteman itu menjadi berwarna merah. Mereka terlihat cukup kompak menata satu per satu item buat persiapan malamnya.

Yang laki-laki kebagian yang berat-berat. Seperti mengangkat meja, memasang spanduk ‘Indopahit’, dan masih banyak lagi lainnya. Acaranya di pinggir kolam renang. Di dekat kolam itu, ada mainan anak kecil macam kuda-kudaan. Saya mencoba duduk dan bergoyang-goyang di atas kuda-kudaan itu. Begitu pula Hendi, Reza dan Bang Yamin mencobanya. Asik juga, seperti teringat kembali masa ketika dulu usia TK.

***

Sampai sore hari kami berempat berada di tempat syukuran Mas Andreas. Satu per satu terlihat sudah selesai dipersiapkan. Begitu pula dekorasi dan musik yang lengkap. Malamnya, kami berempat sudah siap dengan berdandan rapi. Sejumlah tamu sudah terlihat ramai di acara itu. Di sana pun saya bertemu dengan beberapa kontributor Pantau yang pernah menulis untuk Majalah Pantau, macam Chik Rini, Mas Buset dan Alfian Hamzah. Ada pula yang belakangan ini saya kenal dari tulisannya dari situs pantau.or.id, adalah Samiaji Bintang. Mbak Eva pun mengenalkan kepada Gunawan Mohammad. Ia adalah redaktur senior di Majalah Tempo dan sering mengisi rubrik Catatan Pinggir setiap minggu terbitannya.

Malam itu pula saya bertemu dan diperkenalkan dengan Mbak Elva dan Bang Syahran Lubis. Keduanya adalah alumni Teknokra. Mbak Elva memang sering ‘nimbrung’ di milis Teknokra sejak awal mulai dirilis. Beliau sekarang bekerja di Harian Ekonomi Bisnis Indonesia. Sedangkan, Bang Syahran adalah Redaktur Pelaksana di Harian Ekonomi Bisnis Indonesia juga. Saya langsung teringat dengan Bang Aldrin di Lampung ketika bertemu dengan Bang Syahran. Beliau suka sekali bergurau, meskipun terlihat orangnya serius.

Saya kembali seperti reuni alumni Teknokra di Jakarta. Kapan lagi bisa seperti ini? []

Djakarta


SAAT mendengar sebutan Jakarta, mungkin terbayang sebuah ibukota Indonesia yang memiliki segudang aktivitas rutinitas manusia yang luar biasa banyak jumlahnya. Bahkan, seolah kota berpenduduk lebih dari 7 juta jiwa ini, aktivitasnya tidak pernah mengenal lelah sekalipun hingga larut malam. (Foto: Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan)

Entah dari mana kebanyakan orang tetap rela berjuang dengan ‘mati-matian’ agar bisa mencapai kota Jakarta dan bekerja di sana. Intinya mencari sesuap nasi dan memperbaiki kualitas hidup agar lebih sejahtera. Berbagai cara yang ditempuh untuk dapat bekerja pun bermacam-macam. Ada yang sebalumnya mempunyai bekal keahlian, ada pula hanya bermodal nekat saja tanpa mempunyai kemampuan yang cukup.

Siapa pun bisa ke Jakarta. Untuk sekedar mencoba peruntungan nasib atau sekedar mencari pengalaman merasakan ‘kerasnya’ hidup di Jakarta. Ada dua pilihan yang akan didapat, berhasil atau kurang beruntung.Itu saja. Jika ia bernasib baik, mungkin akan tetap bertahan dan terus berusaha untuk lebih baik lagi.

Kamis kemarin (17/1), Saya mencoba ke Jakarta untuk kerja praktek di sebuah media massa. ‘Aura’ Jakarta begitu memikat saya sehingga ingin sekali mencoba ke sana. Yah, meskipun hanya sekedar kerja praktek untuk melengkapi mata kuliah yang kurang. Siapa tahu setelah lulus atau wisuda, langsung mendapat tawaran bekerja di Jakarta. Sebuah rezeki bukan?

Saya berangkat dari kostan sekitar pukul 09.37 WIB. Tak ada persiapan khusus saat mau berangkat ke Jakarta menggunakan motor Legenda hitam saya. Baju-baju kemeja buat persiapan di sana pun, baru saya strika pagi hari. Saya bawa dua tas ransel. Yang satu isinya pakaian-pakaian buat persiapan di sana. Yang satunya lagi, untuk bawaan perlengkapan-perlengkapan saat kerja praktek nanti.

Selama perjalanan dari kostan menuju pelabuhan penyeberangan Bakauheni, Lampung Selatan, kira-kira saya menghabiskan waktu selama dua jam perjalanan. Kecepatan motor biasanya saya kendarai rata-rata 70-an Km per jamnya. Selama perjalanan, terkadang hujan gerimis lalu kembali cerah lagi sampai di pelabuhan penyeberangan Bakauheni.

Memasuki Pelabuhan Bakauheni, sebelum naik ke kapal Ferry (sebutan semua kapal penyeberangan Bakauheni-Merak), kendaraan bermotor dan penumpang harus membayar biaya penyeberangan. Saya yang mengendarai sepeda motor dikenakan sebesar Rp23 ribu rupiah untuk satu kali perjalanan penyeberangan. Sedangkan untuk penumpang biasa per orang Rp7 ribu rupiah. Saya lupa berapa biaya penyeberangan untuk mobil. Karena tidak menggunakan mobil, jadi ya malas mau melihat-lihat tarif biaya penyeberangannya. Hehe..

Saya pikir setelah membeli tiket di loket tiket kendaraan, kemudian segera masuk ke dalam kapal Ferry. Sayangnya, dugaan saya salah. Kapal Ferry dari Pelabuhan Merak baru saja akan merapat di darmaga Bakauheni. Satu per satu mobil yang baru datang pun mengantri di belakang. Menunggu kapal segera bersandar. Cukup lama sehingga terkadang membosankan buat saya hanya melihat kapal itu pelan-pelan mendekat. Kira-kira ada satu jam hanya menunggu kapal itu.

Di belakang, ada beberapa kendaraan bermotor sudah mengantri ingin secepatnya masuk ke dalam kapal. Seperti kebanyakan truk angkutan barang juga telah rapi berjejer mengarah ke kapal Ferry.
Akhirnya, kepal berhasil bersandar. Seorang petugas di atas kapal melempar tali ke arah darmaga, lalu ditambatkan ke pengaitnya oleh petugas jaga di bawah. Satu per satu kendaraan bermotor keluar dari kapal itu. Ada bus, truk, mobil pribadi, dan sepeda motor. Terlihat nomor kendaraan dari berbagai daerah. Saya pun segera masuk kapal bersama dengan puluhan sepeda motor lainnya. Beriringan masuk dan naik ke tingkat atas kapal. Yang di bawah hanya untuk bus dan truk. Sedangkan yang di atas untuk seluruh kendaraan pribadi.

Di atas kapal Ferry, dimulailah perjalanan menuju pelabuhan Merak kurang lebih dua jam. Saya merapatkan sepeda motor saya dekat dengan pegangan di tepi kapal itu. Selain sepeda motor saya, ada tiga sepeda motor diparkir di sana. Sambil memandangi pelabuhan di saat kapal mulai berlayar, saya mengambil beberapa momen foto dari saku kamera digital yang saya bawa. Ada beberapa anak remaja melompat dari atas kapal kemudian menceburkan diri ke dalam laut. Sempat kaget juga tiba-tiba ada beberapa anak itu melompat tanpa rasa takut.

Sejak awal kapal mulai berangkat, saya menikmati setiap pemandangan di laut dan darmaga yang ditinggalkan. Ada kapal Ferry dan kapal penumpang capat (ukurannya lebih kecil daripada kapal Ferry dan hanya dapat mengangkut penumpang saja, red) masih bersandar.

Dari arah jauh saat kapal mulai meninggalkan darmaga, terlihat gedung Siger berdiri mega di atas bukit. Entahlah, apa isi dari gedung itu. Sekalipun saya belum pernah masuk ke sana. (Foto: Kapal Ferry yang terbakar beberapa waktu yang lalu. Berlabuh di Darmaga Merak, Banten)

Lama-lama di atas kapal terasa bosan juga melihat laut yang itu-itu juga. Berombak, luas dan saya tak melihat ikan satu pun dari atas kapal. Ada juga sampah-sampah plastik yang mengapung di atas permukaan laut sepanjang perjalanan kapal ke Pelabuhan Merak, Banten.

Di atas kapal pula, saya baru menyadari belum makan siang. Saya pikir kalau membeli nasi buat makan siang, pasti mahal. Akhirnya, saya hanya membeli sekaleng minuman dingin ‘Pocari Sweat’. Segar sekali setelah seteguk demi seteguk saya meminumnya. Tapi, alangkah kagetnya setelah saya mendengar kata penjual harganya Rp12 ribu. Ya sudahlah, tak apa-apa pikir saya. Kaleng sudah saya buka dan telah diminum juga. Lain kali untuk persiapan makan atau minum, tidak lagi membelinya di atas kapal. Mahal sekali bok!

***

Saya baru sempat makan siang setelah tiba di Kota Serang. Kira-kira pukul 16 sore. Saya beristirahat sekaligus salat Ashar dan dijamak dengan Dzuhur di Masjid Agung kota Serang, Banten. Di depan masjid ini, ada sebuah rumah tempat tinggal Kak Ferry, alumni Teknokra yang pernah menjadi Pemimpin Umum periode 2003-2004. Sekarang ia telah bekerja sebagai staf pengajar di Fakultas Hukum Universitas Sultan Agung Tirtayasa, Sereng, Banten. Tapi, Kak Ferry tidak lagi tinggal di sana.

Setelah makan di dekat masjid itu, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Mungkin nanti sampai di Jakarta sudah malam, pikir saya. Tak apalah. Langit terkadang mendung. Tanda bakal hujan. Sore menjelang malam, hujan mulai mengguyur saat saya masuk kota Tangerang. Saya teruskan perjalanan sekalipun hujan gerimis. Tapi, lama-lama hujan menjadi deras sampai saya tiba di Jakarta Barat. Yah, celana sampai sepatu saya harus rela karena basah oleh guyuran hujan.

Sampai saya tiba di Universitas Trisakti di daerah Grogol sekitar pukul 8 malam. Di sana saya berhenti sejenak untuk melepas lelah. Baju yang saya kenakan basah, karena sepanjang perjalanan tidak berhenti. Terkadang terkena siram air di jalan dari mobil yang mendahului. Byuuurr…!!

Handphone di kantong celana saya tiba-tiba error. Ah, satu-satunya alat komunikasi ini bisa rusak saat dibutuhkan. Di layar LCD-nya tertulis,”Insert Card.” Berkali-kali saya matikan, lalu dihidupkan dan begitu pun seteruskan, selalu saja muncul pesan itu. Tangan saya lembab. Baju kaos yang saya pakai untuk mengeringkan HP tidak cukup berguna. Kan selama perjalanan basah oleh siraman hujan.

Akhirnya HP itu saya coba buka baterai dari dalam cassing-nya, kemudian SIM Card saya cabut dan dikeringkan dengan handuk di tas saya. Syukurlah, ternyata hanya terkena air saja dan HP segera men-detect sinyal. Tapi, tiba-tiba HP saya setelah itu tidak bisa menekan semua tombol-tombolnya. Waduuuhh…saya tiba-tiba panik. Saya pikir tidak ada gunanya menekan semua tombolnya. Sekalipun ada beberapa sms masuk ke HP saya itu. Tak bekerja sama sekali. Dimatikan, lalu dihidupkan kembali pun sama saja tidak mau kembali normal seperti biasa.

Tidak jauh dari pintu gerbang masuk Univ Trisakti itu, saya coba menemui seseorang di sebuah ruangan kantor BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) kampus itu. Sepertinya mereka adalah mahasiswa. Ada tiga orang di dalam. Saya minta tolong di antara mereka bertiga meminjamkan saya HP-nya untuk menghubungi teman saya yang ada di Jakarta.

Cukup menenangkan dan lega setelah menghubungi teman saya itu. Tapi, saya masih belum dapat menggunakan HP saya untuk sms ataupun menghubungi teman saya yang lainnya. Yah sudah, saya kemudian memutuskan melanjutkan perjalanan sampai saya menemukan wartel.

Terkadang HP saya itu dipukul beberapa kali ke tangan saya. Namun, tak juga berfungsi kembali seperti semula. Semua tombol seolah tidak berfungsi sama sekali. Beberapa sms yang telah masuk tidak bisa saya baca. Bahkan, ketika saya dihubungi teman saya tidak dapat menjawab. Aduh, saya hanya bisa berdo’a dan pasrah saja. Tak lama dari itu, akhirnya saya bisa memfungsikan beberapa tombol HP saya. Langsung saja saya menghubungi teman saya. Kata teman saya ini, kita bertemu di depan gedung Jakarta Design Center. Kalau tidak salah itu daerah Slipi yang lebih dekat menuju Kebayoran Lama, tempat kostan teman saya ini.

Syukur alhamdulillah, saya ketemu dengan teman saya ini di depan gedung itu. Saya bakal ‘ngegembel’ malam itu jika tidak bisa ketemu dengan teman saya. Lega sekali bisa beristirahat dan mengeringkan badan setelah selama perjalanan diguyur hujan. Welcome to Jakarta! []

Saturday, January 13, 2007

Siap Menjadi Tenaga Profesional


Sejak pagi sekitar pukul 9, saya mengikuti pendadaran Praktek Kerja Lapangan (PKL) di fakultas saya, FISIP Universitas Lampung. Selain saya ada sekitar 90-an mahasiswa FISIP lainnya mengikuti pendadaran di gedung B3.1 FISIP Unila. Pendadaran ini dimaksudkan untuk memberikan persiapan-persiapan yang dibutuhkan mahasiswa yang akan mengikuti PKL di masing-masing lembaga yang dipilihnya.
(Foto: Gedung A FISIP Unila)

Saya termasuk yang terlambat untuk mengikuti PKL untuk periode ini. Padahal, dari sekian orang di angkatan jurusan saya, sepertinya hanya saya saja seorang yang belum mengikuti PKL. Terlihat saat mengikuti pendadaran sejak pagi sampai sore tadi, hanya saya sendiri di angkatan jurusan saya. Teman-teman seangkatan saya malah sudah mengikuti PKL sejak dua tahun kemarin. Terhitung terlambat memang bukan untuk tidak ingin mengikuti PKL, tapi masih ada kesibukan lain yang tidak bisa saya tinggalkan ketikan itu. Nah, saat inilah kesempatan itu baru saja saya dapatkan.

Seharusnya jadwal pendadaran dimulai pukul 8 pagi. Itu saya dapatkan infonya dari papan pengumuman yang tertempel. Tapi, pada kenyataannya ketika saya tiba di FISIP tepat pukul 8 pagi, tampak sejumlah mahasiswa mengenakan jas alamamater Unila hanya sekedar duduk saja di depan pintu masuk gedung B FISIP. Yang lainnya terlihat duduk santai di bawah pohon yang tidak jauh dari gedung tempat kami kuliah itu. Saya hanya menggerutu,"Yah, beginilah Indonesia. Telah, telat, dan selalu saja telat." Dosen yang akan memberikan pendadaran saja datang terlambat. Bagaimana para dosen ini memberikan teladan kepada mahasiswanya?

Sambil menunggu di depan gedung itu, saya pun berbincang-bincang dengan teman yang akan mengikuti pendadaran untuk persiapan PKL. Kebanyakan mereka adalah adik-adik tingkat jurusan saya. Kebanyakan yang saya tahu dari mereka memilih lokasi untuk PKL di Radio Republik Indonesia (RRI) Bandar Lampung. Ini berdasarkan tempat yang dipilihkan dari jurusan saya. Tapi, saya berbeda dan memilih di tempat lain di Jakarta.

Selain saya mengikuti PKL periode ini, ada Dede Darmawan, teman seangkatan saya. Saya lebih suka memanggilnya Dede, terkadang Pak Ibon. Karena Dede menamakan dirinya di Friendster miliknya itu dengan sebutan 'Pak Ibon.' Entahlah maksudnya apa. Dede di jurusan ilmu pemerintahan. Dia juga baru PKL bareng dengan adiknya, Dede Maya yang kebetulan satu jurusan dengan kakaknya tadi. Dede Maya ini angkatan 2004 di jurusannya. Boleh dibilang saya dengan Dede bernasib sama. Sama-sama belakangan mengikuti PKL. Karena PKL ini adalah mata kuliah wajib yang harus dipenuhi. Jika tidak mengikutinya, bisa jadi tidak bakal lulus deh.

Sejak jauh-jauh hari saya bertekad agar bisa PKL di Jakarta. Di saat PKL telah selesai nanti (pertengahan Februari 2007, red), mungkin sekalian memanfaatkan waktu buat cari-cari bahan literatur untuk skripsi saya. Yah, mudah-mudahan saja mendapat kemudahan nanti selama di Jakarta. Karena saya pikir memang tidak mudah secepat yang saya bayangkan mendapatkan semua literatur yang saya butuhkan. Intinya harus berkorban buat keliling-keliling dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain. Dari satu universitas ke universitas lainnya. Entahlah, berapa lama saya akan menghabiskan waktu selama di Jakarta nanti. Suatu saat nanti setelah lulus, saya akan berjuang mencari 'sesuap nasi' di Jakarta. Mungkin sebagai seorang jurnalis yang profesional. Why not? Do'akan saja yah.