Sunday, September 30, 2007

Diskusi Peringatan Tragedi 28 September 1999

Indria Fernida, Kepala Divisi Operasional Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau Kontras, bercerita tentang penyusutan kasus Tragedi 28 September 1999 di Bandar Lampung. Peristiwa yang menyebabkan meninggalnya dua mahasiswa Universitas Lampung (Unila) ketika terjadi demostrasi penolakan Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (RUU PKB) di depan kampus perguruan tinggi swasta Universitas Bandar Lampung (UBL) itu hingga kini belum terungkap palakunya.

“Kasus tragedi tahun 1999 ini masuk dalam daftar kasus Trisakti 1998 dan Tragedi Semanggi I dan II di Jakarta,”kata Indria pada diskusi memperingati Sewindu Tragedi UBL Berdarah, Rabu (26-9), di halaman depan Gedung Pascasarjana FH Unila.

Indria yang mengenakan baju batik itu tampak serius menyampaikan tindak kekerasan yang dilakukan para aparat keamanan terhadap demonstrasi yang ramai dilakukan para mahasiswa tahun 1998 lalu. Ia mengatakan kasus seperti Tragedi 28 September 1999 yang juga dikenal dengan Tragedi UBL Berdarah ini, seharusnya penegak hukum terutama kejaksaan segera menyusut tuntas pelaku utamanya.

"Ini termasuk kejahatan HAM berat,"tegas Indria di hadapan para peserta diskusi yang dihadiri lebih dari 50 mahasiswa.

Aktivis Kontras, sebuah NGO yang peduli terhadap Hak Asasi Manusia atau HAM ini cukup prihatin apa yang terjadi pada pada dua mahasiswa yang meninggal di depan kampus perguruan tinggi swasta UBL delapan tahun yang lalu. Dua mahasiswa itu adalah Muhammad Yusuf Rizal, mahasiswa FISIP Unila dan Saidatul Fitria, mahasiswa FKIP Unila.

Rizal terluka pada leher akibat terkena tembak peluru tajam oleh aparat keamanan atau saat itu dikenal dengan nama Pasukan Huru-Hara atau PHH. Sedangkan Atul, panggilan akrab Saidatul Fitria, kepalanya terkena pukulan keras oleh aparat keamanan hingga harus dirawat di rumah sakit. Namun, beberapa hari setelah dirawat nyawanya tidak tertolong.

Atul ketika terjadi demonstrasi penolakan RUU PKB sedang bertugas sebagai jurnalis fotografer pers mahasiswa (persma) Teknokra untuk meliput peristiwa demonstrasi di depan kampus UBL. Sejumlah fotonya kini masih mengabadi di kesekretariatan Teknokra. Saya sering kali melihat karya foto almarhumah saat datang ke Teknokra. Foto-fotonya itu terbingkai di ruang tamu. Saya terharu melihat karya almarhumah itu. Seolah-olah terbayangi bertemu dengannya. Padahal, saya belum pernah bertemu dengannya. Tapi, saya hanya bisa mengenalnya kisah-kisah memilukan yang terjadi padanya itu dipukul oknum aparat keamanan.

Saya sedih mengingatnya setiap melihat foto-foto karya almarhumah. Ingin sekali mengatakan,"Mbak Atul, sabar ya. Mbak selalu dido'akan dan dikenang bagi teman-teman di sini, karena Mbak tidak salah memilih jalan ini." Akhirnya perlahan-lahan kedua mata saya meneteskan air mata saat menuliskan ini. Setahun yang lalu, saya pernah posting kisah almarhumah Atul di sini.

Saturday, September 22, 2007

Buka Puasa Bersama Komunikasi

Tak ada bulan seistimewa bulan suci Ramadhan. Rasanya setiap hari ada nuansa yang sangat berbeda dibandingkan pada bulan lainnya. Ada saat-saat yang paling ditunggu ketika menanti berbuka puasa. Ada yang telah berkumpul bersama keluarganya. Ada pula yang hanya sempat berkumpul dengan teman-teman menanti saat berbuka puasa dan ada pula yang

Jumat sore kemarin (21-9), saya diajak teman jurusan ikut buka puasa bersama di rumah adik tingkat jurusan. Setiap tahun, memang sudah menjadi tradisi saat bulan puasa Ramadhan ada acara seperti ini. Biasanya yang ditunjuk menjadi tuan rumah adalah mereka angkatan baru masuk di perkuliahan.

Saya, Hilal dan Ocha, teman satu angkatan saya, berangkat sekitar pukul 17.00 WIB ke rumah Meilin, adik tingkat angkatan 2007 yang menjadi tuan rumahnya di daerah Way Halim. Tiyo dan Olga, adik tingkat angkatan 2003 secara kebetulan juga ikut bersama kami, berangkat mengendarai sepeda motor ke sana. Kita berlima konvoi dengan tiga sepeda motor.

Tiba di rumah Meilin, tampak di depan rumahnya ramai teman-teman dari berbagai angkatan. Tidak lama setelah kita tiba, rombongan angkatan 2000 pun tiba. Tapi mereka datang hanya berlima saja. Rino, Ferari, Febriansyah, Anto, dan Tito. Beruntung sekali mereka masih ingin datang acara seperti ini meskipun di antara mereka telah menjadi alumni.

Kira-kira ada sekitar lebih dari 100 orang yang berbuka puasa di sana. Ketua jurusan kami, Ida Nurhaida, serta didampingi tiga dosen Komunikasi lainnya, Ibrahim Besar, Sarwoko, dan Nina Yudha, pun datang ikut acara buka puasa bersama itu. Dari mahasiswanya, mulai angkatan baru masuk 2007 hingga angkatan 2000. Tak hanya memenuhi di dalam rumah saja, di luar pun terlihat mereka dengan santai berbincang dan bercanda dengan teman-teman lainnya.

Mudah-mudahan tradisi seperti ini tetap terus dipertahankan untuk akan datang. Selain merekatkan kebersamaan, juga sebagai momen silahturrahmi teman-teman dari berbagai angkatan serta dengan dosen Komunikasi.

Tuesday, September 18, 2007

Selamat Jalan Herizon

Ditinggal pergi seorang sahabat untuk selama-lamanya sungguh sedih. Apalagi ia seperti telah menjadi bagian keluarga sendiri. Senin kemarin siang (18-9), ketika mampir ke Teknokra saya dikabarkan teman-teman bahwa salah seorang alumni kita, Herizon Abdul Azis, meninggal dunia karena kecelakaan. “Innalillahi Wa Innailahi Rojiun”.

Bahkan, kabar itu pun datang dari berita yang ditulis Harian Lampung Post yang terbit edisi Minggu (16-9) kemarin. Banyak juga teman-teman alumni Teknokra yang mengetahui kabar meninggalnya almarhum setelah membaca koran tersebut. Termasuk saya yang mengetahuinya dari koran ini.

Seorang Herizon yang saya kenal ketika masih aktif di Teknokra adalah seorang kakak yang termasuk saya kagumi. Ia berwatak keras dan berani. Suaranya jika berbicara di sebuah forum, terdengar keras. Dari situ kemudian saya yakin ia punya wawasan yang cukup banyak tentang berbagai hal.

Ia adalah aktivis kampus, ia juga aktivis di luar kampus dan telah cukup banyak organisasi yang ia geluti. Komunikasi dengan orang banyak di luar banyak ia lakukan. Tak heran kemudian menghantarkan ia sebagai kepala cabang sebuah perusahaan di Bandarlampung.

Selamat jalan kanda Herizon Abdul Aziz. Semoga amal ibadah alamarhum diterima Allah Swt serta keluarga yang ditinggalkannya diberi ketabahan. Amin.

Di bawah ini berita yang memuat kabar kecelakaan alamarhum Herizon Abdul Azis ketika di Serang Banten.


2 Warga Lampung Tewas Kecelakaan di Tol

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dua meninggal dan seorang kritis setelah minibus Isuzu Panther B-2857-FR biru metallic yang hendak ke Bandar Lampung mengalami kecelakaan di Km 72,3 Serang, Sabtu (15-9), sekitar pukul 06.30.

Hendrik Fauzi (30), warga Kelurahan Sumberrejo, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung, sopir minibus itu meninggal di tempat kejadian. Herizon Abdul Azis (25), Kepala Cabang PT Bintan Nirwana Lampung, meninggal beberapa jam setelah mendapat perawatan di ruang unit gawat darurat RSU Serang. Sedangkan Anton (26) masih kritis di UGD RSU Serang.

Petugas medis di RSU Serang mengatakan Herizon menderita luka parah di paru-paru dan wajah. "Kondisi paru-parunya tertekan sehingga mengalami pendarahan," kata petugas medis.

Menurut saksi mata dan dibenarkan petugas jalan raya (PJR) tol Serang, minibus yang datang dari arah Jakarta itu berisi tiga orang: Hendrik Fauzi (sopir), Herizon (duduk di samping sopir), dan Anton (duduk di belakang).

Petugas menduga peristiwa itu terjadi karena pecah ban belakang. Sekitar pukul 06.00, minibus Isuzu Panther warna biru metallic melaju dengan kecepatan tinggi menuju Merak. Ketika sampai di Km 72,3 tol Serang, tiba-tiba laju kendaraan tidak stabil karena ban belakang pecah, lalu menghantam pembatas jalan tol. Setelah itu, kondisi mobil oleng lalu menghantam tiang jalan layang.

Akibat kejadian itu, Fauzi terjepit dan meninggal di tempat kejadian. Herizon dan Anton kritis dan dilarikan ke RSU Serang. Namun, setelah beberapa jam dirawat, Herizon akhirnya meninggal dunia.

Kabar kecelakaan itu baru sampai ke pihak keluarga Herizon di Bandar Lampung sekitar pukul 07.00. Begitu mendengar kabar, pihak keluarga dan beberapa rekan Herizon menjenguk ke RSU Serang. "Kondisi Herizon tidak tertolong lagi. Kata petugas media, paru-parunya remuk karena tertekan," kata Y. Wibowo, rekan Herizon dari Bandar Lampung yang menjemput ke RSU Serang.

Menurut Wibowo, jenazah Herizon dan Fauzi, yang juga kakak Herizon, akan dibawa ke Lampung dan disemayamkan di rumah duka di Kelurahan Sumberrejo, Kecamatan Kemiling. n HUT/U-2

Wednesday, September 12, 2007

Kecelakaan di Kalianda

SAYA mengalami kecelakaan dalam perjalanan dari kota Bandarlampung menuju Kalianda, Lampung Selatan, Minggu siang kemarin (8-9). Ketika itu saya bersama dengan teman saya mengendarai mobil ke Kalianda.

Kaca samping mobil Avanza hitam yang saya kendarai ketika itu pecah ‘seribu’. Sedangkan kaca spion sebelah kanan mobil itu pun juga pecah setelah terserempet sebuah truk Fuso yang datang dari arah berlawanan. Sisa butiran-berhamburan masuk ke ruang kemudi dan mengenai saya. Bahkan, penutup kaca spion pun ikut terpental masuk ke kabin mobil.

Setelah kejadian itu, mobil segera saya pinggirkan ke tepi jalan dengan pelan-pelan. Saya tanya teman saya di sebelah saya.

“Lu ngga apa-apa?”, tanya saya.

“Ngga rik. Lu gimana? Eh, liat bibir dan gigi lu berdarah”, katanya sambil memperhatikan saya.

Secara spontan saya langsung melihat ke arah kaca spion yang berada di atas dekat kaca depan mobil. Saya perhatikan gigi saya dengan serius di kaca spion itu. Alhamdulillah gigi saya tidak terlalu parah berdarah akibat terkena hempasan butiran kaca jendela sebelah kanan yang pecah.

Teman saya lalu turun dari pintu sebelah kiri mobil. Saya pun mengikutinya turun dari pintu itu sambil membersihkan sisa butiran-butiran kaca di baju dan celana saya. Saya kembali tanya kepada teman saya.

“Lu bener-bener ngga apa-apa?”

“Bener, ngga apa-apa kok”

“Body mobilnya kena ngga ya?” tanya saya penasaran.

Saya khawatir saat kerjadian itu, selain menghancurkan kaca jendela dan kaca spion sebelah kanan, juga mengenai badan mobil. Teman saya langsung melihat ke arah depan dan samping kanan mobil.

“Ngga ada yang rusak rik. Kayaknya cuma kaca dan spion aja,”kata teman saya.

Saya sedikit lega mendengarnya. Sebuah botol berisi air mineral di pintu mobil sebelah kiri saya ambil. Perlahan saya teguk dan kumur-kumur. Sambil menenangkan diri, saya lihat di sekitar pergelangan tangan kanan saya berdarah. Untung saja tidak terlalu parah, hanya terlihat seperti bintik-bintik digigit nyamuk.

Perlahan saya siramkan air mineral tadi ke tangan saya terluka kecil itu. Bergetar-getar. Ada apa saya pikir. Masih panikkah saya setelah kejadian tadi? Saya beristighfar di dalam hati dan mencoba untuk menenangkan diri.

Ya Allah, Engkau masih memberi kami keselamatan. Engkau masih menyayangi kami berdua. Itulah yang saya pikirkan ketika itu.

Friday, August 31, 2007

Jadilah Orang Besar yang Berpikir dan Berjiwa Besar

(Menpora Adhyaksa Dault melambaikan tangan kepada para mahasiswa baru Unila 2007 usai memberikan kuliah umum dengan tema "Daya Saing Bangsa Melalui Perguruan Tinggi")

Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault,SH,Msi memberikan kuliah umum kepada mahasiswa baru Unila 2007, Kamis pagi kemarin (30/8) usai Rektor Unila memberikan sambutan pada Rapat Senat Luar Biasa Universitas Lampung menyambut mahasiswa baru Unila 2007, di Gedung Serba Guna Unila.

Adhyaksa yang mengenakan baju batik berwarna biru ini datang bersama rombongan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) DPD Lampung sekitar pukul 9.30 pagi dan disambut Rektor Unila Prof.Dr.Ir.Muhajir Utomo,M.Sc.

Saya baru kali ini bertemu dengannya. Ini juga kali pertama buat saya mendengar ia berbicara di depan mahasiswa baru Unila 2007. Ia sangat bersemangat menyampaikan kuliah umum ketika itu. Adhyaksa pun suka melontarkan canda di hadapan ribuan mahasiswa baru. Sesekali ia pun disambut riuh tepuk tangan para mahasiswa. Ia bercerita dengan sangat bangga memiliki kumis tebal seperti Andi Mallarangeng, Jurubicara Presiden Republik Indonesia. Rektor Unila pun bergurau,"Kumisnya mengalahkan Pak Thoha, Pembantu Rektor III (Bidang Kemahasiswaan) Unila."

Menpora Adhyaksa pada kuliah umumnya mengatakan di era globalisasi seperti sekarang ini sangat cepat berubah. “Sebagai contoh industri. Orang semua sudah mulai berlomba-lomba berbagai industrialisasi. Olahraga pun juga sekarang sudah menjadi lahan di bidang industri,”kata Adhyaksa.

Dampak yang terjadi pada industrialisasi ini, lajut Adhyaksa, seperti terjadinya sikap individualistis. Orang ingin hidup untuk kepentingannnya sendiri. “Misalnya bagaimana ingin kuliah dan agar cepat selesai, kemudian cepat menjadi kaya dan menjadi pejabat, maka yang seperti ini kalian sebagai calon sarjana tidak akan pernah menjadi orang besar yang berpikir besar,”ujar Adhyaksa yang langsung disambut tepuk tangan para mahasiswa.

Jadilah menjadi orang besar yang berpikir besar. Siapa mereka itu? Mereka adalah orang yang mempunyai jiwa besar. Dia dihargai bukan karena jabatannya menteri, gubernur, atau bupati. Tapi itu karena melihat perilakunya yang baik dan bermanfaat bagi lingkungan keluarga, bangsa, dan negaranya.

Sehingga, Adhyaksa Dault menilai perlu dibangun semangat nasional kebangsaan Indonesia untuk mengikis sikap individualistis yang semakin mengkhawatirkan akhir-akhir ini.

Lebih lanjut, Menpora mengatakan pemerintah bersama DPR telah mengeluarkan UU No.3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. “Ini dilakukan untuk lebih memperhatikan masa depan para atlit olahraga nasional yang telah banyak mengukir prestasi di berbagai even pertandingan hingga tingkat internasional,”kata Adhyaksa.

Undang-Undang ini akan memberikan kepastian hukum bagi pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dalam mewujudkan masyarakat dan bangsa yang gemar, aktif, sehat dan bugar serta berprestasi dalam olah raga.

Pada akhir acara, Rektor Unila memberikan kenang-kenangan atas kehadiran dan memberikan kuliah umum Menpora Adhyaksa Dault kepada mahasiswa baru Unila 2007 yang berakhir sekitar pukul 10.30 WIB.

Sunday, August 26, 2007

Mengapa Indonesia Tidak Menjadi Negara Maju?

Beberapa hari yang lalu, saya menerima email dari seorang teman milis sekolah saya. Isinya menarik dan membuat saya kagum sekaligus menyentuh. Sebuah pesan untuk refleksi bagi kita, terutama masyarakat Indonesia sebagai salah satu negara berkembang. Sebetulnya, judul di atas saya ubah dari judul aslinya yakni “Refleksi dan Tindakan”.

Setelah saya membaca semua pesan tersebut yang dimuat dalam file Ms Power Point itu, lalu saya pindahkan ke dalam bentuk tulisan seperti di bawah ini. Agar semua dapat membaca dan turut merefleksikannya.

Pesan asli yang dibuat itu ternyata sudah cukup lama. Tiga tahun lalu. Tapi, saya kira tema seperti ini masih menarik sebagai refleksi bagi kita. Jika sebelumnya ada yang telah membaca, saya kira menarik sekali diikuti kembali. Mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kita semua. Berikut ini pesan asli yang saya dapatkan itu:

(Pesan ini saya terjemahkan dari suatu tulisan berbahasa Inggris yang saya terima melalui email dari seorang kawan. Maaf bila salah/kurang tepat menerjemahkannya (Boedi Dayono, Januari 2004)

Perbedaan antara negara berkembang (miskin) dan negara maju (kaya) tidak tergantung pada umur negara itu.

Contohnya negara India dan Mesir, yang umurnya lebih dari 2000 tahun, tetapi mereka tetap terbelakang (miskin).

Di sisi lain-Singapura, Kanada, Australia, dan New Zeland-negara yang umurnya kurang dari 150 tahun dalam membangun, saat ini mereka adalah bagian dari negara maju di dunia, dan penduduknya tidak lagi miskin.

Ketersediaan sumber daya alam dari suatu negara juga tidak menjamin negara itu menjadi kaya atau miskin.

Jepang mempunyai area yang sangat terbatas. Daratannya, 80 persen berupa pegunungan dan tidak cukup untuk meningkatkan pertanian dan peternakan.

Tetapi, saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor dua di dunia. Jepang laksana suatu negara “industri terapung” yang besar sekali, mengimpor bahan baku dari semua negara di dunia dan mengekspor barang jadinya.

Swiss tidak mempunyai perkebunan coklat tetapi sebagai negara pembuat coklat terbaik di dunika. Negara Swiss sangat kecil, hanya 11 persen daratannya yang bisa ditanami.

Swiss juga mengelola susu dengan kualitas terbaik. (Nestle adalah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia). Swiss juga tidak mempunyai cukup reputasi dalam keamanan, integritas dan ketertiban-tetapi saat ini bank-bank di Swiss menjadi bank yang sangat disukai di dunia.

Para eksekutif dari negara maju yang berkomunikasi dengan temannya dari negara terbelakang akan sependapat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal kecerdasan.

Ras dan warna kulit juga bukan faktor penting. Para imigran yang dinyatakan pemalas di negara asalnya ternyata menjadi sumber daya yang sangat produktif di negara-negara maju/kaya di Eropa.

Lalu…apa perbedaannya?

Perbedaannya adalah pada sikap/perilaku masyarakatnya, yang telah dibentuk sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan.

Berdasarkan analisis atas perilaku masyarakat di negara maju, ternyata bahwa mayoritas penduduknya sehari-hari mengikuti/mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan sebagai berikut.

  1. Etika, sebagai prinsip dasar dalam kehidupan sehari-hari
  2. Kejujuran dan integritas
  3. Bertanggungjawab
  4. Hormat pada aturan dan hukum masyarakat
  5. Hormat pada hak orang/warga lain
  6. Cinta pada pekerjaan
  7. Berusaha keras untuk menabung dan investasi
  8. Mau kerja keras
  9. Tepat waktu

Di negara terbelakang/miskin/berkembang, hanya sebagian kecil masyarakatnya mematuhi prinsip dasar kehidupan tersebut.

Kita bukan miskin (terbelakang) karena kurang sumber daya alam, atau karena alam yang kejam kepada kita. Kita terbelakang/lemah/miskin karena perilaku kita yang kurang/tidak baik.

Kita kekurangan kemauan untuk mematuhi dan mengajarkan prinsip dasar kehidupan yang akan memungkinkan masyarakat kita pantas membangun masyarakat, ekonomi dan negara.

Jika Anda tidak meneruskan pesan ini, tidak akan terjadi apa-apa pada diri Anda!! Hewan peliharaan Anda tidak akan mati, Anda tidak akan kehilangan pekerjaan, Anda tidak akan mendapatkan kesialan dalam 7 tahun, juga Anda tidak akan sakit.

Tetapi, jika Anda tidak meneruskan pesan ini, tidak akan terjadi perubahan apa-apa dalam negara kita. Negara kita akan tetap berlanjut dalam kemiskinan dan akan menjadi lebih miskin lagi.

Jika Anda mencintai negara kita, teruskan pesan ini kepada teman-teman Anda. Biarkan mereka merefleksikan hal ini. Kita harus mulai dari mana saja. Kita ingin berubah dan bertindak!!

Dan perubahan dimulai dari kita sendiri.

Tuesday, August 21, 2007

Oleh-olehnya Mana Rik?

(Pempek, makanan khas Wong Palembang, mempunyai banyak macam bentuk dan namanya. Sayangnya, Saya tidak hafal betul nama-namanya. Dinikmati bersama-sama dengan keluarga atau teman, sungguh menyenangkan sekali. Foto di atas bukan saya yang memfoto. Foto itu koleksi dari Pak Nayel dari Palembang. Saya lupa memfoto ketika kami bersama-sama menikmati pempek di rumah May, Senin sore kemarin (20/8).

Begitulah teman-teman saya menanyakan keberadaan 'buah tangan' setelah saya kembali pulang dari Palembang, Senin pagi kemarin (20/8). "Rik, mana pempeknya?" kata teman saya beberapa hari yang lalu.

Pempek, makanan asli 'wong kito galo' (Orang Palembang, red), ternyata sangat disukai teman-teman saya di Lampung. Entah karena kita semua tinggal di Sumatera, jadi tidak asing lagi dengan makanan khas Palembang ini. Ternyata, teman-teman saya suka makan pempek Palembang. Apalagi menunggu hingga saya kembali ke Lampung.

Kalau saya ada rencana pulang ke Palembang, sudah pasti 'ditodong' temen-temen untuk membawakan oleh-oleh. Tentu saja Pempek. Tapi, senang juga membawakan mereka pempek asli racikan 'Wong kito galo'. Tentu benda sekali saat mencicipi pempek yang dijual di kebanyakan warung-warung pempek di Lampung.

Senin pagi kemarin (20/8), setelah saya tiba di kostan, segera saya kirim sms ke May. "May, ajak temen-temen ya kita makan pempek tempatmu,"begitu kira-kira isi pesan singkat ke May, teman saya. Saya minta ke dia menjadi tuan rumah buat acara makan pempek bersama. Kemudian, tidak lama dia balas sms dan menyanggupinya.

Tak banyak waktu itu saya membawa pempek dari rumah. Ya, saya kira nanti cukup dimakan di dua tempat terpisah. Tetap yang paling utama saya hidangkan untuk teman-teman saya di rumah May, di daerah Way Kandis.

Aroma pempek itu tercium harum khasnya. Padahal belum saya buka plastik yang membungkusnya itu. Belum lagi aroma cukanya (semacam kuah yang berwarna hitam sebagai pelengkap untuk makan pempek, red) sedap terhirup oleh saya. Sepertinya cukup pedas terlihat dari cukanya yang cukup kental berwarna hitam itu tersimpan di dalam botol plastik.

Sekitar jam 4 sore, saya telah tiba di rumah May lebih awal. Teman-teman lainnya belum tiba. Tapi, mereka janji akan datang. Apalagi ini acara makan pempek gratis. Tentu saja tidak akan mereka sia-siakan kesempatan langka ini. Dede dan Yudi akhirnya tiba setelah menunggu beberapa lama. Untungnya, May sudah menggoreng lagi pempek yang saya berikan sebelumnya. Kami pun segera melahapnya satu per satu. Sungguh nikmat sekali. Mak nyuss..... (meminjam istilah Bondan Winarno)

Tuesday, August 14, 2007

Rencana ke Palembang

(Jembatan Ampera: sebuah jembatan di kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia yang dibangun tahun 1960 sebagai bayaran Jepang kepada Indonesia atas penjajahannya dulu. Jembatan Ampera, yang telah menjadi semacam lambang kota, terletak di tengah-tengah kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Jembatan ini dibuat oleh Jepang. Dahulunya bagian tengah dari jembatan ini bisa dinaikkan dan diturunkan bila ada kapal yang akan lewat. Difoto oleh: Eriek, tahun 2006 lalu, Teks: Wikipedia)

Saya ada rencana ingin pulang ke Kota Palembang akhir pekan ini. Kangen sekali dengan orangtua, mbak, dan kakak saya di rumah. Kangen ingin merasakan kembali nikmatnya makan pempek asli racikan 'wong kito'.

Kebetulan hari Jumat, tanggal 17 Agustus nanti libur nasional untuk memperingati Hari Proklamasi Republik Indonesia ke-62 tahun. Rasanya kesempatan untuk pulang ke rumah nanti mudah-mudahan bisa tercapai. Soalnya, terakhir saya pulang ke rumah saat merayakan Idul Adha beberapa waktu yang lalu. Waktu itu juga tidak berlama-lama. Seingat saya antara 2-3 hari saja.

Rieke, teman saya yang kini jurnalis di Majalah Inspired Kids, ingin sekali ikut ke Palembang. Bahkan, beberapa hari yang lalu kami chatting menentukan tanggal akan berangkat ke Palembang. Tapi, sayangnya ia belum yakin bisa ikut. Katanya, ia akan ke Bandarlampung bersama tantenya. Mungkin ia ingin liburan dengan teman-teman yang lain di Bandarlampung.

Rencana ke Palembang pun sebenarnya sudah lama sejak Desember tahun lalu. Teman satu angkatan saya lainnya, Yudi, May, Diova, dan Dede pun saya ajak untuk ke Palembang. Mereka ingin sekali main ke Palembang. Sekedar jalan-jalan mengelilingi kota Palembang itu menyenangkan.

Pulang ke Kota Palembang dari Bandarlampung, biasanya saya menggunakan fasilitas jasa Kereta Api (KA). Nama KA-nya Limex Sriwijaya. KA ini berangkat pada pukul 9 malam. Saya selalu memilih Kelas Bisnis untuk kembali pulang ke rumah. Harga satu tiket Kelas Bisnis ini Rp 55 ribu rupiah. Kalau tidak salah harga tiket kelas itu belum naik. Lama perjalanan cukup lama. kira 9 jam perjalanan. Berarti tiba di Stasiun KA Kertapati Palembang kira-kira pukul 6 pagi.

Hari ini rencananya saya akan pesan tiket untuk berangkat hari Kamis malam tanggal 15 Agustus nanti. Mudah-mudahan tiketnya masih terjual. Meskipun hari Kamis tanggal 16 Agustus belum libur, saya ingin lekas-lekas pulang lebih awal. Khawatir tiketnya telah habis terjual karena akhir pekan ini libur cukup lama (2-3 hari).

Wednesday, August 08, 2007

Jakarta Memilih Gubernur Baru

(Saya suka suka sekali foto di atas. Unik. Secara belum akrab dengan Jakarta, ya lebih asik berfoto di depan pintu masuk gerbang komplek Monumen Nasional (Monas) di Jakarta Pusat. Mungkin salah satu kebanggaan warga kota Jakarta adalah Monas ini)

Hari ini, Rabu, 8 Agustus 2007, penduduk Jakarta akan memilih gubernur dan wakil gubernur baru. Sutiyoso atau lebih akrab dipanggil Bang Yos ini, akan segera menyerahkan ‘tahta’ kepemimpinan DKI Jakarta kepada gubernur baru nanti. Dua calon pasangan gubernur dan wakil gubernur Adang-Dani dan Foke-Prijanto mungkin sedang berdebar-debar hari ini. Mereka menantikan siapa yang layak dipilih oleh warga Ibukota Republik Indonesia untuk memimpin Jakarta ke depan.

Banyak janji dari kedua calon pasangan gubernur dan wakil gubernur itu telah diberikan selama kampanye kemarin. Namun, akankah benar janji-janji mereka setelah terpilih nanti membawa amanah warga kota Jakarta? Mungkin mereka sebagai warga negara Jakarta sudah paham, bagaimana track record para kandidat nomor satu di DKI Jakarta ini. Akan terbukti nanti setelah di antara kedua pasangan ini telah menjadi gubernur DKI Jakarta.

Melihat Jakarta dengan penuh sesak manusia dan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Tidak hanya kemewahan itu saja, ada pula di sepanjang kali berdiri tempat-tempat singgah para kaum miskin. Ada gubuk-gubuk kayu yang beratap seng. Ada pula mereka mandi dan mencuci di kali yang telah terlihat tidak bersih lagi. Saya pernah melihatnya sungguh memprihatinkan sekali.

Jakarta memang seperti sebuah tempat impian bagi banyak orang di luar ibukota RI ini. Jakarta yang memiliki daya tarik ini memiliki peredaran uang yang tinggi. Betapa tidak. Lebih dari tiga dekade pemerintahan Orde Baru, dua pertiga investasi asing yang masuk ke Indonesia ditanam di Jakarta (Mcbeth 2001:56).

Wajar saja jika banyak orang dari luar Jakarta berlomba-lomba mencari kerja di sana. Bahkan, momen tersebut terlihat saat menjelang setiap usai Lebaran Idul Fitri. Bisa dipastikan mungkin ada dari saudaranya yang telah berhasil di Jakarta lalu mengajak saudaranya yang lain di kampungnya. Tentu saja diajak bekerja seperti saudaranya yang telah berhasil tadi.

Di usia DKI Jakarta yang telah mencapai 469 tahun ini, dipastikan akan menjadi daya tarik yang sungguh luar biasa dari tahun ke tahun. Saat ini saja, diperkirakan ada sekitar 12 Juta warga Jakarta. Entah berapa banyak dari jumlah tersebut yang hanya bermukim di kota Jakarta. Selebihnya bermukim di pinggiran kota Jakarta dengan mata pencaharian di Jakarta.

Tidak salah mengapa Jakarta sangat maju jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Indonesia. Namun, tugas pemerintah pusat agar tidak hanya Jakarta menjadi tulang punggung perekonomian yang pesat di Indonesia. Pemerataan pertumbuhan perekonomian terutama di luar Pulau Jawa sudah seharusnya dilakukan. Jika tidak, Indonesia tidak akan pernah maju seperti negara tetangga, Malaysia, Thailand atau Singapura. Semoga Jakarta mempunyai gubernur yang amanah dan selalu berpihak kepada warganya.

Saturday, August 04, 2007

How Addicted to Blogging Are You?

"Wow...cukup tinggi ya!?" gumam saya setelah mencoba mengisi sebuah survei di situs ini. Hasil survei saya setelah menjawab 14 pertanyaan yang ditunjukan, nilai saya yakni 77 persen dalam kecanduan nge-blog. Sebelumnya, secara tidak sengaja saya menemukan survei ini dari blogger tetangga, Bodhi.

Kalau diingat-ingat dari sejarahnya, saya memulai aktivitas blogging pada tahun 2004 lalu. Kemudian, tahun 2005 saya sempat vakum dan berhenti nge-blog. Saya, ketika itu, tidak tertarik meneruskan blogging. Biasanya posting saya berisi kegiatan sehari-hari yang menarik untuk saya tulis ke dalam blog. Atau kadang-kadang ada isu yang menarik di media massa, kemudian saya tulis ke dalam blog.

Nah, kemudian pada tahun 2006 hingga sekarang ini, saya kembali memulai aktivitas blogging setelah hampir setahun tidak diisi. Untungnya, username dan password di Blogspot saya tidak lupa. Ya, jadi tinggal meneruskan saja mengisi dan sesekali membenahi template blog-nya agar sedikit lebih menarik.

Dari aktivitas blogging ini, saya jadi mempunyai 'wadah' untuk menulis secara bebas. Tentu saja saya menulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Meskipun demikian, kadang-kadang saya merasa masih kurang puas dengan tulisan yang saya buat itu. Mungkin terlihat serius seperti layaknya tulisan di media massa cetak atau online. Tapi, saya tetap konsisten menulis di blog saya ini dengan gaya seperti itu. Kadang-kadang juga ingin menulis dengan gaya orang bertutur/bercakap. Seperti kata "bagaimana" ditulis menjadi "gimana" dan seterusnya masih banyak lagi.

Untuk terus melatih tulisan agar lebih baik lagi, ada sebuah blog Juru-Kabar yang saya nilai bagus. Blog ini berusaha mengumpulkan para jurnalis yang memiliki blog. Kemudian posting-posting mereka dikumpulkan menjadi satu yang up date di blog Juru-Kabar. Menarik sekali. Saya pun ikut tergabung di dalamnya. Hampir setiap blog para jurnalis itu saya intip. Secara saya pelajari gaya tulisan mereka gunakan dalam menulis pada masing-masing blog-nya. Menulis sepertinya telah memberikan arti dalam kehidupan yang terus berjalan hingga saat ini.

Wednesday, August 01, 2007

di Jakarta

(Kiri: Roni terlihat semangat memeluk Wildan setelah akad. Kanan: Saya bisa pakai baju batik.hehe)

Posting sebelumnya (Go to Jakarta) adalah cerita saat bersiap-siap akan berangkat ke Jakarta dan selama perjalanan malam hari. Ada Yudi, Roni, Reza dan Hendi, kami berlima konvoi dengan mengendarai tiga sepeda motor. Bisa disebut touring. Saya menikmati betul perjalanan ketika itu.

Meskipun malam hari yang diliputi udara yang cukup dingin dan angin malam yang sebetulnya kurang bagus, tetap saja kami nekad berangkat ke Jakarta malam itu. Saya pun tak bisa membayangkan touring dengan sepeda motor pada malam hari. Jika dibandingkan dengan mengendarai mobil, tentu saja masih cukup aman. Selain dari segi keselamatan dan juga kesehatan, karena menurut saya tidak terlalu capek.

Selama kira-kira dua jam di dalam kapal penyeberangan ferry, tiba saatnya kami mulai kembali perjalanan. Satu per satu kendaraan terlihat antri keluar dari ‘mulut’ kapal. Mulai dari truk, bus, mobil pribadi sampai sepeda motor, bergantian keluar. Jorok dan bau tercium cukup menyengat hidung. Di tempat parkir truk-truk besar di kapal itu, memang sudah biasa. Bahkan, hampir semua kapal begitu semua kondisinya.

Perjalanan pun dimulai setelah turun dari kapal. Pelabuhan saat turun dari kapal tadi bernama Pelabuhan Merak, Banten. Selama lebih kurang tiga jam, kami melakukan perjalanan malam itu. Udara cukup dingin. Tas ransel saya letakkan di depan dada saya. Gunanya agar angin tidak menembus ke dalam badan saya. Jika tidak, bisa-bisa saya masuk angin.

Rute perjalanan dari Merak ke Jakarta, masih cukup saya ketahui. Meskipun malam hari, alhamdulillah tidak kesasar hingga sampai tujuan. Karena sebelumnya, saya pernah ke Jakarta dengan mengendarai sepeda motor juga. Tapi, bedanya waktu itu saya berangkat sendiri dan banyak kesasar di Jakarta. Kasihan sekali ya.

Sepi. Dingin. Sedikit pegal-pegal. Tapi, perjalanan tetap harus diteruskan. Meskipun begitu, tetap saja kita menggeber sepeda motor selekasnya. Saya jadi penunjuk arah bagi teman-teman yang lainnya. Secara hapal jalan-jalan menuju Jakarta yang memusingkan itu.

Saat di sebuah jalan setelah meninggalkan Kota Serang, seketika sepeda motor yang saya kendarai mengenai lubang. Untung saja tidak sampai jatuh. Tapi, tiba-tiba terdengar suara seperti besi saling beradu setelah membentur lubang tadi. Seketika itulah saya segera berhenti dan memeriksa apa yang terjadi pada motor saya itu. Gear rantai belakang menyangkut penutupnya. Pikir saya tadi, rantai motor putus dan untung saja tidak seperti yang dibayangkan.

Akhirnya momen seperti ini dimanfaatkan Yudi dan yang lainnya buat istirahat sejenak. Reza menemani saya memperbaiki kerusakan pada penutup gear rantai motor di sebuah stasiun pengisian bahan bakar yang sudah tutup dan sepi. Hanya terdengar suara musik radio di tempat penjaganya. Beberapa menit akhirnya bisa juga diatasi kerusakan kecil ini.

Jam kira-kira menunjukkan pukul 2 dini hari. Gila bener, pikir saya. Kita harus secepatnya sampai di Jakarta. Sekalian istirahat kalau sudah sampai tujuan saja. Daripada istirahat sekarang, malah keburu siang untuk sampai ke Jakarta nanti.

Touring dilanjutkan kembali. Sebenarnya, tak ada yang tahu ke masjid, tempat resepsi nikahnya Wildan. Kita hanya diberitahu nama masjid dan jalannya saja. Ini Tantangan untuk menemukannya.

Akhirnya, setelah memasuki daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat, masjid yang dituju ditemukan juga. Suara azan subuh pun kemudian terdengar dari masjid itu. Sampai juga di Jakarta.

***

(Dari kiri-kanan: Hendi, Roni, saya, Aan dan Yudi (di belakang), Rieke, dan Kak Yamin. Tambah satu lagi sang fotorafer, Reza. Kami Jalan-jalan dan berfoto ria di seputaran Monas. Dari malam sampai pagi keliling Kota Jakarta. Sempat terdampar di sebuah air mancur di Komplek Senayan sampai pagi Subuh. Saya menikmati betul jalan-jalan saat itu. Kapan ya kita jalan-jalan seperti ini lagi?)

Siang hari, acara resepsi nikahnya Wildan dimulai. Cukup banyak alumni Teknokra yang tinggal di Jakarta, datang saat acara itu. Ada Kak Ucup atau lengkapnya Muhammad Ma’ruf (dulu pernah sebagai Pemimpin Redaksi tahun 2002 dan sekarang jurnalis Harian Umum Seputar Indonesia), Kak Yamin (mantan Pemimpin Redaksi tahun 2003 dan sekarang jurnalis di Harian Umum Jurnal Nasional), Mbak Eva (dulu pernah sebagai Pemimpin Usaha tahun 2004 dan sekarang bekerja di Pantau), Kak Turyanto (mantan Pemimpin Redaksi tahun 2004, sekarang jurnalis Harian Umum Jurnal Nasional), dan Dayu (mantan Redaktur Foto tahun 2005 dan sekarang bekerja di Pantau) dan Rieke (mantan Redaktur Pelaksana tahun 2006 dan sekarang jurnalis pada Majalah Inspire Kids).

Yudi pernah bilang,”Weeii….ada lima generasi pemred bertemu di sini semua.” Baru saya sadari, ada lima mantan pemred, mulai dari Kak Ucup, Kak Yamin, Kak Turyanto, Roni dan saya ada di sana. Mungkin momen ini secara tidak sengaja saja bisa saling bertemu. Kita semua berfoto-foto. Mengenang kebersamaan kita semua.

(Saat kembali pulang ke Bandarlampung dari Jakarta, Saya tidur-tiduran di atas sehelai koran dikelilingi mobil-mobil yang parkir di atas kapal ferry penyeberangan. Di luar sedang hujan deras. Untungnya banyak makanan dan kopi panas untuk sekedar penghangat. Perjalanan dari Cilegon ke Merak, sempat kehujanan dan baju kita basah semua. Dingin)

Friday, July 27, 2007

AJI Kecam Pemukulan Pengurus SKM Teknokra

Sumber: Harian Umum Radar Lampung, Jumat, 27 Juli 2007
Buntut Pemberitaan Terkait Uang Parkir


Laporan/Editor: Ade Yunarso

BANDARLAMPUNG - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandarlampung menyesalkan tindakan menjurus premanisme yang dilakukan sejumlah oknum mahasiswa Universitas Lampung (Unila).

Tindakan itu mereka lakukan terhadap pengelola Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Teknokra yang memberitakan tentang pengutipan ”uang parkir” tidak resmi oleh petugas satuan pengamanan (satpam) di salah satu fakultas di lingkungan Unila.

Menurut Ketua AJI Kota Bandarlampung Juwendra Asdiansyah, tindakan itu jelas mengganggu kebebasan pers. Karenanya, ia meminta Rektor Unila Prof.Dr. Sugeng P. Harianto, M.S. memberi sanksi kepada pelaku.

”Kami juga mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus ini dan mengimbau semua pihak menjunjung tinggi kebebasan pers,’’ ujar Juwe–sapaan akrab Juwendra– kepada Radar Lampung semalam.

Aksi itu, menurutnya, terjadi pada saat PTN umum terbesar di Lampung itu menjadi tuan rumah Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) XX pada 17–22 Juli lalu.

Kamis (19/7), kantor SKM Teknokra kedatangan tamu yang keberatan terhadap pemberitaan yang pernah dimuat Teknokra News edisi 86 yang berjudul Satpam FKIP ”Panen” Uang Parkir.

Namun, kedatangan mereka tersebut dilakukan tidak dengan santun. Salah satu di antara mereka mengancam pengurus Teknokra di sekretariatnya dengan mengacungkan badik.

Setelah kedua tamu yang juga mahasiswa Unila itu dipersilakan masuk, tak lama kemudian tujuh mahasiswa mendadak muncul dan ikut ke dalam. Mereka kemudian mengambil posisi duduk di sofa.

Salah satu dari mereka mengatakan tujuan kedatangan dengan nada tinggi, yang menuding SKM Teknokra melalui pemberitaan itu mau mengadu domba mereka dengan satpam di fakultasnya.

Para oknum mahasiswa itu bahkan secara emosional menunjukkan pula berita yang dipersoalkan. Suasana pun menjadi panas. Mereka naik ke atas sofa dan salah satu oknum mahasiswa itu memukul dada serta pipi sebelah kiri Pimpinan Umum Teknokra Taufik Jamil Alfarrau dengan disaksikan yang lainnya. (*)

Wednesday, July 25, 2007

Gara-Gara Berita, SKM "Teknokra" Diancam Oknum Mahasiswa FKIP Unila

Bandarlampung, 24/7 (ANTARA) - Gara-gara pemberitaan tentang pengutipan "uang parkir" tidak resmi oleh petugas Satuan Pengamanan (Satpam) di salah satu fakultas di lingkungan Universitas Lampung (Unila), pengelola Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Teknokra malah mendapatkan ancaman dan perlakuan buruk dari sejumlah oknum mahasiswa fakultas itu.

Informasi yang diperoleh ANTARA Bandarlampung, Selasa, menyebutkan, aksi menjurus pada premanisme di Kampus Unila itu justru terjadi pada saat PTN umum terbesar di Lampung itu menjadi tuan rumah Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-20 (17-22/7) lalu.

Pimpinan Umum SKM Teknokra, Taufik Jamil Alfarau membenarkan kejadian pada Kamis (19/7), saat SKM Teknokra di kantornya di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unila, kedatangan "tamu" dari Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) Kelompok Studi Seni (KSS) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unila.

Mereka datang atas keberatan terhadap pemberitaan yang pernah dimuat "Teknokra News" Edisi 86 yang berjudul "Satpam FKIP "Panen" Uang Parkir".

Namun, kedatangan mereka tersebut dilakukan tidak dengan santun. Salah satu diantara oknum mahasiswa dari UKMF KSS itu mengancam dengan mengacungkan senjata tajam (badik) kepada pengurus Teknokra yang ada di sekretariatnya.

Taufik menuturkan, setelah kedua tamu mahasiswa FKIP Unila itu dipersilakan masuk, tak lama kemudian sekitar tujuh orang mahasiswa lainnya tiba-tiba masuk ke ruangan tanpa permisi.

Mereka kemudian mengambil posisi duduk di sofa, salah satu dari mereka langsung mengatakan maksud dan tujuan kedatangan dengan nada tinggi, yang menuding SKM Teknokra melalui pemberitaan itu mau mengadu domba mereka dengan Satpam di fakultasnya.

Para oknum mahasiswa itu bahkan secara emosional, menunjukkan pula berita yang dipersoalkan.

Suasana pun menjadi panas, walaupun Taufik kemudian berusaha untuk menenangkan dan memberi penjelasan kepada mereka. Namun, mereka tetap tidak terima dengan penjelasan itu dan memaki-maki dia dengan kata-kata kotor dan cabul.

Kendati terus mencoba menenangkan dan memberi penjelasan bahwa Teknokra tidak bermaksud menjelek-jelekkan KSS, maupun Satpam atau mengadu domba diantara keduanya.

Kepada para mahasiswa itu, Taufik mengatakan, berita itu merupakan hasil wawancara dan isinya tidak terdapat kata-kata yang menjelek-jelekkan kedua belah pihak.

Tapi penjelasan itu tidak membuat mereka mengerti, bahkan emosi mereka semakin menjadi, dan mereka serentak berdiri seraya menunjuk-nunjuk serta mengeluarkan kata-kata kotor dan cabul.

Salah satu diantara mereka bahkan ada yang mencabut senjata tajam berjenis badik dari pinggang dan mengacung-acungkan di depan muka Taufik.

Walaupun mundur karena melihat situasi tidak bisa terkendali, mereka kemudian naik ke atas sofa, dan salah satu mahasiswa itu memukul dada serta pipi sebelah kiri Taufik disaksikan yang lainnya.

"Kami tetap mencoba menghindari kontak fisik, bukan karena takut tetapi tidak mau membuat nama Unila tercemar karena adanya perkelahian, mengingat sekarang sedang ada Pimnas ke-20. Walaupun kawan-kawan di Teknokra itu sempat terpancing emosi dan akan melawan, tapi saya menghalang-halangi, " urai Taufik pula.

Salah satu dari oknum mahasiswa itu, juga mencoba untuk menenangkan teman-temannya yang sudah emosi dan mengajak keluar Sekretariat Teknokra, walaupun salah satu diantara mereka keluar sembari melampiaskan kekesalannya dengan menendang daun pintu, menggebrak meja serta membanting vas bunga milik Teknokra.

Menurut Taufik, setelah kejadian itu, sejumlah pihak atasnama mahasiswa itu berupaya untuk bertemu dan mengajak "damai".

Sejumlah alumni Unila yang pernah aktif di SKM Teknokra yang mengetahui peristiwa "penyerangan dan pengancaman" itu, justru mendesak agar kasus tersebut diproses hukum dengan diadukan kepada polisi, sehingga oknum mahasiswa FKIP Unila yang mengancam dihukum sesuai kesalahannya.

Salah satu dosen Fakultas Hukum Unila, Dr Eddy Rifai bahkan mengaku siap mendampingi para aktivis pers mahasiswa Teknokra itu, untuk menindaklanjuti kasus pengancaman terhadap institusi pers kampus itu kepada aparat penegak hukum.

"Jangan pernah membiarkan tindakan anarkis dan sewenang-wenang terjadi dialami kawan-kawan pers mahasiswa, apalagi pelakunya oknum mahasiswa di kampus sendiri," ujar salah satu kandidat yang lolos nominasi Panitia Seleksi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu pula.

Sejumlah alumni Unila yang pernah aktif di SKM Teknokra lainnya, juga mendesak agar pihak Rektorat dan Dekan FKIP Unila segera memproses dan menyelesaikan kasus tersebut.

"Tidak cukup dengan minta maaf dan berdamai, kalau dibiarkan tanpa tindakan hukum yang tegas akan menjadi preseden buruk bagi SKM Teknokra dan pers mahasiswa lainnya,' kata salah satu alumni itu pula.

Juwendra Asdiansyah, alumni SKM Teknokra yang juga Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung juga mengecam keras tindakan oknum mahasiswa FKIP Unila kepada Pengurus SKM Teknokra itu.

Menurut dia, seharusnya mekanisme hak jawab dan cara-cara menyelesaikan masalah berkaitan dengan keberataan sebuah pemberitaan tidak dilakukan dengan cara yang anarkis dan cenderung premanisme seperti itu. Apalagi di lingkungan kampus yang semestinya lebih mengedepankan sikap santun, rasional dan cerdas.

Diselesaikan Kekeluargaan
Namun Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Unila (PR III), Drs M Thoha BS Jaya MS menilai, persoalan itu adalah internal Unila yang masih bisa diselesaikan secara baik-baik dan dengan kekeluargaan oleh pihak Unila sendiri serta tidak perlu sampai dibawa ke polisi.

Thoha menegaskan, telah minta Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan FKIP Unila untuk segera mempertemukan kedua pihak lebih dulu, untuk kemudian diajak bertemu langsung dengan dirinya.

"Kebetulan dua hari ini saya masih tugas di Jakarta, tapi setelah kembali akan segera mempertemukan mereka untuk menyelesaikannya dengan baik-baik," kata Thoha lagi.

Thoha berpendapat, insiden itu adalah persoalan internal yang dapat diselesaikan secara kekeluargaan di Unila sendiri. Apalagi tidak ada yang korban sampai terluka atau akibat buruk lainnya.

Tapi dia juga berjanji, tidak akan membiarkan adanya oknum mahasiswa yang berbuat anarkis dan cenderung berlaku preman di lingkungan kampusnya sendiri.

Kendati begitu, Thoha belum dapat memastikan kemungkinan memberikan sanksi kepada mahasiswa FKIP yang terbukti melakukan tindakan pengancaman dengan senjata tajam dan perbuatan tidak menyenangkan lainnya kepada crew SMK Teknokra itu.

Pimpinan Umum SKM Teknokra dan Pengurus surat kabar mahasiswa yang tetap eksis di Indonesia itu, juga mengharapkan persoalan tersebut masih bisa diselesaikan secara baik-baik dan damai mengingat pelakunya adalah juga mahasiswa di kampus mereka.

Tapi mereka mengharapkan, tidak ada lagi tindakan kekerasan, intimidasi apalagi pengancaman terhadap pers mahasiswa terjadi di Unila hanya karena keberatan dengan pemberitaan seperti itu.

Thursday, July 12, 2007

Go to Jakarta

(Foto: Saya tertidur bersebelahan dengan Roni. Kerjaan Reza memfoto kami berdua di depan pintu masuk ruang kelas ekonomi Kapal Ferry penyeberangan Selat Sunda. Kata Yudi, kita berdua disebut 'anjal' atau anak jalanan)

"Jadi ngga berangkat?"tanya saya.
"Ini lagi diomongin ma yang lain,"kata Taufik, Pemimpin Umum UKPM Teknokra Unila.
"Waduh, kok baru diomongin. Sekarang sudah mau sore,"kata saya dalam hati.

Setelah Salat Jumat, pekan lalu (6/7), dari kostan Saya bergegas ke kesekretariatan Teknokra. Tapi, belum ada tanda-tanda akan segera berangkat siang itu. Tampaknya tidak jadi pikir saya. Padahal, teman-teman yang akan ikut ke Jakarta sepakat untuk stand by di Teknokra. Saya tanya teman-teman yang ada di sana, belum ada kepastian jadi berangkat atau tidak. Wah...Saya jadi bertambah bingung. Di tas yang Saya bawa, hampir semua peralatan telah disiapkan. Cukup penuh ransel itu.

Rencana berangkat ke Jakarta sebelumnya telah dirancang di rumah Novir pada malam Jumat sebelumnya saat syukuran wisuda Novir di Pasir Gintung, Tanjung Karang. Ada yang mengusulkan naik bus. Ada pula yang mengusulkan naik sepeda motor, tapi dengan konvoi bersama.

Akhirnya diputuskan ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan teman kita, saudara kita, kakak kita, Ahmad Wildan (lebih akrab dipanggil Bung Kiwil), dengan konvoi mengendarai sepeda motor. Awalnya Yudi mengajak yang lainnya. Saya setuju usul Yudi. Secara perjalanan jauh mengendarai sepeda motor, apalagi menyeberangi Selat Sunda dan ke Jakarta itu menjadi tantangan kedua bagi Saya. Sebelumnya juga pernah ke Jakarta mengendarai sepeda motor sendiri sekitar akhir Januari 2007 lalu.

Menunggu hingga Jumat sore, diputuskan M.Reza akan berangkat dengan Hendi. Mereka naik sepeda motor Yamaha Mio milik Reza. Yudi berboncengan dengan Roni dengan mengendarai sepeda motor Yamaha Vega kesayangannya Roni. Kedua motor mereka keluaran tahun 2007. Masih terbilang 'anyar' untuk dikendarai jarak jauh. Sedangkan Saya mengendarai sepeda motor Honda Legenda versi 2 tahun 2002 dengan sendiri. Awalnya sempat mengajak May ikut bersama Saya. Jadi, seharusnya tiga motor itu ditumpangi masing-masing enam orang. Yudi dengan Roni, Reza dengan Hendi dan Saya dengan May. Setelah dibujuk via SMS, May tidak jadi ikut. Katanya sedang sibuk dan banyak hal kebutuhan yang harus dipenuhinya. Akhirnya hanya kita berlima berangkat ke Jakarta.

Sore itu semakin mendekati waktu malam. Sejenak dipikir-pikir, setelah ba'da Maghrib rencananya kita harus lekas berangkat. Tidak terbayang oleh Saya akan berangkat pada malam hari. Daripada menunggu hingga besok pagi, akhirnya tetap diputuskan malam Sabtu itu kita berlima berangkat ke Jakarta. Karena undangan pernikahan Bung Kiwil dilaksanakan hari Sabtu siang (7/7) di Masjid Istiqomah, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Tak terbayangkan berjalan malam hari mengendarai sepeda motor harus ekstra hati-hati. Perjalanan diawali dari Kota Bandarlampung menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan. Jaraknya sekitar 90 kilometer lebih. Sepanjang jalan itu tidak semuanya datar dan mulus. Ada saja kami temui banyak berlubang. Terkadang Saya kaget saat tiba-tiba melewati lubang yang tidak terlihat dari sorot lampu sepeda motor. Bukan hanya sekali atau dua kali terpaksa melewati lubang-lubang jalan yang rusak itu. Mungkin bisa lebih dari 10 kali. Menyebalkan. Untungnya kondisi roda motor depan selalu 'sehat'.

Secara bergantian, kita berjalan konvoi mengiringi dengan cepat. Kecepatan kita dari speedometer yang Saya lihat antara 70-80 Km/jam. Sesekali Reza mengendarai Mio-nya dengan lebih cepat hingga kecepatan 90 Km/jam. Legenda versi 2 Saya pun terkadang 'ngos-ngosan' mengejar Reza. Maklum, motor baru mereka beda dengan motor Saya yang sudah berumur hampir lima tahun.

Terhitung sekitar pukul 10 malam tiba di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan. Tampak ramai truk-truk besar bermuatan banyak sedang berbaris antri sangat panjang di pelabuhan penyeberangan itu. Kami pun tidak kesulitan mendapatkan tiket naik ke kapal ferry penyeberangan Selat Sunda ke Pelabuhan Merak, Banten. Satu tiket penyeberangan untuk sepeda motor tarifnya sebesar Rp 25 ribu. Setelah mendapatkan tiket, secepatnya kami masuk ke dalam kapal.

Bau menyengat mulai terasa saat masuk ke dalam kapal. Selalu saja bau di dalam kapal tempat truk-truk parkir itu, seperti bau 'pesing'. Tidak ada khusus kendaraan pribadi di lantai dua. Semua kendaraan bercampur di sana, termasuk sepeda motor. Akhirnya, pasrah saja tidak dapat kapal yang cukup bagus untuk dapat memarkirkan sepeda motor kita berlima.

Setelah memarkirkan sepeda motor kita di sana, segera kita beranjak ke lantai dua mencari tempat istirahat. Akhirnya, lega sekali bisa sampai dengan selamat. Tidak lama dari itu, kapal pun segera berangkat. Perjalanan kita berlima tadi menghabiskan waktu sekitar dua jam. Saya bisa beristirahat di dekat pintu ruang kelas ekonomi. Sesaat tertidur bersebelahan dengan Roni. Capek tapi senang juga bisa konvoi bareng menunggangi 'kuda besi' menuju Jakarta.

Sunday, July 01, 2007

Transformers: Autobots vs Decepticons

Beberapa hari yang lalu, Saya melihat sebuah tayangan iklan di salah satu stasiun TV swasta Indonesia. Sebuah film tentang robot segera ditayangkan. Tentunya di bioskop terkenal dan yang monopoli di Indonesia itu.

Sebenarnya Saya melihat iklan itu tidak sengaja setelah beberapa iklan komersil lain. Cukup sekilas dan cepat. Mungkin iklan yang dikeluarkan dari perusahaan cinema group Indonesia itu hanya berdurasi sekitar 7-10 detik. Tapi, bisa jadi lebih dari itu. Seperti kebanyakan iklan-iklan film di stasiun TV swasta, biasanya singkat sekali.

"Transformers". Itu film yang akan ditayangkan di bioskop dalam waktu dekat ini. Saya kemudian kembali mengingat-ingat masa kecil dulu sekitar awal tahun 1990-an. "Kayaknya pernah nonton film ini deh,"kata saya mencoba mengingat-ingat. Setelah mencoba mengingat-ingat, ternyata benar. Dulu film itu termasuk kartun berseri dan cukup terkenal. Bahkan, seingat saya miniatur robot-robot dari film itu pun banyak dijual.

Penasaran dengan film yang segera ditayangkan itu, Saya sempat mencari beberapa film versi kartunnya di situs Youtube. Cukup membangkitkan memori masa kanak-kanak dulu. Ada tokoh kelompok yang baik/protagosnis (Autobots, dipimpin oleh Optimus Prime (foto: robot berwarna merah) dan yang jahat/antagonis (Decepticons, dipimpin oleh Megatron (foto: robot berwarna perak).

Tapi, seperti kebanyakan film-film yang diangkat dari cerita komik atau kartun seri terdahulu dan ditayangkan di bioskop, cukup banyak perbedaan. Misalnya saja, pemimpin Decepticons (Megatron). Di cerita film kartu berseri, perubahan wujudnya dari sebuah robot menjadi pistol dan sebaliknya. Tapi di tayangan bioskop, Megatron berubah wujud menjadi pesawat pengebom Stealth.

Saya tidak menceritakan detail kisah dari film Transformers ini. Memang di sejumlah website telah ada beberapa sinopsisnya. Tapi, lebih dari sekedar ingin tahu ceritanya, Saya penasaran dengan efek visual dari robot-robot itu yang terlihat nyata. Beberapa tayangan singkatnya sudah saya lihat dari situsnya (Transformers). Sangat mengagumkan. Optimus Prime (Pemimpin Autobots) yang dapat berubah menjadi sebuah truk gandeng itu terlihat nyata di film. Beberapa adegan berkelahi di jalan tol pun tampak sungguhan di film itu.

Mengutip dari Kompas, pembuatan film Transformers ini, setiap gambarnya menggunakan CGI (Computer Generated Image) dan waktu yang dibutuhkan me-render film ini selama 38 jam. Film yang banyak dibantu dengan komputer itu, sutradara Michael Bay menginginkan adegan beramtem antarrobotnya harus senyata mungkin. Tidak tanggung-tanggung, biaya yang dibutuhkan untuk membuat 15 adegan berkelahi di film itu menghabiskan sebagian besar dana 150 juta dollar AS.

Tinggal menunggu beberapa hari lagi segera tayang film Transformers ini di bioskop (Halah...kayak sales sedang promosi aja nih). Kabarnya mulai ditayangkan tanggal 4 Juli mendatang. Apa ada kaitannya dengan peringatan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat ya? Film ini menjadi favorit Saya kembali sejak film kartun serinya yang pernah ditayangkan lebih 10 tahun yang lalu.

Saturday, June 23, 2007

Selamat Wisuda Saudaraku

(Wisudawan Unila Periode Juni 2007 di Gedung Serba Guna Unila. Foto oleh: M.Reza)

"Wisuda itu ibarat berangkat haji," kata Roni kepada Saya suatu hari. Perumpamaan yang menarik pikir saya. Seperti menuju puncak dari seluruh aktivitasnya selama menjadi mahasiswa. Tidak hanya sekedar berkutat di bangku kuliah, mendengar ceramah dosen, praktikum di lab atau mengerjakan tugas bersama teman-teman. Tetapi, ada hal lain dari itu semua yang patut diikuti yakni sebagai aktivis mahasiswa.

Rasanya tidak puas jika selama kuliah dan menjadi mahasiswa hanya dituntut belajar untuk mengejar Indeks Prestasi Komulatif (IPK) tinggi saja. Tanpa dibarengi dengan kegiatan ekstrakulikuler, ibaratnya makan sayur tanpa garam. Tidak terasa nikmat.

Selamat Wisuda saudaraku! Roni, Novir, dan Doni, semoga ilmu yang kalian dapatkan selama bertahun-tahun di kampus tercinta Unila, bermanfaat bagi kaluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Saya jadi ingat apa yang dikatakan Gubernur Lampung Sjachroedin ZP saat memberi kata sambutan untuk semua Wisudawan Unila, Kamis (21/6) kemarin. "Tidak ada gunanya Ilmu tanpa iman dan taqwa," kata Sjachroedin ZP berpesan.

Apa yang dikatakan Gubernur Lampung ini ada benarnya juga. Banyak sarjana hebat yang dilahirkan dari negeri ini. Namun, terkadang iman dan taqwa-nya dikalahkan keangkuhan ilmu yang didapatkannya. Selayaknya ilmu yang bermanfaat untuk masyarakat, itu ditegakkan dari iman dan taqwa kepada Sang Khaliq.

Kalian lahir dari Teknokra. Kalian pun dibesarkan bersama-sama dengan Teknokra. Jangan melupakan itu. Kelak ilmu dari Teknokra akan bermanfaat di dunia masyarakat yang sebentar lagi akan kalian hadapi.

Saya yakin kalian bertiga mampu menjadi bagian dari generasi penerus bangsa yang bermanfaat bagi negeri ini. Semoga!

Monday, June 18, 2007

Ke Pantai Sebalang Tarahan Lampung Selatan

(Foto: Saya (paling kanan) melantik para pengurus baru Teknokra: Weni, Vera, Lily, dan Ismi. Saya memberikan pecahan Kelapa sebagai simbol untuk Weni dan teman-temannya yang baru dilantik)

Rencananya Sabtu sore kemarin (16/6), Saya, Yudi dan Dede akan berangkat ke Pantai Sebalang, Tarahan, Lampung Selatan. Kami bertiga naik sepada motor. Kebetulan May juga akan ikut bersama kita. Jadi, Kita berangkat ke pantai mengendarai dua sepeda motor dari kampus. Saya membonceng May dan Yudi membonceng Dede. Sayangnya, Saya, Yudi dan Dede harus menjemput May di rumahnya.

Berangkat ke rumah May, kami bertiga dijamu dengan suguhan Tekwan panas. "Wah, kebetulan sekali lapar dan bisa menikmati makan tekwan," pikir Saya. Akhirnya, berangkat ke Pantai Sebalang menjadi telat. Saya pikir perjalanan ke Pantai yang jaraknya sekitar 45 km dari kampus kira-kira satu jam, itu akan tiba di Pantai Sebalang pada malam hari. Ya, tidak apalah. Kami berempat jalan mengendarai sepeda motor tidak terlalu terburu-buru.

Sebelumnya, Pengurus Teknokra mengundang kami yang telah alumni untuk hadir di acara pelantikan anggota baru pengurus Teknokra. Mereka yang telah lulus masa magang ada 10 orang. Mereka segera dilantik hari Minggu pagi (19/6) itu. Tentu saja bertambahnya kru baru ini akan memperkuat barisan bagi pengurus Teknokra untuk akan datang.

Mereka tidak hanya melantik pengurus baru, tapi juga mengadakan rapat evaluasi kegiatan Rally Photo yang mereka selenggarakan beberapa waktu yang lalu. Sejak Sabtu malam hingga Minggu subuh, mereka sangat serius mengikuti rapat hingga selesai. Terlihat dari wajah mereka yang mengantuk. Mata agak kemerah-merahan. Tapi, akhirnya mereka berhasil menyelesaikan rapat yang sangat melelahkan itu.

***
Keesokkan Minggu pagi, saya sempat memfoto Edi ketika diceburkan ke laut oleh teman-teman Teknokra. Ketika kegiatan Rally Photo kemarin, Edi ditunjuk sebagai Ketua Panitia Pelaksana kegiatan itu. Mungkin saja, mereka ingin melepaskan Edi ke laut sebagai ungkapan senang telah melalui kegiatan yang telah mereka adakan beberapa waktu lalu.

Wajah-wajah mereka terlihat bahagia. Satu amanah kegiatan berlevel daerah telah mereka selenggarakan dengan baik. Saya pun jadi ikut senang melihat mereka.

Tuesday, June 12, 2007

Di Balik Kamar


(Foto: Kondisi kamar kostanku baru-baru ini)
"Rumahku adalah istanaku." Mungkin begitulah sebagian orang menganggap tempat tinggalnya (rumah,red). Ada yang sangat betah sehari penuh berada di rumah. Ada pula yang menganggap berada di rumah hanya untuk menumpang tidur dan istirahat.

Mungkin bagi saya yang telah lama tinggal jauh dari orangtua, memang harus membiasakan diri untuk mengurusi tempat tinggal (kostan,red) sendiri. Namun, sayangnya sejak tahun 2001 lalu hijrah dari kota Palembang ke Bandarlampung untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi, saya belum terbiasa dengan kerapian. Mulai dari membersihkan kamar kostan, menyuci baju secara teratur, menyetrika baju, sampai mengurus sepeda motor, saya belum sangat terbiasa teratur untuk seperti itu.

Terkadang kalau saya balik ke Palembang, harus siap dinasehati oleh ibu saya untuk rajin bersih-bersih. Yah, namanya juga anak laki-laki seperti saya susah sekali kalau disuruh bersih. Lihat saja kamar kostan saya di foto itu terlihat berantakan. Tapi, untung saja tidak sampai kumuh. Apalagi saya jarang sekali pulang ke kostan. Kalau pulang, hanya menumpang menyuci pakaian-pakaian kotor yang telah menumpuk selama seminggu. Atau sesekali cuma untuk tidur pagi karena lelah begadang malam di kampus.

Bisa dihitung selama seminggu berada di kostan cuma sebentar dan tidak lama. Bahkan, untuk sehari penuh saya tidak betah di kostan. Makanya sering berada di luar. Akibatnya, kostan jadi tak diurus kebersihannya. Ditambah lagi malas sekali bersih-bersih. Ada yang bersedia membantu saya? Hehe....

Tertarik ingin memfoto kondisi kamar kostan saya seperti apa, nah saya sempat memfoto kostan saya dan seperti terlihat di atas itulah hingga sekarang. Ada monitor komputer yang sudah jadi 'bangkai' tak terurus lagi. Ada CPU (Pentium I,red) pun sudah tak berfungsi lagi. Di atas meja setumpuk buku-buku yang tak jelas lagi apa saja dan kebiasaan meletakkan baju-baju kering dari jemuran. Sepertinya memang segera dibersihkan dan dirapikan ya? Bantuin dong :)

Wednesday, June 06, 2007

Pemilihan Rektor Unila diwarnai Demonstrasi dan Pemukulan


Puluhan mahasiswa Unila terlihat masih bertahan di depan Gedung Rektorat Unila. Meskipun hujan deras sempat membasahi mereka beberapa menit, Rabu sekitar pukul 11 siang (6/6). Mereka saling bergantian berorasi membacakan tuntutannya. Seorang mahasiswa berdiri di atas meja, dengan suara yang lantang dari pengeras suara ke arah gedung berlantai tujuh itu.

Pilihan hari itu akan menentukan selama empat tahun ke depan Unila. Rektor Unila Periode 2007-2011 segera dipilih hari itu. Tiga calon rektor Unila, Prof.Dr.Ir.Tirza Hanum, Prof.Dr.Ir.Sugeng P.Harianto, dan Prof.Dr.Sudjarwo nasibnya ditentukan oleh 43 anggota Senat Unila yang akan memilih satu di antara mereka bertiga untuk menjadi Rektor Unila empat tahun mendatang.

Sejak pukul 9 pagi, Rapat Senat Unila dengan agenda pemilihan rektor Unila langsung dibuka oleh Ketua Senat Unila Prof.Dr.Ir.Muhajir Utomo,M.Sc. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian visi dan misi serta tanya-jawab dengan para anggota Senat Unila secara berturut-turut mulai dari: Prof.Dr.Ir.Tirza Hanum (Pembantu Rektor I Bidang Akademik), Prof.Dr.Ir.Sudjarwo (Dekan FKIP), dan terakhir Prof.Dr.Ir.Sugeng P.Harianto (Dekan FMIPA).

Tiga calon rektor itu telah menyampaikan visi dan misi serta tanya-jawab dengan para anggota Senat Unila, sekitar pukul 10.45 WIB. Selanjutnya, agenda pemilihan rektor segera dimulai. 43 kertas suara dibagikan kepada 43 anggota Senat Unila yang hadir saat itu. Proses pemilihan hingga perhitungan suara berjalan lancar hingga sekitar pukul 11.30 WIB. Hasilnya, Prof.Dr.Ir.Sugeng P.Harianto meraih suara terbanyak (27 suara), disusul Prof.Dr.Ir.Tirza Hanum (14 suara) dan Prof.Dr.Sudjarwo (2 suara).
***
Di luar gedung Rektorat Unila tampak para mahasiswa yang sebagian besar mengenakan jaket alamamater Unila itu semakin 'memanas'. Mereka menantikan Rektor terpilih Prof.Dr.Ir.Sugeng P.Harianto untuk diminta agar segera menemui mereka dan menandatangani delapan tuntutan yang disampaikan para mahasiswa. Namun, dari sebelah timur dan barat para Satpam telah berjaga-jaga dan meblokir para mahasiswa dengan meja-meja sebagai pembatas agar tidak mendekat ke arah pintu masuk Gedung Rektorat Unila.

Saya yang berada di luar gedung itu jadi kebingungan. Niat ingin masuk tiadak berhasil karena semua pintu masuk ke Gedung Rektorat ditutup dan dijaga para Satpam. Saya penasaran untuk segara masuk dan menemui rektor yang baru saja terpilih.

Dengan melakukan lobi dan mengaku wartawan kepada salah seorang Satpam, akhirnya saya dan teman saya berhasil masuk ke dalam gedung, lalu segera menuju ke Ruang Sidang Rektorat di lantai dua, tempat berlangsungnya pemilihan rektor.

Tidak lama kemudian, terdengar suara ramai dari arah para mahasiswa yang berdemonstrasi di depan gedung itu. Secepatnya saya lari keluar gedung dan mencari tahu apa yang terjadi. Menurut beberapa wartawan dan fotografer media cetak yang sempat saya tanyakan, ada seorang mahasiswa Fakultas Teknik (FT) dipukuli Satpam karena diduga sebelumnya memukuli seorang calon rektor saat akan keluar dari gedung.

Menurut wartawan dan fotografer yang saya tanyai, laki-laki yang diduga calon rektor Prof.Dr.Sudjarwo itu memakai seragam Satpam dan mengenakan helm tertutup sehingga wajahnya tidak terlihat dengan jelas, lalu dibonceng seorang Satpam lain dengan mengendarai sepeda motor untuk menghindari kerumunan para mahasiswa yang berdemonstrasi.

Namun, saat si pengendara sepeda motor memboncengi yang diduga tadi calon rektor Prof.Dr.Sudjarwo, itu menabrak seorang mahasiswa FT yang kebetulan sedang menyeberang jalan di depan Gedung Rektorat dan sempat menabrak mahasiswa tadi. Tidak lama kemudian, para Satpam yang berjaga tiba-tiba mengejar mahasiswa tadi hingga ke depan Gedung A Fakultas Pertanian yang tidak jauh dari Gedung Rektorat Unila.

Mahasiswa tadi sempat mendapat pukulan dari sejumlah Satpam yang menangkapnya. Mukanya tampak memar dan kemerah-merahan. Kacamata yang dipakainya pun terlihat pecah. Ia sepertinya tidak melawan saat ditanggap dan mendapat pukulan dari para Satpam.

Setelah digiring masuk ke dalam Rektorat Unila dan ditanya sejumlah wartawan TV dan media cetak juga Satpam, mahasiswa itu ternyata korban salah sasaran dari oknum Satpam yang memukulnya.

Saya sempat mengambil sejumlah gambar dengan memfoto dan rekam video dari peristiwa kerumunan Satpam yang memukuli mahasiswa yang menjadi korban. Meskipun rekaman video itu berdurasi sebentar, dari situ bisa dilihat kearoganan dan kemurkaan oknum Satpam terhadap mahasiswa yang menjadi korban sasaran pemukulan.

Tuesday, May 29, 2007

Siapa Rektor Unila 2007-2011?


Enam bakal calon Rektor Unila periode 2007-2011 mungkin berdebar-debar menjelang Rapat tertutup Senat Unila, Rabu pagi (23/5) lalu di Ruang Sidang Rektorat Unila lantai dua. Maklum mereka akan mempresentasikan visi dan misi sebagai Rektor Unila jika terpilih di hadapan 44 anggota Senat Unila. Enam orang yang mencalonkan diri sebagai Rektor Unila periode mendatang itu adalah Dr.Harris Hasyim,M.A, Prof.Irwan Effendy, Prof.Dr.Sudjarwo, M.S, Prof.Dr.Ir.Sugeng P.Harianto, M.S, Prof.Dr.Sutopo Gani Nugroho, dan Prof.Dr.Tirza Hanum.

Rencananya, pukul 9 pagi Rapat Senat itu akan segera dimulai. Tapi, sejak saya datang dan melihat-lihat ke dalam ruang Sidang itu dari pintu masuk, masih terlihat sedikit orang di sana meskipun jam sudah menunjukkan pukul 9 lebih. Tidak jauh dari sana, Saya melihat Ketua Senat Unila yang juga Rektor Unila dan akan diganti karena sudah habis masa jabatannya, Prof.Dr.Ir.Muhajir Utomo, M.Sc tampak keluar-masuk Ruang Sidang itu. Sambil melihat ke arah lantai bawah, sepertinya ia ingin memastikan jalannya Rapat Senat hari itu aman. Ia berpesan kepada seorang Satpam yang berjaga di depan pintu, "Kalau ada demo dan ada orang yang ingin masuk, jangan diizinkan!" pesannya.

Sekitar pukul 9.30 WIB, Muhajir segera membuka Rapat Senat Unila. Ternyata, hanya 39 anggota Senat Unila yang hadir saat itu. Acara Rapat Senat Unila itu bisa diikuti para dosen, karyawan dan wartawan melalui video teleconference yang telah disiapkan panitia di ruangan khusus. Tapi, sangat disayangkan tidak semua agenda Rapat Senat itu tidak bisa kita dengarkan. Hanya agenda penyampaian visi dan misi para bakal Calon Rektor saja kita dapat mendengar sekaligus melihat dari tayangan video itu. Sebelumnya, ada pembahasan tidak dapat kami dengarkan. Itu hal yang dilarang oleh panitia. Mungkin anggota Senat Unila tidak ingin pembahasan lain-lainnya diketahui oleh publik.

Masing-masing bakal calon menyampaikan visi dan misinya selama 30 menit, berikut menjawab pertanyaan dari para anggota Senat Unila. Sayangnya, sejak awal saya tidak mengikuti satu per satu penyampaian visi dan misi para bakal calon itu. Tapi, menjelang akhir salah satu bakal calon sempat saya lihat dan dengar dari tayangan video, tampak begitu semangat menyampaikan visi dan misinya serta menjawab pertanyaan dari para anggota Senat Unila.

Keenam bakal calon Rektor Unila itu masing-masing tidak diperkenankan melihat calon lainnya menyampaikan visi dan misinya. Saat menunggu giliran menyampaikan visi dan misinya, mereka menunggu di sebuah ruangan khusus yang disediakan panitia. Jadi, mereka berenam tidak ada yang saling tahu masing-masing visi misinya yang disampaikan di hadapan anggota Senat Unila.

Menjelang pukul 14.30 WIB untuk pemungutan suara. Kertas suara yang disiapkan panitia mirip ketika KPU menyiapkan kertas suara untuk pemilihan anggota DPR dan Presiden RI kemarin. Ada kotak suara. Ada juga bilik untuk pencoblosan suara. Semuanya mirip sekali seperti Pemilu 2004 lalu.

Tiba saatnya pemungutan suara dimulai. Satu per satu anggota Senat Unila dipanggil untuk mendapatkan satu kertas suara dan langsung mencoblos pilihannya. Dari ruangan khusus melihat tayangan video teleconference, Saya perhatikan beberapa karyawan Unila menanti perhitungan suara yang segera dimulai. Hasilnya, Prof.Dr.Ir.Sugeng P.Harianto, M.S memperoleh 12 suara, Prof.Dr.Sudjarwo,M.S (8 suara), Prof.Dr.Tirza Hanum (8 suara), Prof.Dr.Irwan Effendy (5 suara), Dr.Harris Hasyim (4 suara) dan Prof.Dr.Sutopo Gani Nugroho (2 suara).

Dari hasil tersebut, hanya tiga peraih suara terbanyak yang akan maju ke putaran kedua Pemilihan Rektor Unila. Mereka adalah Prof.Dr.Ir.Sugang P.Harianto (Dekan FMIPA Unila), Prof.Dr.Sudjarwo,M.S (Dekan FKIP Unila) dan Prof.Dr.Tirza Hanum (Pembantu Rektor I Unila).

Besok Rabu pagi (30/5), Mereka bertiga akan mengikuti debat di hadapan civitas akademika (mahasiswa, dosen, dan karyawan Unila) di Gedung Serba Guna Unila. Ada tiga panelis yang akan hadir nanti, yakni: Wahyu Sasongko,S.H,M.H (perwakilan dosen), Pramudya Muhtar,S.H (perwakilan karyawan) dan Abdul Darda (Presiden BEM Unila). Marselina Jayasinga, SE,M.Sc (Pembantu Dekan I FE Unila) akan memoderatori debat itu dari pukul 9 hingga 12 siang.

Siapa pun yang terpilih Rektor Unila nanti harus benar-benar serius membangun Unila ke arah yang lebih baik lagi. Pada tanggal 6 Juni nanti, Senat Unila akan memilih salah satu dari tiga calon ini untuk menjadi Rektor Unila yang akan menentukan Unila pada empat tahun mendatang. Usia 41 Tahun bagi Unila sudah cukup mapan dan selayaknya siap untuk bersaing dengan universitas lain di tingkat Sumatera dan juga di tingkat nasional menjadi Top Ten University. Semoga saja terwujud!